Kamis, 07 Juli 2011

Surga Di Depan Mata

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru saja melahirkan dengan penuh kebahagiaan.
Ketika gendongan itu berpindah
ketangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil, sang
ibu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke
arah luar jendela
rumah sakit. Bayi itu ternyata terlahir tanpa kedua belah telinga! waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya saja penampilannya tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang kerumah dan
membenamkan
wajahnya dipelukan sang ibu dan menangis
terisak- isak. "Tadi ada seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh," ujarnya. Anak lelaki itu tumbuh
dewasa. Walau tidak memiliki daun telinga, ia
cukup tampan dan
disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan
bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Dalam hati
ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan daun telinga untuk putranya.
"Saya yakin mampu sepasang daun telinga
untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang
bersedia mendonorkan
telinganya," kata
dokter. Kemudian,
orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya
pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu kerumah sakit untuk dilakukan
operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi
kejeniusan. Ia pun
menerima banyak
penghargaan dari
sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun
menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini
semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang
besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya. "
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan
telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
"Sesuai dengan
perjanjian, belum
saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan
rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi
keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti
jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibakkan sehingga tampaklah bahwa sang ibu TIDAK MEMILIKI TELINGA.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun
menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada
penampilan tubuh
namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa dilihat, namun pada apa yang tidak terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang
telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
Kisah di atas adalah sekelumit kisah yang ada dalam buku "SURGA DI DEPAN MATA".

0 komentar:

Followers

Mbh