Minggu, 28 Agustus 2011

Syukur bersama Allah

Syeikh Ahmad ar-Rifa'y
Riwayat dari Abdullah bin Amr ra:
"Tuhanku mendidikku, dan "Rasulullah saw, masuk ke dalam rumahku, lalu
bersabda, "Wahai

Abdullah bin Amr, bukankan aku diberi informasi bahwa sebenarnya dirimu
sangat ketat (memaksa diri) dalam sholat malam dan puasa di siang hari?" Aku
menjawab, "Saya memang melakukannya…". Lalu Rasulullah saw, bersabda,
"Cukuplah bagimu sebulan itu puasa tiga hari. Satu kebaikan itu sebanding
dengan dengan sepuluh kebaikan, maka (jika anda melakukan puasa tiga hari
setiap bulan) sama dengan puasa setahun penuh…." (Hr. Bukhari, Muslim,
Ahmad, Tirmidzy, Nasa'I, Ibnu Majah, Daramy dan Ibnu Sa'd) Dia mendidik
adabku dengan baik."

Dalam hadits ini ada rahasia-rahasia:

1. Adanya berita gembira atas kesinambungan cahaya amal dengan cahaya amal
yang lain tanpa terhenti, walau pun ada jarak waktu yang jauh.
2. Berlipatgandanya pahala amal pada ummat ini, satu kebaikan sebanding
dengan sepuluh kebaikan, agar hatinya bangkit untuk amal kebajikan.
3. Tidak adanya keterpaksaan yang membuat si hamba jadi bosan.
4. Terus menerus berdzikir hingga hati tak tertimpa kealpaan.
5. Kepastian iman terhadap janji dan kebajikan kemuliaan Allah swt.

Semua perilaku tersebut merupakan tingkah kaum 'arifin yang melepaskan diri
dari hasrat duniawi dan ukhrowi, dimana hasrat citanya hanyalah Tuhan
mereka. Maka siapa pun yang himmahnya hanyalah Rabb, tiadalagi hasrat lain
baginya.

Yahya bin Mu'adz ra, dalam munajatnya mengatakan:
"Ilahi, bila aku mengenalMu, sesungguhnya Engkau telah memberi petunjuk
padaku. Jika aku mencariMu, sesungguhnya karena Engkau menghendakiKu. Jika
aku datang kepadaMu, sesungguhnya Engkau memilihku. Jika aku taat padaMu,
sesungguhnya karena Engkau memberi taufiq kepadaku. Dan jika aku kembali
kepadaMu, itu karena Engkau menghampiriku."

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as telah bermunajat:
"Oh Tuhan, bagaimana caraku bersyukur atas nikmat-nikmatMu, sedangkan setiap
rambut yang tumbuh saja ada dua nikmat?"

Allah swt menjawab:
"Wahai Musa! Bila engkau tahu bahwa dirimu sangat tak berdaya bersyukur
kepadaKu, sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu…."

Allah swt, mewahyukan kepada Nabi Dawud as:
"Bersyukurlah atas nikmatKu kepadamu…"

Nabi Dawud as, menjawab:
"Ya Allah bagaimana aku bisa bersyukur kepadaMu, sedangkan syukurku kepadaMu
itu adalah nikmat teragung bagiku?"
"Bila engkau tahu itu, sebenarnya engkau hambaku paling bersyukur padaKu…"
firmanNya dalam wahyu kepadanya.

Muhammad bin as-Sammak ra mengatakan, "Ingatlah kepada Dzat yang mendahului
ingatNya sebelum dzikirmu, dan cintaNya sebelum cintamu. Apa pun yang kau
dzikirkan tak lain jkecuali karena dzikirNya kepadamu, dan tak ada cintamu
kepadaNya kecuali karena cintaNya kepadamu."
Abu Bakr al-Wasithy ra, menegaskan, "Siapa yang lupa mengiat Allah Ta'ala
berarti ia telah terkena Istidroj.."

Perlu diketahui bahwa sifat terendah dari seorang arif Billah adalah bila
seseorang hatinya hidup bersama Allah tanpa ikatan apa pun, yaitu mengingat
Allah, hanya kepada Allah. Hal demikian jelas, seperti dalam firmanNya,
"Sesungguhnya dzikir Allah itu paling besar…".
Dikatakan mengenai firman Allah Ta'ala:
"Sangat sedikit hamba-hambaKu yang sangat bersyukur", artinya adalah sangat
sedikit orang yang melihat anugerahKu ketika ia bersyukur kepadaKu...,
Bersama Allah, kita bersyukur pada Allah.

Nabi Musa as, berkata:
"Ilahi, bagaimana Adam mampu bersyukur kepadaMu? Karena Adam Engkau cipta
dari TanganMu, dan Engkau hembuskan RuhMu, dan Engkau posisikan di syurgaMu,
serta Engkau perintah para malikat bersujud kepadanya, lalu mereka pun
sujud?"
Allah swt, menjawab:
"Hai Musa! Adam tahu bahwa semua itu dariKu, lalu dia memuji karenanya."
Siapa yang taat kepada Allah swt, sesungguhnya ia taat karena
pertolonganNya, maka ia dapatkan anugerah. Siapa yang maksiat kepada Allah
swt, maka karena bagian takdirNya yang ia maksiat kepadaNya. Bagi Allah ada
hujjah baginya. AnugerahNya mendahului ketaatan hambaNya sebelum ia taat,
dan keadilanNya mendahului maksiatnya sebelum ia berbuat maksiat. Karena
Allah adalah Maha memberlakukan apa yang dikehendakiNya.

Dalam suatu riwayat Nabi Ibrahim as bermunajat :
"Oh Tuhanku, kalau bukan karena Engkau bagaimana aku mengenal siapa Engkau?"
Abu Abdullah ra, ditanya, "Bagaimana kami tidak senang dengan pujian dan
sanjungan?"
"Semata karena lupa mengingat anugerah Allah pada kalian, lupa mengingat
kebaikan pertolonganNya yang mendahuluimu. Siapa yang lupa anugerah dan
ingkar nikmat, nikmat pun akan diterima sebagai derita…" jawabnya.

Anak-anakku…
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberimu ma'rifat, dan menolongmu untuk
taat kepadaNya tanpa minta balas kebaikan darimu dan tanpa minta pertolongan
dari arahmu, karena itu sudah seyogyanya anda berdzikir kepadaNya dan
berbakti kepadaNya tanpa minta ganti rugi dan kecukupan dariNya."

Banyak sekali ragam kelompok ahli dzikir, diantaranya:

* Ada yang berdzikir karena tujuan meraih anugerah Islam,
* Ada yang berdzikir karena demi ashlus-Sunnah wal-Jamaah,
* Ada yang berdzikir karena adanya anugerah dibalik dzikirnya, hingga hati
dan lisannya kelu, akalnya melayang, ia lebur dalam keagunganNya, bergerak
dalam kemuliaanNya, hangus dalam mencintaiNya, disaat ia tahu bahwa seluruh
amal itu tidak akan pernah bisa tegak kecuali bersamaNya.

Dzikir ada dua arah:
- Dzikir yang menimbulkan rasa takut dan rasa takut penuh cinta.
- Dzikir yang melahirkan rindu dan cinta.

Rasa takut dan cinta adalah dzikir bagi orang yang berdzikir bersama diri
sendiri, kemudian ia melihat itu semua karena Dzikrnya Allah padanya yang
menyebabkan dzikirnya kepada Allah Ta'ala, kemudian ia tahu bahwa dengan
dzikrullah membuat sambung pada Dzikrinya Allah pada dirinya.
Sedangkan rindu dan cinta dibalik dzikir adalah dzikirnya orang yang
mengingat Dzikrnya Allah di zaman Azali, hingga tiada maujud dan sirna diri
di dunia, kemudian sampai abadi. Lalu dijumpai bahwa Ingatan Allah padanya
telah ada sejak Azali, abadi selamanya. Sedangkan dzikirnya sendiri, malah
tercampuri kotoran syahwat, teraduk oleh kealpaan demi kealpaan.

Maka sangat berbeda jauh antara orang yang masuk pada Allah Ta'ala dengan
melihat dzikirnya sendiri, dan antara orang yang masuk kepada Allah Ta'ala
dengan melihat anugerah dan kemuliaanNya. Perlu diketahui bahwa dzikirnya
hamba kepada Allah Ta'ala, jika dibandingkan dengan penyandaran dzikirnya
Allah Ta'ala pada si hamba, ibarat debu di bawah derasnya hujan.

Dengan dzikir kepadaMu hiduplah ejekanku hai pengkhayal
Dan dengan DzikirMu kepadaku mendahului dzikirku sungguh teragung!
Engkau beri anugerah besar, hingga aku tak mampu mensyukurinya
Manalagi anugerah elokMu yang mampu kusyukuri?

0 komentar:

Followers

Mbh