Rabu, 31 Maret 2010

Kematian adalah Rekreasi yang Sejati

Apa yang dapat kita bayangkan ketika ada seorang pemuda yang ganteng, sehat, dan perkasa tiba-tiba diberi vonis oleh seorang dokter bahwa dalam tubuhnya tumbuh kanker ganas? Andaikata hal itu menimpa kita sendiri? Semangat yang tadinya berkobar tiba-tiba padam. Hilanglah seluruh harapan. Musnalah semua cita-cita. Dunia seakan berhenti seketika.

Apa yang sedang kita takutkan dengan penyakit kanker tersebut? Jawabnya sudah hampir pasti adalah kematian. Semua orang takut mati, bahkan seluruh makhluk hidup takut datangnya peristiwa itu. Mulai dari makhluk terkecil semisal semut hingga yang terbesar seperti gajah, semua takut mati. Andaikata mati itu berwujud makhluq tentu akan dilawan, sebagaimana mereka melawan setiap orang yang mencoba mengganggu kehidupannya. Andaikata bisa dihindari, tentu semua makhluq akan memilih untuk menghindarinya.

Anas Radhiallaahu `anhu meriwayatkan hadits Rasulullah Saw: "Anak Adam tidak menemui sesuatu yang diciptakan Allah melebihi hebatnya maut, padahal maut itu merupakan peristiwa yang paling ringan dibandingkan dengan kejadian-kejadian sesudahnya." (HR. Ahmad)

Takut kepada kematian adalah naluri semua makhluk hidup, sifatnya sangat alamiah. Bayangan kematian merupakan bayangan yang paling menakutkan. Di dunia ini tidak ada yang paling menakutkan melebihi kematian. Seandainya tidak ada kematian, tidak ada sesuatupun yang ditakuti. Risiko tertinggi di dunia ini adalah mati. Tidak ada yang melebihinya lagi.

Seorang penguasa yang paling berkuasa sekalipun akan merasa hina dan nista di depan kematian. Ia merasa kecil dan kerdil, karena kedatangannya tanpa permisi apalagi meminta izinnya. Jika Allah telah menetapkan ajalnya, malaikat mautpun siap menjemputnya, tanpa ada kompromi. Kekuasaan, kekayaan, prajurit, teman, kerabat, dan segala yang ada di dunia ini, tak ada yang bisa mencegah kematian.

Fir'aun sepanjang hidupnya tidak pernah mau mengakui kekuasaan Tuhan melebihi kekuasaannya. bahkan ia sendiri mengaku sebagai Tuhan. Akan tetapi pada penghujung hidupnya, pada saat-saat kritis ketika akan tenggelam dalam lautan setelah mengejar pasukan Bani Israel, Fir'aun berseru kepada Allah, mengakui ke-Esaan-Nya, berserah diri kepada-Nya. Fir'aun yang sangat berkuasa di dunia akhirnya merasa kerdil di depan al-Maut.

Adalah al-Ma'mun, seorang khalifah yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Di penghujung kehidupannya ia sadar bahwa sebentar lagi malaikat maut segera datang menjemput. Kesadarannya terhadap kepastian mati itu tak pernah diragukan, namun ia tetap takut dan gelisah menghadapinya. Itulah sebabnya ia perintahkan kepada bawahannya untuk mengusungnya ke markas militer. Saat itu malam hari, obor-obor dinyalakan dari berbagai sudut sehingga membuat suasana magis yang menggetarkan setiap orang yang ada di tempat itu. Di tengah hamparan padang pasir yang luas itu, al-Ma'mun merasakan harapan dan cita-citanya terbang bersama angin.

Ia sadar bahwa kekuasaan dan kemuliaannya di dunia tidak mendatangkan manfaat sedikitpun pada saat-saat seperti itu. Dengan segala kepasrahan dalam ketidakberdayaannya, ia menengadahkan tangannya tinggi-tinggi sambil berdo'a: "Wahai Dzat yang kekuasaan-Mu senantiasa langgeng dan kekal, kasihanilah hamba-Mu yang kekuasaannya akan hilang dari tangannya."

Sampai di sini, ada satu pertanyaan yang mesti dijawab, apakah sebenarnya yang ditakutkan oleh manusia pada kematian itu? Jawabnya bisa beragam, tapi yang pasti bahwa yang paling ditakutkan manusia dari kematian adalah kesirnaan dan ketiadaan. Mereka takut kehilangan, teman, kekasih, anak, orang tua, harta benda, kemuliaan, kekuasaan, dan segala hal yang bersifat duniawi. Mereka takut berpisah dengan semua yang dimiliki di dunia ini.

Sesungguhnya manusia telah lama membangun istana harapan dan cita-cita dalam jiwanya. Dengan susah payah mereka mengumpulkan satu persatu komponen bangunan itu, kemudian pelan-pelan merakitnya. Akan tetapi dengan kedatangan al-Maut, semua bangunan itu tiba-tiba roboh, hancur berkeping-keping. Kematian tak ubahnya seperti bom yang menghancurkan segala-galanya, termasuk istana bayangan yang telah dibangun oleh jiwa manusia.

Jika istana yang dibangun dalam jiwa manusia itu hanyalah istana harapan dan impian, tentulah rapuh dan mudah runtuh. Sekali datang al-maut, sirna dan hancurlah semuanya. Akan tetapi jika manusia membangun istana dalam jiwanya dengan bahan baku iman dan akhlaqul karimah, maka bangunan itu tak akan pernah roboh oleh kematian sekalipun. Kematian tidak berpengaruh sedikitpun pada mereka.

Bagi orang-orang yang disebutkan terakhir ini, kematian tidak lebih dari sekadar perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Ibarat orang-orang metropolitan yang super sibuk, mereka memerlukan waktu khusus "week end" untuk rekreasi, melupakan pikiran tentang pekerjaan, meninggalkan kepenatan ibu kota, meninggalkan rumah dan segala tradisinya. Mereka benar-benar menginginkan suasana baru, di alam yang baru. Bagi orang-orang seperti ini, kematian sama sekali tidak menakutkan.

Beban yang diderita mereka yang sedang dalam sakaratul maut itu luar biasa. Rasa sakit yang dideritanya cukup berat, apalagi pada detik-detik terakhir ketika malaikat maut sudah mulai menjalankan operasinya. Semua nabi dan Rasul kekasih Allah ikut juga merasakannya, tak terkecuali Muhammad saw. `Aisyah menceritakan bahwa di saat sakaratul maut, di samping Rasulullah ada bejana berisi air, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, sambil berdo'a:

"Ya Allah, tolonglah aku dari sakaratul maut ini." (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Tirmidzi)

Jika orang yang setabah Nabi Muhammad Shallallaahu `alaihi wa sallam saja sampai meminta pertolongan pada saat menghadapi sakaratul maut, apalagi orang lain yang tidak memiliki mental baja seperti beliau. Ini adalah gambaran bahwa sakaratul maut itu memang luar biasa beratnya. Beban sakit yang luar biasa itu akan semakin bertambah dan berlipat-lipat manakala sikap mental seseorang tidak siap menghadapinya.

Yang bisa menolong seseorang menahan rasa sakit pada peristiwa sakaratul maut adalah mentalitasnya. Mereka yang menolak kematian tentu lebih berat penderitaannya, sedangkan mereka yang pasrah, apalagi yang menyambutnya dengan penuh persiapan, tentu dapat merasakan penderitaan itu lebih ringan. rasa sakit yang sangat itu bisa dikalahkan dengan harapannya kepada Allah akan kehidupan yang lebih baik, lebih kekal, dan lebih membahagiakan.

Sepanjang masih ada harapan bahwa kehidupannya di akhirat lebih baik dari yang dirasakan di dunia ini, maka segala rasa sakit dan kepedihannya akan terobati oleh bayangan surga, dan kehidupan yang lebih baik tersebut.

Lain halnya bagi mereka yang tidak punya harapan akherat, kematian merupakan qiyamat baginya. Kematian adalah akhir segala-galanya, padahal bagi orang-orang kafir, kematian sesungguhnya adalah awal penderitaan yang berkepanjangan, bahkan selama-lamanya.

Orang-orang shalih yang telah mempersiapkan hari kematiannya dengan baik tak terlalu khawatir dengan kematian itu. Mereka rileks menghadapinya, sampai pada detik-detik akhirnya. Rasulullah sangat tenang ketika al-Maut menjemput, bahkan beliau tetap bisa menghibur putrinya, Fathimah yang kelihatan kurang rela melepaskan kematian ayahnya. Beliau bersabda: "Wahai putriku, telah datang kepada ayahmu keputusan Allah yang tiada seorangpun dapat menolaknya hingga hari qiamat." (HR. Ahmad)

Rasulullah bahkan seolah tak menghiraukan kematian itu, sehingga sampai pada detik-detik akhir hayatnya, beliau tetap menjalankan tugas kerasulannya dengan menyampaikan fatwa-fatwa penting sebagai pengingat kepada ummatnya. Beliau mengingatkan ummatnya agar tetap memelihara shalat, melindungi kaum perempuan, dan berbagai wasiat penting lainnya.

Orang-orang mulia seperti Rasulullah saw. melihat bahwa kematian bukan akhir dari segala-galanya, bukan pula keterpisahan dan ketiadaan, akan tetapi kematian adalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Kematian adalah rekreasi yang sebenarnya

0 komentar:

Followers

Mbh