Rabu, 31 Maret 2010

AKHLAK NABI SAW

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

B i s m i l l a h i r r a h m a a n i r r a h i i m,

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT, sholawat serta salam semoga tercurah atas junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, Rasulullah SAW, beserta keluarganya, para shahabatnya dan orang2 yang istiqomah dijalan-Nya. Sahabat facebook fillah, semoga kita termasuk orang – orang yang bisa dan diberikan ISTIQOMAH oleh Allah SWT, aamiin

Sahabat fillah rahimakumulah, masih di MOMENTUM hari ini, sebagai MAULIDUR RASUL SAW, saya berkenan untuk memberikan PENCERAHAN kpd sahabat fillah semua, bahwa yang terpenting dari diri kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW adalah bagaiamana kita instropeksi diri, sudah sejauh manakah kita, membuktikan CINTA kita kepada NABI SAW. Membuktikan cinta kepada NAbi SAW salah satunya adalah dengan berusaha MENGADOPSI / MENELADANI AKHLAQ NABI MUHAMMAD SAW. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai SATU – SATUNYA teladan / USWAH / QUDWAH, didalam hidup berkeluarga, berda’wah, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaiamana kita MELIHAT Rasululah SAW dalam menempatkan akhlaqnya. Akhlaq seorang hamba kepada Rabbnya ( Allah SWT ), akhlaq kpd dirinya sendiri, akhlaq kpd keluarganya ( istri dan anak –anaknya ), akhlaq kepada Masyarakatnya / tetangga / hubungan muamalah, akhlaq dengan para sahabatnya, akhlaq kpd ummatnya, rakyatnya, dsb.

Oleh karena itu sahabat fillah, sungguh terlampau banyak yang harus ditulis jika kita hendak membicarakan tentang Khuluqul Rasulullah SAW ( Akhlaq Rasulullah SAW ). Namun dalam kesempatan yang ada ini cukuplah coba saya ambilkan sedikit dari gambaran AKHLAQ RASULULLAH SAW, dan kita sama – sama BELAJAR dari sosok manusia agung, manusia PALING MULIA, yang kita sama – sama MENCINTAINYA dan ingin DICINTAI olehnya. Karena sungguh beruntunglah orang – orang yang bisa mendapatkan CINTAnya yang sekaligus akan mendapatkan CINTA dari Allah SWT. Shubhanallah…semoga yaa Allah..aaminn.

Sahabat fillah, setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam, antara percaya - tidak percaya, Rasul SAW Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat dan kaum muslimin. Beberapa waktu kemudian, seorang Arab badui menemui Umar dan dia meminta, “ ceritakan padaku akhlak Muhammad “. Umar MENANGIS mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun MENANGIS, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “ ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “ bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...” Ali menjawab, “ engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung ! “ (QS. Al-Qalam[68]: ayat 4)

Nah sahabat fillah, oprang Arab Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa “ Khumairah “ ( Yang pipinya kemerah – merahan ) oleh Nabi SAW ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan “ ALQUR’AN BERJALAN “. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-MuÕminun[23]: 1-11. Yang redaksi ayatnya kurang lebih artinya :

“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya “.

Sahabat facebook fillah, bagi para sahabat terhadap Rasulullah SAW, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, LINANGAN AIR MATA-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi akhir jaman ini.

Thoyyib, mari kita focus lagi, kita kembali ke Aisyah RA. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah RA hanya menjawab, “ ah semua perilakunya INDAH “ ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita SAAT TERINDAH baginya, sebagai seorang ISTRI. “ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, “ Yaa Aisyah.. izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu “ SHUBHANALLAH… Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam KISAH / SIRAH tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah. Artinya disaat seperti itu pun Rasulullah SAW masih menunjukan akhlaq, Bahwa Allah SWT lebih beliau cintai dari segala yang ada di muka bumi ini.

Sahabat fillah, masih ada lagi kisah yang LUARR BIAASA yang menunjukan akhlaq Nabi SAW kepada Keluarganya ( istrinya ) : Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah RA. Ketika menjelang subuh Aisyah RA tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah RA keluar membuka pintu rumah. Dan alangkah terkejutnya ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di DEPAN PINTU. Aisyah RA berkata, “ mengapa engkau tidur di sini “ Nabi Muhammmad SAW menjawab, “ Wahai istriku, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu “ SHUBHANALLAH…ALLAHU AKBAR..LUAARR BIASA akhlaq beliau.

Nah sahabat fillah ( khususnya para IKHWAN / lebih khusus lagi yang sdh menikah dan mempunyai ISTRI tercinta ), Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita ? Nabi mengingatkan, “ berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya ” Para sahabat pada masa Nabi SAW, MEMPERLAKUKAN isteri mereka dengan TERHORMAT, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka, apabila mereka menelantarkan dan menyakiti / mendzaliimi istri mereka, SHUBHANALLAH…

Didalam catatan saya sebelumnya yang berjudul “ PLEASE DON’T BE “ SUAMI DURHAKA “ AND BE “ SUAMI SHALIH “, salah satu perilakju durhaka suami terhadap istrinya adalah Mengganggu ketenangan isteri karena pulang larut malam. Sahabat fillah, yang dimaksud disini, adalah pulang larut malam TAPI DALAM KEPERLUAN YANG TIDAK JELAS. Sehingga mengganggu ketenangan istri. Adalah sangat wajar jika seorang istri was – was atau merasa kawatir / gelisah jika suaminya belum pulang dan keperluannya tdk jelas / tdk ada informasi ( jk pulang terlambat ), adalah sesuatu yg wajar jika kemudian timbul dzan ( prasangka ) kawatir kalau ada sesuatu yang menimpa suami ( musibah ) , atau bahkan kawatir jika suami berkhianat / SELINGKUH. Karena perasaan seorang wanita / istri adalah sangat SENSITIF dengan hal – hal yang seperti itu. Oleh karena itu komunikasi disini adalah sangat penting, supaya tdk menimbulkan prasangka atau salah paham didalam hubungan suami istri. Nah luaar biasanya, dalam kejadian diatas, Rasulullah SAW pulang kemalaman / terlambat, dikarena Amal Da’wah dijalan Allah SWT, itu saja beliau tdk mengetuk pintu, hanya karena TIDAK INGIN MENGGANGGU KETENANGAN ISTRINYA, yang sdh tertidur lelap karena menunggu kedatangan Rasulullah SAW..SHUBHANALLAH..

Sahabat fillah sedangkan buat para sahabat Rasul SAW yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul SAW memanggilnya. Rasul SAW memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul SAW pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi SAW.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba MELAYANI kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai PEMIMPIN / IMAM, ia ingin MENYENANGKAN dan MELAYANI bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia ?
Sahabat fillah Nabi Muhammad SAW juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar RA, Rasul SAW selalu memujinya. Abu Bakar RA-lah yang menemani Rasul SAW ketika hijrah. Abu Bakar RA lah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul SAW sakit. Tentang Umar RA, Rasul SAW pernah berkata, “ syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain “ Dalam riwayat lain disebutkan, “ Nabi SAW bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi SAW memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul SAW menjawab ( susu itu perumpamaan ) ilmu pengetahuan “

Tentang Utsman RA, Rasul SAW sangat menghargai Ustman RA karena itu Utsman RA menikahi dua putri Nabi SAW, hingga Utsman RA dijuluki “ Dzu an-Nurain “ (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali RA, Rasul SAW bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali RA. “ Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya “ “ barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik “
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi. Kita masih suka mencari – cari dan membicarakan kejelekan / keburukan / aib orang lain / saudara kita..Astaghfirullahal adziim..wa ‘atubu iliahi..T_T

Sahabat fillah saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah SWT pun sangat menghormati Nabi Muhammad SAW. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah SWT memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan “ WAHAI NABI “. Ternyata Allah SWT saja sangat menghormati beliau SAW.
Para sahabatpun ditegur oleh Allah SWT ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi SAW. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul SAW. Mereka ingin Rasul SAW menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar RA berkata: “ Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin “ Kata Umar RA, “ Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis “ Abu Bakar RA berkata ke Umar RA, “ Kamu hanya ingin membantah aku saja “ Umar RA menjawab, “ Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesame, kamu. Nanti ( akan ) terhapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya “ (QS Al-Hujurat, ayat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar RA berkata, “ Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia “ Umar RA juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar RA banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi SAW takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etika / adab ketika berhadapan dengan Nabi SAW.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi SAW didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi, “ Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami “

Sahabat fillah, Nabi SAW mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “ Sudah selesaikah, Ya Abal Walid ? “ “ Sudah “ kata Utbah. Nabi SAW membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Nah sahabat fillah, peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi SAW dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi SAW dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi SAW dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan dengan si Utbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi SAW berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah ! Kadang karena penyampaian seorang pembicaraan yg kurang menarik, akhirnya kita justeru ngobrol sendiri dengan teman yang ada di samping kita. Kita mungkin lupa dengan NASIHAT Ali bin Abi Thalib “ Undzur Ma Qaala, wa laa Tandzuur Man Qaala “ ( Perhatikan apa yang disampaikan / dikatakan, dan jangan melihat Siapa yang berkata / menyampaikan )

Ketika Nabi SAW tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi SAW bahwa Nabi SAW akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi SAW. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi SAW. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi SAW dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi SAW ? “ Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu “ Sahabat ini menangis dengan keras. Bagi Nabi SAW janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi SAW merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi SAW janji adalah janji, bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi SAW telah menyerap di sanubari kita atau tidak. Jadi bagi seorang mu’min, JANJI adalah harus ditepati, sebagaimana perintah Allah SWT.

“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu “[388]. ( QS Al Maaidah ( 5 ) ayat 1 )
[388]. Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “ Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah ! “ Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan,saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.”Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “ membereskan “orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul SAW memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “ lakukanlah “ Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu ! Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.”Seketika itu juga terdengar ucapan, “ Allahu Akbar “berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi SAW.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia.

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’ di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berkhutbah.Di akhir pidatonya itu Nabi SAW dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “ Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?
“ Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “ Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....? “ Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “ benar ya Rasul ! “Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “ Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah ! “Nabi SAW meminta kesaksian Allah SWT bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.

Nah sahabat fillah rahimakumullah, Begitulah sedikit gambaran yang bisa penulis sampaikan mengenai KEAJAIBAN AKHLAQ RASULULLAH SAW, dari begitu agungnya akhlaq Nabvi SAW. Yang dikatakan oleh Aisyah RA bahwa akhlaq Rasulullah SAW adalah Al qur’an.

Sahabat fillah, dimajelis Taushiah facebook ini pula, saya berharap dan meminta kepada Allah SWT, MENYAKSIKAN bahwa kita MENCINTAI Rasulullah SAW dan berharap DICINTAI oleh Rasulullah SAW. “ Yaa Rabb, Yaa Allah..Saksikanlah betapa kami sangat mencintai Rasul-Mu, betapa kami ingin bertemu dengan kekasih-Mu itu, betapa kami sangat RINDU berjumpa dengan beliau, betapa kami ingin meniru semua perilakunya yang sangat INDAH, semua budi pekerti / akhlaq yang yang agung. Yaa Allah..Yaa Rabb..betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad SAW, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami, “Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah “


Demikianlah akhi wa ukhti fillah, demikianlah gambaran dari akhlaq dan perilaku Rasulullah SAW yang sangat LUAARR BIASAA ..Semoga sahabat fillah bisa BELAJAR banyak dari Sirah / sejarah yang menceritakan tentang kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW. Semoga kita bisa BELAJAR dan bisa MENELADANI dari KEAJAIBAN AKHLAQ RASULULLAH SAW.

Tetap Semangat ! Yyyeeesssss !!

Wallahu a’lamu bish shawab.

0 komentar:

Followers

Mbh