Senin, 29 Maret 2010

HIKMAH ALLAH MENCIPTAKAN KEBURUKAN

bismillah, alhamdulillah, wassholaatu wassalaamu 'alaa Muhammadin Rosulillah laa nabiyya ba'dah

ada teman yg bertanya begini? Apakah gunanya Allah menciptakan keburukan? mengapa tidak sekalian semuanya dibuat baik, agar tdk ada pertikaian, dan perilaku buruk lainnya?

dan begini jawaban yg bisa ana sampaikan,smg bermanfaat:
masalah tsb. pernah menjadi polemik di antara ahli kalam. Ada yg menjawab Ya (Allah menciptakan keburukan), ada yg menjawab Tidak (Allah Tidak menciptakan keburukan). masing2 mempunyai alasan dan argumentasi. gol. yg Tidak setuju (bhw Allah menciptakan keburukan) beralasan, Allah SWT. Maha Sempurna. karena itu, tdk mungkin menghendaki keburukan. Dia wajib menciptakan ygbaik dan yg terbaik. Menghendaki keburukan bertentangan dg sifat ke-Sempurna-anNya. Allah Maha Baik, mana mungkin menciptakan yg tidak baik. (ini pemahaman gol. Mu'tazilah)

Namun kemudian timbul permasalahan, kalau Allah SWT. tdk menghendaki keburukan, mengapa dunia ada keburukan? Bukankah kita menyaksikan bencana alam, kelaparan dan merebaknya penyakit, dan berbagai bentuk penderitaan? kalau bukan Allah yg menciptakan, lalu siapa?

Pertimbangan2 itulah yg menjadikan landasan pendapat yg membenarkan Allah SWT. menciptakan keburukan, dan karena itu pula menghendakinya. tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa kehendak-Nya. Dan mustahil Dia menghendaki sesuatu yg tdk terwujud. Yg dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan yg tdk dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.

Pendapat itulah yg dianut dan dianggap benar oleh sebagian besar umat Islam, karena didukung dalil naqli dan aqli. Dlm QS. Al-Falaq, Allah menyuruh Nabi saw. memohon perlindungan dari kejahatan makhluk-Nya (qul a'udzu bi roobilfalaq, min syarri maa kholaq). Nabi saw. banyak mengajarkan do'a kpd umatnya agar memohon perlindungan kpd Allah dari keburukan ciptaan-Nya (al-Adzkar, h. 17 dan 48).

Para Ulama' Sunni berpendapat, menciptakan kebaikan dan keburukan termasuk perkara yg "jaiz" bagi Allah, tidak wajib dan tidak mustahil (Al-Husun Al-Hamidiyah, hal. 41). Menciptakan keburukan tdk mengurangi sifat kesempurnaan Allah SWT. Tidak pula karena Dia tdk mampu menciptakan alam semesta yg lebih baik dg segala isinya. Dalam hadits shohih Riwayat Imam Muslim, suatu ketika Nabi saw. ditanya mengenai pengertian iman, dan beliau menjawab: "Iman adl Kamu beriman kpd Allah, Kitab2 Allah, Rosul2 Allah, hari akhir dan beriman kpd takdir baik dan buruknya."

Termasuk yg kita anggap buruk, justru menjadi kesempurnaan-Nya. Tentang hal ini Allah telah tegaskan dlm QS. Al-Baqoroh ayat 164 yg terjemahnya:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."

Mengapa demikian? Dunia ini adl "dar al-bala' " atau tempat manusia diuji, perhatikan terjemah QS. al-Baqoroh ayat 155 ini:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. "

Pengujian meniscayakan ada keburukan, kesulitan, kepahitan dan kesusahan. Janganlah kita bermimpi semua serba enak dan nikmat. sebab hal itu hanya ada di surga. Keburukan sebagai ujian orang yg beragama, bukanlah keburukan, melainkan harus dipandang sebagai kesempatan yg diberikan oleh Allah untuk meningkatkan derajat hamba. Yg paling mulia bukanlah orang yg tdk pernah mendapat cobaan, melainkan orang yg selalu berhasil mengatasi cobaan itu.

Apa yg kita anggap sbg keburukan sering diperlukan utk mewujudkan kebaikan yg lebih besar, sebagai contoh adl penyakit. Penyakit adl buruk. Namun sadarkah kita apakah dampaknya bagi kehidupan manusia? Kemajuan ilmu pengetahuan, dlm hal ini dunia medis, tidak lain karena ada penyakit. Penyakit juga menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Berapa juta orang yg bekerja di industri farmasi, rumah sakit dan apotek. Lebih dari itu, penyakit juga bisa menginsyafkan manusia akan keterbatasannya dan lebih pandai mensyukuri nikmat kesehatan yg selama ini dianugerahkan kepadanya.

Dalam suatu hadits Nabi saw. bersabda yg terjemahnya:
"Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan untuk setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah (bila sakit) (HR. Ahmad dan Muslim)

Saat gunung-gunung merapi meletus dan memuntahkan isi perutnya, mungkin kita akan menganggap itu sebagai sebuah keburukan. Padahal dari aktivitas itu memberikan kekayaan yg terpendam di perutnya dan menyuburkan tanah. Melukai badan seseorang adalah buruk. Tapi jika dikaitkan dg pengobatan (bedah), bukan lagi sebuah keburukan, malah keharusan. Barangkali ada yg tdk menyukai kematian. Tapi bisakah kita membayangkan jika manusia sejak Nabi Adam as. masih hidup? Dunia ini tentu telah penuh sesak manusia. Tidak jarang pula kita menilai sesuatu secara subyektif, parsial dan dlm jangka pendek. Yg kita anggap jelek bagi diri kita dari sudut pandang yg berbeda dan dlm jangka panjang.

Lain dari itu, Allah SWT. telah menetapkan adanya hukum2 yg berlaku di dunia ini yg disebut sunnatullah atau hukum kausalitas (sebab-akibat). Akibat positif dan negatif mempunyai sebab-sebab yg khusus dan spesifik. Disini, manusia dibebaskan untuk memilih sebab-sebab itu.

Jika kita melakukan sebab-sebab kesuksesan besar, kemungkinan kita akan memiliki kesuksesan. Begitu juga sebaliknya, kalau terjadi banjir, janganlah tergesa-gesa menyalahkan Allah. Bukankah kita (manusia) yg menebangi hutan tanpa kendali? Kalau ada perahu tenggelam karena muatannya terlalu banyak, siapa yg salah? Keserakahan manusia atau Allah yg mengalirkan air di sungai dan menggerakkan angin? Keburukan kadangkala merupakan peringatan bahkan adzab dari Allah atas penyimpangan dan dosa-dosa kita sebagai manusia. Sayang, sering kita tidak memahami isyarat dan teguran Allah. Ketika AIDS merebak, manusia tidak berhenti dari penyimpangan seksual, malah mencari obatnya seraya tetap melanjutkan kebiasaan buruk itu. Banyak orang tahu sebab terjadinya sesuatu (keburukan), tapi sedikit yg mampu mengendalikan hawa nafsu.

Allah SWT. Maha Kuasa dan Maha Perkasa, sekaligus Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana dan Maha Adil.

Ketahuilah, Pemimpin yg baik bukan yg perkasa tapi otoriter dan dzolim, bukan pula yg berbudi halus dan berhati bersih tapi lemah. Pemimpin yg baik adl yg memadukan dlm dirinya kekuatan dan keluhuran budi, ditakuti tapi juga dicintai dan disayangi rakyat.

alhamdulillaahi robbil'aalamiin ^_^

0 komentar:

Followers

Mbh