Rabu, 31 Maret 2010

siapakah penyebab semua ini??????

oleh ust. Muhammad Fauzil Adhim

Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang
aktivis
yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila
berbicara
dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di dadannya untuk
melakukan
perbaikan. Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa.
Sebab
perubahan yang besar tak 'kan terjadi bila kita tidak mau memulai dari yang
kecil.
Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berbagi semangat. Ia kirimkan SMS
karena ingin meringankan beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah
untuk
memiliki pendamping yang dapat menyayanginya sepenuh hati.

SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah melewati tiga
puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pria usia
sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan betapa sepinya
hidup
tanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya dengan
baik.
Sementara terus melajang merupakan siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu
ia
ingin menikah, ketika keriernya belum seberapa. Tetapi niat itu dipendam
dalam-dalam
karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak
agar
bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang
lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga
lupa
bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya,
jalannya
adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila engkau
ingin
mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan,
"Hai, cowok... Godain kita, dong. "

Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah). Beliau
berkata,
"Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris." Bila bertemu dengan yang serupa
dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia tak
bisa
mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana, sementara engkau
jadikan
gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan
gemerlap
kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang
menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu;
sementara
engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh
pernikahan?
Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau
mendekatinya
dengan menggoda?

Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang
diridhai tak jarang kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatau saat seorang
perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang suami, ia tidak
mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung
sendiri
dengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia
miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang. Begitupun uang, tak
ada
lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan
memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali kasih-sayang suami.

Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau
serius
dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan serius.
Kalau
kemudian ada hubungan perasaan dengan seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih.
Sampai karier yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa
usianya
sudah tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami,
sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk
mengurusi
anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau
serius
dengannya sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.

Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda pernikahan di saat
Allah memberi kemudahan. Mereka enggan melaksanakannya ketika Allah masih
memberinya
kesempatan karena alasan belum bisa menyelenggarakan walimah yang "wah". Mereka
tetap mengelak, meski terus ada yang mendesak; baik lewat sindiran maupun
dorongan
yang terang-terangan. Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi
mereka
menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau mengejar karier. Ada yang
menampik "alasan karier" walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat
menunda
nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin meraih kesempatan kuliah S-2
("Tahun
depan kan belum tentu ada beasiswa"). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa
kesempatan
kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu mengorbankan pernikahan yang Rasullah
Saw.
Telah memperingatkan:

"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha
terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan,
maka
akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka
bumi." (HR. At-Ti! rmidzi dan Ahmad).

Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh Allah.
Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka akhirnya
benar-benar
mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Mereka
menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar'i, dan akhirnya mereka
benar-benar
takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah
benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mau serius dengannya.

Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut. Bila di usia-usia dua puluh
tahunan mereka menuda nikah karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di
usia
menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya.
Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang
demikian, terutama mendekati usia 30 tahun). Mereka menginginkan pendamping
dengan
kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak ! kriteria
semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula dengan kriteria tentang jodoh,
ketika kita menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada
yang
sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia sekitar 35
tahun,
masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal apakah ada orang yang mau
menikah
dengannya. Ketika usia 40-an, ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah
berbeda
lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya, banyak
kriteria yang dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat
mendampingi
istri dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun,
ada
ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran jangan-jangan di saat anak masih
kecil, ia sudah tak sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah nafkah tak
merisaukan (karena tabungan yang melimpah), jangan-jangan ia sudah mati ketika
anak-anak masih perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati, ketakutan
ini
akhi! rnya melahirkan keputus-asaan. Wallahu A'lam bishawab.

Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya, kita mempersulit apa yang
telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan.
Kita
memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak
berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita,
sehingga
kita terpuruk dalam keluh-kesah yang berkepanjangan.

Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya, beristighfarlah. Semoga
Allah
berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan urusan kita. Laa ilaaha illa
Anta,
subhanaKa inni kuntu minazh-zhalimin.

Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada tingkat-tingkatannya. Seorang menolak
untuk
menikah boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia, sementara agama ia tak
mengerti. Belum sampai kepadanya pemahaman agama. Boleh jadi seorang
menunda-nunda
nikah karena yang datang kepadanya beda harakah, meskipun tak ada yang patut
dicela
dari agama dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara kita yang belum bisa meresapi
keutamaan menyegerakan nikah, sehingga ia tak kunjung melakukannya. Boleh jadi
pula
ia sangat memahami benar pentingnya bersegera menikah, sudah ada kesiapan psikis
maupun ilmu, telah datang kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda, atau
sebab-sebab lain yang sama sepelenya.

Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari

Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits -seorang sahabat Nabi
Saw.-
kita selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata kita mengawasi, hati
kita
mencari-cari dan telinga kita merasa indah setiap kali mendengar namanya.
Perasaan
itu begitu kuat bersemayan di dada. Bukan karena kita menenggelamkan diri dalam
lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari
Al-Mada'iny, "Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak
akan
memilih jatuh cinta."

Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi.
Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang
mau
serius. Kita sibuk menanti -kadang sampai membuat badan kita kurus kering-
sampai
batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Kita merasa yakin bahwa dia
jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tak ada
langkah-langkah
pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.


Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika rasa sayang itu ada? Inilah
yang
insya-Allah kita perbincangkan lebih mendalam pada makalah Masih Ada Tempat
untuk
Cinta. Selebihnya, kita cukupkan dulu pembicaraan itu sampai di sini.

Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Di atas semua itu, Allah bukakan pintu-pintu-Nya untuk kita. Ketuklah
pertolongan-Nya dengan do'a. Di saat engkau merasa tak sanggup menanggung
kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan, "Tuhanku, jangan biarkan
aku
sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits." (QS. Al-Abiya': 89).

Rabbi, laa tadzarni fardan wa Anta khairul waritsin.

Ini sesungguhnya adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya untuk memohon
keturunan kepada Allah Ta'ala. Ia memohon kepada Allah untuk menghapus
kesendiriannya karena tak ada putra yang bisa menyejukkan mata.

Sebagaimana Nabi Zakariya, rasa sepi itu kita adukkan kepada Allah 'Azza wa
Jalla
semoga Ia hadirkan bagi kita seorang pendamping yang menenteramkan jiwa dan
membahagiakan hati. Kita memohon kepada-Nya pendamping yang baik dari sisi-Nya.
Kita
memasrahkan kepada-Nya apa yang terbaik untuk kita.

Kapan do'a itu kita panjatkan? Kapan saja kita merasa gelisah oleh rasa sepi
yang
mencekam. Panjatkan do'a itu di saat kita merasa amat membutuhkan hadirnya
seorang
pendampin; saat hati kita dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman
sejati
atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu.
Panjatkan
pula do'a saat hati merasa dekat dengan-Nya; saat dalam perjalanan ketika Allah
jadikan do'a mustajabah; dan saat-saat mustajabah lainnya.

.....................................................................................




MENANTANG ADZAB...???????????????????


Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih". (QS. 8:32)

ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran di sela-sela waktu senggang atau ba'da shalat. Begitu juga pemilik toko, penjaganya, para karyawan, satpam, sopir taksi, bos-bos kantoran, selalu terlihat membaca al-Quran. Kalau tidak dibaca, Al-Quran mereka letakkan dengan rapih di atas mejanya, atau ditenteng dan disimpan dalam tas jika bepergian.

Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.

Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran. Begitupun di dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot.

Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang "distel" di dalam kendaraan sangat bempengaruhi "karakteristik" pendengarnya. Normalnya, para penumpang malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh.

Kendati begitu, tetap saja ada saja pemandangan yang di luar dugaan. Misalnya, gara-gara ada copet akhirnya copot seluruh isi dompet. Atau ada saja yang berbuat ricuh di dalam bus lantaran rebutan tempat duduk, tak setuju tarif, perempuan disenggol laki-laki nakal, dsb. Sementara pembaca al-Quran tetap anteng dan adem ayem.

Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria, kota pantai yang bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan tipis dan tembus pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri, dan "terlihat" oleh semua penumpang (jangan lupa lho, gadis-gadis Mesir kebanyakan montok-montok atawa 'berisi'). Kebetulan Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini:

***

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.

Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.

Salah seorang mencoba mendekatinya, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!

Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallaahu a'lam.

0 komentar:

Followers

Mbh