Rabu, 31 Maret 2010

Bunuh Diri rame-rame Yuk!!!!!!!

Judulnya seram yach ngajak bunuh diri. Jangan cepat-cepat ambil kesimpulan, dengarkan dulu penjelasannya. Karena ada di dalam Al-Qur'an perintahnya.

[2.53 Al-Baqarah 56] Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.

Sebagian ulama dahulu bahwa perintah itu memang dulu ada sebagai syariat yang dibawa oleh Nabi Musa. Sedangkan non-muslim menuduh Islam menghalalkan bunuh diri. Ijtihad ulama terdahulu bisa jadi benar sebagaimana dalam surah [4 AN NISAA - 153-159], namun apalah artinya toh kita tidak menyaksikannya. Mari kita kaji lebih mendalam dengan memahami keterkaitan kisahnya dan memperhatikan kata-kata yang ganjil dalam ayat diatas.

Sebagai bahan pertimbangan mari kita bandingkan dengan kisah Khidir dengan Musa as dalam surah Al-Kahfi :

[18 Al-Kahfi 74-75] Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu BUNUH JIWA YANG BERSIH, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"

Demikian Nabi Musa as senantiasa membantah Khidir as, padahal niat semula Nabi Musa adalah menuntut ilmu. Sebagaimana sebelumnya ia mendapat teguran dari Alloh melalui wahyu bahwa ada orang yang lebih pandai darinya (Khidir). Jika pembaca cukup jeli kisahnya sudah saya analogikan dalam bentuk cerita 'Kisah Penakluk Naga'. Fokuslah pada dimensi pengajaran bukan terfokus pada ceritanya.

Namun disini bukan untuk membahas kisah tersebut, melainkan untuk memahami suatu korelasi dan fokus yang kita tuju adalah hikmahnya (pelajaran).

Kisah selanjutnya yang kita jadikan referensi adalah kisah Nabi Ibrahim as dengan puteranya Ismail as. Mengenai pengorbanan sebagai bukti kesetiaan Imannya kepada Alloh swt.

Perang kegelapan melawan cahaya dari dahulu tidak pernah berakhir, sebagai dasar mitologi (keyakinan) yang pernah ada sejak jaman dahulu. Maka tidak heran banyak kita jumpai kisah-kisah pengorbanan pada dewa (tuhan mereka) dengan pengorbanan nyawa. Begitu juga kisah-kisah klenik diseputar kita masih saja ada. Disinilah kita bisa melihat secara objektif siapa Tuhan sebenarnya (Yang Hak). Dan sebagai wujud sifat Ar-RahmanNYA diutuslah seorang Rosul yang memberikan penjelasan. Begitu juga wujud kesetiaan seorang hamba melalui berbagai ujian.

Sebuah analogi : Ketika anda mengucapkan 'aku cinta kepadamu' pada kekasihnya, tentu sang kekasih menanyakan 'mana buktinya?'. Karena hati pada dasarnya tidak dapat dibagi seperti sepotong roti yang bisa dibelah dan dibagikan dan yang menerima dapat merasakannya langsung. Melalui pembuktian itulah terlihat ketulusan cintanya. Begitu juga perwujudan cinta seseorang kepada Tuhannya yaitu dengan melaksanakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA dan senantiasa sabar dengan setiap ujian. Itulah bagian dari Sunnatulloh yang lebih dahulu ditetapkan dan tidak ada perubahan pada Sunatulloh tersebut sampai hari kiamat. Sebagai bukti bahwa JanjiNYA adalah benar. Alloh tidaklah terbelanggu sebagaimana dituduhkan orang Yahudi, melainkan janji (ketetapanNYA memberikan tenggang waktu) dan tidak ada yang lebih menepati Janji selain daripadaNYA.

Maka tidak heran betapa kita menginginkan diri untuk bertobat namun ada saja yang menghalangi. Karena sesungguhnya menuju RidhoNYA bukanlah hal yang mudah, yang dapat diraih seketika itu juga, melainkan melalui perjuangan yang terus menerus, melalui jalan yang telah ditetapkan RosulNYA. Bukan sesuatu yang dapat direka-reka atau disiasati, sedangkan Alloh Maha Melihat (menyaksikan). Seberapapun fasih lidah seseorang mengatakan iman namun Allohlah lebih mengetahui. Untuk menjadi saksiNYA banyak pula orang yang berputus asa dengan memaksakan diri untuk melihatNYA seperti umat nabi Musa as, sehingga disambar petir. Melihat kondisi yang ada sekarang dengan banyaknya kesaksian palsu hendaknya kita waspada akan hakikat keingkaran akan selalu sama dari masa kemasa walau bentuknya berbeda atau mungkin tetap sama bentuknya hanya saja kita tidak dapat menyaksikan langsung masa lalu. Sehingga Furqan (pembeda) mana yang benar dan mana yang bathil adalah hal utama untuk kita miliki agar jelas masalah yang ada disekitar kita.

~Petir Menyambar~
a. Petir Adzab (sesungguhnya)
[51 ADZ DZAARIYAAT 43-46] Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, "Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu". Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan, dan (Kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.
[41 AL FUSHSHILAT 17] Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar PETIR ADZAB yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

b. Hakikat Petir (analogi/falsafah)
[2 AL BAQARAH 20] Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

[37.19] Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya.
[37.20] Dan mereka berkata: "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan.
[37.21] Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.

Dalam berdiksusi dan segala macemnya pastilah orang non muslim menyaksikan bahwa dirinyalah yang salah, setiap kali mereka menunjukan kelemahan Al-Qur'an disitu pula mereka terbantahkan. Dilain sisi kita dapat mengoreksi kembali pemahaman kita. Karena memang banyak orang yang menggunakan Ayat Al-Qur'an sebagai senjata. Namun bagi muslim janganlah takut dan jangan terlena untuk terus mempelajari Al-Qur'an dengan solidaritas tinggi sebagai sesama muslim niscaya dapat terjawab semua, setan pada hakikatnya berguna untuk memikul dosanya agar kita dapat menyaksikan keingkarannya. Itulah seburuk-buruk ciptaanNYA agar kita menjadi saksi kebenaranNYA. Seburuk apapun ciptaanNYA jika kita menuruti perintahNYA niscaya kita tahu manfaatnya agar senantiasa kita bersyukur.

Petir dalam hakikat adalah petunjuk (kebenaran nyata) yang dapat disaksikan atau diperlihatkan. Sebagaimana kita melihat petir dilangit dapat melihatnya secara bersama-sama dikala hujan. Itulah hakikat hujan rahmat, hujan bisa juga menjadi bencana jika kita tidak bisa menyerapnya. Karena suatu keterangan yang tidak dapat diserap dengan baik akhirnya menjadi bahan olok-olokan.

Ketahuilah keterangan setinggi apapun ilmu jika tidak dilaksanakan atau sebatas kerongkongan saja, niscaya tidak akan bermanfaat ilmu tersebut. Dan takutlah kepada AdzabNYA jika telah datang keterangan yang nyata karena RahmatNYA mendahului murkaNYA. dalam artian setelah ada keterangan nyata namun masih tetap ingkar... saksikanlah apa sesudahnya bagi orang yang takut kepadaNYA.

[38 Shaad 14-17] Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang. Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab". Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).

~Bunuh Diri~
Pada kejadiah heboh dimasa lalu adanya bunuh diri masal pemuja setan (sekte sesat), dan bunuh diri di depan masa (seperti mall) yang belum lama ini sempat heboh adalah fenomena yang patut kita kaji mendalam, adanya kesempitan hidup (keputus asaan) atau keyakinan yang keliru. Begitu juga praktik-praktek nyleneh seperti melepas sukma, ngimpleng (kebatinan). Berhati-hatilan bahwasannya hidup adalah puasa, sabarlah sampai waktu berbuka. Coba baca sekali lagi ayat diatas bahwa Alloh tidak menghendaki orang menganiaya diri yaitu berbuat yang sia-sia yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh saw. Sesungguhnya tubuh juga ada hak.

Bunuh diri yang Alloh minta bukanlah persembahan nyawa, sebagai mana makhluk laknatullah (iblis) minta persembahan. Melainkan Alloh swt menghendaki kita menyerahkan diri antara hidup dengan matinya hanya untuk berbakti kepadaNYA (kepasrahan total jiwa raganya) menuruti perintahNYA dengan mengikuti perintah RosulNYA. Dengan mengikuti perintah RosulNYA-lah seseorang mengemban amanahnya berarti ia telah memahami tujuan hidupnya; selamat sampai tujuan (kampung akhirat).

Pada intinya bunur diri yang benar adalah membunuh keegoan/keakuan yang senantiasa butuh pengakuan (popularitas) ataupun sampai kekuasaan, tapi ia tidak mampu menguasai diri. Jika orang benar-benar takut kepadaNYA niscaya tahu betapa mahal harga diri dihadapanNYA, sehingga ia tak mau menjual ayat-ayatNYA dengan harga murah atau tidak lebih menjual dirinya, mestinya lebih hina dari pada pelacur yang menjual tubuhnya. Tidakpula kekayaan apapun dapat membeli dirinya, totalitas pasrah hanya mengharap Ridho Alloh azza wa jala (Maha Perkasa lagi Maha Agung) dengan apapun konsekuensinya.

~ Orang yang super adalah yang mampu menaklukan dirinya, merapat pada barisan tentaraNYA ~

[8 AL ANFAAL 22-25] Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita.

Cahaya dengan kegelapan analogi awal atau dasar mitologi.

Mitologi menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) :
mi.to.lo.gi
[n] ilmu tt bentuk sastra yg mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus dl suatu kebudayaan.

Saya katakan mitologi sebagai wakil pemahaman yang ada yaitu yang memandang ajaran agama sebagai mitos (dongeng), dimana agama sebagai pengajaran atas manusia dengan perumpamaan agar manusia memikirkannya, namun seringkali manusia terlalu cepat mengambil kesimpulan tidak memahami suatu keterbatasan. Dengar keterbatasan itu pula manusia menerjemahkan kalamNYA. Sehingga terjawabnya suatu sebab dari keyakinan yang timbul akhirnya justru membelakangi setelah kebenaran itu terbukti, bukan menambah keimanan namun semakin ingkar. Sedangkan apa yang ia buktikan tidak lebih hanya efek saja, sedangkan penyebab bagaimana alam ini menjadi ada tidak semua orang mampu menelusurinya dan memandang bahwa semua itu ada yang menciptakan (tidak mungkin ada dengan sendirinya). Penyelusuran sebab itu sendiri sampai ia menemukan bahwa Tuhan yang terlepas dari segala kecacatanlah yang menciptakan adalah dapat dicapai melalui penelusuran yang cukup jauh. Dengan keterbatasan itu pula manusia memerlukan mediasi (perantara). Perantara inilah yang menjadi penghubung akan manusia dapat memahami kalamNYA, walaupun dalam pandangan manusia umumnya sangat rendah bahkan hina. Seumpama nyamun atau lebih rendah lagi sebagai penguji kesetiaan manusia.

Gambaran pikiran manusia yang senantiasa menginginkan pengetahuan yang tinggi-tinggi seringkali menipu walaupun banyak pembuktian akan kemajuan teknologi dari pemanfaatan alam ini sebagai bukti ciptaanNYA. Yang mana manusia tidak lebih hanya memanfaatkan saja, namun tidak pula merubah atau menaklukan dirinya menjadi tunduk pada perintahNYA yang sudah ditetapkan melalui RosulNYA, manusia memandang rendah RosulNYA. Bisakah kita renungkan dengan bahasa apa sekiranya kita dapat mengerti kalamNYA? Apakah menghendaki ada tulisan yang turun dari langit? Niscaya ia tetap ragu.

Kenapa orang tidak berpikir yang lebih luas lagi ia terbentur oleh definisi kalimat yang ia pahami dalam wilayah bahasa sosial saja. Kenapa ia tidak berprasangka baik bahwa yang dimaksudkan Alloh dengan perumpamaan itu bukanlah apa yang ia pikirkan, sehingga ia terpacu dalam membuktikan atas jawaban keingkaran yang ada, agar manusia kembali.

Sebagai analogi ilmuwan menemukan spesies baru di hutan. Ia katakan sebagai spesies baru, apa memang itu spesies baru atau baru ditemukan? Jika memang baru apakah ia dapat menelusiri sampai penyebabnya dan penyebab sebelumnya? Tidak heran bahwa suatu teori dibantah dengan teori lainnya, sebagaimana ayat-ayatNYA (Al-Qur'an) tidak ubahnya seperti alam ini jika kita memahami bahasanya yang universal.

Manusia pada dasarnya hanya memanfaatkan tidak sedikitpun turut menciptakan. Sering kali kita dapati kalimat 'nyata' dalam Al-Qur'an, sebagai bukti bahwa ia boleh dicapai melalui pembuktian. Namun manusia tidak mampu menelusuri penyebab sebelum sebab, karena sifatnya terbatas. Sebagaimana gempa bumi belum juga dapat diprediksi begitu juga mati (ajal) kalaupun dapat mengerti sebab tidak lebih mengenal petanda agar manusia mampu merespon ataupun mengantisipasi.

Pada dasarnya alam semesta ini dengan segala isinya adalah tetap terbatas. Lalu apakah yang dibutuhkan manusia agar mampu memahami kehendakNYA atas dirinya? Jawaban sudah ada namun untuk merealisasikannya seringkali terasa sulit. Betapa banyak orang mengetengahkan teori tentang kebenaran. Realisasilah kebenaran itu tapi realisasi yang didasari kehendakNYA melalui agama yang diridhoiNYA; itulah kebenaran jika mampu memahami sebagai cahaya kebenaran dimuka bumi. Karena bumi inipun ada karena atas kehendakNYA. DIA menghendaki kebaikan bagi yang mengerti kebaikan yang sebenarnya, kebaikan yang DIA kehendaki tidak pula hanya sebatas alam pikirannya saja namun menyeluruh dari awal sampai akhir.

~Halilintar menyambar~
Sebagai analogi nyata bahwa keterbatasan manusia untuk melihat disingkapkanNYA, sebagaimana Nabi Musa as sampai pingsan. Dari wilayah kecil coba pahami tentang hidayah, seperti apakah hidayah itu? Bukan pada kalimatnya namun kejadiannya. Hidayah bisa berlapis-lapis kedahsyatanNYA. Ketika nyamuk menjadikan orang dapat hidayah bisa saja ia menyembah nyamuk jika tidak ada petunjuk (kitabulloh atau keterangan sebelumnya tentang adanya Tuhan). Begitu juga seseorang yang menemukan kedamaian dalam dirinya bisa jadi menganggap dirinya adalah Tuhan.

Saya lebih suka menganalogikan manusia yang terbangun dari mimpi indah dunia, sebagai ganti matinya hati. Sehingga ia terbangun seperti orang yang baru dilahirkan. Sebagai manusia yang baru dilahirkan atau terbangun tidak pula ia mampu menerjemahkan apa-apa yang dilihatnya karena baru bisa melihat. Makanya ia memerlukan pembimbing. Allohlah sebaik-baik pembimbing jika mampu menerjemahkan perantaraNYA. Ia tidak harus fanatik, namun tidak pula lepas kendali. Kembali kepada sunah Rosul (penerapan/pelaksanaan) dan Al-Qur'an agar selamat adalah hak preogratif Alloh dalam menentukan teladan.

Makalah saya tidak lebih jembatan yang sekiranya dapat menjembatani apa yang saya pahami terlepas dari segala kekurangan yang anda temui, sekiranya dapat memakluminya karena pada dasarnya saya hanya berusaha. Saya kembalikan kepada Alloh sebagai saksi perjuangan saya. Saya yakin walaupun mediasi yang ditunjuk sebagai perantara (petunjuk) di geletak di jalanan tidaklah seseorang mampu membukakan pintu hatinya melainkan dengan seizinNYA.

0 komentar:

Followers

Mbh