Jumat, 05 Maret 2010

Dunia Hakikat

Arti kata 'hakikat' bila merujuk pada KBBI memiliki pengertian intisari atau dasar. Hakikat bahasa dapat diartikan sebagai sesuatu yang mendasar dari bahasa. selengkapnya >http://serlykeguruan.blogspot.com/2009/10/hakikat-bahasa.html

[29.43] Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
[29.44] Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu'min" (>orang beriman).

Hakikat menurut saya kata sifat dari kata dasar/baku "Al-Hak" (kebenaran). Pendekatan Hakikat dapat mencapai inti dari apa yang dimaksud melalui perumpamaan yang mana menjadi penghubung antara kalimat terluar mengarah kepada inti/isi. Dari sini pula muncul pribahasa yang mana jika kita jeli sebaik-baik pribahasa adalah yang ada dalam Al-Qur'an karena mengarah kepada pembuktian/fakta yang sesungguhnya. Disini pula saya katakan sebagai kebenaran yang lurus dan tidak sedikitpun bengkok. Dari kulit hingga buah sampai bijinya ketemu seperti halnya antara etika - estetika - logika, hakikat ini menempati dunia estetika dalam bahasa, sedangkan logikanya adalah bukti melalui penelitian.
Dalam dunia estetika bahasa dapat membuahkan multi tafsir yaitu dengan mengambil perbandingan lainnya akan tetapi sangat bermanfaat untuk menggiring seseorang pada wilayah pemahaman tertentu mengarah kepada inti yang akan dijelaskan. Disini pula suatu keindahan yang sebenarnya antara mudah dan tidak mudah untuk distrukturkan dengan detail mana cabang mana batang, mana ranting, mana daun, mana akar dstnya.
Jika seseorang hatinya masih mendua, arah dan tujuan hidupnya belum terfokus kepada Alloh akan sangat susah untuk memahami.

Satu hal yang saya tangkap dari berbagai sajian dan komentar yang muncul kemudian adalah tidak memahami kedudukah hakikat dimana saya sedikitnya meniggalkan kaidah-kaidah penulisan yang ada dengan harapan seseorang tidak terpaku kepada bentuk sajian namun lebih mencerna isinya. Dan berbagai cara saya terapkan mana yang efektif, namun kenyataanya susah jika dihadapkan kepada selera masing-masing.

Dilain pihak jika ia sudah menepaki jalan ini akan menjadi pelengkap/penyambung walaupun tanpa dipaparkan latar belakang yang jelas. Latar belakang yang saya maksud adalah suasana/lingkup persoalan yang akan membawa seseorang untuk mencapai maksud. Dalam artian ketika seseorang mau berangkat kesekolah ia sudah tahu bahwa hari ini pelajaran pertama adalah Matematika dan matematika terakhir diajarkan adalah mengenai penjumlahan. Dengan begitu ia akan siap dengan sajian apapun yang arah dan tujuannya sama.

Disini yang saya katakan bahwa bukan jawaban yang kita butuhkan dalam memahami agama namun ajakan yang mengarahkan seseorang untuk menemukan jawaban hingga ia mendapatkan suatu rumusan yang jelas. Dimana rumus itu dapat menjumlahkan apa saja tanpa ia bergantung pada jawaban-jawaban yang menjadikannya ketergantungan dengan jawaban.

[23.105] Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?
[23.106] Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.
[23.107] Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim."
[23.108] Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.
[23.109] Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.
[23.110] Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu menertawakan mereka.
[23.111] Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang."
[23.112] Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
[23.113] Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung."
[23.114] Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui."
[23.115] Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
[23.116] Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.
[23.117] Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.
[23.118] Dan katakanlah: "Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik."

0 komentar:

Followers

Mbh