Minggu, 11 September 2011

Hadiah Untuk Aswaja Dari Al-'Utsaimin al-Wahhabi

Qira'ah Untuk Mayyit Berdasarkan Yang Rajih dan Yang Shahih adalah Sampai dan Memberikan Manfaat Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Ustaimin al-Wahhabi

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin merupakan Syaikhul Wahhabiyah yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan pengikut Wahhabiyah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wahib at-Tamimi atau lebih dikenal dengan Syaikh al-Utsaimin. Dalam beberapa fatwanya, terdapat pernyataan menarik yang mungkin jarang di publikasikan oleh pengikut Wahhabiyah tentang bacaaan al-Qur'an untuk orang mati. Berikut diantara pernyataan beliau :

I. KOMENTAR AL-'USTAIMIN TENTANG AN-NAJM AYAT 39

وسئل فضيلة الشيخ: هل قوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} يدل على أن الثواب لا يصل إلى الميت إذا أهدي له؟
Fadlilatusy Syaikh ditanya : apakah firman Allah {wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa} menunjukkan atas bahwa pahala tidak sampai kepada mayyit apabila di hadiahkan untuknya ?

فأجاب بقوله: قوله - تعالى-: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} المراد -والله أعلم- أن الإنسان لا يستحق من سعي غيره شيئًا، كما لا يحمل من وزر غيره شيئًا، وليس المراد أنه لا يصل إليه ثواب سعي غيره؛ لكثرة النصوص الواردة في وصول ثواب سعي الغير إلى غيره وانتفاعه به إذا قصده به
Jawab : tentang firman Allah { wa an laysa lil-insaani illaa maa sa’aa } maksudnya –wallahu a’lam- bahwa manusia tidak berhak terhadap usaha orang lain, sebagaimana seseorang tidak memikul sesuatu tanggungan orang lain, namun maksudnya bukanlah bahwa pahala usaha orang lain tidak sampai kepadanya, sebab banyak nas-nas yang warid tentang sampainya pahala usaha orang lain kepada orang lain dan memberi manfaat dengan hal itu apabila di qashadkan (ditujukan) untuknya.

II. KOMENTAR AL-'UTSAIMIN TENTANG HADITS TERPUTUSNYA AMAL

وهذا لا يعارض قول النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له» رواه مسلم لأن المراد به عمل الإنسان نفسه، لا عمل غيره له؛ وإنما جعل دعاء الولد الصالح من عمله؛ لأن الولد من كسبه حيث إنه هو السبب في إيجاده، فكأن دعاؤه لوالده دعاء من الوالد نفسه -بخلاف دعاء غير الولد لأخيه، فإنه ليس من عمله -وإن كان ينتفع به-؛ فالاستثناء الذي في الحديث من انقطاع عمل الميت نفسه لا عمل غيره له، ولهذا لم يقل: انقطع العمل له، بل قال: "انقطع عمله". وبينهما فرق بين
"Maksud hadist terputus amalnya yaitu amal seseorang itu sendiri, bukan amal orang lain (yang ditujukan) untuknya, sebab ketika seorang anak shalih berdo'a (untuknya) itu bagian dari amalnya karena anak itu bagian dari kasab (usaha) nya dan ia merupakan sebab adanya seorang anak, maka seakan-akan do'a seorang anak untuk orang tuanya adalah doa yang berasal dari orang tua itu sendiri, -berbeda halnya dengan do'a orang lain untuk saudaranya, itu bukan bagian dari amalnya walaupun amal tersebut bermanfaat ; maka pengecualian yang disebutkan didalam hadits merupakan amal mayyit itu sendiri yang terputus bukan amal orang lain (yang ditujukan) untuknya, oleh karena inilah tidak dikatakan : "terputus amal (yang ditujukan) untuknya", namun Nabi bersabda : "terputus amalnya", keduanya ini terdapat perbedaan yang sangat jelas".

III. PENDAPAT YANG SHAHIH TENTANG QIRA'AH (BACAAN AL-QUR'AN) UNTUK MAYYIT ADALAH SAMPAI

وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأوينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل
"Pembacaan al-Qur'an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur'an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur'an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do'a adalah yang lebih utama (afdlal)."

IV. PENDAPAT YANG RAJIH TENTANG QIRA'AH (BACAAN AL-QUR'AN) UNTUK MAYYIT ADALAH SAMPAI

سئل فضيلة الشيخ: عن حكم التلاوة لروح الميت؟
Fadlilatusy Syaikh ditanya tentang hukum tilawah (membaca al-Qur’an) untuk orang mati ?

فأجاب قائلًا: التلاوة لروح الميت يعني أن يقرأ القرآن وهو يريد أن يكون ثوابه لميت من المسلمين هذه المسألة محل خلاف بين أهل العلم على قولين: القول الأول: أن ذلك غير مشروع وأن الميت لا ينتفع به أي لا ينتفع بالقرآن في هذه الحال. القول الثاني: أنه ينتفع بذلك وأنه يجوز للإنسان أن يقرأ القرآن بنية أنه لفلان أو فلانة من المسلمين، سواء كان قريبًا أو غير قريب.
Jawaban : Tilawah untuk roh orang mati yakni membaca al-Qur’an karena ingin memberikan pahalanya untuk mayyit (orang mati) yang muslim, masalah ini terdapat perselisihan diantara ahlul ilmi atas dua pendapat : Pertama, sungguh itu bukan perkara yang masyru’ (tidak disyariatkan) dan sungguh mayyit tidak mendapat manfaat dengan hal itu yakni tidak mendapatkan manfaat dengan pembacaan al-Qur’an pada perkara ini. Kedua, sesungguhnya mayyit mendapatkan manfaat dengan hal itu, dan sesungguhnya boleh bagi umat Islam untuk membaca al-Qur’an dengan meniatkan pahalanya untuk fulan atau fulanah yang beragama Islam, sama saja baik dekat atau tidak dekat (alias jauh).

والراجح: القول الثاني لأنه ورد في جنس العبادات جواز صرفها للميت
Dan yang rajih (yang kuat) : adalah qaul (pendapat) yang kedua, karena sesungguhnya telah warid sebagai sebuah jenis ibadah yang boleh memindahkan pahalanya untuk mayyit (orang mati), []

SUMBER : MAJMU' FATAWA WA RASAA'IL MUHAMMAD BIN SHALIH AL-UTSAIMIN (W 1421 H)

selanjutnya dari cucu pendiri wahhabi

وأما القراءة المشروعة فهي ما كان قبل الموت وعند الاحتضار كقراءة سورة "يس" أو " الفاتحة" أو " تبارك" أو غير ذلك من كتاب الله
Adapun membaca al-Qur'an yang disyariatkan adalah sebelum mati atau ketika menjelang mati, seperti membaca surah Yasiin, atau al-Fatihah, atau Tabarak, atau yang lainnya yang berasal dari Kitabullah (al-Qur'an)"

Sumber : Fatawa wa Rasail [3/229] Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Ali asy-Syaikh [w. 1389 H], lengkapnya Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdur Rah­man bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-­Najdi adalah ulama Wahhabiyah yang merupakan keturunan (cucu) dari Muhammad bin Abdul Wahab. Disini cucu Ibn Abdul Wahab menyetujui bahwa orang lain yang membaca al-Qur’an untuk orang yang menjelang mati adalah perkara masyru.


Wallahu A'lam []
Kurang Lebihnya Mohon Maaf.

0 komentar:

Followers

Mbh