Sabtu, 20 Agustus 2011

Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani: Rahasiakan Kondisi Ruhani-mu

Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani:
Rahasiakan Kondisi Ruhani-mu

Hari Ahad Pagi tanggal 20 Sya'ban tahun 545 H,
di Pesantrennya.


Nabi saw, bersabda: "Ilmu itu membisik, jika disertai amal, ilmu akan
meresponnya, tetapi jika tidak ia akan meninggalkannya."

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa barokah ilmu bisa sirna, tinggal
argumen-argumennya belaka, sehingga anda menjadi ilmuwan, Ulama dan
cendekiawan yang yang terfitnah oleh ilmu anda sendiri, yang tersisa hanya
pohon pengetahuan, sedangkan buahnya sirna dari anda.

Mohonlah kepada Allah Azza wa-Jalla agar Dia memberikan rizeki kondisi
ruhani dan maqom di hadapanNya. Bila Allah azza wa-Jalla memberikan rizeki
maqom dan haal padamu, mohonlah agar Allah swt merahasiakan semua itu, dan
hendaknya anda tidak suka bila rahasia itu ditampakkan.

Bila anda suka ditampakkan kondisi ruhani anda yang ada di hadapanNya,
itulah yang menyebabkan kehancuran.
Hati-hati dan waspada terhadap rasa kagum pada prestasi ruhani dan amal baik
ada. Karena orang yang kagum pada amal dan ruhaninya, ia telah terpedaya,
terkena amarah dari Allah Azza wa-Jalla.
Hati-hati, anda jangan banyak bicara dengan sesama, dan merasa senang ketika
ucapan anda diterima. Itu justru membuat diri anda terkena bahaya dan tidak
ada gunanya.

Janganlah anda bicara dengan suatu kalimat sampai kalimat itu benar-benar
mendapatkan restu dari Allah azza wa-Jalla.
Bagaimana anda mengundang banyak orang ke rumah anda, sedangkan anda tidak
menyiapkan hidangan bagi mereka? Persoalan ini butuh pondasi, kemudian
bangunan.
Cangkuli hatimu hingga tumbuh subur air hikmah lalu bangunlah dengan ikhlas,
mujahadat, dan amal sholeh hingga istanamu menjulang. Baru anda ajak orang
lain.

Ya Allah, hidupkan jasad amal kami dengan roh keikhlasan dariMu.
Namun bagaimana bersembunyi dari makhluk bisa memberi manfaat padamu,
sedangkan makhluk terus menerus ada di hatimu? Sungguh tak ada kehormatan
dan tak ada artinya khalwatmu. Bila anda khalwat sedangkan makhluk bercokol
di hatimu, sesungguhnya anda dalam kesendirian tanpa hadir di hadapan Allah
Azza wa-Jalla.
Bahagia mesra itu bersama Allah azza wa-Jalla, namun nafsu, syetan dan hawa
kesenangan terus menyertaimu. Bila hatimu merasa senang bahagia bersama
Allah Azza wa-Jalla, pasti anda sepi dari makhluk, walaupun anda bersama
anak isteri dan keluarga.
Bila kebahagiaan indah benar-benar teguh mandiri di hatimu bersama Allah
Azza wa-Jalla maka dinding wujudmu pun roboh, mata-hatimu akan melihat, lalu
yang anda lihat adalah anugerah dan tindakanNya. Lalu anda hanya ridho
kepadaNya, bukan ridho pada lainNya. Maka disitulah syarat Ridho, berselaras
dan ubudiyah benar-benar didapatkan.
Anda jangan dusta. Anda mengaku ridho. Tapi hati anda bisa dirubah oleh
sayuran, oleh suapan makananan, kata, dan gengsi.
Anda jangan dusta, betapa nyaringnya dustamu, sedangkan amal dan kejujuranmu
sirna, bahkan tak seorang pun makhluk yang membenarkan anda. Allah swt,
mewahyukan kepada hati mereka dengan Kalimat-kalimat yang istemewa, dimana
mereka mengenal kebajikan dan mereka berserasi dengan Kalimat itu.
Mereka yang hatinya tercerahkan senantiasa mengikuti jejak Rasul dalam
ucapan dan tindakannya. Bila Rasul saw, mendapatkan wahyu secara dzohir,
namun mereka mendapatkannya melalui hati mereka (Ilham) karena mereka adalah
para pewaris Nabi, pengikut-pengikutnya dalam seluruh apa yang diperintahkan
Allah swt pada mereka.

Bila anda ingin mengikuti jejak secara benar, maka perbanyaklah mengingat
mati, karena mengingat mati itu akan berarti bagi dirimu, nafsumu, dan
menjauhkan syetanmu, menepiskan duniawimu. Siapa yang tidak meraih nasehat
dari maut, ia tidak akan meraih jalan nasehat. Nabi saw, bersabda:
"Cukuplah maut itu sebagai penasehat…"

Bagianmu akan tiba, apakah anda sedang zuhud sekalipun dan anda justru
meraih kemuliaan. Tetapi jika bagianmu kau ambil dengan ambisi nafsu, anda
meraihnya tetapi tidak meraih kemuliaan.
Orang munafik itu malu kepada Allah Azza wa-Jalla ketika bersama makhluk,
dan ia merasa sinis ketika tidak berada di tengah publik itu.

Ingat! Jika imanmu dan akidahmu benar, Dia senantiasa memandangmu, Maha
dekat dan Maha Mewaspadaimu, maka sungguh anda akan sangat malu. Aku bicara
benar padamu, dan aku tidak kawatir pada kalian, juga tidak berharap dari
kalian.
Bagiku, kalian tak lebih dari serpihan debu atau sebiji sawi di muka bumi,
karena aku hanya melihat yang memberi bahaya dan manfaat itu tetap dari
Allah azza wa-Jalla, bukan dari kalian. Budak dan tuan bagiku sama.

Beranikan untuk mengingkari dirimu dan yang lain melalui jalan syara', bukan
jalan nafsumu, kesenangan atau nalurimu. Bila syariat diam, maka
berselaraslah dengan diamnya. Bila syariat bicara, maka serasilah dengan
ungkapannya.
Anak-anak sekalian… Jangan mengingkari orang lain dengan hawa nafsumu,
tetapi lawanlah dengan imanmu. Iman itulah yang kontra terghadap
kemungkaran, sedangkan yaqin, itulah yang menghapus kemungkaran itu. Allah
Azza wa-Jalla Yang Menolong dan membelamu. Allah azza wa-Jalla berfirman:

"Bila Allah menolong kalian, tak ada yang mengalahkan kalian"
(Ali Imron 160).

"Bila kalian memohon pertolongan Allah, Dialah yang menolong kamu dan
mengokohkan pijakanmu." (Muhammad : 7)

Bila anda mengingkari kemungkaran sebagai wujud kecemburuan bagi Allah Azza
wa-Jalla, Dia akan menolongmu untuk menghapus kemungkaran itu, menolong
kalian mengalahkan ahli mungkar dan menghinakannya.

Tetapi jika anda nahi mungkar dengan emosi nafsumu, hawa nafsu dan syetanmu,
watak hinamu, maka Allah Azza wa-Jalla tidak akan menolongmu mengalahkan
ahli mungkar.
Imanlah yang kontra pada kemungkaran. Setiap tindakan nahi mungkar yang
tidak didasari iman, maka bukanlah sebagai nahi mungkar. Seharusnya
motivasinya hanyalah Lillahi Ta'ala. Bukan kepentingan diri dan nafsumu,
atau kepentingan makhluk. Benar-benar untuk kepentingan Allah azza wa-Jalla,
bukan untuk kepntingan diri anda.

inggalkan stressmu dan ikhlaslah dalam amal-amalmu.
Maut mengintaimu, sudah seharusnya anda berkontemplasi.
Karena itu tinggalkan ambisimu yang telah membuatmu terhina. Apa yang
menjadi milikmu bakal tiba, dan apa yang menjadi milik orang lain tidak
bakal anda raih. Karena itu sibukkan dirimu bersama Allah azza wa-Jalla.
Jangan berambisi mencari apa yang menjadi milikmu dan yang bukan milikmu.
Allah swt telah berfirman:

"Janganlah engkau pandangkan kedua matamu pada apa yang Kami hiaskan pada
golongan-golongan dari mereka sebagai bunga-bunga kehidupan duniawi , di
dalamnya sebagai cobaan dari kami untuk mereka…." (Thaaha: 131)

Sumber:
Cahaya Sufi Magz Edisi: 64
Untuk pemesanan/berlangganan Hub redaksi CS: 021 856 1695

0 komentar:

Followers

Mbh