Rabu, 17 Agustus 2011

Terbitnya Cahaya-cahaya

"Tempat terbitnya cahaya-cahaya adalah qalbu-qalbu dan rahasia qalbu"

Kenapa demikian? Karena sumbernya adalah pemahaman atau pengetahuan.
Pemahaman itu ada pada qalbu, sedangkan munculnya pengetahuan adalah dari
rahasia qalbu atau rahasia batin (asrar).

Dalam kitabnya, Syeikh Abul abbas al-Hadhramy menegaskan, "Pemahaman nuur
itu menurut limpahan anugerah yang memancar di qalbu dan menurut kadar
cahaya dalam batinnya qalbu." Beliau juga mengatakan, "Cahaya itu beragam
dan berbeda-beda: Ada cahaya watak diri, ada cahaya akal, ada cahaya ruh,
ada cahaya qalbu dan ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa'ul qalb),
ada pula cahaya rahasia batin (sirr), dan cahaya dalam rahasia batin (sirr)
itulah yang paling agung dan paling sempurna.

Setiap cahaya dari semua cahaya itu ada yang disebut dengan cahaya
penakwilan (cahaya kecerdasan), ada cahaya pelimpahan anugerah (cahaya
tanziil), ada cahaya transformatif (cahaya menuju yang lebih terang) dan
cahaya perpindahan (cahaya tanqil).
Setiap tahap (maqam ruhani) ada penjelasan yang tak terjangkau oleh batin
kita apalagi membuat batasan garis, "Dan tidak ada yang tahu pasukan-pasukan
Tuhanmu kecuali Dia".

Beliau melanjutkan:
"Ada cahaya yang dititipkan dalam qalbu, cahaya itu melimpah datang dari
khazanah ghaib tersembunyi."
Syeikh Zarruq dalam syarah Al-Hikam ini mengatakan, "Cahaya yang dititipkan
dalam qalbu itu adalah yang tercetak dalam batin qalbu yang melimpah dari
cahaya Musyahadah di Hari Perjanjian Azali :
"Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, "Benar (Engkaulah Tuhanku)".
(Al-A'raaf: 7)

Cahaya itulah yang diibaratkan sebagai cahaya mata kita ketika mata
memandang. Namun datangnya cahaya itu setelah adanya cahaya Ilham yang
memancar dari khazanah rahasia tersembunyi (khazainul ghuyub)….".
Beliau melanjutkan:

"Ada cahaya yang tersingkap padamu melalui ciptaan-ciptaannya, dan ada
cahaya yang tersingkap padamu melalui Sifat-sifatNya."
Dua model cahaya yang tersingkap, dan keduanya bersifat batin semua. Bila
muncul cahaya yang tersingkap dari perspektif ciptaan-ciptaanNya, maka anda
akan melihat cahaya itu dengan suatu efek bahwa ciptaan-ciptaan itu hanyalah
sesuatu yang serba kurang dan sirna di dunia ini. Tak ada yang abadi, kekal
dan sempurna.

Dari sanalah seseorang menjadi penuh harap dan rasa takut, lalu mencari
selamat dan pahala karena anda tahu sebenarnya dunia itu seperti apa. Pada
saat yang sama anda tahu akhirat dan kekekalannya dan apa yang disediakan
Allah Ta'ala pada orang yang patuh dan taat padaNya dan apa yang diancamkan
pada orang yang maksiat padaNya.

Sebagian para Sufi menegaskan, "Apabila iman ada di luar qalbu, yakni pada
al-Fuad, maka orang beriman mencintai Allah dengan cinta yang
setengah-tengah saja, bila iman sudah merasuk ke dalam qalbu yaitu masuk
pada titik hitamnya, ia akan mencintai Allah dengan cinta yang sangat kuat."
Namun hati-hati, cahaya itu bisa menjadi hijab, sebagaimana ciptaan ini bisa
jadi hijab. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan:
"Kadang qalbu tercengang (berhenti) oleh pesona cahaya, sebagaimana nafsu
terhijab oleh alam kasat mata."

Kadang memang demikian, karena itu harus hati-hati, jangan sampai cahaya
Allah Swt, justru menjadi tirai antara anda dengan Allah Swt, karena
indahnya pesona ruhani, membuat anda alpa dan kehilangan pada Sang Pemberi
Cahaya.

Model orang yang terpesona oleh cahaya dan terhenti ini ada tiga faktor:
Sangat senang dan suka cita dengan cahaya, asyik maksyuk dengan fenomena
cahaya.
Menenggelamkan diri pada indahnya cahaya batin dan tidak menjenguk apa yang
ada dibalik atau sesudahnya (Allah Sang Maha Pencahaya)
Memandang cahaya itu sebagai tahap final dari perjalanan ruhaninya.

Karena itu Ibnul Jalla', ra, menegaskan, "Siapa yang hasratnya terhenti pada
selain Allah Swt, ia kehilangan Allah Swt. Karena Allah Swt Maha Besar, dan
jauh untuk disertai yang lainNya.
Karena itu, disebutkan oleh Syeikh Ahmad ar-Rifa'y, bahwa kaum 'arifin bisa
terkena istidroj bila terhenti pada kema'rifatannya, bukan pada Sang Ma'ruf
(Allah Yang dimakrifati).
Dengan begitu:
Ketika anda berdzikir, jangan terhenti pada indah dan nikmatnya dzikir, lalu
lupa pada Yang anda Ingat (Allah Swt),
Ketika anda beristiqomah jangan terpaku pada karomahnya, alpa pada Dia yang
mencintai Istiqomah anda.
Ketika anda berdoa, gembira pada wujud ijabahNYa, lupa pada agung takdir
munajat anda kepadaNya.

Beliau Ibnu Athaillah as-Sakandary menyebutkan hikmah dibalik ditutupnya
rahasia-rahasia para wali dari umumnya manusia, dan tidak muncul di tengah
publik.
"Allah Swt menutupi cahaya-cahaya rahasia batin dengan alam lahiriyah, dalam
rangka memuliakannya agar tidak tergelar di dalam wujud nyata (tampak).
Sekaligus terhindarkan dari bahasa popularitas."
Betapa mulianya cahaya-cahaya para 'arifun dan para auliya' itu, hingga
Allah harus merahasiakannya, dibalik tampilan biasa, manusiawi dan alamiah
belaka. Ibarat bintang di langit semakin tinggi semakin tidak tampak dan
tidak bisa dipandang.
Bahkan orang-orang kafir pun terkecoh, ketika memandang para Nabi as. Ketika
mereka mengatakan, "Ini tak lebih dari manusia seperti kalian, yang makan
seperti makanan kalian dan minum seperti minuman kalian. " (Al-Mu'minun 33),
"Mereka mengatakan, Rasul macam apa ini yang makan makanan dan jalan di
pasar-pasar?" (Al-Furqon: 7)

Karena itu mengenal wali, menurut Syeikh Abul Abbas Al-Mursy, lebih sulit
disbanding mengenal Allah Swt. Karena Allah Ta'ala sangat jelas dengan
keparipurnaan dan keindahanNya, sedangkan para wali, bagaimana anda tahu,
mereka makan seperti anda, dan minum seperti minuman anda."
Lalu Ibnu Athaillah menegaskan, "Bila Allah hendak mengenalkan anda pada
seorang wali dari wali-waliNya, maka wujud manusiawinya disingkap pada anda,
lalu dipersaksikan wujud keistemewaannya."

1 komentar:

Ancol mengatakan...

Met mlm plend ,merdekaaa... ! Wah iya ne udh enteng ,abis di ksh sajen apan ,hikhik... ! Oiya ,met ngjlalanin puasa yak

Followers

Mbh