Kamis, 18 Agustus 2011

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH

Dalam komunikasi sehari-hari, sudah lumrah kita mendengar “insya Allah”.
Allah SWT sangat menekankan menyebut kata ini bagi siapa pun yang berjanji melakukan sesuatu, baik untuk orang lain atau dirinya sendiri.

Nabi Muhammad SAW pernah mendapatkan teguran dari Allah SWT terkait kata ini. Suatu hari, Nabi SAW pernah menjanjikan kepada sahabatnya, jawaban atas pertanyaan tentang kisah Ashab al-Kahf yang diajukan kepadanya. Beliau baru bisa memberikan janji, sebab pada saat itu belum mengetahui kisah tersebut. Kepada sahabatnya itu, dengan tanpa menyertakan kata “insya Allah”, beliau mengatakan, “Besok pagi aku akan menjawab pertanyaan itu,” seperti yakin, sebelum matahari esok pagi bersinar, Allah SWT akan telah menurunkan wahyu kepadanya, menceritakan kisah tersebut.

Namun, tepat pada saat di mana Nabi SAW akan memenuhi janjinya, wahyu yang dinantikan ternyata tak kunjung turun, juga pada hari berikutnya, bahkan ketika hari telah berlalu satu pekan dari hari yang dijanjikan. Kondisi ini membuat Nabi SAW rindu bercampur gusar. Dan akhirnya, wahyu itu baru Allah SWT turunkan pada hari kelima belas atau dua pekan dari hari di mana Nabi SAW berjanji.

Atas apa yang dilakukan Nabi SAW itu, Allah SWT kemudian menurunkan ayat sebagai teguran kepadanya, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu (rencana): “Sesungguhnya aku akan mengerjakannya besok pagi.”, kecuali (dengan menyertakan kata) “Insya Allah” (Al-Kahf: 23-24).

Secara bahasa, idiom berbahasa Arab “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Kata itu Allah SWT ajarkan kepada manusia sebagai etika dalam berjanji, berencana atau ber’azam melakukan sesuatu untuk orang lain atau bagi kepentingan diri sendiri. Dalam kata itu tersyirat makna tauhid, bahwa hanya Allah SWT semata yang memiliki kuasa dan pengetahuan mutlak apa dan bagaimana yang akan dan tidak terjadi pada esok hari.

Sedangkan bagi manusia, rencana, pengetahuan, teknis, dan bahkan kekuasaan untuk mewujudkan semua itu hanyalah kemungkinan yang relatif. Bagi manusia, jangankan satu bulan, satu minggu, satu hari, bahkan pada rentang waktu satu jam kedepan, kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi, baik yang sesuai dengan rencana atau bahkan yang tidak sama sekali. Dan itu hanya terjadi jika Allah menghendaki, insya Allah.

Dengan mengucapkan kata itu pada setiap apa yang direncanakan, kita seperti mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanya berusaha dan berencana sebaik mungkin, sambil menancapkan kesadaran akan kemutlakan kuasa Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Selamat menjalankan ibadah puasa :-)

0 komentar:

Followers

Mbh