Jumat, 12 Agustus 2011

PEMBELAJAR (pencari ilmu) SEJATI

Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati,
memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang
mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang
tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja .

Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak melalui proses belajar.
Ingatkah kita, mengapa kita sampai bisa berbicara lancar? bahkan
dengan bahasa yang berbeda, misalnya Bahasa Minang bagi orang Minang,
jawa, inggris, arab, atau kita bisa berjalan normal? makan dengan
normal, tidur dengan normal?.
Pasti berabe jika kita tidak pernah diajari ngomong, pasti celaka jika
kita tidak diajari berjalan, makan dan bahkan tidur dengan normal?
Bisa kita bayangkan apa jadinya kita kalau kita berjalan seperti
kambing, atau kita makan seperti ayam, atau kita tidur seperti
kelelawar? Hmm ... pasti capek banget. Belajar tentang bahasa ini juga
disinggung Allah dalam Alqur'an:
"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka
setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah
berfirman: "bukankah sudah Kukatakan padamu, bahwa sesungguhnya Aku
mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu
lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan." (Al-baqarah: 31-33)

Jangankan manusia, binatang pun belajar bagaimana menggunakan bahasa
"sukunya" masing-masing.
Kucing akan berbicara dengan bahasa kucing, dan ayam akan berbicara
dengan bahasa ayam. Pernah denger ada binatang yang berbicara dengan
bahasa berbeda antar suku? Misalnya ayam berbahasa kucing dan
sebaliknya?

Dan binatang pun belajar bagaimana menjalani hidupnya, contoh kecil
yang ada di sekitar kita, pernah melihat kucing bermain bersama
induknya? Disaat kucing beranjak dewasa, dia akan diajari oleh
induknya bagaimana mempertahankan diri dari serangan musuh, mulai dari
cara mencakar, mengeong, berlari dan melompat dengan gesit.

Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati,
memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang
mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang
tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja.
Sekolah dan institusi boleh saja membatasi dengan spesialisasi ilmu
dan birokrasi nilai, seperti yang ada di sekolah-sekolah formal. Akan
tetapi itu tidak akan "ngaruh" untuk seorang pembelajar.

Hal ini sudah banyak ana temui dilapangan, betapa banyak teman ana
dengan spesialisasi ilmu pada pendidikan formal, juga menguasai ilmu
lain, bahkan dia lebih menguasai ilmu yang bukan spesialisasi
bidangnya. Ada yang lebih dikenal
"ustadznya", dibanding sarjana pertanian, atau tekniknya, ada yang dia
lebih dikenal sebagai penulis dibandingkan keilmuannya di kimia.

Seorang pembelajar sejati berarti juga memahami, betapa waktu dan umur
tidak akan pernah membatasinya untuk belajar. Seperti halnya jawaban
Imam Hambali yang ditanya sampai kapan engkau akan menuntut ilmu? Dan
beliau menjawab "beserta tinta akan ke liang kubur".
Seperti juga dikatakan rasullullah, "Uthlubul 'ilmi minal mahdi ilal
lahdi", tuntututlah ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat.

Seorang pembelajar sejati memahami bahwa sepanjang hidupnya adalah
laboratorium. Ketika bertemu dengan kegagalan dia yakin bahwa Allah
mengirimkannya agar kesuksesan yang nanti diraihnya terasa lebih
manis. Ketika kehilangan menjumpainya maka iapun yakin bahwa Allah
akan menggantikan dengan yang lebih baik. Ketika ia bekerja, maka
sesungguhnya ia sedang belajar. Ketika ia ditimpa musibah, atau diberi
kebahagiaan, maka pada hakekatnya ia sedang belajar.

Dan guru adalah seseorang atau sesuatu yang membantu mengajari kita
dengan tepat dan benar.

Mengapa tidak hanya seseorang? Tetapi juga sesuatu? Karena memang yang
mengajarkan kita tidak hanya orang, tetapi juga alam, lingkungan dan
kehidupan itu sendiri. Dan disini tidak ada batas lagi antara guru dan
murid, siapa guru dan siapa murid, tetapi menyangkut apa hikmah
sesuatu yang dipelajari itu.
Seperti kucing yang mengajarkan persaudaraan, atau ayam yang lebih
dahulu bangun di pagi hari. Dan itu memerlukan kejernihan hati untuk
dapat mengambil cahaya ilmu itu.

Mari hidupkan "tradisi pembelajaran". Masih banyak yang belum kita
ketahui, dari alam, lingkungan, kehidupan dan semua ayat-ayat Allah.

0 komentar:

Followers

Mbh