Sabtu, 23 Juli 2011

Mendambakan Ujian Allah

Dahulu ada sepasang suami istri yang hidup bahagia. Sejak pernikahan mereka. Allah belum pernah menguji sang suami.

"andaikata Allah menginginkan kebaikan bagi suamiku tentu ia akan di uji-Nya." kata sang istri dalam hati. Suatu hari sang suami berkata kepada istri yang sangat
dicintainya, "sebutkan apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya."
"Jika kau sungguh-sungguh akan mengabulkan
permintaanku, ceraikanlah aku !!!" kata istrinya.
"Mengapa kau berkata demikian ? ! aku sangat
mencintaimu. Berat bagiku untuk berpisah denganmu ! ." kata sang suami
terperanjat.
"Itulah permohonanku kalau kau memang hendak
membahagiakanku."
Sang suami kebingungan. Ia terdiam memikirkan persoalan pelik ini..
Akhirnya ia mendapat jalan keluar, " kalau perceraian, aku tidak setuju karena kau sangat berarti bagiku. Akan tetapi aku akan melakukan perjalanan selama beberapa waktu."

Ia kemudian mempersiapkan kendaraan dan bekal perjalanan. Ketika hendak menaiki punggung hewan tunggangannya, hewan itu melemparkannya. Sewaktu jatuh patah tulang kakinya. Ia kemudian dipapah masuk rumah. Melihat keadaan suaminya, sang istri merasa senang dan bahagia.
"Segala puji bagi Allah yang sekarang telah mengingatkanmu," kata sang istri dengan wajah berseri-seri.

_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Wal hasil banyak diantara kita selalu mengeluh ketika Sang Azza Wa Jalla sedang menguji kita. Padahal ujian tersebut adalah tanda perhatian Allah kepada kita, tinggal bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya.

Pada jaman dahulu aslaf ashlah kita selalu gelisah jika sehari saja Beliau-Beliau tidak mendapat ujian seakan-akan ada suatu kenikmatan yang hilang dari aslaf kita. Sekarang , masihkah kita berharap tanda kasih sayang Allah ada pada hari-hari kita atau kita berharap tak ada tanda kasih tersebut dalam hari-hari kita ?

Jawabannya ada didalam hati kita, semoga bermanfaat, amin :)

Sumber : thuhfatul asyraf 'ala kalami Habib Muhammad bin Hadiy Assegaf

0 komentar:

Followers

Mbh