Jumat, 22 Juli 2011

HAKEKAT TUMPENG MENUJU TAUHID

Seringkali saat kita syukuran, ada sebuah sajian nasi tumpeng..
Namun kita belum tau makna atau hakekat sesungguhnya simbol nasi tumpeng ini.. Yang kita tau hanya sebuah nasi kerucut untuk di sajikan atau mungkin sebuah hiasan.. Padahal ada makna yang dalam untuk kita ketahui.. Paling tidak membuka wawasan kebudayaan bangsa dan peradaban kita yang luhur.. Dan agar kita mengerti
maksudnya, bukan asal main bid'ah yang ga jelas dan ingin mengARABkan bangsa besar dengan beraneka budaya nya ini..

Nasi tumpeng berbentuk kerucut, putih atau kuning warnanya.. Alas daun pisang dan urapan dari berbagai daun hijau semuanya.. Diletakkan di ”tampah” bambu yang coklat kekuningan sebagai nampannya.. Beberapa butir telur rebus terpotong kelihatan putih dan kuningnya..

Warna merah dari cabai meningkatkan energi, membangkitkan semangat yang sedang berdoa..

Warna kuning, mengikis ketegangan dan meningkatkan perasaan gembira..

Warna hijau, melembutkan hati dan berkaitan dengan jantung dan sifat kasih di dada..

Warna Coklat merupakan warna bumi tempat semua tanaman berada..

Semuanya berasal dari bahan organik ramah dengan lingkungan manusia..
Makanan bersifat satwik yang menenangkan jiwa, bukan bersifat tamas yang membuat malas dan bukan rajas yang membuat agresif pengkonsumsinya..

Bukankah sungguh mulia tradisi nenek moyang kita...?

Bukan itu saja.. Bentuk Tumpeng, bangunan Candi, kubah masjid, rumah joglo, menara gereja, pagoda kuil seperti halnya bangunan Piramid juga bermaksud
menggambarkan sebuah gunung di bumi.. Gunung yang nampak agung mempunyai sifat yang stabil secara alami..

Semakin naik ke atas gunung semakin luas pandangan ke bumi.. Bermacam jenis pohon menjadi semakin kecil, tak nampak perbedaan lagi..
Hal tersebut menggambarkan semakin tinggi kesadaran seseorang, dia akan melihat secara general, umum dan tidak lagi terfokus pada detail yang rinci..
Dia tidak melihat perbedaan-perbedaan lagi.. Semakin tinggi kesadaran seseorang, pandangannya menjadi semakin holistik, tidak parsial lagi...
Gunungan berbentuk simetris di sebelah kiri dan kanan serta di sekelilingnya.. Semakin ke bawah antara kiri dan kanan semakin
melebar jaraknya..
Semakin ke atas sifat dualitas tersebut semakin kecil, sedikit beda.. Dan pada akhirnya di puncaknya terlampauilah sifat dualitasnya... Esa, Tunggal Adanya.....

Maka kita buka pikiran dan hati kita.. Agar jiwa ini menyadari untuk menapaki tangga-tangga menuju sebuah kesadaran, Maqom.. Dengan kesadaran pula untuk sampai di puncaknya, Berjumpa dengan dzat yang SATU adanya.. Disinilah kita mengakui sebenar-benarnya penuh keyakinan apa itu yang di sebut " LA ILAHAILLAH..", Tiada TUHAN selain DIA yang maha SUCI adanya..

inilah sejatinya TAUHID, SATU.. ^_^

0 komentar:

Followers

Mbh