Minggu, 20 Desember 2009

Menjawab para penggemar agama sufi

MUKADDIMAH

Artikel Warisan Jahiliyyah adalah berkenaan dengan karakter-karakter jahiliyyah yang telah menjerumuskan umat sebelum Islam kedalam kesesatan bahkan ada yang samapai pada tahap kemusyrikan -kekufuran. Oleh sebab itu pula Allah berfirman:

v Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ….[surat Al Ahzaab:33]

v Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah..[surat Al Fath:26]

Oleh karena itu,ketika Nabi mendengar seseorang mencaci temanya dengan ucapan; ”Hai anak perempuan hitam?”, beliau bersabda:

ط A’ayyartahu biummihi?? Innakamru-un fiika jahiliyyatun

Apakah Engkau menghinanya karena ibunya?Sungguh masih ada dalam dirimu tanda-tanda jahiliiyah.

[Muslim no.1850]

Beliau Shalallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

ط “Ada 4 perkara jahiliyyah ditengah umatku merupakan perkara jahiliyyah yang tidak mereka tinggalkan:Mencela keturunan,berbangga-bangga terhadap kehormatan, meratapi orang mati,dan menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang.”

[Bukhari secara ringkas no.3850; Muslim no.934]



Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhory Muslim dari Abi Sa’id al Khudry:

[ “Sesungguhnya kamu sekalian akan mengikuti cara-cara orang yang datang sebelum kalian setapak demi setapak , hinga seandainya mereka memasuki lubang biawak , kamu sekalian AKAN MEMASUKINYA pula.” Mereka berkata :”Wahai Rasulullah : Orang Yahudi dan Nahroni ? Rasulullah menjawawb :” SIAPA LAGI!!”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhory dalam shohihnya , dari Abu Hurairoh Radhiallahu anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam :

[ “Tidak akan terjadi kiamat , sehingga umatku akan mengambil apa-apa yang diambil (para umat) pada abad-abad sebelumnya sejengkal demi sejengkal , sehasta demi sehasta . Maka dikatakan kepada beliau :”Seperti orang Persi dan Romawi ???? Beliau menjawab :manusia mana lagi kalau bukan mereka ?”

Oleh karena itu sangat mungkin praktek dan karakter jahiliyyah diminati dan diikuti oleh kaum muslimin.Itulah sebabnya Rasulullah sangat mencela perilaku tersebut dan mewanti-wanti untuk jangan mengikutinya.Demikian pula para salafus sholeh telah dengan ketatnya menjaga Islam dari pengaruh-pengaruh Jahiliyyah agar tidak menjadi pecundang dalam kesesatan atau kemusyrikan-kekufuran.

Dalam perkara ini para alim ulama kita telah membahasnya, baik dalam sub bahasan tertentu atau ketika dalam menjelaskan nash-nash tentang hal tersebut. Sedangkan yang khusus menelaah dalam sebuah risalah yang istimewa dan berharga , seperti Syaikhul Islam dalam Al Iqthidho asShirothol mustaqim mukhalafi Mukholatu Ashabul jahim, dan Masaail Jahiliyyah ,karya Syaikh Muhammad At Tamimiy yang kemudian di Syarh oleh Dr. Syaikh Soleh bin Fauzan.Yang disebut terakhir inilah yang dikutip pada artikel ini dengan beberapa tambahan seperlunya.

Hal ini telah diulas pada postingan awal pada seri Warisan Jahiliyah.Sehingga menjadi mudah pengertian dan gamblang penjelasan.Dan tidaklah sulit untuk mengambil faedah dari buah tangan ulama-ulama Islam ini.

Namun ada juga yang tidak mudeng (alias tidak mengerti) atau pura-pura tidak mengerti tentang pelajaran ini.

Contohnya sebuah reply dari Ali Fitri. Sekilas saya melihat dari kalimat-kalimat yang dimunculkan , tertuju pada 2 perkara: Kurang paham dengan perkara jahiliyyah atau salah paham dengan perkara tasawuf!.Sehinga bercampur aduk kalimat-kalimat yang rancu sebagai hiasan paragrafnya. Berikut perinciannya.



Pertama:

Kalimat :”Ini adalah penyelarasan yang dipaksakan, kaum sufi tidak sama dengan kaum kafir.”

Untuk pengirim email ini, saya sarankan untuk membaca bagian awal-awal dari artikel “WARISAN JAHILIYYAH”. Yaitu bahwa perkara-perkara jahiliyyah yang dilakukan baik oleh ahli kitab maupun umiyyun, yang sangat diwanti-wanti untuk dilarang ,agar jangan mengikuti jejak kesesatan mereka.

Rasulullah ketika mengkhabarkan bahwa umat ini ada yang berperilaku seperti Yahudi, Nashrani dll dari musuh-musuh Islam (spt riwayat Abu Hurairah dan Abu said Al Khudriy) sejangkal demi sejangkal,…Apakah anda akan mengatakan bahwa Rasulullah memaksakan penyelarasan antara umat Islam dengan kaum kafir itu??

Tidak ada kesamaan itu , melainkan sama dalam praktek dan perilaku!!! Pahamilah dengan sebenar-benarnya . Jadi pertanyaan selanjutnya (dan seharusnya) adalah benarkah kaum sufi berbuat seperti itu,…?? Yakni perilaku mengaku-ngaku cinta ala sufi sehingga tidak butuh sorga tidak takut neraka, memperolok-olok surga dan neraka??Sehingga dengan cinta ‘palsu’ ini menyelisihi syari’at.

Karakter jahiliyyah ini yang disebutkan oleh penulis dan pensyarah tidaklah dipaksakan , namun terbuktikan ada pada kaum sufi.Bukti berdasarkan kenyataan dan hujjah. Dan bukankah anda sendiri pun mengakuinya ??? seperti pernyataan anda di kalimat terakhir:

“kalaupun ada aliran tasawuf yang menyimpang dari syariat itupun tidak bisa mengugurkan semua ahli tasawuf kedalam jurang kebatilan”



Atau anda tidak tahu bahwa cinta seperti ini diajarkan kaum sufi ,kondang bahkan tidak tersembunyi bagi siapa saja yang membaca kisah-kisah sufi.

Dan bacalah lagi pelan-pelan pada bagian akhir artikel tsb::

…dan karakter ini berlaku pula atas siapa saja yang mengaku cinta kepada Rasul namun tidak mengikuti beliau,….



Kedua:

Sudah sangat kondang lagi masyhur pernyataan cinta-cintaan ala sufi seperti itu.Mau bukti lebih banyak lagi??? Ataukah anda tidak tahu ajaran sufi ??? Wah itu musibah buat anda!!!

Coba buka buku (kalau anda menghargai sebuah peneltian!!) Dirasat fi at Tasawuf , jangan anda berkecil hati, buku karya Syaikh Ihsan ilahi Dahir ini telah diterjemahkan oleh penerbit Darul Haq, hal 94 dan seterusnya. Disana dikutip dari buku-buku penulis Tasauf yang terkenal seperti :

- Tadzkiratul Auliya : Fariduddin Al Athar

- Raudhatut Ta’rif bil Hubbisy Syarif : Al Wazirudien bin Al Khatib

- Jumharatul Auliya : Al Manufi al Husein

- At Tarrudh li Madzhabi ahli at Tasawuf : Abu Bakar Muhammad al Kalabadzi

- Qutul Qulub Abu Thalib Al Makki

- Ba’ashir Jami’Kirwan Karamatul Auliya

- Risalah Al Qusyeriah

Itu sedikit dari bukti, dan bukan paksaan.


Ketiga
Kalimat :”Dan ayat ini tidak bisa digunakan untuk kaum sufi / tasawwuf ,karena tasawwuf juga mengarah kepada ibadah kepada Allah”

Alasan yang lemah lemah dan lemah sekali.

Hanya karena : tasawwuf juga mengarah kepada ibadah kepada Allah” , maka perkara sesat yang ada pada mereka jadi tidak berlaku , begitukah? Aiwa,logika dari mana ini?

Apakah orang Nashrani tidak beribadah kepada Allah?Juga Yahudi?? Mereka beribadah kepada Allah disamping beribadah kepada selainNya.Itulah Musyrik.Maka perhatikanlah, wahai orang yang mau berfikir!



Keempat

Kekeliruan yang mendasar memahami ayat-ayat Allah, jika khitob (pembicaraan) mengenai kelakuan orang-orang musyrik, orang kafir, orang munafik, dan lain-lain dari musuh-musuh Allah, maka menjadi tidak berlaku “hanya” karena kita yang membaca yakni muslim??? Padahal kelakuan mereka juga ada diri kita?

Seperti ungkapan :”Kan itu ayat tentang orang Yahudi,…”atau :”Oh ini bukan untuk kita, karena ini tentang umat Bani Israel,..kita kan muslim”.atau:”Ancaman itu hanya bagi kaum kuffar ,kitakan sudah bersyahadat?”

Maka ingatlah sabda Rasulullah : Man tasyabbaha bi qaumin fahua minhum ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum ,maka dia termasuk golongan mereka”



Kelima

Paham yang keliru terhadap Tasawuf, yakni tasawuf dianggap suatu terminologi dalam Islam yang menyangkut masalah hati, wara, zuhud atau perkara-perkara lain yang berkaitan dengan tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dari berbagai hal yang mengotorinya baik dari penyakit hati maupun yang lainnya. Atau juga ada yang mengklaim bahwa tasawuf itu derajat ketiga setelah Islam, Iman dalam hadits Jibril.Bahwa bahsa Ihsan itulah sufi,….

Berikut cuplikan mukaddimah risalah (tentang sufi) yang sedang saya susun kembali:
Bila ditelusuri secara teliti,nyatalah amaliah dalam upaya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) telah ada sejak jaman Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Sikap dan perilaku agar nafs(=jiwa) tetap terjaga kesuciannya adalah dan bahkan senantiasa dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam beserta para shahabatnya. Dalam sirah hal ini tidak tersembunyi,betapa kehidupan beliau amat sederhana. Bahkan beliau pernah mengganjalkan beberapa butir batu diatas perutnya guna menahan lapar.Maka,mestikah (lantaran amaliah ini) dikatakan kepada beliau Shalallahu alaihi wa sallam sebagai seorang SUFI ?Atau aktivitas ibadah beliau Shalallahu alaihi wa sallam yang sarat dalam kesehariannya.Maka,mestikah pula dikatakan bahwa beliau adalah seorang SUFI?Begitu pula bila melihat sikap dan perilaku para shahabat yang senantiasa taqarrub (mendekatkan diri) kapada Allah serta menjauhi beragam maksiat.Maka,mestikah dikatakan mereka itu adalah sekelompok SUFI ?

Padahal bila menelaah perkembangan pemikiran keislaman,akan diperoleh bukti akurat bahwa munculnya TASAWUF dalam atmosfir kaum muslimin disambut beragam tantangan.Baik tasawuf falsafi yang cenderung melakukan pendekatan berbau filsafat sesat,maupun tasawuf amali yang cenderung melakukan pendekatan dengan mencampuradukkan rasa penganutnya melalui dzikir-dzikir "antah-berantah" gado-gado plus bid'ah sana-sini.Kedua model tasawuf itu nyata dikonfrontir.Keberadaannya senantiasa diusahakan agar LUMAT dari hadapan umat.

Bila meneropong secara cermat thd ajaran-ajaran tasawuf baik yang awal maupun yang muncul era kini (tasawuf modern,katanya!!) banyak sekali amaliah yang justru menyimpang dari tuntunan kitab dan sunnah.Ajaran-ajaran tasawuf,dipandang dari sudut aqidah terbukti akan menyeret pelakunya kepada kesyirikan.Sedang dalam kacamata ibadah,tidak diragukan lagi mereka berlezat-lezat dengan membuahkan bid'ah.WALAU DEMIKIAN dikalangan sebagian umat Islam,TASAWUF masih dijadikan sebagai bentuk SPIRITUALISME dalam Islam.Sebagian umat MASIH SULIT membedakan bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang mengikuti tuntunan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,dengan bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang bersumber kapada hawa nafsu sang Syaikh (guru tarekat).Kondisi demikian diperparah lagi dengan menyebutkan beberapa nama shahabat,tabiin,dan tabiit tabiin diklaim sebagai tokoh-tokoh SUFI!!Seperti Abu Dzar, Hasan Al Basri, dsb. HINGGA seakan-akan mereka adalah para penyampai
ajaran tasawuf.Padahal apa yang mereka perbuat semata-mata mengikuti as Sunnah. Bukan bersandar kepada ajaran Tasawuf.

IBNU JAUZI berkata:"TASAWUF adalah mazhab (golongan) yang dikenal melebihi zuhud.Bukti bahwa antara ZUHUD dan TASAWUF berbeda adalah,yakni ZUHUD tidak dicela oleh siapapun, sedangkan TASAWUF telah dicela oleh para ulama,?." (al Muntaqa an Nafsis min Talbis Iblis: 214)

Syaikh Ali hasan Al Atsary lebih memperjelas perkataan Ibnu Jauzi diatas dengan penyataannnya : " TASAWUF BUKAN ZUHUD , sebab ajaran tasawuf telah dimasuki oleh bermacam keyakinan , pemikiran , filsafat dan perkara-perkara bid'ah lainnya yang tidak ada kaitannya dengan zuhud ! (catatan kaki al Muntaqa an Nafsis min Talbis Iblis: 214)

Begitu juga dengan tazkiyatun nafs, ia BUKAN AKTIVITAS tasawuf. Tazkiyatun Nafs termasuk salah satu sebab diutusnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam , bahkan ia adalah tujuan risalah : al Jumuah : 2 (lih. Syaikh Ali Hasan al Atsary : at Tashfiyah wa at Tarbiyah wa atsaruhuma fi isti'naf al hayat al Islamiyah:57) , sedang tasawuf adalah gado-gado ajaran sebagian Islam , filsafat, bid'ah , khurafat, dan segudang kebatilan lainnya.

Maka cukuplah kiranya nasihat dari Syaikh Abubakar Jabir al Jazairi:" Sesungguhnya, bisa saja tasawuf itu berasal dari sebagian Islam , tetapi bisa pula ia bukan dari ajaran Islam. Apabila tasawuf benar berasal dari sebagian ajaran Islam, maka ISLAM itu sendiri sudah cukup bagi kita. Sedangkan bila tasawuf bukan dari ajaran Islam , maka kita tidak pernah butuh kepada ajaran seperti itu."

###########

Kalaulah yang dimaksud anda , wahai Ali Fitri , bahwa aliran tashawuf yang tidak menyimpang dari syariat itu seperti zuhud, ihsan, wara’,ikhlas,akhlak yang baik dan hal-hal yang berkaitan dengan tazkiyatun nafs. Maka anda tidak sendiri. Seperti HAMKA rahimahullahu telah menulis TASAWUF modern, juga Saudara Najib kandidat doktor yang menulis Tasawuf positif. Apa artinya??? Cobalah anda berfikir,…

Bila yang dimaksud adalah hal-hal yang berkaitan dengan syariat , kembalikanlah kepada asalnya yakni syariat Islam itu sendiri! Kita tidak butuh istilah Tasawuf atau Sufi yang mengandung makna batil lainnya.Alasannya adalah :

1. Tasawuf dicela sedangkan tidak dicela bagi perkara zuhud dan lain-lain dari tazkiyatun nafs , seperti ungkapan Ibnu Jauzi

2. Istilah tasawuf adalah asing, bid’ah bahkan oleh para ahli tasawuf sendiri!!!! Perhatikanlah !!!

Maka katakanlah kepada ahli ibadah itu dengan sebutan ubbad, zahid bagi si zuhud, dan seterusnya.Dan Islam tidak butuh istilah yang asing lagi bid’ah bahkan memiliki bagian sesat lagi!!!

Kaidah “menamakan sesuatu” dalam Islam merupakan perkara yang besar. Istilah atau nama itu harus sesuai dengan hakikatnya.

Sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam : Sesungguhnya sebagian manusia dari umatku akan meminum khamr (kemudian) mereka menamakannya bukan dengan namanya!! (Riwayat Ahmad dengan sanad shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)

Maka janganlah menamakan I’tiqad bid’ah dengan I’tiqad ahlus sunnah wal jama’ah seperti yang dilakukan oleh Sirajuddin Abbas untuk menipu umat!! Atau juga menamakan Pusat Kajian Islam Syabab Ahlus Sunnah wal jama’ah , padahal isinya aqidah Jahmiyah dan memperdagangkan bid’ah!!!



Dan berikut ungkapan para imam terhadap tasawuf !

Imam Syafi’I (anda tentu tidak asing dengan nama ini) , berkata:

- Lau anna rajulaa tashawufa awwalan nahaari laa ya’tii dhuhri hatta yakuuna ahmaquun (seandainya seseorang menjadi sufi pada awal siang,maka sebelum tengah hari ia akan menjadi orang yang bodoh / dungu!!)

- Ma lazama ahadush shuufiata arba’iina yauman fa’aada ilaihi aqlan abadan (Tidak ada seorangpun yang mendalami tasawuf selama 40 hari ,melainkan akalnya tidak kembali selama-lamanya”)

Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang buku tentang bisikan dan goncangan jiwa serta majelis tangis menangis, seperti Al Harits Muhasabiy:

- “Saya harap kamu jangan berteman denganya”

- “Jauhilah olehmu buku-buku Sufi itu,karena didalamnya berisi kebid’ahan-kebid’ahan dan penuh dengan kesesatan.

[lih. Dirasatul Firaq, juga Fikrus Sufi, dll]

Imam Ibnu Aqil , sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis, beliau (Imam Ibnu Aqil ) berkata: “Orang-orang berkata ,bahwa jika Allah hendak merobohkan rumah seorang pedagang,maka Dia memasukkan seorang sufi kedalam rumahnya.Tapi menurutku, yang tepat adalah merusak agamanya. (perkatan beliau panjang lebar dalam mencela tasawuf!, lihat Talbis Iblis hal 310-314, terbitan Pustaka Al Kautsar)

0 komentar:

Followers

Mbh