Minggu, 20 Desember 2009

21 Pertanyaan Dalam Menyoal Tashawwuf Dan Sufisme

Saudaraku...

jika kalian memandang maka gunakanlah keseimbangan dalam islam, iman dan ihsan... Sungguh sangat disayangkan bagi generasi muslim sekarang yang hatinya redup dari Nur Al basyiroh, Bukankah akal kita terbatas dalam mema'nai himah? bukankah seharusnya islam tidak pernah terlepas dari unsur iman dan ihsan? lalu apakah islam hanya sebuah kulit tanpa eksistensi? sebuah pribadi tanpa jiwa? sebuah baju tanpa raga? dibawah ini saya akan mencoba menguraikan beberapa pertanyaan kontemporer menyoal tashawwuf dan sufisme nuqilan dari kitab "Abjadiyah At tashawwufi Al islam Ba'du Ma lahu Wa Maa Alaihi"

Saudaraku...

Apakah maksud tashawwuf yang islami?
Apakah tashawwuf merupakan perbuatan yang telah terbiasa (berlaku) pada masa Rosulillah SAW?
Kenapa ta'rif tashawwuf senantiasa berbeda beda?
Mengapa tashawwuf tidak mempunyai persamaan dalam batasan sumbernya?

Saudaraku...

Maksud dari tashawwuf yang islami dapat diketahui dari beberapa devinisi yang banyak tak terbatas pada satu pengertian yang kesemuanya terangkum dalam kalimat; MENGHINDARI PERBUATAN YANG HINA DAN BERPAKAIAN DENGAN KEBAIKAN DENGAN MENGACU PADA MARTABAT TAQORRUB DAN KESUDAHAN YANG HAKIKI, TASHAWWUF ADALAH MENGEMBALIKAN FITRAH PADA PEMBENTUKAN PRIBADI DAN KETERIKATAN DENGAN SANG PENCIPTA DALAM SETIAP PIKIRAN, PERKATAAN, AMAL PERBUATAN, NIYAT DAN DISETIAP KEDUDUKAN KEMANUSIAAN DALAM KEHIDUPAN SECARA GLOBAL.
Atau kalimat di atas dapat diringkas lagi dengan kalimat TAQWA DALAM KELEMBUTAN YANG SEIMBANG PADA YANG TERSURAT DAN TERSIRAT, dan taqwa itu sendiri adalah bentuk dari aqidah, akhlaq dalam muamalah ma'a Allah dengan ibadah yang baik dan benar, dan muamalah sesama makhluq dengan kelembutan akhlaq, tolak ukur ini adalah pelajaran yang telah diturunkan berupa wahyu atas setiap Nabi Allah dan kepadanya bersumber hak hak kemanusiaan yang tinggi di dalam islam.
Adapun ruhnya Taqwa adalah PENYUCIAN sebagaimana tersurat dalam ayat 14 surat al a'la:
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri , dan surat asyams: 9 :
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

Saudaraku...

Dengan ma'na di atas dapatlah anda meyakini bahwa tashawwuf telah menjadi sunnah pada masa Rosulullah, shahabat, tabi'in dan generasi setelahnya.

Saudaraku....

renungi surat ali imron ayat 79 :
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya". dengan bagian bagian yang terdapat pada taqwa dalam apa yang telah didatangkan melalui wahyu dan sunnah merupakan jawaban dari maqom rabbaniyatu al islam.

Saudaraku...

Apabila disana terdapat ta'rif yang berbeda beda mengenai Tashawwuf itu dikarenakan maqom para sufi yang berbeda beda dalam jenjang suluk pada Tuhannya, setiap mereka memberikan devinisi sesuai maqom pada tingkatannya dan itu tidak bertentangan dengan maqom maqom baik yang diatas atau dibawahnya, semua tetap mengacu pada penyucian diri dan taqwa pada Allah (Rabbaniyatu Al islam) sebagaimana firman Allah pda surat adzariyat : 5: Maka segeralah kembali kepada Allah.
maka natijah dari semua ta'rif itu tetap merupakan satu ma'na yang saling melengkapi satu sama lain.

Saudaraku...

Apabila ada yang mengatakan bahwa tashawwuf mempunyai perbedaan dalam batasan sumbernya maka itu adalah ungkapan makar atau tipu daya dari musuh musuh Allah, karena tashawwuf tidak pernah lepas dari istilah rabbaniyatu al islam baik dalam taqwa atau tazakka dan itu merupakan ibadah, akhlaq budi pekerti, da'wah, sikap berhati hati, berazam dengan sungguh hati, dan pertalian dengan Dzat Yang Maha Tinggi, maka siapakah yang mengatakan pengertian ini bukan dari bersihnya ajaran islam????

Saudaraku...

Saya tutup jawaban untuk membungkam para pencaci dan penghina tashawwuf dengan kalimat "MENGHUKUMI SUATU PERKARA DENGA SESUATU YANG MASUK KEDALAMNYA ADALAH SALAH DAN MENGHUKUMI SECARA KESELURUHAN DENGAN PERBUATAN SEGELINTIR KESALAHAN PRIBADI YANG DISANDARKAN PADANYA ADALAH KEDZOLIMAN YANG BESAR" apakah masuk akal bila muslim harus meninggalkan islam karena ada pribadi atau oknum yang berbuat salah dalam islam dengan kebiasaan bermabok mabokan, zina, atau menhalalkan sesuatu yang telah diharomkan Allah??? dan apakah amalan para juhala itu menjadi dalil bahwa islam bukan agama dari sisi Allah? mari tafakkuri dan tadabburi kesalahan ini wahai saudaraku sekalian..

{A}Siapakah sufi itu?
{B}Mengapa dia lain dri muslim lainya?
{C}Apakah disana ada perbedaan diantara sufi dan taqwa, mu'min, muslim dan siddiq?
{D}Jika memang tidak ada perbedaan mengapa harus ada penggunaan istilah itu?

{A}Saudaraku... ketahuilah, bahwa engkau dapat untuk mengartikan sufi yang benar sebagai sosok muslim yang punya tauladan, dan para iamam dalam dunia tashawwuf telah sepakat bahwa sesungguhnya tashawwuf itu adalah alqur'an dan sunnah, dalam kemurnian, kebijaksanaan, lemah lembut, ihtiyath (sikap hati hati) dan para imam tashawwuf slalu mensyaratkan pada pada murid-muridnya (yang menghendaki jalan tashawwuf) untuk mengamalkan firman Allah dalam surat Ali Imron : 79:

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi : "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Saudaraku... dalam prinsip mutashowwifin selalu mendahulukan ilmu, dan ilmu agamalah yang menjadi sandarannya (alkitab dan sunnah) kemudian dari keduanya inilah yang akan menjadi poros sumbernya stiap ilmu kemanusiaan yang bermanfaat di atas kedudukan yang sempurna dan sampai pada sumber daya manusia yang mumpuni serta menjadi tuntutan perkembangan hidup.

Saudaraku... maka dengan tela'ah diatas bisa kita simpulkan bahwa tashawwuf adalah rabbaniyatu al islam (tauladan: pent) yanng di dalamnya terkumpul penuh keseimbangan natara agama dan dunia, sebagaimana yang dikatakan oleh As syaikh syihabuddin Abu Hafsin umar bin Muhammad as sahrawardi – rahimahullah- “ sesungguhnya sufi itu adalah orng yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan mengatur waktu dan ksempatan untuk slalu beramal, menempatkan kedudukan manusia pada kedudukannya dan menempatkan kebenaran pada porsinya, menutup apa yang yang patut untuk disembunyikan dan menampakkan apa yang sepatutnya untuk ditampakkan, mendatangkan perkara dari tempatnya dengan tela'ah aqliyah, tauhid yang benar, pengetahuan yang sempurna, menjaga dari kedustaan dan ikhlas dalam segala hal.

Dari itu berkata salah seorang Imam mutashowwifin (Syaikh Al junaid Al baghdadi) “barang siapa yang belum mendapatkan pemahaman terhadap alquran dan al hadits maka dia bukanlah sufi” dan semua imam mutashowwifin sepakat atas prinsip dasar dia atas baik dari golongan mutaqoddimin atau mutaakhirin.

{B}Saudaraku.... kenapa kaum sufi sering dianggap nyleneh atau aneh lain daripada yang lain? Ketahuilah bahwa qaidah islam adalah ''amal perbuatan'' maka bila seorang sufi bramal dengan tuntutan pekara yang jelas seperti tauladan dan dakwah maka dia akan dibedakan dengan yang lain menurut takaran kesungguhannya, dan bila sufi menempatkan kedudukan khilaful aula (hukum di atasnya makruh) sampai pada martabat haram maka itu sebab sikap kehati-hatiannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh salafu soleh, mereka berbuat demikian karena takut jatuh pada perkara haram.
Allah berfirman dalam surat Al ahqof: 19:

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.”

{C-D} Saudaraku... adapun masalah perbedaan antara istilah sufi, muslim, mu'min dan taqwa karena sesungguhnya islam telah mensyari'atkan untuk kita dengan berbagai kekhususan ta'rif atau devinisi kedudukan manusia, Allah telah menyebut kaum muhajirin dan anshor, dengan istilah yang khusus dari keduanya sebagai ta'rif pembeda kedudukan mereka, dan mereka sama muslim, mu'min min ahli taqwa, dan Rosulullah menyebut para sahabat dengan istilah yang berbeda-beda sesuai kekhususan mereka, seperti alruumi, al farisi dan lain sebagainya, tapi sahabat semua sama muslim, mu'min, muttaqin, dan Alquran telah menyebut bagian bagian dalam istilah untuk seserang yang muslim dengan kata khosyi'in (yang khusyu), qonitin (yang selalu taat), ta'ibin (yang taubat), hamidin (yang memuji), sa'ihin (yang mengembara dalam beribadah) dan lain sebagainya, yang semua itu Allah sematkan pada hamba-Nya dari golongan ahli “laa Ilaaha Illa Allah”, lalu apakah perbedaan istilah itu menjadikan mereka bukan muslim, mumin dan muttaqin??? begitu juga istilah sufi yang lahir beberapa waktu ssetelah kenabian tidaklah akan merobah kedudukan muslim, mu'min dan muttaqin, karena semua itu hanya disandarkan pada tingkat dan derajat amal (perbuatan)seseorang, jadi kesimpulannya penyebutan manusia dengan kehususan amalan merupakan sesuatu yang ma'ruf ditengah umat islam karena itu adalah sunnah qurani dan sunnah nabawi dan bukan bid'ah dalam penggunaan istilah itu (sufi)

lalu kenapa isu besar hanya menyoal kata sufi? Kenapa bukan menerpa dalam istilah salafi? Syafi'i? Wahabi? Azhari? Golongan ini dan itu? Ketahuilah bahwa sesungguhnya masalah di atas (pengunaan istilah sufi) itu lebih sederhana dari sesuatu yang harus dipertanyakan, dan tidaklah keluar pertanyaan seperti itu kecuali dari jiwa yang telah terpatri kuat ashobiyah pada madzhab atau golongan. Sadarkah kalian wahai saudaraku....??? jika dengan tulisan ini anda belum sadar dalam menyoal kata tashawwuf dan istilah sufi maka titik hitam di hati anda lebih besar dari cahaya hidayah yang Allah titipkn, wal 'iyadzu billah. Wallahu a'lam bishawab.

Pernyatan kaum muslimin bahwa kalimat tashawwuf tidak dikenal kecuali setelah qurun ketiga hijriah, benarkah?
[A] Apakah islam membutuhkan Tashawwuf?
[B] Apakah tashawwuf sesuatu yang baru (bid'ah) yang disandarkan pada islam?
[C] Apa perbedaan antara zuhud di dalam islam dan tashawwuf?

Saudaraku... apabila anda mendapati orang yang mengatakan bahwa tashawwuf merupakan perkara baru yang diketahui setelah qurun ketiga hijriah, maka ketahuilah bahwa itu hanya perkiraan yang berlebihan dan tidak ilmiah, tidak ada kekuatan sejarah serta ketidak adaan sanad ucapannya, apabila yang mereka maksudkan adalah lafad tashawwuf yang tidak dikenal dalam islam kcuali setelah qurun ketiga, maka ini juga perkataan yang tidak dapat dibenarkan (ini hanya ucapannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- di dalam kitabnya “as shufiah wal fuqara” beliau mengatakan: adapun lafad shufiy itu tidak dikenal kecuali setelah qurun ketiga hijriah.) namun kenyataannya telah dinukil perkataan dengan lafad itu bukan hanya oleh seorang imam saja, tapi banyak, seperti Imam Ahmad Bin Hambal, Abu Sulaiman Ad darani, Sufyan As sauri, Hasan Al basri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan lafad tashawwuf sudah dikenal mulai akhir qurun pertama.

Sungguh para pakar sejarah dan sastra bahasa telah menetapkan bahwa lafad “tashawwuf”itu muncul disaat masyhurnya kekerasan dan kejantanan (kepahlawanan) dan saat masyhurnya pakaian dari bulu kibasy wol dan persiapan dalam berjihad, maka sesungguhnya bertashawwufnya seorang muslim merupakan dakwah terhadap kekuatan, kemerdekaan, persamaan, penjaminan hak harta dan jiwa, mempersatukan dalam persaudaraan, penegakkan tauhid dan dalam perkara perkara yang mulia dalam pembentukan pribadi muslim yang sempurna, dan keberadaan masa pembukuan kitab-kitab hadits pada masa Rosulullah dan terus berkembang berlanjut pada akhir qurun pertama dan awal qurun kedua dalam pembukuan hadits, fiqih, tafsir, sastra dan gramatika bahasa, saat saat itulah telah terkenal dan maasyhur lafad tashawwuf dikalangan umat islam.

Namun jika yang dimaksud bukan lafadnya, yaitu materinya tashawwuf, hakikat, usul, dan sumber pembahasaanya tidak dikenal kecuali setelah qurun itu (3 Hijriah) maka kesalahan ucapan itu sungguh nyata, ketahuilah materi tashawwuf itu dari segi ibadah dan adab (secara keumumam ma'na ibadah dan adab budi pekerti) itu sangat nyata ada di dalam al quran dan al hadits, yaitu peranan sebagian kandungan ilmu agama, dan jika lafad tashawwuf tidak terdapat pada masa masa ini (akhir qurun pertama dan awal qurun kedua) maka ibadah, adab, pendidikan batiniah, perantara-perantara yang dapat menghubungkan hamba pada Allah, dan terangkatnya nilai martabat manusia semua ini telah termaktub dalam syari'at Allah, dan itulah tashawwuf (dinamai demikian oleh muslimin) maka kita temukan hanya sebuah nama yang baru dengan materi yang lama dan ilmu baku dalam alquran dan sunnah, yang mana peran ilmu agama yang satu sama lainnya mempunyai kesamaan.

Maka ketahuilah wahai saudaraku, bukanlah ini merupakan bid'ah sebagaimana yang dilontarkan oleh segelintir orang zaman sekarang, sebagai perbandingan, bahwa pada masa masa ini juga tidak dikenal atau disebut-sebut adanya ilmu fiqih, ilmu usul fiqih, mustholahul hadits, nahwu, sorrof dan lain sebagainya dari khazanah ilmu agama, akan tetapi materi dari kesemua itu telah ada pada kedua tepi alquran dan as sunnah, sehingga ketika terbukukan ilmu ilmu itu dan terangkum dalam kaidah yang disepakati ahli ilmu maka munculah nama untuk masing masing disiplin ilmu itu sesuai dengan kajian yang terkait didalamnya.

Lalu kenapa kita harus mengingkari penyebutan tashawwuf dan tidak mengingkari penyebutan ilmu agama lainya? Sedangkan peranannya satu, sama sama meruju' pada alquran dan hadits.

[A] Apakah islam membutuhkan tashawwuf? apabila sesuatu itu membutuhkan pada dirinya, maka boleh dikatakan: ya sesungguhnya islam membutuhkan tashawwuf. Islam merupakan panduan dzohir syari'at dan tidak akan sempurna tanpa didukung dengan panduan batin, maka jika sisi batiniah ini diabaikan cukuplah muslim menjadi orang yang munafiq. Dan panduan batiniah ini seperti iman dengan sifatnya sebagai pekerjaan hati yang kami menyebutnya dengan “tashawwuf”, maka bukanlah tashawwuf itu sesuatu yang lain dari islam jika demikian, sehingga dikatakan “islam membutuhkan tashawwuf”atau “islam tidak memerlukan kajian tashawwuf” karena tashawwuf sendiri merupakan puncaknya agama islam secara keseluruhan, itulah maqom “ihsan” yang mencakup taqwa, tazkiyyah (penyucian), rabbaniyah (pengajaran dan pentauladanan) sebagaimana pada bab sebelumnya telah kita bahas.

[B] Demikianlah kita dapati pertanyaan apakah tashawwuf merupakan perkara baru yang disandarkan pada islam, merupakan pertanyaan yang ga etis untuk di ajukan bagi muslim yang berakal, dan jawaban untuk soal itu saudaraku semua bisa tela'ah dari sebagian pembahasan di atas, dan jika masih belum memahami jawaban maka anda harus segera datangi guru guru anda yang mempunyai sanad keilmuan islam dengan jelas.

Lalu dimanakah pertanyaan yang mereka nuqil dari Firman Allah [Almaidah:3] Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ??? ketahuilah hakikat dari tashawwuf adalah islam itu sendiri dalam kedudukan yang tertinggi.dan sungguh merupakan suatu yang mengherankan bagi orang yang menulis dalam karya tulisnya dengan menerima sifat syukur, sabar, wara', zuhud, dzikir dan tafakkur dari kitab kitab ulama salaf tapi tidak mau menerimanya (sifat-sifat diatas) dari kitab kitab ulama tashawwuf, inilah golongan yang berhak menyandang gelar “muta'ashibun” (fanatik) dan menyimpan kebencian pada orang orang yang beriman.

[C] Adapun perbedaan antara tashawwuf dan zuhud didalam islam, maka sungguh sufi (orang yang meniti jalan tashawwuf) kedudukannya lebih tinggi dibanding zahid (orang yang zuhud di dunia), mengapa bisa demikian? Karena orang yang zuhud hanya meninggalkan kecintaan terhadap dunia, dan itu (dunia) tidak berarti apa-apa, maka zuhud di dunia berarti zuhud terhadap sesuatu yang tidak ada harganya dan zuhud pada sesuatu yang tidak ada harganya merupakan kelalaian dan kebodohan, tetapi zuhudnya seorang sufi adalah terbangun pada setiap sesuatu yang dapat menjauhkan dia dari Allah dengan semua maksud yang ada, adapun perkara yang mengingatkan dia pada Allah (zuhud terhadap harta) maka itu bukan zuhudnya seorang sufi.

Diriwayatkan, pada suatu ketika masuklah sufi pada seorang amirul mu'minin, berkatalah sufi pada kholifah tentang maksud dan tujuannya, lalu kholifah memberikan hadiah pada sufi dengan sesuatu nilai yang belum pernah ada orang menerimanya, tapi sufi langsung menolaknya hingga membuat kholifah terkejut dan bingung sambil berkata: sungguh engkau orang yang sangat zuhud!!! berkatalah sufi: bahkan engkaulah yang lebih zuhud dari saya wahai amirul mu'minin. Berkata kholifah: bagaimana bisa demikian? Sufi menjawab: karena saya zuhud akan dunia, dan itu artinya sesuatu yang tidak ada apa-apanya, sedangkan engkau zuhud akan akhirat, dan itu adalah segala sesuatu.

Saudaraku... cermatilah konsep zuhud bagi mutashowwifin, dia menjadikan dunia ada pada genggamannya, tapi tidak menempatkan dunia pada hatinya (kecintaan yang dapat memperbudak hati), karena orang yang zuhud (tanpa tashawwuf) adalah orang kaya yang mengharamkan bagi dirinya kesenangan dunia untuk menukarkan (mencari ganti) dengan kelipatan di akhirat, dan sufi tidaklah demikian, dia tidak mengharamkan bagi dirinya kesenangan (kenikmatan) yang Allah telah halalkan, kecuali jika itu (kesenangan) dapat menutupi dirinya dari Allah, maka segera akan ditinggalkannya, itulah yang diajarkan Abul Hasan As syadzili -radiyallahu 'anhu- beliau adalah salah satu imam sufi yang memiliki perdagangan dan perkebunan, begitu juga Syamsuddin Ad dimyati seorang ulama sufi yang kaya, beliaulah yang membangun tower (istana tinggi) dengan uangnya sendiri pada masa kesultanan Al ghori, begitu juga Allaits Bin Sa'ad seorang faqih (ahli agama) mesir dan imam para orang zahid waktu itu dan beliau adalah orang terkaya pada zamannya, dan mereka semua tidak terhalangi oleh kekayaannya dalam menduduki derajat hamba terzuhud pada zaman zamannya, dan kekayaan yang mereka miliki tidak menyibukkan dirinya dari kethaatan pada Allah, bahkan cara hidupnya mengantarkan mereka pada puncak kemuliaan dan kejayaan, jadi demikianlah para mutashowwifin tidak identik dengan kemiskinan, kumal dan kotor seperti yang digambarkan oleh orang yang tidak memahami konsep dan kaidah tashawwuf di dalam islam.

Sungguh telah nyata kezuhudan para sahabat Nabi dengan nilai sufismenya, seperti Bilal Bin Rubah, Salman Al farisi, Tamimu dariy yang telah awal duduk di masjid Rosulillah pada saat Umar bin Khottob mengingatkan kaum muslimin pada Allah pada hari jum'at. Sesungguhnya batasan (ta'rif) zuhud sangat terbatas, dari apa yang bisa kita temui pada banyak para sahabat, tabi'in, tabi'u tabi'in, dan dihati semua sahabat terdapat kezuhudan, sungguh dunia ada pada genggamannya bukan pada hatinya, mereka mencukupkan diri pada Pengatur dunia (Allah) dari dunia seisinya, dan orang yang memiliki dunia (kaya/berkecukupan) dialah yang dapat zuhud di dunia, maka bagi orang yang tidak memiliki dunia pada perkara apa dia akan zuhud??? Wallahu a'lam bishawab.

0 komentar:

Followers

Mbh