Minggu, 20 Desember 2009

Apa yang Harus Diucapkan Bila Ada Orang yang Memuji Kita ..?

Tips Memuji dan Dipuji dalam Islam

Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, adalah fenomena pujian. Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam tiga bentuk:
* pujian yang diucapkan untuk menjilat
* pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka
* pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman

Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi élan positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.

Padahal Allah Ta'ala mengingatkan dalam firmanNya:

فَلاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi shallallaahu 'alaihi Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memberikan tiga kiat yang sangat menarik untuk diteladani ...

Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang.

Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menanggapinya dengan doa:

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari)
Lewat doa ini, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain.

Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita.
Oleh sebab itu, kiat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:

وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَيَعْلَمُوْنَ

“Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Ta'ala untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain.

Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam kemudian berdoa:

وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

“Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik.

Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji. Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, yaitu di antaranya:

Pertama, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka.

Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah radhiallaahu 'anhu)

Kedua, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas radhiallaahu 'anhu dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak serta merta memujinya.

Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas radhiallaahu 'anhu:

اَللَّهُمَّ فَقِّّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair)
Begitu pula, di saat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melihat ketekunan Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Ta'ala dan menjadikan Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menegurnya:

قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar radhiallaahu 'anhu).

Senada dengan hadits tersebut, Ali radhiallaahu 'anhu berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat.. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.

DOA BILA DIPUJI ORANG LAIN
(apabila kita memang tidak berniat memamerkannya)

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَيَعْلَمُوْنَ

وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

“Allaahumma laa tu-aakhidznii bimaa yaquuluun
waghfirlii maa laa ya’lamuun
(waj’alnii khairan mimmaa yazhunnuun)”

"Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan.
Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui.
(Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan)."

-- Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761.
Isnad hadits tersebut dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585.
Kalimat dalam kurung tambahan dari Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman 4/228 dari jalan lain.

Utadz Abdullah Hakam Syah, Lc

0 komentar:

Followers

Mbh