Senin, 14 Desember 2009

KALAM (Ibadah dan Syirik)

TA’RIF
Tidaklah mungkin bagi seseorang untuk mengetahui benar dan salahnya sesuatu, jika tidak tahu atau tidak mau tahu apa dn bagaimana sesuatu itu dari definisinya. Kerancuan dn silang pendapat yg di akibatkan ketidakobyektifisan sebuah pandangan dari sisi definisi, akan menambah beban berat yg sampai pada tuduhan sesat dan kafir atas kualitas keilmiahan pada sebuah fan, yg semakin hari semakin marak adanya. Arogansi yg terbungkus ghiroh Islamiyah, slogan2 manis kembali kepada Alquran dn Hadist dan Jihad fi sabilillah, menambah mulusnya pelecehan akan kualitas sebuah ilmu, amal, Agama dan bahkan Tuhan. Dan buah daripada itu semua, apa lagi kalau bukan rasa bangga akan mimpi2 yg di dapatnya dari potongan2 penghinaan, pentakfiran, penyesatan dan pensyirikan atas ‘Ulama’ dan Ummat Islam mayoritas. Pada hal anak panah yg di lepasnya justru berbelok arah memukul ubun2 menembus otak meluncur menghunjam jantung menyebarkan racun SYATTA ke dalam hatinya!!!. Jidat yg menebal, yg di sangka atsarun min atsari al sujud tak sedikitpun menambah wibawa bagi yg memandangnya,jika itupun sempat terlontarkan, hanya kata lucu yg lebih bisa bermakna, yaitu ‘GOSONG’. Bagaimana mungkin kita ini akan sampai pada terminal akhir dr sebuah perjalanan dg loncatan2 petak umpet si anak kecil??? Dg meninggalkan garis permainan yg telah di buat susah payah oleh pendahulu kita??? Pengakuan kita bhw kita telah dewasa, tidak sedikitpun merubah hakikat kekanak2an kita yg sesungguhnya!!! Kita tahu dari mereka, kita belajar dari mereka, kenaikan klaspun dg legalitas mereka, lalu kenapa kita tidak hormat pada mereka? Mereka hanyalah Manusia biasa yg tidak lepas dr kesalahan, tidak makshum dll alasan yg di paksa dn di buat2. Lalu bagaimana dg kita? Yg tentu lebih jauh dr saksi peristiwa. (sampai di sini Anda membaca, cobalah berhenti, merenung sejenak, ulangi dan ulangi. Camkan dalam hati)................
Sekarang, ambil nafas dalam2, tenangkan pikiran, buang jauh2 prasangka, raihlah suasana hati yg sejuk, kita lanjutkan apa itu KALAM.
DARI SEGI BAHASA: أََلْكَلَامَ اسْمٌ لِحُرُوفٍ مَنْظُومَةٍ مَسْمُوعَةٍ مِنْ مَخْرَجِ الْكَلَامِ لِإيقاعَ الْإِفْهَامَ
Kalam adalah: nama untuk huruf yang tersusun, yg terdengar dari tmpat keluarnya omongan untuk menimbulkan kefahaman. Untuk lebih jelasnya’ kita kembali kepada kaidah nahwiyah ibtidaiyah saja. Yaitu dg memakai Qo,idah standart, ألكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع
Kalam adalah: lafadz yg tersusun, yg berfaidah (yg tidak mengulang pertanyaan dr sebuah pernyataan yg paling sederhana) dan di sengaja.
DARI SEGI ISTILAH: موضوع الكلام المعلوم من حيث يتعلق به إثبات العقائد الدينية تعلقا قريبا أو بعيدا
Kalam adalah: memberikan kalam sebagaimana yg di maksud dari sudut bahasanya yg mana kalam itu di hubungkan untuk mengukuhkan kemantapan seseorang dalam perkara Pokok Agamanya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Nah, dari sini kita coba perpanjang apa ,Ilmu Kalam yg di maksud dalam hubungannya dg aqidah Islamiyah. Pengertian ,Ilmu Kalam itu adalah, Ilmu yg di dalamnya menjelaskan metode dialegtik, atau alasan2 untuk mempertahankan kepercayaan2 IMAN dg menggunakan alasan alasan LOGIKA(dalil ‘aqli) dari Alquran dn Al Sunnah yg sudah ada (dalil naqli). Dan alasan itu untuk membuat bantahan2 terhadap orang2 yg menyeleweng dari aqidah para SALAF dn AHLU AL SUNNAH WA AL JAMA’AH. Di dalam ilmu kalam itu nanti akan di bahas teori2 atau trik2 untuk mengKALAMKAN(membicarakan) bagaimana menetapkan kepercayaan2 keAgamaan dg bukti2 yg meyakinkan. Dan perlu di ketahui, bahwa penerapan ilmu kalam ini juga di lakukan oleh kelompok non Ahlu Al Sunnah saja, bahkan mereka sangat mengutamakan ilmu ini dalam batas yg lebih luas dan bebas. Sehingga sampai berani meremehkan dalil2 naqli yg sudah ada. Pemujaan terhadap akal membuat mereka yakin, bahwa tanpa Wahyupun, manusia sudah mampu menemukan kebenaran, bahkan Tuhan. Sehingga membuat mereka sangat meremehkan Nash2 yg sudah ada. Ayat atau Hadist yg bertentangan dg akal, bagi mereka harus di tinggalkan begitu saja. Mereka lebih memilih akal daripada Wahyu. Inilah sebenarnya penggunaan ilmu kalam yg di tolak oleh para Imam, ,Ulama dan para Salaf kita sampai hari ini. Adapun Ilmu Kalam sebagaimana yg di maksud di atas adalah, apa yg telah di konsep oleh orang pertamanya dalam masa abad 300 h, yaitu Al Imam Abu Al Hasan Ali bin Isma,il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Isma,il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al Asy’ari Rodliyallahu ‘anhum dg batasan yg sangat sempit. Sehingga tidak sedikitpun mengurangi kesucian Ayat2 maupun Hadist yg memang di yakini ma’shum adanya. Dan sebagaimana tujuan semulanya, yaitu untuk membela kebenaran aqidah para Salafnya, maka fungsi atau manfa’atnya sebagaimana di gambarkan oleh Al Ghozali adalah sama kedudukannya obat bagi si sakit, bukan gizi bagi si sehat. Karena Iman itu lebih bersifat ghoibiyyah, dan Iman seorang Mutakallimin murni tidaklah sah. Agama bukan hasil perkembangan kebudayaan, hasil penyelidikan, pemikiran atau wangsit dari goa hantu. Tetapai Agama adalah Wahyu. Walaupun dalam pengejawantahannya sama sekali tidak pernah meremehkan akal. Dan di akui atau tidak, sesungguhnya kita ini sakit, jika tidak mau di bilang sekarat. Jauhnya ketenangan dn rasa manisnya Iman yg hampa dari kalbu kita, membuktikan dn mewajibkan bhw kita butuh sebuah metode terapi yg aman dan cepat dalam menyembuhkan penyakit Iman ini. Itu tidak lain adalah ILMU KALAM. Bid’ah??????? Kenapa Takut??????? Sesat?????? Gundulmu Amoh!!!!!!!!!

Dapat di ambil sarinya dr keterangan kemarin bhw inti dr Ibadah itu adalah Mentauhidkan Allah sebagaimana selaras dg arti yg terkandung dalam kalimat Allah itu sendiri. Kalimat ألله merupakan kalimat dimana makna2 bertemu dg mashdar2nya, antara lain, ألهت إلى زيد : إذا سكنت إليه واطمأننت Saya nyaman kepda zaid : ketika saya berdiam diri dan tentram kepadanya. أله الرجل : إذاستجار Seorang Lelaki meminta pertolongan : ketika dia bersanding. أله الرجل إلى الجل : إتجه إليه لشدة شوقه Seorang Lelaki menuju kepada seseorang : Menghadap kepadanya karena sangat ingin.أله الفصيل بإمه : إذا ولع بها Anak yg di sapih suka kepada Ibunya : Ketika dia menyukai Ibunya. أله : عبد Menuhankan : Menyembah. Senada dg apa yg di sampaikan oleh Ibnu Al Qoyyim Al Jauzi dalam kitabnya Madarijus salikiin (1/8), bhw : Penamaan ألله menunjukkan bhw Dia adalah sebagai Yg di Tuhankan dn di sembah, di Tuhankan oleh semua mahluq dg penuh kecintaan, pengagungan, tunduk dn berlindung kepadaNya dalam semua kebutuhan dn musibah yg menimpa. Apa yg terkumpul dalam Kalimat Allah sudah mencakup arti daripada pentauhidan atas Uluhiyyah dan RububiyyahNya, yg kemudian di jadikan alasan kenapa kita harus menyembahNya. Rubiyyah : إفرادالله تعالى بالخلق, والملك, والتدبير (فتاوى أركان الإسلام لمحمد بن صالح العثيمن)
Menunggalkan Allah dalam Mencipta, merajai dan mengatur (Fatawa Arkanu Al Islam oleh Al Utsaimin hal 10 bab ma ta’rifu al tauhid). Artinya kita meyakini bhw Allahlah satu2nya Dzat yg Mencipta, merajai dan mengatur semua Mhluq. Shifat RububiyyahNya Allah itulah yg di jadikan alasan Allah sendiri kenapa Kita harus menyembah hanya kepadaNya. ياأيهاالناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم .................إلخ Hai Manusia sembahlahlah Tuhanmu yg telah menciptakanmu dn orang2 sebelummu............
Uluhiyyah : إفرادالله تعالى بالعبادة Menunggalkan Allah dalam Penyembahan/ Ibadah. Kita Hanya menyembah kepada Allah, karena memang Dialah satu2nya yg berhak di Ibadahi. Bagaimana kita mau menyembah kepada sesuatu yg yg tidak kita yakini eksistensinya dalam keMaha TunggalanNa, KuasaNya, MengaturNya dan merajaiNya??????? Jadi Rububiyyah dan Uluhiyyah itu tidak bisa di pisah satu sama lain!!!! keduaNya adalah Shifat yg membedakan antara Makhluq dan Kholiq pada umumnya. Lebih jelasnya ألربوبيه : باعتبار أثر الوجود Rububiyyah itu penjelasan dr reaksi sesuatu yg wujud dr Yg Maha Wujud, ألوهيه : باعتبار واجب الوجود Uluhiyyah itu penjelasan dari eksistensi Dzat yg wajib Wujudnya. Nah, jika Uluhiyyah dan Rububiyyah itu adalah ShifatNya Dzat, kenapa harus ada pembagian Tauhid Asma, wasshifat????? (ikon melet sambil mrengut). Jangan2 Mereka meyakini keduanya adalah Dzat, padahal kita di perintah menyembah Dzat, bukan menyembah Shifat. Duh!!! kena deh lo................ Untuk apa kita menyembah Nabi, Wali bahkan Kuburan yg tidak bisa mendatangkan manfaat maupun mudlorrot??.............. apakah di kira Ummat Islam Mayoritas itu bodoh????
Sekalipun kita tidak menyembah kepada sesuatu yg kita yakini akan kemampuannya dalam memberi manfa’at dan madlorrot dg sendirinya (tidak dg Kuasa Allah), baik itu dari benda hidup maupun benda mati, jatuhlah kita kepada SYIRIK!!!!! Wal ,iyadlu billah............. Karena syirik itu adalah kebalikan dr Tauhid. Camkan itu baik2!!!! Dan syirik inilah yg di maksud dg Syirku al akbar. Syirik inilah dosa yg tidak di Ampuni oleh Allah. Na’udlu billah min hadla............

قل أفغير الله تأمروني أعبد أيها الجاهلون. ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين. بل الله فاعبد وكن من الشاكرين.(ألزمر 64-66)
Katakanlah (Muhammad saw) Apakah Kamu menyuruh aku menyembah selain Allah wahai orang2 yg bodoh. Dan sesungguhnya telah di wahyukan kepadamu dn kepada Nabi2 yg sebelummu, Sungguh jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalanmu dn tentulah engkau orang yg merugi.
Karena itu, hendaklah Allah saja yg engkau sembah, dn hendaklah engkau termasuk orang2 yg bersyukur.
Lalu apa itu menyembah / ibadah? Bagaiman menyembah itu? Cukupkah dengan menyilangkan dada dn menundukkan kepala? Atau meletakkan tangan kanan di samping kepala dg sikap tegak sudah bisa di katakan menyembah? Mencium, mengelus, mengusap, membungkuk juga menyembah??? Lagi2 karena sisi definisi yg kabur, terjadilah klaim2 yg tidak seharusnya. Jika apa yg tersebut di atas sudah dalam kategori menyembah, lalu apa yg terjadi dengan perintah bersujudnya para Mlaikat kpd Adam as? Apakah Allah sendiri menginginkan penduaan atas keTuhananNya sendiri? Mustahil!!!! Lalu jika ada tuduhan Menyembah Kuburan, Nabi dan Wali2, dari segi apakah semua itu di tuduhkan????
Dalam ayat di atas terdapat kalimat yg tersusun terdiri dari ‘ain, ba dn dal (عبد) yg mana rangkaian huruf tersebut mengandung pengertian dari sudut bahasa yg berbeda, antara lain:
:عب mengabdi atau menyembah. Dan jika di rangkai dg kalimt tertentu, bisa jadi mempunyai arti yg lain, bisa benci, menyesal, hasrat, menjauh dan meratakan.
Namun jika kalimat tersebut di sambung dg kalimat Allah, akan memberi arti husus pula.
( ع ب د ) : عَبَدْتُ اللَّهَ أَعْبُدُهُ عِبَادَةً وَهِيَ الِانْقِيَادُ وَالْخُضُوعُ
Saya menyembah Allah dg sesungguhnya penyembahan, dan itu adalah: menurut dan tunduk.Dan tidak bisa di artikan ke selain orang yg menyembah Allah.( وأمّا عبَد يعبُد عِبادة فلا يقال إلا لمن يعبد الله)

Dan kita bisa mengambil arti yg lebih khusus, bahwa menyembah itu adalah ألخضوع والذل patuh dn menghinakan diri atau merendahkan diri. Kemudian kita simpulkan
إن معنى عبد في اللغة : دان ، وخضع ، وذل . . ولم يكن معناه في الإصطلاح الإسلامي في أول الأمر أداء الشعائر . . إنما كان هو معناه اللغوي نفسه . .. إنما كان المقصود هو معناه اللغوي الذي صار هو معناه الاصطلاحي . كان المقصود به هو الدينونة لله وحده ، والخضوع له وحده ، واتباع أمره وحده . سواء تعلق هذا الأمر بشعيرة تعبدية ، أو تعلق بتوجيه أخلاقي ، أو تعلق بشريعة قانونية .
Sesungguhnya arti Ibadah dari segi bahasanya adalah melayani/ tunduk/ patuh/ menghinakan diri. Tidak seperti apa yg di persepsikan dalam Agama Islam pada awalnya, yaitu melantunkan Syi,ir2. Kemudian arti bahasa itu di jadikan pula acuan untuk mengistilahkan Ibadah yg di maksud dalam Islam. Jadi Ibadah adalah membuat keputusan atau perhitungan hanya untuk Allah. Dg di sertai ketundukan dan memenuhi perintahNya saja. Baik itu yg berhubungan dg pelantunan sya,ir2 pujian penghanbaan, Ahlaq atau pelaksanaan perundang undangan dariNya. Untuk lebih jelasnya:
والعبادة غاية التذلل من العبد ونهاية التعظيم للرب سبحانه وتعالى لأنه العظيم المستحق للعبادة ولا تستعمل العبادة إلا في الخضوع لله تعالى لأنه مولى أعظم النعم وهي إيجاد العبد من العدم إلى الوجود
Ibadah adalah Puncak perendahan diri dari sorang Hamba dan Puncak penghormatan kepada Tuhan yg Maha Suci. Dg alasan bhw hanya Allahlah yg berhak di sembah, dan tidak ada amalan apapun kecuali dalam rangka tunduk kepadaNya. Karena hanya Allahlah Tuan satu satunya pemberi ni,mat yg agung. Dan ni,mat itu adalah wujudnya seorang Hamba dari tiada menjadi ada.
عن عبد الله بن عباس، قال: قال جبريل لمحمد صلى الله عليه وسلم: قل يا محمد:( إياك نعبد )، إياك نوحد ونخاف ونرجو يا ربنا لا غيرك
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Beliau berkata : Berkata Jibril as kepada Nabi Muhammad saw: Ucapkanlah hai Muhammad (hanya kepadamu aku menyembah) dg maksud Hanya kepadamu Aku meMaha tunggalkan dan aku takut, dan aku mengharap, Wahai Tuhanku, tidak yg lain.
Kesimpulan dari keterangan tersebut, tidaklah amalan itu bisa di artikan Menyembah, kecuali tidak adanya ketundukan, patuh, hormat, perendahan diri dan dg keyakinan bhw obyek itu adalah Tuhan yg di maksud.
Bersambung............................. InsyaAllah
{ إياك نعبد } أي نوحد ونطيع . وقال بعضهم { إياك نعبد } يعني إياك نطيع طاعة نخضع فيها لك
والعبادة : أقصى غاية الخضوع والتذلل ومنه طريق معبَّد أي مذلل ، وثوب ذو عبدة إذا كان في غاية الصفاقة ، ولذلك لا تستعمل إلا في الخضوع لله تعالى

SUARA SUARA SUMBANG
Di dalam Alquran banyak sekali kita jumpai ayat2 yg mengisyaratkan kti untuk melakukan dialog2 interaktif, dg contoh yg di berikan oleh Allah sendiri melalui firman2nya. Antara lain :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُون.
Wahai Manusia menghambalah kepada Tuhanmu yg menjadikanmu dan orang2 sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dialah yg telah membuat untukmu Bumi sebagai hamparan dan Langit sebagai atap dan Dialah yg telah menurunkan air dr langit, kemudian dengannya menumbuhkan buah2an sebagai rizqi untukmu, maka janganlah kamu membuat bilangan keTuhanan padahal kamu telah mengetahui.
Ayat tersebut memberi pelajaran yg sangat berharga atas akal kita, dg di mulainya penyebutan sembahlah, menghambalah kepada satu2nya yg telah menciptakanmu. Logikanya, kita hanya patut menghamba kepada yg telah menciptakan kita saja, Tidak yg lain. Ayat ini menekankan keMaha Tunggalan Allah dalam hal penciptaannya atas Manusia dari tiada menjadi ada. Dan itu di jadikan alasan kenapa kita harus menghamba. Kemudian di kuatkan lagi dg penyebutan di jadikannya Bumi sebagai tempat yg layak huni, dn langit yg darinya di turunkan hujan untuk sebuah proses penciptaan selanjutnya, yaitu berbagai buah2an untuk di makan. Akal kita di ajak untuk berpikir, merenungi apa yg ada di sekitar kita. Seakan kita di ajak berdialog, dg semua itu apakah layak kita menduakan Allah, bukankah semua itu mudah kita ketahui????
Seiring perkambangan daya nalar Manusia dr waktu ke waktu, Karena akal pikiran Manusia teruslah menggembara, menyerap berbagai informasi yg kian lama semakin di atas ambang batas keManusiaannya. Berbagai budaya, pemikiran yg masa ini tersimpulkan kebenarannya, membaur dan melucuti sedikit demi sedikit keyaqinan yg telah susah payah di canangkan 1400 th yg lalu. Setiap saat selama kita masih hidup kita selalu berikir. Dan itu merupakan kegiatan mental. Pada waktu berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambaran sesuatu yg tidak hadir secara nyata. Kegiatan itu mungkin saja tidak terkendali, terjadi dg sendirinya, tanpa kesadaran. Atas mimpi2 itu pulalah kemudian timbul berbagai persepsi2 keTuhanan yg aneh2, yg tidak kita jumpai dalam pembicaraan Rosulullah saw, tidak pula dalam mukalamah para Sahabat, Tabi,in, Tabi’uttabiin. Pernyataan2 sumbang itu di bungkus dg slogan kembali kepada Alquran dan Al sunnah, kita tinggalkan Bid’ah, khurofat dan tidak ketinggalan kata syirik pun mulus meluncur dan ter tuang dalam berbagai tulisan. Mereka sebenarnya menggunakan ilmu kalam sebebas bebasnya dg cara menyerang dan menyatakan bahwa almutakallimun itu sesat dan menyesatkan.
Inilah suara2 sumbang yg menggelikan itu:
,,n"إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه" (مجموع الفتاوى مجلد 4 ص 374)
Sesungguhnya Muhammad Rosulullah di dudukkan oleh Allah di atas ‘Arasy bersamaNya. (Majmu’ Fatwa Ibnu Taymiyyah Jilid 4 hal 374)
"ولكنه أي القرآن قول الله الذي تكام به بحروفه وألفاظه بصوت نفسه" (شرح نونيه ابن اقيم لمحمد خليل هراس ص 545)
Akan tetapi, al quran itu adalah ucapan Allah yg dengannya Dia berbicara dg huruf dan lafadz, dengan SURANYA sendiri. (Syarah Nuniyyah Ibnu Qoyyim oleh Muhammad Kholil Haros Hal 545)
"وكلم الله موسى تكليما من فيه" (طبقات الحنابلة لأبي يعلى ص 23 – 33)
Dan Allah benar2 berbicara dg Musa as dari mulutNya (Thubaqotu al hanabilah oleh Abi Yu’la Hal 23 – 33)
"والكرسي هو موضع قدمي الله عز وجل" (تفسير آية الكرسي لمحمد بن عثيمن ص 27)
Alkursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah (Tafsiru ayati al kursi oleh Muhammad bin ‘Utsaimin hal 27)
نثبت الرؤية وننفي الجهة والفوقية فقالوا: إن الله يُرى لا في جهة أين يُرى من فوق قالوا: لا من تحت قالوا: لا من أمام قالوا: لا خلف قالوا: لا عن يمين، قالوا: لا عن شمال قالوا: لا أين يُرى؟ قالوا لا في جهة هذا مذهب
الأشاعرة أثبتوا الرؤية ونفوا الجهة والفوقية . (شرح العقيدة الطحاوية الشيخ عبدالعزيز الراجحي)
Ini cuplikan panjang bantahan dari kaum yg menetapkan arah kpd Allah, dia mencela akidah kaum Asya,iroh yg menolak penetapan Allah akan arah.
Cukup kiranya untuk menebang akidah fashidah ini dg apa yg menjadi kesepakatan Para Imam, dan apa yg di sampaikan Amirul mukminin ‘Ali karromallahu wajhah:
سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم ولأعضاء (رواه ابن المعلم القرشي في نتابه نجم المهتدي ورجم المعتدي)
Ketika mendekati hari qiamat, sekelompok dr Ummat ini akan kembali menjadi orang2 KAFIR. Mereka mengingkari Sang Pencipta dn menshifatinya dg benda dn memiliki anggota2 badan.
قال الإمام الشافعي رضي الله عنه:
من قال أواعتقد أن الله جالس على العرش فهو كافر (رواه ابن المعلم في كتابه)
Imam Syafi,i berkata : sesiapa yg meyakini bhw Allah duduk di atas Arasy, maka ia KAFIR
Perkataan Para Imam dan Para Mufassir yg lain pun senada seirama dg apa yg di katakan Imamuna Al Asy’ari ra:
من اعتقد أن الله جسم فهو غير عارف بربه وإنه كافر
Sesiapa yg beri,tiqod bhw Allah adlah jisim, maka ia tdak mengenal Tuhannya dan ia Kafir kepadanya.
Itulah kedustaan yg di buat Kaum KHAWARIJ baru.
Dan masih banyak lagi pernyataan2 yg mengatas namakan Al Sunnah, Manhaj Salaf Dan tidak segan2 mensohihkan beberapa Hadist yg Jumhur ‘Ulama m mendlo,ifkannya. Dg bersuka ria, mereka dg sangat seakan wajar dan tanpa dosa menyerupakan, menjisimkan dan melecehka Allah. Maling teriak maling!!!!!!!!!!. Ahli Bid’ah berkedok Penyelamat Sunnah!!!!!!!. Na,udlu billah min hadlihil buhtan !!!! Di sinilah wahai Kawan.................! Kehadiran ‘ilmu kalam yg telah di konsepkan Imamuna Al Asy’ri / Al Maturidi adalah sebagai OPOSISI bagi logika di kalangan Ahlu alkalam yg liberal dan sangat ekstrim, dg memakai satu pijakan Ayat LAISA KA MITSLIHI SYAIUN WA HUWA AL SAMI’U AL BASHIR.
(ألتوحيد إفراد القديم من المحدوث)
Tauhid adalah mengESAKAN Dlat yg tidak berpermulaan dari menyerupai Mahluq.
Yg mana dg ilmu kalam ini dapat berguna atau menguatkan penjelasan tentang akidah dan pemahaman keAgamaan Islam dari serangan lawan melalui penalaran rasional. Tetapi patut di catat, bhw Ilmu Kalam yg di maksud itu sekalipun dalam pembahasannya banyak mempergunakan argumen2 rasional, tetap tunduk kepada Wahyu. Janganlah Anda tertipu dg ungkapan2 yg menuduh buta atas Ilmu kalam, Apalagi sampai walaupun sedikit meragukan atas kebenarannya. Oh ya ada juga lo yg ikut ikutan keminter dan sok menjadi peneliti tanpa referensi yg jelas,..........
Asy’ariyah / Maturidiyah, yaitu aliran sesat yang amat mengagungkan Ilmu Kalam dalam bertauhid dan mengagungkan Ilmu Mantiq dalam memahami fiqih serta membuka peluang sebesar-besarnya untuk kebebasan berfikir tentang upaya memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Aliran ini memberi peluang untuk tumbuhnya keberanian interpertasi terhadap agama tanpa harus merujuk kepada riwayat-riwayat penafsiran para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai dua sumber hukum bagi Islam.( Pasang Surut Perjuangan Menegakkan Syariah Islamiyah
Al Ustadz Ja’far Umar Thalib)
Saya gak perlu membuat komentar atas pernyataan ini, buang2 energi! Gak nyambung!!!!!!!!!!

0 komentar:

Followers

Mbh