Senin, 14 Desember 2009

Hujah(hujat) vs Debat

Debat memang dilarang bahkan diancam dengan neraka, dan disisi lain kita diperintahkan untuk menghujjah. Pada awalnya memang kita hanya berdikusi namun tidak dihayalkan lagi jika tidak didasari dengan kearifan akan terjebak pada perdebatan.

[6.57] Katakanlah: "Sesungguhnya aku (berada) di atas hujah yang nyata (Al Qur'an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.

Adapun dalam surah Al-Kafirun sangat jelas dimana ayat pertama ~[109.1] Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,~ Jelas sekali adanya kalimat perintah.


Medan Perang
========
Perang adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Disadari ataupun tidak peperangan fisik memang sudah lama berlalu, akan tetapi ada peperangan yang jauh lebih dahsyat lagi yaitu perang pemikiran. Dimana idelogi kita diacak-acak dan yang paling nyata adalah seputar teologi (ketuhanan) dimana seperti yang mereka akui (kafir) bahwa mereka beriman kepada agama yang selalu diupdate. Teologi kristen dulu kita kenal sebagai trinitas kemudian menjadi tritunggal ditembeli sana-sini mengambil perbandingan dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Mereka ambil sepotong-sepotong yang menguntungkan dirinya. Sekali lagi jangan takut! Mereka sedikitpun tidak dapat menyentuh maknanya hanya kata-kata (kulit) saja. Sungguh nyata bahwa Alloh melindungi Al-Qur'an bukan pada fisiknya yang mudah didapat di mana saja melainkan kepada makna.

[40.56] Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Coba kita prediksi
===========
Boleh jadi hari ini kita mampu menepis fitnah yang ada dimana Rosululloh menggambarkan seperti hujan (fitnah) atau angin yang selalu menggoyang pohon sekarang. Namun bila kita mampu memprediksi dan melihat bagaimana sepak terjang mereka terhadap kitab mereka yang senantiasa diupdate, seperti apa yang mereka sebut dari salam sampai menyebut nama Alloh dan do'a2 dengan AsmaNYA sama persis apa yang kita sebutkan. Mereka tidak akan berhenti sampai kita mengakui Tuhan mereka. Kebencian mereka sangatlah nampak, hal ini berlaku bagi siapapun yang tidak mampu meyakinkan diri terhadap kuasa Alloh. Hatinya tidak akan teguh apalagi amanah yang ada jutru akan terus memfitnah karena kedengkian mereka.
Sampai kapankah kita menunggu hingga fitnah itu datang dari mulut anak atau tetangga kita? Menghampiri siapa saja yang tak mau tahu persoalan ini.

[29.25] Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.

Mungkin banyak diantara kita yang tidak menyadari betapa seseorang yang tidak berpijak pada keyakinan yang benar dengan pendirian teguh, tidak akan pernah bisa dipercaya bahkan akan membawanya kepada kedholiman. Kata damai hanya di mulut mereka saja, sesungguhnya mereka amat membenci kita. Silahkan telusuri sifat-sifat yang ada pada diri kita lebih jauh dengan melihat plus-minusnya, niscaya kita dapat mengenali 'kenapa dan untuk apa beragama yang benar'. Adakah merugikan penganutnya? Sama sekali tidak, justru agar menjadi orang yang beruntung dunia-akhirat. Hanya saja seseorang sering terjebak hanya melihat dari penganut atau prilaku luar saja, yang tidak lebih timbul dari penilaian hati yang buruk. Dengan mengetahui lebih jauh keadaan mereka niscaya kita lebih arif bahkan mampu memaafkan, walaupun kenyataanya berat bagi kita untuk tidak terpancing emosi.

Silahkan anda menilainya saya bukan mengajak untuk menggunakan ilmu sebagai bekal untuk debat, namun semata untuk memerangi fitnah, adapun point2 yg harus dihindari sudah terdapat dalam Al-Qur'an. Dan bagaimana kita menghindari agar tidak terjebak pada debat kusir kesemuanya sudah ada. Tinggal kita mampu atau tidak membawa diri dan senantiasa agar diri kita lebih yakin dengan melihat kenyataan bahwa "o.. seperti inikah orang yang fasik." Kebanyakan mereka tidaklah sadar apa yang mereka lakukan karena tipu daya atau kedengkian yang ada pada diri mereka dan hanya sedikit saja yang sadar diantara kedua belah pihak telah menjadi bagian propaganda dan adu domba Yahudi dengan mempersenjatai salah satunya.


Manakah Lebih baik?
============
Berdebat dengan orang seiman jauh lebih rumit dimana kedudukan pengetahuan tidak mungkin dapat menjadi landasan untuk saling memahami atau dipertemukan, melainkan mengambil penyambung pengertian diantara keduanya. Belum lagi orang-orang yang samar keimanannya. Selayaknya sejauh mungkin kita hindari melainkan untuk diskusi saja, niscaya Alloh membimbing kita untuk menunjukan kebenarannya. Medan yang saya sebutkan di atas jauh lebih baik dan mudah untuk mencapai keridhoan Alloh. Dengan niatan saling menutupi aib dan saling mengingatkan dan menerimanya dengan penuh kearifan.


Tersirat/Tersurat
==============
[29.49] Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.

Kalimat 'tersirat' mungkin sering kita dengar dari orang yang tasawuf, memang benar adanya akan tetapi mampukah seseorang menjalankan seluruh perintah-perintah didalamNYA tanpa memilah-milah yaitu diambil untuk keuntungan pribadinya saja. Sebagian ia terima dan sebagian lainnya ia tolak. Dan keluasan pandangan (pengetahuan) seseorang dapat melihatnya sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dimana Al-Qur'an merupakan peringatan untuk seluruh umat.

[68.52] Dan Al Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.

Bisakah Makrifat tanpa Tareqot?
====================
Jawaban dari saya adalah 'bisa'. Asal kita benar-benar menujukan segala kepastian hanya kepada Alloh, dengan segala daya upaya kita untuk mendekat dan mengenal dengan penuh kehati-hatian; takut berbuat salah dan rasa kecintaan semata karena Alloh dan lainnya adalah perbanyak mengingat Alloh (jangan sampai lalai/lupa) dan kerjakan syariat yang telah ditetapkan Rosululloh. Setahap-demi setahap akan tetapi semakin mantap sampai diperlihatkanNYA kesalahan-kesalahan kita. Hal ini baru tahap awal saja dan tidak sedikit diantaranya bangun dengan keterkagetan antara percaya dan tidak menerima pancaran CahayaNYA. Dalam tahap ini seseorang hendaknya lebih banyak menanam kebaikan dengan penuh kelembutan dan yang paling berat adalah mengenali istilah yang berlaku dimasyarakat. Dimana hakikat cahaya (petunjuk) dengan angin (bahasa kita) jelas jauh berbeda. Dari sini pula kita harus pandai-pandai mengenal agama lain agar tidak terjebak pada pencampur-adukan yang membingungkan orang dibawahnya. Banyak-banyaklah berkonsultasi dengan orang yang lebih paham, atau dengan jalan menanamkan ilmu yg sudah kita ketahui dengan tidak lepas dari kerangka Al-Qur'an dan Sunnah.
[51.7] Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,
[51.8] sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat,
[51.9] dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al Qur'an) orang yang dipalingkan.
[51.10] Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,

Perkembangan Pemahaman
======================
Perkembangan pemahaman terutama dalam dunia Teologi (ketuhanan) sudah mengalami pergeseran jauh. Dimana kitab Injil sudah mengalami pembaharuan sana-sini dengan mengambil perbandingan Qur'an, dan tidak dihayalkan lagi kitab-kitab lainnya, karena pengaruh sosial dimana saling mengikat dan mempengaruhi ini telah membawa bahasa jauh dari makna sesungguhnya. Disinilah hakikat 7 lautan :

[18.109] Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Ya Alloh yang Maha Kuasa, anugeralihah kami kekuatan untuk berperang dijalanMU, masukanlah kami kepada golongan orang yang berserah diri. Kuserahkan ketakutan dan kecintaan kami hanya untukMU.


Renungan dalam kaitan bahasan kita kali ini :

[79.17] "Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, [79.18] dan katakanlah (kepada Firaun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" [79.19] Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?"

[2.41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa

[2.42] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

[7.33] Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".

[7.34] Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

[7.35] Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

[16.126] Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

[16.127] Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

[16.128] Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

0 komentar:

Followers

Mbh