Senin, 01 Oktober 2012

KAJIAN KITAB HIKAM (Karya Syekh Ibnu Athoillah) Tentang buta hati dan cara memilih teman

Yaa Allah…yaa hayyu yaa Qoyyuum...yaa Qowiyy, wahai yang Maha menatap, *bukakan
mata hati kami agar bisa meyakini dengan haqqul yaqin.* Jangan biarkan ada
keraguan dihati kami terhadap janji dan jaminan-Mu. Jauhkan hati kami dari
silau duniawi. Jangan biarkan kami terpesona dan terpedaya oleh dunia...
Aamiin Allaahumma Aamiin



Syekh Ibnu Athoillah telah berfatwa dalam kitab al-Hikam, karyanya,

*"Keajaiban yang sangat mengherankan (ajaib) terhadap orang yang lari dari
apa yang sangat dibutuhkannya, dan dia tidak dapat lepas daripadanya.
(Tetapi) Dia berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya.
Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta adalah mata hati
yang ada di dalam dada."*



Siapa yang menciptakan kita…?



Siapa yang mengurus diri kita dari waktu ke waktu…?



*Orang yang "bodoh" yang mata hatinya tertutup adalah mereka yang lalai
dari Dzat Yang Maha Memiliki, Maha Menguasai dan Menggenggam
segala-galanya, kemudian mencari sesuatu yang lemah, yang tiada daya dan
pasti binasa.*



Aneh bin ajaib, *kita tidak bisa lepas dari Allah Ta'ala, tapi sibuk
mengejar dunia dengan mengabaikan Allah.*



Pertanyannya kemudian adalah: "Apakah kita tidak boleh mencari dunia…?"



Dunia tempat tinggal kita sekarang.* Tetapi yang kita cari bukan dunia,
tapi pemilik dunia dan seisinya, Dia-lah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.* Kita
bekerja bukan mencari harta, tapi mencari Ridla Allah. *Kalau Allah Ridla
diberi harta yang berkah*. Tidak ada artinya harta jika tidak berkah. Tidak
akan ada ketenangan bathin dan berakibat pada kemiskinan jiwa ditengah
tersedianya segala kebutuhan duniawi.



*Harta yang berkah bukan tergantung banyaknya jumlah. Tapi hatinya yang
kaya sehingga berapapun harta yang ada bathin dan jiwanya tetap tenang. *Maka
kejarlah Allah dalam setiap episode kehidupan yang kita jalani. Karena
semua dalam genggaman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adakalanya kita senang,
susah, dipuji dan dihina, itulah warna warna dalam hidup yang dipergilirkan
diantara manusia. Dan itulah yang membuat indahnya hidup kita.

Kesemuanya itu haruslah makin mendekatkan kita pada Allah Subhanahu Wa
Ta'ala. Karena bagi orang beriman semua itu kebaikan dari Allah untuk
hamba-Nya. Jika ia ditimpa kebaikan ia bersyukur jika ditimpa kemalangan,
kesusahan dan persoalan hidup ia bersabar. Jadi tidak ada yang rugi bagi
orang beriman, semuanya baik baginya. Hal ini sebagaimana yang telah
disabdakan Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam: *Aku mengagumi seorang
mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila
ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar.* Seorang mukmin diberi
pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke
mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)



Syekh Ibnu Athoillah juga telah berfatwa

*"Janganlah berkawankan dengan seorang yang tidak membangkitkan semangat
taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan
Allah kata-katanya."*



Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan (ingatlah) hari (ketika itu)
orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "*Aduhai kiranya
(dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul*. Kecelakaan besarlah bagiku;
kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku).
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu
telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia."
(QS. Al-Furqan:27-29)



Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "*Kondisi keagamaan
seseorang sangat tergantung pada kondisi keagamaan temannya. Maka hendaknya
kamu memperhatikan dengan siapa sebenarnya kamu tengah bergaul*" (HR.Abu
Daud, At-Tirmidzi dan Hakim dengan sanad Hasan)



Sebuah bait syair arab pun telah menyebutkan hal yang serupa: "Jangan kau
tanya langsung tentang bagaimana seseorang itu, tapi cukup tanyakan
bagaimana temannya, *karena sesungguhnya seseorang itu akan mengikuti
langkah-langkah temannya*."



Waktu demi waktu begitu berharga. Setiap saat kita berpacu dengan umur
kita. *Apabila kita mempunyai kawan yang tidak mengajak untuk ingat kepada
Allah maka bisa terlalai kita karena-nya.*



*Maka carilah kawan/teman yang paling banyak mengingat Allah dan carilah
teman yang bisa menegur kita untuk mengingatkan kita kepada Allah*. Tidak
hanya bisa memuji saja, bisa tertipu kita karena-nya. Carilah teman yang
berfungsi sebagai cermin yang menginformasikan kepada kita apa adanya.
Pujian itu nikmat untuk nafsu tapi tidak untuk iman. Pujian sering menutupi
kejujuran diri. Yang kita butuhkan pujian, koreksi, saran bahkan cacian
yang makin mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala..



*Sahabat….Jangan tertipu oleh jabatan teman kita.* Jangan merasa bangga
oleh apapun yang ada pada teman kita yang sepertinya mulia dalam pandangan
manusia.* Lebih baik berteman dengan manusia biasa dalam pandangan sesama
tapi mulia dalam pandangan Allah karena keshalihan-nya.*

0 komentar:

Followers

Mbh