Senin, 01 Oktober 2012

DALIL TAWASSUL PADA ORANG PALING MULIA DAN PALING SHOLEH (NABI MUHAMMAD) YANG TELAH WAFAT

Bismillaah, was-sholaatu was-salaamu 'alaa rosuulillaah ^_^



artikel ini ana tulis sebagai ajang berbagi ^_^ dan apa yang ana sampaikan
di artikel ini adalah mengambil dari karya2 Ulama' ahlussunnah, dan memakai
terjemahan, agar lebih mudah difahami untuk semuanya yang ada di Indonesia
^_^



Pada suatu hari ketika aku (Al-'Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat makam
Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan makam
beliau itu ia berkata: 'As-Salamu'alaika ya Rasulallah. Aku mengetahui
bahwa Allah telah berfirman: Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim
terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad),
kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan ampun bagi
mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah untuk
mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa'atmu, ya
Rasulallah..'. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa
saat kemudian aku (Al-'Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu
aku bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku: 'Hai 'Utbah,
susullah segera orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah
telah mengampuni dosa-dosanya.



Peristiwa di atas dikemukakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah bab
4 hal. 498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengenai
ayat An-Nisa: 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengahkan peristiwa
Al-'Utbah ini ialah: Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah dalam kitabnya
Al-Mughny juz 3 hal. 556; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya
Asy-Syarhul-Kabir juz 3 hal. 495; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam
kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab
Hanbali) juz 5 hal. 30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi juz 5 hal.
265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.



Ad-Darami meriwayatkan: Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat
parah. Mereka mengadu kepada Aisyah Rodliyallahu 'anhaa (ummul Mukminin).
Aisyah mengatakan: 'Lihatlah pusara Nabi! Jadikanlah ia (pusara) sebagai
penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit'.
Dia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya,
kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan
gemuklah unta-unta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan
tahun 'al-fatq' (sejahtera). (Kitab "Sunan ad-Darami" juz 1 hal. 56)



satu contoh lagi dari riwayat (atsar) para sahabat berkaitan dengan
legalitas syariat Islam terhadap permasalahan istighotsah/tawassul,
terkhusus kepada pribadi yang dianggap telah wafat/meninggal dunia.



Dalam sebuah riwayat panjang tentang kisah Utsman bin Hunaif (salah seorang
sahabat mulia Rasulallah) yang disebutkan oleh at-Tabrani dari Abi Umamah
bin Sahal bin Hunaif yang bersumber dari pamannya, Utsman bin Hunaif.
Disebutkan bahwa, "Suatu saat seorang lelaki telah beberapa kali mendatangi
khalifah Utsman bin Affan agar memenuhi hajatnya. Saat itu, Utsman tidak
menanggapi kedatangannya dan tidak pula memperhatikan hajatnya. Kemudian
lelaki itu pergi dan ditengah jalan bertemu Utsman bin Hunaif dan
mengeluhkan hal yang dihadapinya kepadanya. Mendengar hal itu, lantas
Utsman bin Hunaif mengatakan kepadanya: Ambillah bejana dan berwudhulah.
Kemudian pergilah ke masjid (Nabi) dan shalatlah dua rakaat. Seusainya maka
katakanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan mendatangi-Mu
demi Nabi-Mu Muhammad yang sebagai Nabi pembawa Rahmat. Wahai Muhammad, aku
menghadapkan wajahku kepadamu untuk memohon kepada Tuhanku. Maka
kabulkan-lah hajatku" Kemudian sebutkanlah hajatmu. Beranjaklah maka aku
akan mengiringimu".



Kemudian lelaki itu melakukan apa yang telah diberitahukan kepadanya.
Selang beberapa saat, lalu ia kembali mendatangi pintu rumah Utsman (bin
'Affan). Utsman pun mempersilahkannya masuk dan duduk di satu kursi
dengannya, seraya berkata: Apakah gerangan hajatmu? Kemudian ia menyebutkan
hajatnya, dan Utsman pun segera memenuhinya. Ia (Utsman) berkata kepadanya:
"Aku tidak ingat terhadap hajatmu melainkan baru beberapa saat yang lalu
saja". Ia (Utsman bin Affan) pun kembali mengatakan: "Jika engkau memiliki
hajat maka sebutkanlah (kepadaku)"! Setelah itu, lelaki itu keluar
meninggalkan rumah Utsman bin Affan dan kembali bertemu Utsman bin Hunaif
seraya berkata: "Semoga Allah membalas kebaikanmu" Dia (Utsman bin Affan)
awalnya tidak melihat dan memperhatikan hajatku sehingga engkau telah
berbicaranya kepadanya tentangku.



Utsman bin Hunaif berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah berbicara tentang
kamu kepadanya. Tetapi aku telah melihat Rasulullah saw. didatangi dan
dikeluhi oleh seorang yang terkena musibah penyakit kehilangan kekuatan
penglihatannya, kemudian Nabi bersabda kepadanya: 'Bersabarlah'! Lelaki itu
menjawab: 'Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penggandeng dan itu sangat
menyulitkanku'. Nabi bersabda: 'Ambillah bejana dan berwudhulah, kemudian
shalatlah dua rakaat, kemudian bacalah do'a-do'a berikut….' (info: ini
mengisyaratkan pada hadits tentang sahabat yang mendatangi Rasulallah
karena kehilangan penglihatannya yang diriwayatkan dalam kitab "Musnad
Ahmad" juz 4 hal. 138, "Sunan at-Turmudzi" juz 5 hal. 569 hadits ke-3578,
"Sunan Ibnu Majah" juz 1 hal. 441 dan "Mustadrak as-Shohihain" juz 1
hal.313)



berkata Ibnu Hunaif: Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan (cara
tawassul itu) Percakapan itu begitu panjang sehingga datanglah seorang
lelaki yang seakan dia tidak mengidap satu penyakit". (Lihat: Kitab "Mu'jam
at-Tabrani" juz 9 hal. 30 nomer 8311, "al-Mu'jam as-Shoghir" juz 1 hal.
183, dikatakan hadits ini sahih)



demikianlah sedikit yang bisa ana sampaikan mengenai atsar bahwa para
sahabatpun bertawassul melalui Nabi Muhammad yang telah wafat dengan jalan
menziarahi makam beliau dan berdoa pada Allah dengan bertawassul pada Nabi
Muhammad ^_^



dan *JELAS TIDAK ADA SATUPUN ULAMA' AHLUSSUNNAH YANG MENYATAKAN AMALAN PARA
SAHABAT INI ADALAH AMALAN BID'AH DLOLALAH LEBIH2 AMALAN SYIRIK*, sehingga
jika kita mau menelusuri Kitab Tarikh, maka kita juga bisa banyak menjumpai
kisah2 tawassul yang dilakukan oleh Para Ulama' Salafushholeh ^_^



Alhamdulillaah

0 komentar:

Followers

Mbh