Senin, 01 Oktober 2012

APA BENAR ORANG2 YANG BERZIARAH KE MAKAM PARA NABI DAN PARA WALIYULLAH ITU SYIRIK???

Jika tujuan orang-orang yang berziarah ke makam para Waliyullah itu sekedar
minta kepada kuburan……! berdoa kepada batu mati yang menancap di atas
sesonggok tanah kering….?,* siapa yang tidak mengerti bahwa perbuatan
tersebut hukumnya syirik. *Kalau memang benar bahwa orang yang berziarah
kekuburan para waliyullah itu syirik..?, sekarang ada pertanyaan; *"sekiranya
yang ditanam di bawah tanah kering yang ditancapi batu nisan itu jasad
kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarahi kuburan
kita…?", kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para
waliyullah itu…?* Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam
jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad
para Wali itu dapat menarik hati orang banyak hingga datang dari tempat
yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang kepada jasad kita tidak…?



Barangkali ada sudut pandang yang berbeda sehingga hati yang mulia telah
menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : *"Mengapa orang banyak itu
jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang ke kuburan orang yang sudah
mati…?"*. Maka jawabannya gampang, karena mereka itu adalah orang-orang
bodoh hingga mampu berbuat yang tidak masuk akal, masak orang mati kok
kuburannya didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak
dirubah sedikit:* "Ada apa kiranya di kuburan orang itu…?, mengapa setiap
hari orang-orang dari tempat yang jauh itu DIDATANGKAN oleh Allah Ta'ala
untuk berziarah kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?*.
Maka jawabannya agak sulit karena membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian
yang mendalam kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah
Ta'ala sehingga nur imannya mampu menyinari ilmu yang ada di bilik akalnya.



*Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi, pasti terjadi atas
takdir Allah Ta'ala, sekarang pertanyaannya begeni; mengapa orang banyak
itu setiap hari dari jauh-jauh DITAKDIRKAN Allah Ta'ala datang berziarah di
kuburan para Waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..?
ada rahasia apa di balik itu…?.* Kalau semacam ini pertanyaan yang
dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya *asal hatinya
selamat dari penyakit hati yang dapat mematikan iman*, kalau tidak, berarti
hati kita perlu diteliti kembali, barangkali di dalamnya tercemar oleh
penyakit-penyakit yang dimasukkan oleh syaitan jin yang gentayangan.



Maka jawabannya seperti ini: Itulah *buah ibadah, para waliyullah itu
sekarang sudah waktunya menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu kasih
sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do'a-do'a.* Karena
keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan
apa-apanya telah membuahkan hasil, maka sekarang mereka telah menuai
hasilnya itu, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima
kasih atas jasa-jasa mereka, didatangi dan dido'akan oleh orang-orang yang
bersyukur atas kenikmatan iman di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu
telah mereka kerjakan, itu terjadi sebagai dzikir balik dari Allah Ta'ala
kepada para Kekasih itu karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah
Ta'ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya.
Hal tersebut merupakan bentuk pelaksanaan janji Allah Ta'ala yang tidak
akan pernah dipunggkiri, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: *"Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) –Ku" (QS:
al-Baqoroh ayat 152).*



Oleh karenanya, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu, yakni di
saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain
didatangkan Allah Ta'ala untuk memberikan kegembiraan – *maka sejak
sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika
hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah
Ta'ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarahi kuburan kita. ^_^*



Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi sudah tidak sempat lagi
membekas di hati, ketika fitnah-fitnah kehidupan yang semestinya membakar
telinga malah menyejukkan perasaan, *itulah ciri hati orang-orang yang suka
berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari
realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta'ala dengan segala qada' dan
qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu kehendak-Nya yang azaliyah
untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai.* Dada mereka bagaikan
hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan
tetapi yang keluar darinya hanyalah kebaikan dan obat belaka. Layaknya
seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan
penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan
tertular penyakit.



*Keberadaan seorang "Muhsinin" yang sejati itu dimana-mana akan menjadi
bagai tambang kebaikan*, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya
hanya dimuati pengabdian, menyelesaikan permasalahan umat hingga
kadang-kadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya
hanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau
orang baik itu sendiri sedang bersedih. *Semakin banyak orang yang
mengenal, semakin banyak pula masalah yang harus dihadapi, sehingga
akibatnya, semakin lama dada orang yang "muhsinun" itu menjadi bagaikan bak
sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang
mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat sejati, dengan amanat yang ada di
pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam. Ketika
do'a-do'a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah, maka jadilah sebagai sebab
Allah Ta'ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat*. Bahkan dari sebab
linangan air mata yang meleleh di pipi karena menangisi kesedihan umat,
kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta'ala menurunkan air hujan di daerah
yang ditangisi itu,* bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah
al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf,
berarti hari kiyamat segera akan datang.*



Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari
keberadaannya tidak tampak karena kesibukan lahir untuk menutupi kebutuhan
hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di
langit sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang
bersedih hati. *Maka, wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang
jalan, Anda jangan mengingkari keutamaan Allah yang telah diberikan kepada
para Wali itu, terlebih dengan menyirikkan sesama saudara beriman yang
menziarahi makam mereka, bersegeralah bertaubat dan mendekat kesana,
mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara azaliyah itu, supaya sang
laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan hidayah Allah
Ta'ala*. Maka sungguh benar Allah dengan firman-Nya: *"Sesungguhnya rahmat
Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-A'roof ayat 56)
*

0 komentar:

Followers

Mbh