Selasa, 13 Desember 2011

KH. Dr. Said Aqil Siradj : Agama Tidak Hanya Mengurusi Aqidah Dan Syari’ah

Dalam memaknai dan memahami ayat-ayat suci dan teks di dalam Alquran maupun hadis, warga Nahdatul Ulama (NU) diminta tak boleh berpikiran sempit dalam menyikapi seperti yang selama ini digembar gemborkan kelompok Islam garis keras. Agama Islam juga harus mengembangkan yang meliputi ilmu pengetahuan, pendidikan, akhlaq, sosial sehingga menjadi umat yang berkemanusiaan rahmatan lil alamin.

Demikian yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan tausiyah pada acara Pembinaan warga NU dan pelantikan Bersama Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Badan Otonom (Banom) NU di Masjid Baitul Makmur Kecamatan Karangawen, akhir pekan kemarin (10/12).

“Kalau ada teman-teman yang selalu bilang kepada kita, harus kembali pada Al-Qur’an dan hadits, mbok ya dijelaskan ayat yang mana dan hadits rowi siapa,” papar Kang Said -panggilan akrab ketua umum PBNU tersebut. Lebih lanjut, Kang Said menambahkan, Demak yang selama ini menjadi basis NU tidak perlu diragukan lagi dalam hal syari’ah dan aqidah dikarenakan tradisi pesantren dan ulama yang ada dipedesaan masih aktif dalam mengawal tradisi ahlussunnah wal jamaah tersebut, justru yang perlu dikembangkan program NU yang dibutuhkan umat.

“Masyarakat Demak, kalau hanya Aqidah dan Syari’ah sudah beres, madrasah diniyyah, musholla dan masjid masih kita dengar dan kita lihat proses belajar mengajar mengaji,” Tambahnya.


Nasionalisme Harus diwarisi

Menjelang mengakhiri tausiyahnya kang Said menyampaikan, dalam kondisi sekarang ini bangsa Indonesia patut menjadi keprihatinan bersama keluarga besar NU, dikarenakan mulai dari para pemimpin bangsa sampai pada rakyat jelata menurutnya ada penurunan drastis rasa nasionalisme.

Said Aqil pun meminta warganya yang sudah merasakan kemerdekaan maka tak boleh membiarkan lagi untuk dikotori oleh aksi-aksi radikalisme dan terorisme, dan selalu berprinsip Nahdliyyin harus rahmatan lil alamiin, perpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadits dengan berpedoman pada prilaku ulama Nahdlatul Ulama.

Sumber: NU Online

0 komentar:

Followers

Mbh