Senin, 12 Desember 2011

Hukum Makan, Minum dan Dzikir Ketika Junub

Seorang yang dalam keadaan junub disyaria’atkan untuk mandi janabah, karena dia harus melakukan ibadah wajib (seperti sholat) yang disyaratkan di dalamnya suci dari hadats kecil dan besar. Apabila seseorang yang sedang junub belum mandi, maka tidak ada perkara yang dilarang kecuali apa yang dilarang oleh Alloh ‎ﻋﺰّﻭﺟﻞّ dan Rosul-Nya, di antara larangan itu adalah:

1. Sholat,

sebagaimana sabda Rosululloh ﺻﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﻻَ ﺗُﻘْﺒَﻞُ ﺻَﻼَﺓً ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻃَﻬُﻮﺭٍ
“Sholat tidak akan diterima tanpa bersuci.” (HR. Muslim 1/204)

2. Menyentuh mushhaf al-Qur’an,

sebagaimana sabda Rosululloh ﺻﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﻻَﻳَـﻤَﺲُّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺇِﻻَّ ﻃَﺎﻫِﺮٌ
“Tidak boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Daruquthni 1/122, Baihaqi 1/88, Thobroni 9/33, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa’al-Gholil 122)

3. Membaca al-Qur’an

sebagaimana dalam hadits:
ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗَﺎﻝَ : ﻛَﺎﻥَ
ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍَﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳُﻘْﺮِﺋُﻨَﺎ
ﺍَﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﺎ ﻟَـﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺟُﻨُﺒًﺎ
Dari Ali bin Abi Tholib ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪﻋﻨﻪ berkata: “Adalah Rosululloh ‎ﺻﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ membacakan kepada kami al-Qur’an kecuali ketika junub. (HR. Abu Dawud 229, Nasa’i 1/144, Tirmidzi 146, Ibnu Majah 594, Ibnu Hibban 799, Ahmad 1/83) [1]

4. Tinggal di masjid, adapun sekedar lewat karena suatu kebutuhan maka boleh, sebagaimana firman-Nya:
ﻭَﻻَ ﺟُﻨُﺒﺎً ﺇِﻻَّ ﻋَﺎﺑِﺮِﻱ ﺳَﺒِﻴﻞٍ ﺣَﺘَّﻰَ ﺗَﻐْﺘَﺴِﻠُﻮﺍْ
“….jangan masuk masjid sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. an-Nisa[4]: 43)

Adapun perbuatan lain selama tidak ada dalil larangannya, maka boleh dilakukan walaupun sedang junub seperti makan, minum, berdzikir (selain membaca al-Qur’an) dan lainnya, Allohu a’lam.[] [2]

*******************
[1] Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi, Ibnu Hajar, dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban, juga dihasankan oleh Syaikh Bin Baz ‎‏(dalam Hasyiyahnya terhadap Bulughul Marom hlm. 124), Syaikh Ibnu Utsaimin ‎‏(dalam Syarh Bulughul Marom hadits no. 101), Akan tetapi hadits ini di dho’ifkan oleh al-Albani ‏dalam Irwa al-Gholil 2/241. Pada sanad hadits ini ada perowi bernama Abdulloh bin Salamah diperselisihkan oleh para ulama tentang kelemahan hafalannya, dan pendapat yang kuat adalah yang mengatakan hadits ini Hasan karena dikuatkan oleh hadits lain yang semakna, Allohu A’lam (Lihat keterangan penguat hadits ini dalam Taudhihul Ahkam dalam Syarh hadits no.101)

[2] Masalah nomor 2 dan 4 termasuk masalah yang diperselisihkan ulama, dan insya Alloh yang kami paparkan diatas adalah yang rojih dan yang lebih berhati-hati.


Sumber:
Majalah Al-Furqon, No.80 Ed.10 Th. Ke-7 Jumada ula 1429/2008, Rubrik Soal-Jawab hal.4-5

0 komentar:

Followers

Mbh