Selasa, 02 Agustus 2011

Kebudayaan vs Peradaban

_Pada makalah terdahulu mengetengahkan akan korelasi yang kuat antara Ilmu-Alam-Kalam (bahasa) dimana ketiga definisi ini masing-masing memiliki jejak apabila dikorelasikan dengan Ruang-Gerak-Waktu dan dikerangkakan menurut Surah Al-Iklas yang menempati 4 dimensi pengajaran dengan melihat 3 tahap yaitu etika-estetika-logika.

_Demikian rumit permasalahan yang ada sehingga tidak mudah jika hanya di mengandalkan beberapa faktor saja untu suatu pengajaran yang menyeluruh, adapun yg bisa saya sajikan adalah dengan satu setting awal (ruang tertentu), dari satu sesi ke sesi berikutnya sedangkan kerangka diatas adalah backgroun (latar belakang) pemikiran saya. Sebagaimana fadilah surah Al-Ikhlas ini dikatakan sepertiga isi Qur'an dan menurut suatu riwayat apabila dibaca tiga kali sama saja telah khatam Qur'an. Kemudian bilangan-bilangan yang Rosululloh tinggalkan tersebut sebagaimana bilangan lain yang beliau wariskan memiliki makna yang mengarah pada hitungan pasti yang sempurna apabila dipertemukan dengan Al-Qur'an. Sebagaimana firmanNYA :

[72.26] (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.
[72.27] Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
[72.28] Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

Ke-budaya-an vs Per-adab-an
==================
_Adalah dari 2 kata baku yang sebenarnya secara etimologis memiliki makna yang sama akan tetapi pada benggunaan dan maknanya berbeda sebagaimana kita menggunakannya kalimat itu sekarang, namun jika kita telusuri dari 2 kata ini akan banyak sekali pelajaran yang kita peroleh apabila distrukturkan dengan definisi2 yang saya sampaikan diatas.

_Pembahasan kali ini berangkat dari sisi kalam (bahasa). Jika ditinjau dari segi Ruang-Gerak-Waktu yaitu secara geologis Indonesia dengan pergerakan/pertumbuhan berikut sejarah bahasanya (Bhs Ind - melayu) merupakan pertemuan/muara antara bahasa sanskrit dan bahasa arab dan menyusul dari barat (kolonial) yang pengaruhnya belakangan. Dan jika ditelusuri jauh kemasa lampau banyak kemiripan bunyi namun menurut ahli geologis bahwa bumi ini pernah mengalami kehancuran 81 kali tentunya pelacakan akan menjadi semakin susah, namun kesemuanya itu tercatat pada kitab induk (lohmafus) dimana Al-Qur'an merupakan bagian darinya, dan bagi saya adalah gerbang (benang merah) untuk mengakses apa yang tercatat didalam kitab induk tersebut dengan seizinNYA. Karena nilai (khasanah) yang terkandung didalamnya hanya ditujukan kepada pihak yang di exlusivekan oleh Alloh yaitu orang yang mencapai keridhoanNYA (sesuai yang dikehendakiNYA). Khasanah itu tidak mungkin diturunkan kepada orang yang tamak karena pastilah akan disalah gunakan. Terbukti pada kaum brahma (haman) lebih banyak menjadi legalitas kaum ksatria (firaun) dan hanya memakmurkan qorun (hartawan). Sedangkan rakyat dibiarkan menderita, bahkan menjadi alat perang demi melanggengkan kerajaan tiga macam orang tersebut.

> KE-BUDAYA-AN
_Kebudayaan adalah dari asal kata budhi dan daya jika ditelusuri erat kaitannya dengan masa Iskandar Zulkarnain yang pernah memimpin kerejaan terbesar yang pernah ada di Bumi. Namun sumbernya semakin kabur hanya sedikit saja tersisa pada kisah Melayu. Sebagaimana kita tahu bahwa kisah orang hebat akan senantiasa menjadi inspirasi jika dilihat dari pihak yang merasa dirugikan mendustakan sedangkan yang merasa dimenangkan akan mengelukannya. Contoh terdekat seperti halnya Hitler atau GusDur. Saya pribadi tidak mau terkecoh oleh hal-hal semacam itu... karena nama bagi saya bisa diakui siapapun, sedangkan karakteristik sejarah itu yang saya cari sebagai benang merah yang tidak mungkin dapat dikaburkan.

_Sebagaimana kisah Iskandar Zulkarnain sering dinisbatkan kepada Alexander the Great, padahal dari segi karakteristik sejarahnya berbeda jauh. Demikianlah sejarah akan senantiasa dikaburkan demi kepentingan satu pihak yang selalu mengekor. Seperti keberhasilan Islam menaklukan jazirah Arab menuju eropa (Roma & Turki) dipraktekan oleh penjajah kapitalis dengan membawa agama dibungkus misi dagang namun mendirikan benteng untuk mencengkramkan kekuasaan.

_Kemudian pada pekerkembangannya seperti halnya pada perang Padri (Imam Bonjol - Sumbar) antara budaya (adat) setempat yang masih mengakar yang sebenarnya degradasi nilai luhur agama tercampur animisme yang diwarisi secara turun temurun (agama nenek moyang). Apabila melihat jauh lagi munculnya kerajaan Majapahit sampai diambang kehancuran oleh perebutan kekuasaan, kemudian munculah Islam, lalu muncul Belanda dan pecah juga perang Diponegoro dan Padri. Karena musuh senantiasa mengejar seperti halnya Firaun mengejar Musa as.

_Inilah karakter sejarah dimana terbukanya khazanah (keilmuan) senantiasa diiringi dengan penyalahgunaan. Seperti kita tahu akan teknologi nuklir dan teknologi lainnya. Begitu juga kenapa Al-Qur'an tidak secara gamblang menghamburkan sains modern yang sekarang diagung-agungkan. Sehingga apabila dikatakan 'bumi terhampar' ditafsir sebagai datar/rata (karena hanya mengartikan dari segi literasi/etimologis) namun sesungguhnya bulat. Padahal jika kita artikan dalam pengertian hakikat pengertian 'terhampar' dari segi kronologis (Ruang-Gerak-Waktu) memiliki makna yang jauh dari literasinya. Pada dasarnya Al-Qur'an diperuntukan dengan ukuran terntentu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Silahkan dikaitkan dengan pengertian 'menggulung' pada hari kiamat. Bagaimana dengan analogi karpet atau tisu toilet? Manakah kitab induk yang nyata itu?

_Dalam pengertian ini kita akan lebih arif dalam membicarakan Islam bukan sekedar agama. Dan saya cukup kecewa dengan hasil pemikiran selama ini, apalagi membaca 'ilusi negara Islam' jelas penelusuran semacam itu hanya tidak lebih hanya senda-gurau karena hanya melihat Islam sebagai agama pengikat manusia sebagai mahluk sosial, tidak melihat dimensi surah Al-Ikhlas sebagai satu kesatuan.

_Sungguh disayangkan apabila ulama tidak ubahnya seperti penjaja cinta, senantiasa menawarkan kedamaian tapi mengingkari keselamatan atau berkata baik namun mengingkar kebenaran. Selain daripada itu hanya maklum karena masing-masing mempunyai wilayah (ruang pemahaman) yang tidak lebih dibangungnya sendiri. Maksud hati merangkul orang banyak (kuantitas) namun tidak menitik beratkan kualitas.

_Sedangkan sejarah sudah membuktikan bahwa quantitas tidak berarti apa-apa dihadapan Alloh. Berkacalah pada kaum terdahulu yang dibinasakan/diadzab karena keengganannya mengikat diri pada hukum Alloh. Jika kita lihat sekarang kesemuanya sedang mengarah pada kehancuran karena keegoan masing-masing atas nama kebebasan tidak menyadari sedang menuju kehancuran.

[7 Al A'raaf 56] "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

_Belum lagi dengan adanya tatantan dunia baru 'the new world order' yang digagas zionis, dengan salah satu agendanya melenyapkan 95% penduduk bumi tidak peduli makanan sebagai senjata disamping senjata lainnya seperti virus dimana mantan menkes kita sudah mencium gelagat itu. Dan berapa banyak orang dibungkam (dibunuh) karena membeberkan rahasia ini. Senjata dengan mengarahkan fanatisme agama sudah sedari dulu dengan berbagai cara baik antara kaum adat, kekuasaan, apapun dengan itu satu sama lain saling menghancurkan. Namun ada saja orang tolol yang sok menjadi pahlawan seakan mampu berdiri diatas semua agama yang tidak lebih termakan propaganda (doktrin) zionis atau hasil pencampuran lainnya. Manakah penduduk goa yang terbangun? Aku merindukannya... masihkah belum puas dengan mimpi indahmu?

> PER-ADAB-AN
Silahkan telusuri kalimat ini sebagai warisan Islam membenahi agama sebelumnya. Dari segi etimologis dan kronologisnya dalam koridor bahasa diatas.

2 komentar:

Ramaja Gandhi mengatakan...

artikelnya mantap sob,sangat berguna

Mahesa ibnu_romli mengatakan...

@ghandi : makasih sob, smoga smuanya bermanfaat untuk semua :)@ghandi : makasih sob, smoga smuanya bermanfaat untuk semua :)

Followers

Mbh