Rabu, 03 Agustus 2011

Nasihat sahabat 'ali bin abi tholib untuk para liberalis

sebuah hadits shohih yang dijelaskan oleh syaikh abdurrahman al-’ajlan ini hendaknya didalami oleh para pendakwah islam yang kini telah banyak menganut paham liberal, yaitu membebaskan akal-pikirannya dalam memaknai syariat Allah.

Hadits ini berkaitan mengenai hukum membasuh sepatu tinggi yang biasa dikenakan oleh orang arab, atau biasa disebut dengan ‘khuf’. ketika itu, seorang sahabat datang kepada ali bin abi thalib, beliau menanyakan bagaimana wudhunya orang yang menggunakan khuf. ali kemudian menjelaskan “andaikan islam itu ada pada otakku, pastilah aku menyuruhnya untuk membasuh pada bagian bawahnya (di bagian telapak kakinya)”
potongan hadits ini adalah sebuah pelajaran besar yang ketika kita memahaminya, pemahaman liberalisme insya Allah akan lenyap dari benak kita. ya, ali bin abi tholib adalah seorang cerdas didikan rasul secara langsung.

perkataan seperti diatas adalah contoh bagaimana seorang muslim harus bersikap sebagaimana yang dicontohkan oleh sahabat nabi. dalam hukum ini, ada sebuah penjelasan rasul yang bila dipikir, tidak masuk nalar kita sebagai manusia. bagaimana mungkin ketika kita memakai khuf dalam berwudhu, justru diharuskan untuk membasuk bagian atas khuf tersebut. dan tidak mebasuh bagian bawahnya.
padahal jika yang kita pakai adalah akal kita, pastilah yang akan kita basuh bagian bawahnya, karena yang terkena kotoran adalah bagian bawah khuf, bukan bagian atasnya.

hal semacam ini pun pernah mampir di benak oleh ali bin abi tholib, beliau pun ketika mendapati hukum tersebut sempat dibuat takjub. bagaimana mungkin hal demikian justru yang disyariatkan oleh Allah.
inilah sebuah teladan bagi kita ummat islam yang hidup di zaman yang penuh dengan fitnah.

para muballigh yang menyampaikan dakwahnya kerap kali membawa para pendengarnya untuk berkelana dengan alam pikirnya, dan tak jarang harus menanggalkan dalil yang tercantum dalam al-quran dan al-hadits.

ketika dua sisi ini bertentangan, akal kita tak bisa mencerna sebuah maksud dari sebuah syariat, kadang kita dengan sombongnya ingin mengedepankan pikiran kita untuk sebuah impian dan tak lagi menggubris syariat Allah.

ali bin abi tholib telah memberikan contoh kepada kita, ada suatu fase dimana kita harus menanggalkan akal kita untuk sebuah syariat. hal semacam ini didasarkan pada sebuah ayat 285 dalam surat al-baqarah.
ﺁﻣَﻦَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ
ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻛُﻞٌّ ﺁﻣَﻦَ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ
ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِ ﻟَﺎ ﻧُﻔَﺮِّﻕُ ﺑَﻴْﻦَ
ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﺭُﺳُﻠِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ
ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﻏُﻔْﺮَﺍﻧَﻚَ
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ
kesimpulannya..

ketika kita dihadapkan sebuah syariat Allah, dimana syariat itu bertentangan dengan akal sehat kita. maka tanggalkan akal kita, dan pegang eratlah syariat Allah. karena islam tidak dibangun dengan akal kita.

wallahu a’lam semoga kita masih dijaga oleh Allah dari bermaksiat kepadaNya. amien

sumber: http://rafiqjauhary.wordpress.com/2010/06/19/andaikan-agama-ada-pada-akalku

0 komentar:

Followers

Mbh