Senin, 03 Oktober 2011

KASIFIKASI SEORANG PENANYA DAN PENJAWABNYA

Oleh: Ustadz Ishak

Anakku, ketika engkau berhadapan dengan orang yang bertanya kepadamu terkait dengan ilmu yang melekat padamu, maka ketahuilah bahwa di antara mereka memiliki penyakit. Keempat-empatnya adalah penyakit kebodohan yang obatnya adalah bertanya. Sayang, menurut Al-Ghazali, tiga diantaranya tidak bisa diobati, sedangkan yang satu dapat diobati.

1. Orang yang bertanya karena hasud dan untuk menjatuhkan.

Setiap kali engkau memberikan jawaban dan penjelasan yang sejelas-jelasnya, maka jawaban itu hanya akan menambah kebenciannya, rasa permusuhannya, dan hasudnya. Jalan keluarnya untuk menghadapi orang seperti ini adalah jangan repot-repot menjawabnya.

"Maka perpalinglah (hai Muhammad) dari orang-orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi (QS Al-Najm [53] : 29)

Semua permusuhan ada harapan untuk hilang, kecuali rasa permusuhan dari orang yang memusuhimu secara hasud.

2. Orang yang bertanya karena kebodohannya. Biasanya pertanyaan ini terjadi pada orang yang baru beberapa waktu mencari ilmu.

Dia pelajari beberapa hal tentang ilmu ‘aqli (logika) dan ilmu syariat. Kemudian karena kebodohannya dia bertanya dan mendebat seorang ulama besar yang hampir seluruh umurnya dihabiskan untuk mendalami ilmu ‘aqli dan ilmu syariat. Orang bodoh itu mengira bahwa suatu hal yang tidak dimengerti olehnya, maka akan tidak dimengerti juga oleh ulama besar tersebut. Bila orang jenis ini tidak tahu bahwa pertanyaannya itu muncul karena kebodohannya, maka sebaiknya pertanyaan itu tidak dijawab.
Seperti perkataan Nabi Isa as, “Aku tak merasa sulit untuk menghidupkan orang mati, tapi untuk mengobati orang tolol, sungguh aku kesulitan”

Contoh kasus :
Seseorang bertanya kepada orang saleh, bagaimanakah caranya mengetuk pintu taubatnya Allah, agar Ia membukakannya ? Maka orang saleh itu menjawab, “Sejak kapan pintu taubat itu tertutup, sehingga engkau harus mengetuknya ?”

3. Pertanyaan dari orang yang pemahamannya terbatas. Ketika mengertiannya atas apa yang disampaikan orang-orang besar disebabkan oleh pemahamannya yang kurang. Dia bertanya untuk mencari tahu, namun dia “bodoh”, tidak memahami substansi yang ditanyakannya.

Bila menemukan orang seperti ini, engkau tidak perlu repot-repot menjawabnya.

Contoh kasus :
Umar ra. Bertanya kepada Khudzaifah bin yaman : “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai khudzaifah ?” Khudzaifah menjawab: “Pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit”

Mendengar jawaban itu maka Umar marah. Ali karramallahu wajhah datang menemuinya dan berkata kepadanya : “Diwajahmu terlihat tanda kemarahan, wahai amirul mukminin.” Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa yang menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.

Kemudian Ali berkata : “ Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan kepada fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-anak, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah) (bagimu) (QS At-Taghaabun (64):15) Adapun dia membenci kebenaran (haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian adalah benar (haq). Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi saw. Adapun yang dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit berarti dia memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak beristri dan beranak. Hal ini sebagaimana firman Allah “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS Al Ikhlash : 3)
Umar berkata : “Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega”

4. Orang yang bertanya untuk mencari tahu dan bisa memahami jawaban yang disampaikan tidak dikendalikan oleh perasaan hasud, benci, dan suka pamer, mencari jalan yang lurus. Jika ia melontarkan pertanyaan bukan karena hasud, ingin menguji atau ingin menjatuhkan, maka bolehlah engkau sibuk menjawab pertanyaannya, bahkan engkau harus menjawabnya. Banyak nash yang dapat dihubungkan dengan bertanya.

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka Sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat [49] : 5) Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (QS Al Kahfi [18] : 70)

Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. (QS Al Anbiya [21] : 37)
Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat... (QS Fathir [35] : 44)

Karena nash-nash itu, para murid tarekat biasanya memiliki adab ketika bertanya kepada syaikh (guru)nya. Hal adab ini yang biasanya tidak dimiliki oleh orang awam, sehingga pertanyaannya tidak dijawab. Bisa jadi karena belum saatnya, bisa jadi karena pertanyaannya membahayakan dirinya.

Nah anakku, bijaklah engkau dalam bertanya.

2 komentar:

mbahsubur mengatakan...

Bagus, sangat terkesan! Sebagian artikel sudah terbaca.

Mahesa ibnu_romli mengatakan...

Terimakasih sudah mampir dan membacanya :)

Followers

Mbh