Selasa, 24 November 2009

Sholatmu Cahayamu

Shalat adalah cahaya, mampu melengyapkan gelapnya kesesatan dan kebatilan. Mampu menerangi muka orang yang shalat di dunia ini, mendandaninya dengan keindahan dan kecerahan, seperti tampak terlihat pada muka orang-orang yang biasa shalat di tengah masyarakat.

Shalat menyebabkan cahaya-cahaya bersinar-sinar padanya dan menerangi kegelaoan kuburnya, sesuai dengan perkataan Abu Darda’ radliyallahu’anhu:

“Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk menghindari kegelapan kubur (nantinya)”

Cahay muka orang yang shalat juga akan berseri-seri di hari kiamat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ

“Shalat adalah cahaya” (HR. Muslim)

Shalat merupakan sumber cahaya dan sinar penerangan bagi wajah seseorang. Allah ta’ala berfirman:
مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ

”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...” (QS. Al-Fath: 29)

Pengertian firman Allah azza wa jalla di atas yang artinya, ”Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”: dikatakan sebagian ulama tafsir: Shalat telah memperindah wajah-wajah mereka”. Sementara Ibnu Abbas radliyallahu’anhu mengatakan: ”Kepribadian yang baik terpencar pada raut muka mereka hasil dari sujud”.

Dari Mashur daru Mujahid, ia berkata bahwa maksudnya adalah ”kekhusyu’an hati”.

Mungkin ada diantara kalian yang menyangka bahwa tanda bekas sujud adalah tanda hitam di wajah (dahi) seseorang. Akan tetapi menengok penafsiran para ulama tafsir di atas yang sudah tidak perlu dipertanyakan kapabilitasnya anggapan itu tidak (kurang) tepat. Meskipun bisa saja tanda itu dijadikan bahan pertimbangan keshalihan dan indikator ketekunannya mengerjakan shalat, namun jangan salah, standar penilaian ini tidak bisa dipakai secara mutlak. Sebab, tanda hitam di dahi bisa saja ’menghiasi’ wilayah di atas dua mata seseorang yang hatinya lebih keras dari Fir’aun, orang munafik, atau siapa saja yang ingin dibilang gemar ibadah shalat, lalu jidatnya digesek-gesekkan ke tembok. Ini kan mungkin.

Nah, kembali kepada keterangan Ulama tadi mengenai makna ayat yang sebenarnya, bahwa tanda-tanda tersebut akan benar-benar memancarkan kecerahan, keceriaan, kejernihan dan penolakan terhadap dosa-dosa pada wajah orang-orang yang shalat. Itu tiada lain buah dari pengaruh kekhusyu’an hati, dan ketenangan jiwa, yang pada gilirannya terpencar di raut wajah seseorang. Sifat kesombongan dan ketakaburan pun tersingkir, tergantikan oleh sifat rendah hati, kelembutan jiwa dan keceriaan wajah hingga kian menjernihkan wajah seorang mukmin.

Sebagai pengaruh positif dari kekhusyu’an hati, rasa takut dan harap-harap cemas, serta pujian dan tasbih yang terucap, maka seorang mukmin tampil laksana insan yang baru tiba dari kampung akhirat untuk menceritakan hal-hal yang ia saksikan kepada khalayak. Atau bagaikan seorang manusia yang tersisa dari generasi awal umat, melompat ke zaman sekarang untuk hidup bersama di masa kita ini.

Dari Abu Buraidah radliyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang biasa berjalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (Shahihut Targhib no.313)

Dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Sungguh, Allah akan menghiasi orang-orang yang terbiasa mondar-mandir ke masjid di kegelapan malam dengan cahaya yang besinar di hari Kiamat”. (Shahihut Targhib no.315)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya:

”Tidak ada seorang pun dari kalangan umatku, melainkan aku akan mengenalinya di hari kiamat kelak. Para sahabat berkata:’Bagaimana engkau dapat mengenali mereka, wahai Rasulullah, di kerumunan orang yang banyak (pada waktu itu) ? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: ’Menurutmu, jika engkau masuk ke sebuah kandang, di sana ada kuda berwarna hitam pekat, dan kuda yang di kepalanya dan ujung-ujung kakinya terdapat warna putih, bukankah engkau akan mengenalinya?. Ia menjawab: ”Iya, betul”. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ’Sesungguhnya umatnya akan datang pada hari itu dengan kepala berwarna putih pengaruh dari sujud dan kaki-kaki yang cerah pengaruh dari wudlu’”. (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

----

Diadaptasi dari

Muntaqa Fadhailish Shalaah wa Adaabiha,

Syaikh Ali Hasan al-Halabi hlm, 11-12

Sumber: Majalah Elfata edisi II Vol. 09 2009, hlm. 65-57

0 komentar:

Followers

Mbh