Selasa, 24 November 2009

Kesetiaan Istri-Istri Nabi dalam Menghadapi Kaumnya

Sesungguhnya Allah l menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Setelah Allah menciptakan Adam, maka Dia pun menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya.

Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ruum: 21)

Demikianlah, Allah menakdirkan wanita sebagai pendamping bagi laki-laki. Pun bagi seorang nabi, kehadiran istri yang shalihah di sisinya sangatlah berarti. Keberadaan sosok lembut itu akan membantunya menepis lelah dalam menyampaikan kebenaran risalah-Nya, dan menghiburnya tatkala ia gundah menghadapi “kebandelan” kaumnya.
WANITA-WANITA PILIHAN BAGI IBRAHIM
Beruntunglah Nabi Ibrahim khalilullah, yang telah dikaruniai dua orang istri shalihah, Sarah dan Hajar. Kedua wanita itu telah terpilih sebagai ibunda para nabi.

Sesungguhnya Sarah adalah seorang wanita yang cantik rupawan. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan bersama suaminya, seorang raja yang zalim menginginkan dirinya. Namun dirinya sama sekali tak tergoda dengan beragam kemewahan yang ditawarkan sang raja. Imannya tak tergoyahkan. Dia selalu berlindung kepada Allah setiap kali raja itu ingin menyentuhnya.

Qadarallah (telah merupakan ketetapan Allah), Allah tidak membiarkan sang raja menyentuh wanita suci ini, hingga kemudian dia melepaskannya, untuk kembali pada Ibrahim p. Bahkan raja itu memberikan hadiah kepada Sarah, berupa seorang budak jelita bernama Hajar.

Sarah pun kemudian mempersilakan Ibrahim p untuk menikahi Hajar, ketika Sarah tak kunjung melahirkan anak. Hajar adalah seorang wanita yang kuat. Sebagai istri Nabi Ibrahim, dia telah melalui ujian berat yang tidak seorang wanita pun (selain dirinya) pernah mengalaminya.

Wanita ini begitu tegar dan tabah ketika Ibrahim p meninggalkannya di tengah padang pasir bersama bayi mungilnya. Dia sadar sepenuhnya, bila suaminya hanyalah menjalankan titah dari Sang Khalik. Dia berjuang tanpa putus asa untuk mendapatkan air, manakala bekal dan air susunya habis. Di antara derai tangis bayinya yang kehausan, dia berlari kesana kemari antara dua buah bukit, Shafa dan Marwa, hingga tujuh kali putaran, tanpa hasil. Hingga akhirnya Allah l menurunkan rahmat-Nya, dengan memunculkan mata air zam-zam dari jejakan kaki Ismail ....

Rupanya, ujian bagi kesabarannya masih berlanjut. Ketika putranya, Ismail beranjak remaja, menjadi penyejuk mata dan kebanggaannya, Allah l memerintahkan ayahnya untuk mengorbankannya. Wanita mana tak `kan berduka, mendengar putra semata wayangnya hendak disembelih?

Hatinya bagai tersayat-sayat, namun sekali lagi, dia tetap tabah dan tegar, sebagaimana suaminya. Dia tahu, bila Allah hanya ingin menguji keimanan dan cinta mereka pada-Nya. Setelah terbukti bahwa mereka lebih mencintai Allah di atas segalanya, maka

Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, menebus Ismail dengan sembelihan yang besar …. Allahu Akbar! Hati Hajar pun berbunga-bunga, puji syukur tak henti keluar dari bibirnya, tatkala melihat suami dan putranya kembali pulang dengan senyum bahagia.
Begitulah, ujian kesabaran bagi Hajar telah berbuah manis.

KESETIAAN ISTRI NABI AYYUB

Nabi Ayyub adalah anak ‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim. Beliau adalah Nabi yang kaya raya, memiliki istri shalihah, banyak anak, dan memiliki bermacam binatang ternak. Namun, keadaannya menjadi sangat berbeda ketika Allah memberikan berbagai cobaan padanya.

Mula-mula, Allah mengujinya dengan mengurangkan rezekinya, hingga ia jatuh miskin. Hal ini tidak menggoncangkan keimanannya, juga istrinya. Kemudian Allah mengujinya dengan kematian beberapa anaknya. Nabi Ayyub dan istrinya pun sangat berduka, namun mereka tetap sabar dan tawakal. Berbagai ujian dari Allah itu tidak menyurutkan Nabi Ayyub untuk tetap giat beribadah kepada Allah.

Hingga akhirnya ia diuji dengan timbulnya penyakit kulit di sekujur tubuhnya. Sakit kulit itu berlangsung cukup lama, dan menjijikkan setiap orang yang memandangnya. Hingga lama kelamaan sanak famili Nabi Ayyub pun meninggalkannya. Namun, istrinya tetap setia mendampinginya.

Rupanya, kesetiaan istri Nabi Ayyub mengusik setan untuk menggodanya. Lambat laun, istrinya itu pun terkena godaan setan, dan mulai enggan menaati suaminya. Akhirnya, Nabi Ayyub pun berkata, “Jika aku sembuh, niscaya engkau aku pukul seratus kali.”

Setelah nyata kesabaran dan ketabahan Nabi Ayyub, Allah pun berkena menyembuhkannya. Saat beliau ingat nazarnya untuk memukul istrinya, maka Allah berfirman, “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shaad: 44)

Demikianlah, akhirnya Nabi Ayyub memukul istrinya dengan seikat rumput, yang tentu saja tidak menyakitkan. Sesungguhnya istri Nabi Ayyub adalah wanita shalihah yang setia, hanya saja dia sempat khilaf karena terkena godaan setan. Karena itulah Allah l memaklumi dan mengampuninya, dan Dia tidak mengizinkan Nabi Ayyub untuk memberikan pukulan yang menyakitkan istrinya.

KETELADANAN UMMAHATUL MUKMININ

Membicarakan istri-istri Nabi, tentu kurang lengkap bila tidak membahas para Ummahatul Mukminin, yaitu istri-istri Rasulullah. Istri pertama Rasulullah yang sangat beliau cintai adalah Khadijah binti Khuwailid. Wanita bangsawan yang keibuan inilah yang setia mendampingi dan menghibur hati Rasulullah saat pertama kali Allah menurunkan wahyu-Nya.

Beliau menenangkan Rasulullah yang pulang dari gua Hira’ dalam keadaan takut dan resah. Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah, beliau menjawab, "Wahai Khadijah, sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku."

Maka istri yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan. Ia berkata, “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap agar engkau menjadi nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya engkau telah menyambung tali silaturahim, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu, dan menolong para pelaku kebenaran.”

Menjadi tenteramlah hati Nabi berkat dukungan ini, dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan yang pertama kali masuk Islam.

Beliau adalah istri Nabi yang mencintai suaminya, berdiri mendampingi Nabi untuk menolong, menguatkan, dan membantunya dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman kaumnya, sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau n mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya, bila beliau kembali ke rumahnya. Khadijah meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya, dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau.

Setelah Khadijah wafat, maka Rasulullah n pun menikahi beberapa wanita lain yang layak pula kita teladani. Di antaranya, ada Aisyah, satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi saat masih perawan. Wanita yang paling dicintai Rasulullah ini terkenal cerdas, dan banyak meriwayatkan hadits dari beliau.

Selain itu, ada pula Zainab, yang sangat terkenal kedermawanannya. Beliau adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni membagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata, "Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, yang menyantuni para yatim dan para janda." Kemudian beliau berkata, “Rasulullah n bersabda kepada para istrinya, ‘Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya ….’”

Ternyata yang dimaksud Rasulullah itu adalah Zainab, dan yang dimaksud “panjang tangannya” adalah banyak sedekahnya. Demikianlah beberapa keteladanan dari istri-istri para Nabi, semoga kita bisa mencontoh akhlak, ketabahan, dan kedermawanan mereka. Aamiin. (oel)

0 komentar:

Followers

Mbh