Kamis, 28 Februari 2013

TINGKATAN-TINGKATAN NAFSU PADA MANUSIA (KAJIAN TASAWUF)

Syekh Qosim Al Halabi, menerangkan dalam kitabnya yang berjudul "Sirrus
Suluk" mengatakan, bahwa nafsu itu terbagi menjadi tujuh bagian. Setiap
nafsu mempunyai perjalanan, mempunyai alam, mempunyai tempat, mempunyai
kelakuan, mempunyai wirid, dan mempunyai tujuan. Adapun tujuh macam nafsu
tersebut adalah :



*1. Nafsu Ammarah*

**

* *

Nafsu ini sangat condong pada kejahatan. *Alamnya adalah alam kebendaan,
merasa mampu mengatur gerak lahir saja dengan tidak ada sangsi apa-apa
kecuali sangsi yang bersifat lahiriah.* Ia senantiasa *memandang bagian
luar saja*, ia bersifat jahil, kikir, takabbur, loba, gemar berkata-kata
yang tidak bermanfaat, pemarah, suka makan, dengki, lupa diri, buruk
perangai, suka menyakiti manusia dan lain-lain.



Untuk mengobati nafsu ammarah, hendak didawamkan berzikir *LAA ILAAHA
ILLALLAH* sebanyak-banyaknya. *Zikir itu ibarat senjata yang tajam yang
berguna untuk memerangi amarah.* Apabila amarahnya sudah bisa diperangi
sampailah pada tingkatan nafsu yang kedua, yaitu :



*2. Nafsu Lau-Wamah*

**

* *

Nafsu ini setengah jahat. *Alamnya adalah alam barzah, yakni alam kubur. Ia
ingat akan adanya mati, kelakuannya kadang-kadang rindu kepada Allah, rindu
kepada ibadat, menjaga hatinya dari kejahatan. Ia kadang-kadang menyesal
terhadap kesalahannya, tetapi masih saja bersifat ujub, riya', banyak
fikir, dan senang merintangi manusia yang akan berbuat baik.* Ia senang
namanya terkenal dimana-mana, dan senang menjadi pemimpin orang banyak.
Namun sebaliknya ia tidak ketinggalan untuk bersedekah, puasa, shalat,
tetapi ibadahnya masih bercampur dengan syirik khafi, yaitu syirik yang
tersembunyi.



Untuk mengobati nafsu lau-wamah adalah dengan memperbanyak zikir *ALLAH,
ALLAH, ALLAH* dengan disertai taubat, sehingga nafsu ini akan hilang dan
berubah menjadi nafsu pada tingkatan yang ketiga, yaitu :



*3. Nafsu Mulhimah*



Nafsu ini adalah nafsu yang lebih baik dari *nafsu ammarah, dan nafsu
lau-wamah*, karena *kebaikannya lebih banyak daripada kejahatannya.* Dalam
perjalanannya menuju Allah swt,* ia sudah dapat disebut salikin.* Ia mulai
mendapat hakikat iman. *Tasdiq hatinya mulai berjalan dengan syuhud kepada
Allah dan mulai menjalankan fana' pada Allah,* dan menjalankan sifat
kehambaan, yaitu merasa laa hawla wala quwata illa billaah (tidak ada daya
dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah). Tempat nafsu ini ada dalam
ruh. Kelakuannya sangat asyik kepada Allah, sedangkan wiridnya makrifat
kepada Allah, bersifat murah hati, qona'ah, tawadhuk, sabar, sanggup
menanggung sakit, memaafkan kesalahan orang lain, berbuat amal saleh, dan
dapat menjalankan fana' pada Allah, dan nyata kebesaran Allah pada segala
perbuatannya. Nafsu ini hendaklah membanyakkan zikir HU-HU-HU menuju zat
Allah, sehingga ia naik kepada tingkatan nafsu yang keempat, yaitu :



*4. Nafsu Muthmainah*



Nafsu ini adalah nafsu yang berada pada tingkat keempat yang *telah
mencapai rasa ketenangan dan ketenteraman,* selalu kembali kepada Allah.
Nafsu Muthmainah juga disebut jiwa yang tenang, sebagaiman Allah swt,
berfirman dalam Al Qur'an pada surat Al-Fajr : 27,28,29, dan 30 :



"Hai jiwa yang tenang (muthmainah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang ridha dan ridhai-Nya masuklah ke dalam kumpulan hambaku dan masuklah
ke dalam surga-Ku."



*Alam nafsu ini adalah alam hakikat Muhammadiyah, yaitu dilimpahi dengan
Nur Muhammad. *Sebagai wujud yang dizohirkan Allah dari Nur Zat-Nya yang
dinamakan wahdah yang artinya Esa (tunggal). Sengaja Allah menzohirkan nur
tersebut untuk melihat kenyataan sifat-Nya dan asama-Nya dengan ijmal,
maksudnya berhimpun. Alam akan kelihatan hakikatnya selama dilihat dengan
Nur Muhammad saw. yang dilimpahkan ke dalam hati, sehingga alam menjadi
dalil sifat dan asma Allah.



*Tempat nafsu ini dalam sir (rahasia), yaitu suatu nur yang lebih terang
daripada cahaya akal. Ia mengetahui rahasia Allah, karena dirinya sudah
terpimpin dengan Nur Tuhan, mengenal Allah dengan cahaya Allah.*



Rasulullah saw. bersabda :



*"Aku dari Allah dan semua mukmin dari aku."*



Allah swt. telah memberi petunjuk kepada manusia tentang kehidupan yang
baik untuk di dunia dan di akhirat berupa syariat zohir dan syariat batin
yang diamanatkan kepada Rasulullah saw. Ucapan Rasulullah, perbuatan, dan
ketetapannya harus hidup selamanya di tubuh umatnya. Kita dapat menyaksikan
urusan kenabian terus menerus berjalan dan nyata pada tubuh umatnya,
seperti melakukan kebersihan, perkawinan, dan jual beli dengan kata-kata
Allah yang langsung diteruskan oleh nur-Nya sebagai penggerak dari dalam
hati untuk mewujudkan tingkah laku Rasulullah saw. Barang siapa
meninggalkan urusan kenabian, maka ia akan jatuh tergelincir kepada kafir
zindiq.



Syariat batin yaitu menjalankan makrifat kepada Allah melalui jalan yang
haq agar menjadi dekat dan melalui jalan tafakkur agar menjadi cinta kepada
Allah. *Orang tidak bisa mencapai maqam cinta tanpa adanya tafakkur dan
tidak bisa dekat kepada Allah tanpa adanya hak Allah.* Contohnya : jika
kita membaca Al Qur'an dengan merasakan bahwa bacaan yang keluar dari bibir
kita (suara) adalah suara milik Allah, maka bacaan itu menjadi terhubung
kepada Allah dan kita akan merasakan nikmat, karena dekat kepada Allah,
sedangkan nikmat yang kita rasakan itu adalah hak Allah. Orang yang melihat
hak Allah seakan-akan melihat Allah. Jika tidak dapat melihat hak Allah,
maka Allah tetap melihat hak-Nya yang berlaku pada diri kita.



*Apabila jiwa manusia sudah sampai pada tingkat muthmainah, maka
sifat-sifat Nabi saw, akan mulai nyata pada dirinya,* seperti pemurah,
tawakkal, tidak mudah marah, selalu bersyukur, dan ridha akan ketetapan dan
ketentuan Allah, mengikuti ucapan dan perbuatan Rasulullah. Orang yang
berada pada tingkatan nafsu muthmainah, harus memperbanyak zikir haq-haq
baik diucapkan dengan lidah maupun dengan hati, sehingga sampai pada maqam
ainul yakin dengan keimanan yang sempurna.



untuk tingkatan nafsu yang kelima *(nafsu Radhiah)*, nafsu yang keenam *(nafsu
Mardhiah)*, dan yang terakhir nafsu yang ketujuh, yaitu* (nafsu Kamilah)*,
silahkan difahami sendiri ^_^

0 komentar:

Followers

Mbh