Sabtu, 03 November 2012

NIAT LISAN DAN NIAT HATI (TINJAUAN TASAWUF) ^_^

Oleh: Ustadz Ishak



Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan bos saya. Kebetulan yang
diperbincangkan adalah masalah firqoh (perbedaan) dalam beribadah di dalam
agama Islam. Terutama perbedaan antara masalah niat dalam hati dan niat
dengan lafal USHOLI melalui lisan.



Saya katakan kepadanya, "*Sebaiknya pertanyaan bapak, tidak
mempermasalahkan perbedaan, tapi tanyakanlah "Ibadah seperti apa yang
diterima oleh Allah....*" Pertanyaan itu mungkin lebih bermanfaat ketika
dibahas, dan secara otomatis akan menjawab pertanyaan seputar perbedaan
yang ada.

Mari kita bahas :



1. *SYARAT AMAL DITERIMA ALLAH : YG DITUJUKAN BAGI ALLAH*



Syidad bin Ausi berkata, "Suatu hari saya melihat Rasulullah S.A.W sedang
menangis, lalu saya pun bertanya beliau, Ya Rasulullah, mengapa anda
menangis?"



Sabda Rasulullah S.A.W, "*Ya Syidad, aku menangis kerana khawatir terhadap
umatku akan perbuatan syirik, ketahuilah bahwa mereka itu tidak menyembah
berhala tetapi mereka berlaku riya' dengan amalan perbuatan mereka*."



Rasulullah bersabda lagi, "Para malaikat penjaga akan naik membawa amal
perbuatan para hamba dari puasanya, solatnya, dermanya dan sebagainya,
dengan suara seperti suara lebah dan mereka mempunyai sinar seterang
matahari dan bersama mereka itu 3,000 malaikat dan mereka membawa amal-amal
itu ke langit ketujuh."



Sesampainya di pintu langit, malaikat penjaga pintu langit berkata kepada
para malaikat penjaga yang membawa amal-amal hasil dari perbuatan riya,
"Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan ini ke muka
pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya
menghalangi amal ini untuk sampai kepada Tuhan. Setiap amal perbuatan yang
tidak dikehendaki untuk Tuhan, *maka amal itu untuk selain Allah. (membuat
sesuatu amal bukan karena Allah)."*



*"Berlaku riya di kalangan ahli fiqh adalah karena inginkan ketinggian
posisi, untuk kemudian supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan para
ulama terjadi pula riya' untuk menjadi populer di kota dan di kalangan umum.
* Allah S.W.T telah memerintahkan agar saya tidak membiarkan amal-amal yang
bukan untuk Allah melewati saya.



Tiba giliran malaikat penjaga yang membawa amal orang-orang soleh.
Amal-amal itu kemudian dibawa oleh malaikat di langit sehingga terbuka
tabir dan penghalang dan sampai kepada Allah S.W.T. Mereka berhenti di
hariban Allah dan memberikan persaksian terhadap amal orang tersebut yang
betul-betul soleh dan ikhlas kerana Allah. Kemudian Allah S.W.T berfirman, "
*Kamu semua adalah para malaikat Hafazdah (malaikat penjaga) pada amal-amal
perbuatan hamba-Ku, sedang Aku-lah yang mengawasi dan mengetahui hatinya,
bahwa sesungguhnya, jika dia menghendaki amal ini bukan untuk-Ku, laknat
para malaikat dan laknat segala sesuatu di langit baginya.*"





2. *SYARAT AGAR IBADAH MASUK KATEGORI "YG DITUJUKAN BAGI ALLAH" : IBADAH
DENGAN NIAT YANG IKHLASH*





*Terkadang manusia beribadah bukan untuk Allah. Kadang ia beribadah agar
dipuji oleh orang, atau untuk dirinya sendiri, agar dirinya mendapatkan
surga, atau terhindar dari neraka.*



*Ibadah orang pencari surga adalah ibadahnya pedagang*, ia mencari untung
dari ibadahnya. *Ibadahnya penghindar neraka adalah ibadahnya para
budak,*karena ia takut dimarahi majikannya.
*Ibadahnya para pecinta Allah, adalah ibadah dengan nilai
tertinggi.*Mereka tidak lagi memperdulikan pendapat orang lain, bahkan
mereka tak lagi
memperdulikan surga dan neraka. Bagi mereka keridhoan Allah terhadap ibadah
yang mereka laksanakan adalah yang terpenting.



Jika seorang bapak memiliki tiga anak, anak pertama menurut kepada bapaknya,
* karena ingin mendapatkan hadiah*. Anak kedua menurut kepada bapaknya *karena
takut dihukum*. Dan anak yang ketiga menurut kepada bapaknya *karena
kecintaannya kepada bapaknya. Siapakah yang akan menjadi anak paling
disayang ?*



3.* Apakah itu IKHLASH ?*



*Keikhlasan untuk Allah lawannya adalah riya' (berbuat untuk kepentingan
selain Allah).* Niat adalah perihal rahasia hati. Keikhlasan adalah rahasia
dari rahasia yang teramat lembut, sehingga samar dari dugan semua yang
hidup. Begitu samar dan tersembunyi, *sehingga sulit bagi diri seseorang
atau orang lain untuk mengukur kemurniannya. Seringkali seseorang termangu
lama, setelah ia mengetahui bahwa niat yang semula ia sangka sudah ikhlash,
ketika ditimbang, ternyata masih tercampur dengan keinginan dipuji orang
lain, sehingga amalan itu tidak diterima dan dilemparkan lagi ke mukanya.*



Sungguhpun keikhlasan hati merupakan suatu hal yang *"tidak terlihat" bagi
mahluk*, tetapi tidak demikian bagi Allah. Sebagaimana kaum ahlullah
mengatakan bahwa "rahasia itu ada dua macam : Rahasia bagi al-Haq, yaitu
sesuatu yang selalu diawasiNya tanpa ada perantara apapun, dan rahasia
untuk mahluk di mana ia selalu diawasiNya dengan perantara."



Allah selalu mengawasi setiap tujuan akhir dari setiap niat yang diamalkan
oleh mahlukNya, betapapun dirahasiakannya. Kemudian *Allah menolak semua
amal yang tidak diniatkan untukNya.*



DEFINISI IKHLASH TINGKAT 1 :



Untuk itu, agar suatu amalan dapat diterima oleh Allah, maka *engkau harus
membersihkan niatmu dari makhluk-makhluk selain Allah (manusia, nafsu,
setan, bahkan dirimu sendiri !)*



DEFINISI IKHLASH TINGKAT 2:



Adapun tingkatan iklash yang baik adalah tingkatan yang dikatakan malaikat
Jibril kepada Rasulullah saw. : 'Aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci
tentang ikhlas, apakah sebenarnya ?' Allah swt. menjawab , *'Suatu rahasia
dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang kucintai.*"
(HR. Al-Qazwini meriwayatkan dari Hudzaifah)



Tingkat keikhlasan yang disebutkan oleh malaikat jibril adalah sebagaimana
didefisikan oleh Al-Junayd tentang ikhlas :



*"Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Sedemikian
rahasianya, bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikitpun
mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga
tidak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya keberadaan niat
tersebut, sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya."*



DEFINISI IKHLASH TINGKAT 3 :



*Rahasia itu adalah dari rahasia dan untuk RAHASIA, ia adalah sesuatu yang
haq dan tidak akan tampak kecuali dengan HAQ. Sementara apa yang tampak
pada mahluk, maka itu bukanlah rahasia.* Karena itu, rahasiakanlah niat
ikhlasmu, bahkan dari dirimu sendiri. *Sehingga apabila engkau dapat
melihat keikhlasan dalam keikhlasanmu, maka keikhlasanmu itu memerlukan
keikhlasan lagi.*



*Ketahuilah, cacat keikhlasan dari masing-masing orang yang ikhlas adalah
penglihatannya akan keikhlasannya itu.* Jika Allah menghendaki untuk
memurnikan keikhlasan seorang hamba, maka Dia akan menggugurkan keikhlasan
si hamba dengan cara tidak memandang keikhlasannya sendiri, dan jadilah ia
sebagai orang yang diikhlaskan Allah swt. (Mukhlas), bukannya berikhlas
(Mukhlish).



4. SULITKAH MENITI TINGKATAN IKHLAS SATU DEMI SATU ?



* Ya, sulit utk awam, bahkan untuk mencapai tingkatan pertama saja sudah
sedemikian sulit. Apalah lagi meniti anak tangga ke dua dan ketiga.*

**

5. Di manakah letak niat ?



Beberapa dalil islam menyatakan bahwa* niat itu ada di dalam hati. Karena
itu pula sebagian orang mem-bid'ah-kan / melarang niat yang dilisankan
melalui mulut (apa yang dikenal orang awam sebagai "niat usholi....").
Timbulah pertengkaran itu ...*



6. SOLUSINYA ?



Ulama menyadari bahwa* untuk mendapatkan keikhlasan perlu latihan yang
terus menerus dan berkesinambungan.* Bahkan untuk menahan keluhan ketika
beribadah pun memerlukan latihan. *Ulama pun menyadari bahwa tidak semua
orang bisa mencapai keikhlasan secara instan. Sebagian orang awam mengalami
kesulitan dalam meluruskan niatnya di dalam hati, agar niatnya itu hanya
untuk Allah*. Karena itu Ulama dengan ilmu pengetahuannya agamanya yang
luas, menyadari, bahwa untuk kalangan awam ini,* agar niat di dalam hatinya
lurus hanya untuk Allah, maka niatnya harus dibantu dengan alat.*



Bagaikan anak kecil yang belajar naik sepeda, *maka sepeda itu diberi roda
tambahan pengaman agar anak kecil itu tidak jatuh ketika belajar.*



Maka ulama dengan kasih sayangnya kepada golongan awam ini berusaha meramu
alat bantu, dari hapalan quran-nya dari hapalan ribuan hadist-nya, maka
terciptalah suatu alat yang sering disebut oleh orang awam sebagai *"niat
usholi....". Rangkaian kalimat "usholi..." tersebut adalah hasil
verifikasi dan verifikasi silang antar kitab yang dilakukan ulama, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan.*



*Selama seseorang masih mengalami kesulitan dalam meluruskan niat di dalam
hati, maka seyogianya dia memakai alat bantu melisankan usholi, sampai ia
dapat meluruskan niat langsung di dalam hati. Barulah kemudian alat bantu
tersebut dapat dilepas.* Bagaikan anak kecil yang sudah bisa menyeimbangkan
sepeda yang dikendarainya, maka ia bisa mulai melepaskan roda pengaman
tambahan yang dipasang di sepedanya.



*Niat yang dilafalkan ini tidak berpengaruh ke dalam status sholat,
misalnya, karena shalat adalah "dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan
salam". Dengan demikian posisi niat ada sebelum shalat, bukan di dalam
shalat.*



6. KESIMPULAN



*Seyogianya kita lebih berbesar hati dan berkasih sayang dengan saudara
kita yang masih memerlukan alat bantu dalam meluruskan niat dalam hatinya
dengan niat usholi.....*



*Jangan di salah-salahkan. Toh mereka tidak melakukan kemungkaran...*



*Andaikan itu disalahkan, maka hasil ramuan ulama dari hapalan quran dan
hadist pun disalahkan. Lebih menyedihkan lagi, yang menyalahkan itu tak
hapal quran dan tak hapal satu hadist pun... hanya bisa berkata, saya benar
dan engkau salah, tanpa berdasarkan dalil.*



SEMOGA BERMANFAAT

0 komentar:

Followers

Mbh