Selasa, 30 Oktober 2012

7 CIRI ULAMA' AKHIRAT (KAJIAN KITAB IHYA' ULUMUDDIN)

*Dan orang-orang yang beruntung dan didekatkan (kepada Allah) adalah ulama
akhirat. Ikutilah para ulama akhirat ini, dan jangan terjebak dengan
ulama-ulama dunia (ulama yang buruk). Ulama akhirat benar-benar mengajak
kepada kebahagiaan akhirat. ^_^*



Artikel ini ringkasan dari sebagian kecil isi kitab *Ihya Ulumuddin karya
Imam al Ghazali*. Dalam kitab ini, ulama akhirat mempunyai tanda-tanda,
sebagian dari padanya adalah :





*1. Ia tidak mencari dunia dengan ilmunya.*

**

Hasan rahimahullah berkata: *"Tersiksanya para ulama adalah kematian hati.
Sedangkan kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat"*.

Sahl rahimahullah berkata: *"Ilmu seluruhnya adalah dunia kecuali
pengamalannya. Sedangkan amal itu seluruhnya beterbangan (lenyap) kecuali
amal yang ikhlas.*

**

Firman Allah Ta'ala tentang ulama dunia,

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah
diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada
manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji
itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang
sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali Imran:187)

Firman Allah Ta'ala tentang ulama akhirat,

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah
dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada
mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan
ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi
Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali
Imran:199)



*"Barangsiapa yang menuntut ilmu dari apa yang untuk mencari keridlaan
Allah Ta'ala itu untuk mencari harta benda dunia maka ia tidak mendapatkan
bau syurga pada hari Kiamat"*. [HR. Abu Dawud, Ibn Majah]



"Ulama umat ini ada dua orang yaitu seseorang yang dikarunia ilmu oleh
Allah lalu ia memberikannya kepada manusia dan ia tidak mengambil ketamakan
(kelobaan) atasnya, dan ia tidak membeli (menukar) harga dengannya. Itulah
orang yang dimohonkan rahmat oleh burung di udara, ikan di air, binatang
bumi dan para malaikat yang mulia yang mencatat. Pada hari Kiamat ia
diajukan kepada Allah sebagai orang yang mulia sehingga ia menemani para
rasul. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah di dunia lalu ia kikir
terhadap hamba Allah, dan ia mengambil atasnya dengan kelobaan dan ia
membeli (menukar) harga dengannya. Orang itu pada hari Kiamat akan
dikenakan kendali dengan kendali dari api. Seorang penyeru menyeru di atas
makhluk,* "Ini Fulan bin Fulan di dunia diberi ilmu oleh Allah lalu ia
kikir atas para hamba-Nya, ia mengambilnya dengan kelobaan dan ia membeli
(menukar) harga dengannya, maka ia disiksa sehingga selesai perhitungan
(amal) manusia"*. [at Tabhrani]



Janganlah kamu duduk di sisi orang 'alim kecuali orang 'alim yang
mengajakmu dari lima macam kepada lima macam, yaitu *dari keraguan kepada
keyakinan, dari riya' kepada ikhlas, dari gemar (kepada dunia) kepada
zuhud, dari kesombongan kepada merendahkan diri, dan dari permusuhan kepada
nasihat*. [HR. Abu Nuaim dan Ibnul Jauzi]



Sebagian ulama ada yang menyimpan ilmunya maka ia tidak senang ilmu itu
didapat pada orang lain, itulah orang yang di tingkatan pertama dari neraka.



Sebagian ulama ada orang yang di dalam ilmunya seperti kedudukan raja
(penguasa). Jika sedikit dari ilmunya ditolak atau diremehkan sedikit saja
dari haknya maka ia marah. Itulah orang di dalam tingkat kedua dari neraka



Sebagian dari ulama ada orang yang memberikan ilmunya dan haditsnya yang
asing-asing untuk orang-orang mulia dan kaya dan ia tidak melihat kepada
orang yang menghajatkannya itu pantas untuk menjadi ahlinya, maka itulah
(ia) di dalam tingkatan yang ketiga dari neraka.



Sebagian dari ulama ada orang yang menegakkan dirinya untuk berfatwa lalu
ia memberi fatwa dengan kesalahan padahal Allah Ta'ala membenci orang-orang
yang membebankan dirinya. Itulah orang yang berada di tingkat ke empat dari
neraka.



Sebagian dari ulama ada orang yang berbicara dengan perkataan Yahudi dan
Nasrani agar ilmunya dipandang banyak dan mengalir terus, dan itulah orang
yang berada di tingkat ke lima dari neraka



Sebagian ulama ada orang yang menjadikan ilmunya sebagai keperwiraan,
keutamaan dan disebut-sebut di kalangan manusia. Itulah orang yang di
tingkat enam dari neraka.



Sebagian ulama ada orang yang menarik kecemerlangan dan kekaguman. Jika ia
memberi nasihat maka ia kasar dan jika diberi nasihat maka ia enggan.
Itulah orang yang di neraka tingkat tujuh.



Perbandingan antara orang yang mencari harta benda dunia dengan ahli ilmu
yang mencari keridlaan Allah di dalam al Qur'an,

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita
mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Berkatalah orang-orang
yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah
adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan
tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (Al
Qashash:79-80)

Maka ahli ilmu mengetahui untuk mengutamakan akhirat atas dunia.



*2. Perbuatannya selaras dengan perkataannya*

**

* *Ia tidak memerintahkan sesuatu amal perbuatan yang ia sendiri tidak
mengamalkannya.



Allah Ta'ala berfirman,

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu
melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab
(Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan. (QS. As Shaaf: 3)

Sabda baginda Nabi saw: *"Pada malam saya diperjalankan di malam hari, saya
melewati suatu kaum yang bibirnya digunting dengan gunting dari api. Lalu
saya bertanya: "Siapakah kamu sekalian ?". Mereka menjawab: "Kami adalah
dahulu memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami
melarang kemungkaran namun kami melakukannya"*. [HR. Ibnu Hibban]



Asy Sya'bi berkata: "Pada hari Kiamat suatu kaum dari penghuni syurga
menampakkan kepada suatu kaum dari penghuni neraka. Mereka bertanya kepada
suatu kaum dari neraka itu: *"Apakah yang menjadikan kamu masuk neraka?
Kami dimasukkan oleh Allah ke syurga hanya karena keutamaan pendidikan dan
ajaranmu?". Suatu kaum dari neraka itu menjawab: "sesungguhnya dahulu kami
memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami mencegah
dari keburukan namun kami menjalankannya".*



Hatim al Asham rahimahullah berkata:* "Pada hari Kiyamat tidak ada orang
yang paling menyesal dari pada seseorang yang mengajarkan ilmu kepada
manusia lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia tidak mengamalkannya.
Mereka beruntung dengan sebab pengamalan itu, sedang ia binasa".*



Ibnu Mas'ud berkata:* "Akan datang suatu masa pada manusia di mana
kemanisan hati dirasakan asin. Maka pada hari itu orang 'alim dan orang
yang belajar tidak mengamalkan ilmunya. Hati Ulama mereka seperti tanah
kosong yang bergaram yang turun tetesan hujan, maka tidak didapatkan air
tawar dari padanya. Demikian itu apabila hati ulama cinta kepada dunia dan
mengutamakannya atas akhirat. Ketika itu Allah Ta'ala mencabut
sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita petunjuk dari hati
mereka. Orang 'alim mereka memberitahukan ketika kamu bertemu dengannya
bahwasanya ia takut kepada Allah dengan lidahnya sedangkan perbuatan dosa
amalnya. Maka alangkah suburnya lidah dan gersangnya hati dewasa itu. Demi
Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, hal itu tidak lain karena
orang-orang yang mengajar itu mengajar karena selain Allah Ta'ala,
sedangkan orang-orang yang belajar itu belajar bukan karena Allah Ta'ala".*



Ka'ab rahimahullah berkata: *"Di akhir zaman akan ada ulama yang menyuruh
manusia untuk zuhud terhadap dunia, namun mereka tidak zuhud, mereka
menyuruh manusia takut (kepada Allah) namun mereka tidak takut, mereka
melarang dari mendatangi para penguasa namun mereka mendatangi para
penguasa, mereka mengutamakan dunia atas akhirat, mereka makan dengan lidah
mereka, mereka mendekati orang-orang kaya, tidak kepada orang-orang miskin.
Mereka cemburu kepada ilmu sebagaimana orang-orang wanita cemburu kepada
orang-orang laki-laki. Salah Seorang di antara mereka marah kepada teman
duduknya apabila teman duduknya itu duduk-duduk dengan orang lain. Mereka
itulah orang-orang yang tukang paksa, musuh-musuh Tuhan Yang Maha Pengasih"*
.



Sabda baginda Nabi saw: "Sesungguhnya syaithan barangkali menunda-nundamu
dengan ilmu". Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah itu ?".
Beliau SAW bersabda: "Syaithan berkata: *"Tuntutlah ilmu dan jangan kamu
amalkan sehingga kamu mengetahui. Senantiasa Syaithan itu berkata kepada
ilmu demikian itu dan menunda-nunda terhadap amal sehingga ia mati dan
tidak beramal"*.[Diriwayatkan dari Anas dengan sanad yang lemah]



*3. Ia menjauhi ilmu yang sedikit manfaatnya, yang banyak perdebatan dan
omong kosong.*

**

Perhatiannya adalah untuk memperoleh ilmu yang bermanfa'at di akhirat, yang
menggemarkan untuk taat.

Baginda Nabi saw bersabda:* "Sebagian dari yang saya takutkan atas ummatku
adalah tergelincirnya orang 'alim dan perdebatan orang munafik mengenai Al
Qur'an"*. [HR. Ath Thabrani dan ibn Hibban]



Ibnu Mas'ud ra. berkata : "*Ilmu itu bukan dengan banyaknya
riwayat*,*namun ilmu itu adalah takut (kepada Allah)".
*



Ibnu Mas'ud ra. berkata : "Al Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan. Maka
mempelajarinya ambil pengamalannya. Akan datang suatu kaum yang terdidik
itu seperti saluran. Mereka bukan orang-orang pilihanmu. Orang 'alim yang
tidak mengamalkan adalah seperti orang sakit yang menyifati obat, dan
seperti orang lapar yang menyifati makanan-makanan yang lezat-lezat namun
ia tidak mendapatkannya".



Perumpamaan orang yang berpaling dari ilmu amal dan sibuk dengan perdebatan
adalah seperti seseorang yang sakit dengan banyak penyakit padanya. Ia
bertemu dengan seorang dokter yang pandai untuk waktu yang singkat yang
dikhawatirkan kehabisan waktu. Orang yang sakit itu justru sibuk dengan
menanyakan khasiat obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, obat-obat lain dan
hal-hal yang ganjil-ganjil dari dunia kedokteran; ia tinggalkan
kepentingannya untuk mengobati penyakitnya. Ini adalah kebodohan.



*4. Ia tidak cenderung kepada kemewahan.*

**

Namun ia mengutamakan hemat dalam seluruhnya itu dan ia menyerupai ulama
salaf rahimahumullah padanya. Dan ia senang untuk mencukupkan dengan yang
paling minimal dalam seluruhnya itu. Setiap kali ia bertambah ke arah
minimal maka bertambahlah dekatnya kepadaAllah, dan meningkat derajatnya di
kalangan ulama akhirat.



Hatim Al Asham, ketika ia berjalan ke Madinah lalu ia disambut oleh
penduduk Madinah. Maka ia bertanya: "Kota apakah ini?. Mereka menjawab :
"Kota Rasulullah SAW.".

Ia bertanya : "Di manakah istana Rasulullah SAW. sehingga saya shalat
padanya?". Mereka menjawab: "Beliau tidak mempunyai istana. Beliau hanyalah
memiliki rumah yang menempel di atas tanah (karena rendahnya)".

Ia bertanya: "Di manakah istana-istana shahabatnya ra?". Mereka menjawab:
"Mereka tidak mempunyai istana. Mereka hanya memiliki rumah yang menempel
di atas tanah".

Hatim berkata : "Hai kaumku, ini adalah kota Fir'aun". Maka mereka
menangkap dan membawanya kepada Sulthan, dan mereka berkata : "Orang 'ajam
ini mengatakan ini adalah kota Fir'aun"'.

Penguasa itu berkata : "Mengapa demikian?".

Hatim berkata : "Janganlah kamu tergesa-gesa atasku. Saya seorang laki-laki
'ajam (luar Arab), yang asing. Saya masuk kota ini dan saya bertanya "Kota
siapakah ini ? Mereka menjawab: "Kota Rasulullah SAW.". Saya berkata : "Di
manakah istananya ?". Dan ia mengisahkan kisah itu.

Kemudian ia berkata : "Allah Ta'ala berfirman:

Artinya: "Sungguh telah ada contoh yang baik bagimu pada Rasulullah ". (Al
Ahzab : 21).

Kamu kepada siapa mengikut, apakah kepada Rasulullah ataukah kepada Fir'aun
orang yang pertama kali membangun dengan lepoh dan bata merah".

Lalu mereka melepaskan dan meninggalkannya.

Ini adalah riwayat Hatim Al Asham rahimahumullah Ta'ala. Dan akan datang
sesuatu yang menjadi saksi bagi yang demikian dari perilaku ulama salaf
dalam kesederhanaan dan meninggalkan keindahan di tempat-tempatnya.



Allah Ta'ala berfirman,

Artinya: "Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang
dikeluarkan bagi hamba-hamba-Nya' dan (siapa yang mengharamkan) rizki yang
baik-baik"' (Al A'raf : 32).

Yang sebenarnya, bahwasanya berhias dengan yang mubah itu tidaklah haram,
tetapi bergelimang padanya menyebabkan jinak dengannya sehingga sulit
meninggalkannya. Kesenangan berhias biasanya melazimkan untuk melakukan
kemaksiatan-kemaksiatan dari berminyak muka, menjaga makhluk dan harga diri
mereka dan hal-hal lain yang terlarang.



Menjaga diri itu adalah menjauhi hal itu karena orang yang bergelimang di
dalam dunia maka sama sekali ia tidak selamat dari padanya.



Sehubungan dengan itu, Imam Malik ibn Anas mengatakan bahwa meninggalkan
itu (kesenangan atas perhiasan dunia) adalah lebih baik dari pada masuk
padanya.



*5. Ia menjauh dari para penguasa.*

**

Bahkan seyogya untuk menjaga diri dari bergaul dengan mereka, meskipun para
sultan (penguasa) itu datang kepadanya karena dunia itu manis dan hijau,
kendalinya di tangan para sultan. Sedangkan bergaul dengan mereka tidak
lepas dari membebankan diri untuk mencari keridhaan mereka dan mencari
kesenangan hati mereka pada hal mereka zhalim.

Secara garis besar, bergaul dengan mereka (penguasa) itu adalah kunci
keburukan, sedangkan jalan ulama akhirat adalah berhati-hati.

Hudzaifah berkata : "Takutlah kamu terhadap tempat-tempat fitnah".
Ditanyakan : "Apakah itu?". Ia berkata : Pintu-pintu para amir (penguasa)
di mana salah seorang di antaramu masuk kepada amir lalu ia membenarkannya
dalam kebohongan, dan ia berkata padanya dengan sesuatu yang tidak ada
padanya".

Rasulullah saw bersabda, "Seburuk-buruk ulama adalah orong-orang yang
datang kepada amir-amir, sedangkan sebaik-baik amir adalah orang-orang yang
datang kepada para ulama. [H.R. Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan sanad
yang lemah]



*6. Ia tidak segera memberi fatwa*

**

Jika ia ditanya tentang sesuatu yang diketahuinya secara yakin dengan nash
Kitabullah (Al Qur'an) atau nash hadits atau ijma' atau qiyas maka barulah
ia memberi fatwa.

Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang ia ragu padanya maka ia berkata :
"Saya tidak tahu". Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang diduganya
dengan ijtihad dan dugaan maka ia berhati-hati dan ia membela dirinya dan
ia pindahkan kepada orang lain yang lebih mempunyai kekayaan ilmu.



Ibnu Mas'ud ra. berkata : *"Sesungguhnya orang yang memberi fatwa kepada
manusia pada setiap apa yang mereka mintakan fatwa adalah orang gila".*



Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata : "Tidak ada sesuatu yang lebih
berat atas syaithan dari pada orang 'alim yang berkata dengan ilmu dan diam
dengan ilmu. Syaithan berkata : "Lihatlah orang ini. Diamnya lebih berat
atasku dari pada berbicaranya".



Abu Hafsh An Naisaburi berkata : "Orang 'alim adalah orang yang ketika
ditanya takut untuk dikatakan (ditanyakan) pada hari Kiyamat dari manakah
kamu menjawab ?'.



Kesibukan para shahabat dan tabi'in ra. itu pada lima macam, yaitu :
membaca Al Qur'an, meramaikan masjid, dzikir kepada Allah Ta'ala, amar
ma'ruf (memerintahkan kebajikan) dan nahi mungkar (melarang
perbuatan/perkataan yang buruk). Demikian itu karena mereka mendengar dari
sabda Rasulullah SAW.

Artinya : "Setiap perkataan anak Adam itu memadharatkannya, tidak
menguntungkannya kecuali tiga macam yaitu amar ma'ruf, nahi mungkar dan
dzikir kepada Allah Ta'ala".[H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits
Ummu Habibah]

Diam itu senantiasa perilaku ahli ilmu kecuali ketika dharurat. Dan di
dalam hadits :

Artinya: "Apabila kamu melihat seseorang telah diberi diam dan zuhud maka
dekatlah kamu kepadanya, karena ia mengajarkan hikmah".[H.R. Ibnu Mahah
dari hadits ibnu Khilad dengan sanad yang lemah]



*7. Lebih banyak perhatiannya kepada ilmu batin, mengawasi hati, mengenal
dan menempuh jalan akhirat.*

**

Ia membenarkan harapan tentang terbukanya hal itu dari mujahadah (berjuang
melawan hawa nafsu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah) dan
muraqabah (mengawasi hati).



*Sesungguhnya mujahadah itu menyampaikan kepada musyahadah (menyaksikan ke
Maha Besaran Allah Ta'ala) dan detail-detail ilmu hati yang dengannya
terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hati.*



Kitab-kitab dan pengajaran lahiriah saja tidaklah memenuhi hal itu. *Hikmah
hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah (pengawasan), langsung amal-amal
lahir dan batin, duduk bersama Allah'Azza Wa Jalla dalam khalwat dengan
hadirnya hati dengan pikiran yang jernih, dan memutuskan diri dari selain
Allah Ta'ala menuju kepadaNya.*



Inilah kunci ilham dan sumber keterbukaan. Berapa banyak orang yang belajar
yang lama belajarnya dan tidak mampu untuk melampaui apa yang didengarnya.
Dan ada orang yang membatasi diri pada apa yang penting dalam belajar,
menyempurnakan amal, dan mengawasi hati maka Allah membukakan baginya dari
hikmah yang lembut-lembut, sesuatu yang akal-akal orang yang berfikir itu
bingung padanya.



Nabi SAW. bersabda :

Artinya : "Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui maka Allah
memberinya ilmu apa yang tidak ia ketahui.[H.R. Abu Na'im dari hadits Anas
dan ia melemahkannya]

Sahl bin Abdullah At Tastari rahimahullah berkata : "Para ulama, para ahli
ibadah dan orang-orang yang zuhud dari dunia sedang hati mereka tertutup
dan tidaklah terbuka kecuali hati orang-orang yang jujur dan orang-orang
yang mati syahid, kemudian ia membaca firman Allah Ta'ala:

Artinya: "Dan di sisi Nya kunci-kunci Ghaib di mana tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia". (Al An'am : 59).

Nabi SAW. bersabda dalam hadits Qudsi,

Artinya : "Senantiasalah hamba itu mendekatkan diri kepadaKu sehingga Aku
menyintainya. Apabila Aku menyintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang
mana ia mendengar dengannya".

0 komentar:

Followers

Mbh