Rabu, 28 Desember 2011

Tafsir Quran Surat Ar-ra'du Ayat 11

Oleh Muhammad Hafidz, berdasarkan tafsir Jami'u li Ahkam il-Qur'an Imam alQurthubiy)
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻐﻴﺮ ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﻐﻴﺮﻭﺍ ﻣﺎﺑﺄﻧﻔﺴﻬﻢ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sebuah kaum hingga mereka mengubah apapun yang ada pada diri mereka." (QS. Ar Ra’du:11)

Sebagian umat Islam menggunakan ayat ini sebagai pembenaran untuk tidak berusaha menegakkan syari’at Allah di atas bumi dengan membangkitkan umat secara bersama. Sebaliknya, mereka mengatakan bahwa seorang muslim harus menyempurnakan diri mereka terlebih dahulu, kemudian barulah seorang muslim memperhatikan kerusakan di tengah masyarakatnya. Karenanya mereka menekankan penyempurnaan individu, sebagaimana Allah SWT berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah kondisi masyarakat hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri setiap individu. Tanpa bermaksud mengabaikan pentingnya tazkiyyat un-nafs (pembersihan jiwa individu), penting untuk menghapuskan pemahaman yang salah di atas, terutama pemikiran bahwa dengan tazkiyyat un-nafs saja seorang muslim bisa membangkitkan umat secara keseluruhan. Tafsir berikut akan menjelaskan makna sesungguhnya dengan penjelasan kata per kata dengan tujuan membuka makna Dakwah Islam yang seharusnya, yaitu Dakwah yang Jama'iy. Selain itu, tafsir ini akan membuktikan kesalahan penafsiran yang sangat dipengaruhi oleh individualisme Barat. Ayat yang menjadi pembahasan berbentuk ikhbariyyah (informatif), karenanya ayat tersebut menginformasikan tentang kapan Allah SWT akan mengubah kondisi sebuah masyarakat. Ayat tersebut tidak memberikan secara detail tata cara untuk kebangkitan dan tidak bisa digunakan untuk mendapatkan pemahaman tentang tata cara tersebut, sebagaimana tidak ada satupun mufasirin yang menggunakan secara demikian.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya al Jaami'u li Ahkam il-Qur'an mengatakan "akhbara Allahu" (yang artinya, "Allah mengabarkan") yang berarti QS Ar Ra'du:11 adalah ayat ikhbariyyah karena ayat tersebut menginformasikan kepada kita tentang hukum Allah terkait dengan perubahan. Kata kerja (fi'il) yang dibahas adalah tentang perubahan (yughoyyiru) dan yang melakukan (faa'il) perubahan adalah Allah SWT. Kemudian, siapa yang menjadi obyek dari kata kerja tersebut (al maf'uul)? Dengan pertanyaan lain, siapakah yang akan diubah oleh Allah? Allah berfirman, "...ma bi qoumin..." yang artinya, "...apa yang ada pada sebuah kaum..." Jadi jelas bahwa perubahan terjadi atas sebuah kaum. Apa arti kata kaum dan bagaimanakah kondisi perubahan tersebut? Kata maa adalah 'aam (maa al-'umuum), jadi apapun yang ada pada sebuah kaum. Lebih jauh, kata kaum berbentuk mutlaq (tidak dibatasi) dan karenanya bisa juga diterapkan atas kaum kafir. Sehingga, makna yang lebih tepat untuk Innallaha laa yughoyyiru maa bi qoumin adalah bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah apapun yang ada pada sebuah kaum.

Perhatikan bahwa kata yang digunakan adalah kata Qoum, yang berarti pokok pembahasannya adalah perubahan yang kolektif bukan perubahan yang individual. Qoum, dalam bahasa Arab, berarti bangsa atau syu'ub (masyarakat) dan bisa juga berarti umat. Semua makna tersebut tidaklah menunjukkan pengertian individual atau kumpulan individu. Fard atau syakhs bermakna individual atau seseorang dan afraad atau syakhshiyyun adalah jamak yang berarti kumpulan individu atau orang banyak. Kata-kata ini bisa digunakan untuk menunjukkan aktivitas yang mengikuti perubahan individual. Namun, Allah tidak menggunakan kata-kata tersebut dalam ayat ini. Bahkan, Allah SWT menggunakan Qoum yang bermakna bangsa atau umat.

Bangsa memiliki konotasi yag spesifik. Bangsa berarti tidak sekedar kumpulan manusia, lebih daripada sekedar afraad. Perbedaannya terletak pada kebersamaannya, yaitu Qoum yang diikat oleh sebuah identitas yang sama, yaitu adanya sebuah pendorong bagi persatuannya. Karena itulah, sebuah qoum bisa digunakan untuk menjelaskan kata bangsa yang dipersatukan oleh ras, sehingga muncullah kata qoumiyyah (nasionalisme). Akan tetapi, kata qoum tidak dibatasi untuk menjelaskan makna kelompok etnik tertentu, seperti muslimin. Juga, kata qoum tidak dibatasi pengertiannya pada lingkungan ideologis tertentu. Karena itu, kata qoum dalam ayat ini bisa digunakan untuk segala bangsa, tidak terikat dengan ras atau ideologinya, sehingga bentuknya mutlaq (tidak dibatasi) dan bisa diterapkan bagi semua kelompok bersama manusia.

Allah menambahkan, "...hattaa yughayyiruu..." yang berarti "...hingga mereka mengubah...". Kata-kata ini menunjukkan shighaat as syurth (bentuk pensyaratan), yaitu digunakannya lafadz "hatta" (hingga). Sehingga makna yang dihasilkan oleh ayat adalah "Allah tidak mengubah...hingga mereka mengubah...". Penggunaan syarat di sini menunjukkan bisa dimbilnya mafhum mukholafah (pengertian sebaliknya), yaitu jika sebuah qoum tidak mengubah diri mereka secara bersama-sama, maka Allah tidak akan mengubah keadaan qoum tersebut....... >>> :-)

2 komentar:

Mahesa ibnu_romli mengatakan...

Jadi, syarat perubahan keadaan sebuah qoum adalah berawal dari tindakan dari qoum tersebut dan itu berarti proaktif tidak secara pasif menunggu datangnya pertolongan Allah. Ingat, kata yang digunakan adalah yughoyyiruu dalam bentuk kerja aktif (bukan yughoyyaru, kata kerja pasif) dan ini berarti bahwa qoum harus bertindak aktif dan tanpa tindakan aktif maka perubahan keadaan tidak akan terjadi.

Apa yang harus diubah ?

"...Maa bi anfusihim..." "...Apapun yang ada pada diri mereka..." Lafadz maa yang digunakan adalah maa al ‘umum, yang berarti segala aspek kehidupan harus diubah. Isim nafs juga digunakan dalam bentuk jamak anfus. Nafs mencakup segala hal yang ada pada diri manusia tidak sekedar masalah ibadah ritual semata atau aspek-aspek tertentu saja. Karena itu, Allah telah mengabarkan bahwa Dia SWT tidak akan mengubah keadaan sebuah qoum hingga mereka secara bersama-sama mengubah apa pun yang ada pada diri mereka dalam segala aspeknya. Sekali lagi, mereka adalah sebuah qoum bukan sekedar kumpulan individu. Kata qoum dalam bentuk mutlaq (tak-dibatasi) yang berarti kabar dari Allah bahwa Dia SWT tidak menghendaki perubahan hanya terjadi pada diri kaum muslimin saja, tetapi untuk umat manapun termasuk kaum kuffar. Ini adalah sunatullah. Ini berarti kaum muslimin tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan sholat, puasa, zakat dan haji dalam merintis kebangkitan kaum muslimin. Sunatullah telah menentukan bahwa perubahan qoum juga terjadi pada diri kaum kafirin, yang jelas-jelas mereka tidak pernah sholat, puasa, zakat dan haji. Negeri-negeri kafir telah mengalami kemajuan luar biasa dalam ekonomi, teknologi dan politik.

Jelaslah, bentuk perubahan yang dituntut oleh ayat tersebut pun juga tidak dibatasi pada sekedar aspek ibadah ritual, akhlak dan pakaian atau bahkan sekedar berpredikat muslim.

Perubahan yang dituntut oleh ayat adalah perubahan yang kaffah, sebuah perubahan yang sempurna dan menyeluruh. Perubahan tersebut haruslah yang ideologis, yaitu perubahan yang berawal dari pandangan hidup yang dari pandangan hidup itu kemudian terpancarlah semua aturan kehidupan. Perhatikanlah kebangkitan Islam yang pertama dibawah pimpinan Rasulullah dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah pertama di Madinah al-Munawaroh. Namun, ketika kaum muslimin lemah dalam berpegang kepada ideologi Islamnya, maka runtuhlah Daulah Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah. Perhatikan pula tegaknya negara komunis Uni Sovyet dalam masa 50 tahun setelah ditulisnya ideologi komunisme (buku Das Capital) oleh Karl Marx. Namun, Uni Sovyet runtuh ketika rakyat tidak lagi mempercayai ideologi komunisme. Juga perhatikan kebangkitan Eropa, dengan pandangan hidup sekulerisme mereka di masa sebelum Revolusi Industri terjadi. Mereka temukan sebab kemunduran mereka, yaitu gereja mengekang kebebasan mereka sehingga muncullah pemikiran agama hanya sebatas kehidupan ritual dan kehidupan keseharian berdasarkan aturan manusia. Begitu pula Amerika Serikat ketika berusaha merdeka dari kungkungan Inggris, bahkan mulai Perang Dunia II Amerika Serikat menguasai dunia.

Jelaslah, ketika sebuah kaum bersatu dan hidup berlandaskan sebuah pandangan hidup yang satu dan produktif, tampak dalam kehidupan kaum tersebut aturan-aturan hidup yang muncul dari pandangan hidupnya, maka niscaya Allah akan mengubah kaum tersebut. Artinya, mereka total dalam memeluk ideologi yang menjadi pandangan hidup beserta aturan-aturan yang terpancar dari pandangan hidup tersebut.

Mahesa ibnu_romli mengatakan...

Kaum muslimin pasti akan bangkit dan memimpin kembali dunia, jika mereka kembali kepada pandangan hidup mereka, bahwa mereka mengimani Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan mereka, mereka menjalani kehidupan berdasarkan aturan Allah dan kemudian mereka akan mempartanggungjawabkan setiap langkah hidupnya di akhirat nanti. Konsekuensi dari pandangan hidup tersebut sangat jelas, mereka harus hidup dibawah aturan Allah. Jika kaum muslimin hanya menjadikan kemusliman mereka sebagai label tanpa benar-benar tunduk kepada aturan Allah, maka tampak jelas kemunduran kaum muslimin. Mereka terpecah belah dalam lebih dari 50 nation state (negara bangsa) dan ini pun membuktikan bahwa kaum muslimin belum hidup berlandaskan hukum Allah, sebagaimana Islam telah menggariskan bahwa tidak boleh ada dua kepemimpinan dalam tubuh kaum muslimin.

Perhatikanlah Amerika Serikat, sebuah perserikatan negara-negara bagian yang satu ideologi. Begitu pula Eropa yang mulai bangkit kembali dengan membentuk perjanjian Maastricht dengan cita-cita menjadikan Eropa satu negara, bahkan mereka sekarang mulai menyatukan mata uang mereka.

Kaum muslimin memiliki ideologi terbaik, sebuah ideologi yang mengatur kebutuhan hidup manusia, tidak melepaskannya secara liar dan tidak mengekangnya bahkan tidak menghapuskan kebutuhan hidup manusia. Kaum muslimin memiliki ideologi Islam yang secara kaffah mengatur kehidupan manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sistem pemerintahan dalam ideologi Islam adalah terbaik, sistem ekonominya membuat manusia sejahtera, sistem sosial dimana interaksi pria-wanita terjadi menjadikan manusia memiliki kehormatan sebagai manusia, sistem pendidikannya menjadikan manusia memiliki pemikiran cemerlang, dinamis dan produktif. Dan semua aturan kehidupannya pasti sesuai dengan fitrah manusia.

Mari kita kembali kepada fitrah manusia yang membutuhkan rasul, fitrah bahwa diri kita lemah, sehingga kita membutuhkan tuntunan dari Dzat yang menciptakan kita. Dialah Allah SWT.

Followers

Mbh