Kamis, 29 Desember 2011

TAFSIR AL-QUR'AN MODERN: STUDI ATAS METODE BINTUSY-SYATHI'

Aisyah 'Abdurrahmaan, yang dikenal luas dengan nama samarannya, Bintusy-Syaathi' pada tahun-tahun belakangan ini telah mengukuhkan dirinya lantaran studinya mengenai sastra dan tafsir Al-Qur'an. Ia adalah guru besar sastra dan bahasa Arab pada Universitas 'ayn Syams, Mesir dan kadang-kadang menjadi Guru Besar Tamu pada Universitas Islam Umm durmaan, Sudan dan saat ini ia adalah guru besar Tamu pada Universitas Qarawiyyin, Maroko. Pada kesempatan-kessempatan memberi kuliah dan konferensi pada tahun 60an, ia telah berbicara di hadapan para sarjana di Roma, Aljazair, New Delhi, Baghdad, Kuwait, Yesrusalem, Rabat, Fez, Khartoum dan lain-lain. Kajian-kajiannya yang telah dipublikasikan meliputi studinya mengenai Abu Al-'Alaa Al-Ma'arri , Al-Khansaa' dan penyair-penyair atau penulis-penulis lain, biografi ibunda Nabi Muhammad, isteri-isteri beliau, anak-anak perempuannya serta cucu dan buyut perempuannya monografi-monografi dan cerita-cerita pembebasan perempuan dalam pemahaman Islam dan karya-karya kesejarahan mengenai hidup dan masa Nabi Muhammad. Ia juga telah menulis mengenai isu-isu mutakhir di dunia Arab, seperti tentang nilai dan otoritas masa kini sebagai warisan budaya masa lampau, tentang bahasa Arab di dunia modern yang sedang berubah dan tentang dimensi-dimensi sejarah dan intelektual perjuangan orang-orang melawan imperalisme Barat dan Zionisme.

Dilahirkan di Dumyat, wilayah di sebelah barat Delta Nil, Bintusy-Syaathi' tumbuh dewasa di tengah sebuah keluarga Muslim yang saleh dan menyelesaikan jenjang pendidikan tingginya di Universitas Fuad I, Kairo.

Walaupun mempunyai pandangan dan sikap konservatif, ia memiliki semua daya tarik seorang perempuan Arab modern yang berbudaya yang harus diperhitungkan dan dicirikan oleh kemampuan pengungkapan diri yang kuat dan artikulatif, diilhami oleh nilai-nilai Islam dan informasi pengetahuan yang meluap. Bukunya mengenai tafsir, Al-Tafsir Al-Bayaani li Al-Qur'an Al-Karim, Vol. I (1962) telah dicetak ulang dua kali ( 1966, 1968) dan edisi bajakannya telah terbit pula di Beirut. Vol. II kitab tafsirnya itu yang terbit pada tahun 1969 telah mendapat sambutan yang luar biasa dan Dr. 'Aisyah 'Abdurrahmaan diharapkan dapat melanjutkan tafsirnya itu hingga mencakup keseluruhan Al-Qur'an, tidak hanya keempat belas surat pendek yang sejauh ini sudah diselesaikannya.

Yang sangat penting dari tafsirnya bahkan pun jika ia tidak melanjutkan usahanya dalam menafsirkan Al-Qur'an hingga mencakup keseluruhan isi Kitab Suci itu adalah metode yang digunakannya yang telah menancapkan pengaruh luas di kalangan banyak orang. Secara jujur ia mengakui bahwa metode tersebut ia peroleh dari Guru Besarnya di Universitas Fuad I, yang belakangan menjadi suaminya yakni almarhum Amin Al-Khuuli (wafat pada tahun 1966).

bintusy-Syaathi' mengikhtisarkan prinsip-prinsip metode itu seperti yang ditulis Al-Khuuli dalam bukunya, Mandhij Tajdid ( Kairo : Daar Al-Ma'arif 1966) ke dalam empat butir.

1. Basis metodenya adalah memperlakukan apa yang ingin dipahami dari Al-Qur'an secara objektif dan hal itu dimulai dengan pengumpulan semua surah dan ayat mengenai topik yang ingin dipelajari.

2. Untuk memahami gagasan tertentu yang terkandung didalam Al-Qur'an menurut konteksnya ayat-ayat disekitar gagasan itu harus disusun menurut tatanan kronologis pewahyuannya, hingga keterangan-keterangan mengenai wahyu dan tempat dapat diketahui. Riwayat-riwayat tradisional mengenai "peristiwa pewahyuan" dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan hanya sejauh dan dalam pengertian bahwa peristiwa-peritiwa itu merupakan keterangan-keterangan kontekstual yang berkaitan dengan pewahyuan suatu ayat, sebab peristiwa-peristiwa itu bukanlah tujuan atau sebab sine qua non (syarat mutlak) kenapa pewahyuan terjadi. Pentingnya pewahyuan terletak pada generalitas kata-kata yang digunakan, bukan pada kekhususan peristiwa pewahyuannya.

3. Karena bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Qur'an maka untuk memahami arti kata-kata yang termuat dalam Kitab Suci itu harus dicari arti linguistik aslinya yang memiliki rasa kearaban kata tersebut dalam berbagai penggunaan material dan figuratifnya. Dengan demikian makna Al-Qur'an diusut melalui pengumpulan seluruh bentuk kata di dalam Al-Qur'an dan mempelajari konteks spesifik kata itu dalam ayat-ayat dan surah-surah tertentu serta konteks umumnya dalam Al-Qur'an.

4. Untuk memahami pernyataan-pernyataan yang sulit, naskah yang ada dalam susunan Al-Qur'an itu dipelajari untuk mengenai kemungkinan maksudnya. Baik bentuk lahir maupun semangat teks itu harus diperhatikan. Apa yang telah dikatakan oleh para mufasir dengan demikian, diuji kaitannya dengan naskah yang sedang dipelajari, dan hanya yang sejalan dengan naskah yang diterima. Seluruh penafsiran yang bersifat sektarian dan Isri'iliyyaat (materi-materi Yahudi-Kristen) yang mengacaukan yang biasanya dipaksakan masuk ke dalam tafsir Al-Qur'an harus disingkirkan.

1 komentar:

Mahesa ibnu_romli mengatakan...

Dengan cara yang sama, penggunaan tata-bahasa dan retorika dalam Al-Qur'an harus dipandang sebagai kriteria yang dengannya kaidah-kaidah para ahli tata-bahasa dan retorika harus dinilai, bukan sebaliknya, sebab bagi kebanyakan ahli, bahasa Arab merupakan hasil capaian dan bukan bersifat alamiah. Seperti yang dapat disimak dari ringkasan tersebut diatas, apa yang menjadi dasar metode tafsir ini adalah diktum yang telah dikemukakan para mufasir klasik di masa lalu, yakni bahwa "al-Qur'an menjelaskan dirinya dengan dirinya sendiri (tafsir ayat dengan ayat). Meskipun mufasir tersebut tidak menerapkan diktum itu secara sitematis. Selain itu yang juga menjadi dasar metode tersebut adalah prinsip bahwa Al-Qur'an harus dipelajari dan dipahami dalam keseluruhannya sebagai suatu kesatuan dengan karakteristik-karakteristik ungkapan dan gaya bahasa khas. Terakhir yang menjadi dasar pula adalah penerimaan atas keterangan sejarah mengenai kandungan Al-Qur'an tanpa menghilangkan keabadian nilainya.

Followers

Mbh