Sabtu, 24 Desember 2011

PBNU vs MUI Saling Bertentangan Tentang Simbol-Simbol Dan Atribut Natal

Kang Said: Simbol Natal Tidak Meresahkan ;

Jakarta, NU Online Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menilai peringatan Majelis Ulama Indonesia terkait maraknya simbol natal terlalu berlebihan. Menurut PBNU, selama ini simbol dan atribut natal di pusat perbelanjaan dan hotel tidak meresahkan umat agama lain.
“Sejauh ini tidak meresahkan kok,” kata Ketua Umum PBNU, Dr. KH. Said Aqiel Siroj, pada Republika, Rabu (22/12). Menurut dia, pemerintah sudah bertekad untuk menjalankan toleransi dan multikulturalisme di semua lapisan masyarakat. Dengan semangat ini, ia tegaskan, seharusnya tidak perlu ada pembatasan-pembatasan.

Kang Said menegaskan, peringatan dan imbauan MUI harusnya mengaca pada kebijakan pemerintah terkait toleransi dan multikulturalisme tersebut. “Kalau umat Islam merasa terganggu dan disakiti, baru kita resah. Tapi ini kan tidak,” katanya lagi.

MUI;
‘Berdasarkan laporan dari masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan bahwa dalam rangka perayanan Hari Raya Natal bagi kaum Nasrani di beberapa mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya, telah menampilkan simbol-simbol Natal secara berlebihan,” kata Ketua MUI, KH Muhyiddin Junaidi, dalam siaran pers MUI yang diterima Republika di Jakarta, Selasa (21/12). ”Demi menjaga perasaan umat Islam dan umat lainnya, serta kerukunan antarumat beragama, maka MUI mengingatkan kepada para pengelola mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya agar arif dan peka menjaga perasaan umat beragama,” tambahnya.

Saya sangat sependapat dengan PBNU, karena ajaran Islam yang Utama adalah TOLERANSI DAN KEADILAN. Lagian saat akan lebaran idul fitri, waisak, imlek, atau acara hari besar agama, mereka para pengelola mall, hotel, tempat rekreasi maupun tempat-tempat bisnis lain juga menampakkan atribut dan simbol-simbol keagamaan yang sedang/akan merayakan hari besarnya. :-)

SALAM DAMAI

0 komentar:

Followers

Mbh