Senin, 14 November 2011

CINTA BERBUAH SURGA

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin…”

Begitulah Jalaluddin Rumi melukiskan betapa dahsyatnya kekuatan cinta. Kepahitan hidup terasa manis kala hati kita dipenuhi cinta. Penderitaan bagaikan kenikmatan tiada tara ketika taburan cinta hinggap dalam jiwa kita. Rasa sakit langsung hilang tersembuhkan oleh obat cinta. Singkat kata, cinta adalah sebuah perasaan dalam diri manusia yang mampu membuat hidupnya terasa bahagia selamanya.

Tiada kesedihan disitu, yang ada hanyalah kebahagiaan serba indah. Itulah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Persoalannya, manusia seringkali tidak memanfaatkan fitrah itu dengan sebaik-baiknya. Cinta bukannya diwujudkan dalam dua dimensi kebahagiaan: dunia dan akhirat; tetapi malah diekspresikan secara dominan pada kehidupan duniawi saja, bahkan tak jarang melupakan sama sekali kehidupan ukhrawi. Akibatnya, kerusakan di muka bumi menjadi pemandangan sehari-hari yang tak elok dilihat.
Kita kerap melihat sebuah ekspresi cinta yang kebablasan di kalangan muda-mudi yang belum dihalalkan oleh pernikahan.

Atas nama cinta pula, seorang insan rela mengorbankan banyak hal demi pasangannya. Celakanya, pengorbanan itu kadangkala mengalahkan keikhlasan untuk meninggalkan aneka kenikmatan dunia demi “bermesraan” dengan Allah, Sang Pecinta Sejati. Jika diminta memilih: berduaan dengan pasangan ataukah “berduaan” dengan Yang Maha Pecinta, pilihannya jatuh pada yang pertama. Dampak buruknya, shalat ditinggalkan, zikir dilupakan, beramal shalih dilalaikan, perintah dan larangan Allah diabaikan. Astaghfirullah.
Manusia semacam itu telah terperangkap dalam jeratan setan dan karenanya wajib kita ingatkan agar tak semakin terjerumus dalam kubangan dosa.

Oleh sebab itu, ketika mencintai seseorang atau sesuatu, usahakan cinta kita tidak lebih dari cinta kita kepada Allah. Renungkanlah… telah sangat banyak dosa, salah, dan khilaf yang kita perbuat, tetapi Allah tak pernah berhenti mengirimkan karunia-Nya pada kita. Kalau demikian, pantaskah kita mengkhianati-Nya dengan melebihkan cinta kita kepada makhluk-Nya yang lain?

Rasulullah Saw. bersabda: “Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku -yakni dalam tidurku- kemudian berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, katakanlah: ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu.’’

Hendaknya, kita pun juga sering memohon agar selalu mampu mencintai Allah melebihi segalanya. Rasa cinta itu bisa tumbuh kalau kita mencintai siapa saja yang mencintai Allah dan dicintai Allah, serta apa saja yang dicintai Allah. Sebab, mencintai yang dicintai oleh Yang Tercinta adalah bagian dari mencintai Yang Tercinta….

Terkait dengan hal itu, dalam buku Mahabbatullah (Mencintai Allah), Imam Ibnu Qayyim menyatakan bahwa cinta senantiasa berkaitan dengan amal dan amal sangat tergantung pada keikhlasan hati, sebab disanalah cinta Allah berlabuh. Dalam keikhlasan amal di hati, cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh makhluk.

Wallahu'alam Bishawab.

0 komentar:

Followers

Mbh