Jumat, 23 September 2011

MAKAN KETIKA LAPAR, BERHENTI SEBELUM KENYANG

Sabda Nabi SAW : "'Tiada tempat yang lebih buruk, yang dipenuhi anak Adam
daripada perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat menyambung
hidupnya, jika hal itu tidak bisa dihindari maka masing-masing sepertiga
bagian untuk makanannya, minumnya dan nafasnya." (HR: Ahmad, An-Nasaa'i,
Ibnu Majah dan At-Tirmidzi )

Saudaraku yang dicintai Allah SWT, ada rumus untuk selalu sehat sepanjang
hidup : "Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang".
Tidak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia
adalah aplikasi sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut.
Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut
"diperbudak oleh perut". Para koruptor kita gelari "hamba perut" yang
mengorbankan kepentingan Negara dan rakyat demi perutnya sendiri.

Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan
terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan
untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah
kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.

Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk
disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah. Tetapi lidah
mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu atau terkadang
sejuta rupiah.

Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu
kaki lidak berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta
rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan
selera; tidak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan
variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian
lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan,
inovasi, dan paradigma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan
desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.

Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia
misterius yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan -kecenderungan
aneh yang menyilati budaya manusia. Makan yang dalam konteks perut hanya
berarti menjaga kesehatan, di kaki lida itu diperluas menjadi bagian dari
kompleks kultur, status sosial, gengsi, foedalisme, kepriyayian, serta
penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya.

Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sekedar makan dengan konteks
perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsuan, dimanipulir atau
diartifisialkan menajadi urusan kultur dan peradaban yang biayanya menjadi
sangat mahal.
Budaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos
industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkkan oleh kepercayaan
budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung
tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi,
dindingnya hingga karaokenya.

Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya menciptakan berbagai
ketergantungan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran
ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang
proyek, memborong barang-barang, bahkan berperang membunuh satu sama lain.

Padahal perut hanya membutuhkan "makan ketika lapar dan berhenti makan
sebelum kenyang".

Maka yang bernama "makan sejati" ialah makan yang sungguh-sungguh untuk
perut. Adapun yang pada umumnya yang kita lakukan selama ini adalah "memberi
makan kepada nafsu". Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk
tahu membatasi diri. Sementara nafsu adalah api yang tiada terhingga skala
pembesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan
menuju banjir bandang nafsu tidak terbatas, jika ia diartifisialkan dan
dipalsukan dan tampaknya itulah satu bahan utama berbagai konflik dan
ketidakadilan sejarah ummat manusia, maka sesungguhnya itulah contoh paling
konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan.

Rekayasa budaya makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga
aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek dan jangka
panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan keserakahan, yang
terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri, disamping sangat tdak
efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

Saudaraku, terfikirkah kita ketika kita sedang menikmati sebuah hidangan
yang istimewa, bersyukurlah kita karena ada sekian juta saudara kita yang
bisa makan apa adanya.
smoga bermanfaat.

0 komentar:

Followers

Mbh