Senin, 26 September 2011

JANGAN MERASA PALING SUCI

bismillahirahmanirahim

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu."(QS, al-Hujurat [49]: 13)

Dua orang laki-laki bersaudara . Mereka sudah yatim piatu sejak remaja.
Keduanya bekerja pada sebuah pabrik kecap .

Mereka hidup rukun , dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha
mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, mereka acap kali harus berjalan kaki untuk
sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan
orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil
supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi
mengaji. Allah mengabulkannya, jabatannya naik, dia menjadi kepercayaan sang
direktur. Dan tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki. Dia
mendapatkan bonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah
mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis
yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah
rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya
bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu
mengabulkan semua do'anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap
sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati
bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan
pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering
kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya
dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu
membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah
hafal bacaan untuk berdo'a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu
berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, " Dik,
sesungguh ketidak mampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa
jadi karena hati kita kurang bersih.. "

Sang adik Mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali
mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih
kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai
meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia
merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya
sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah
adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada
selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya
yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru
mereka, do'a selamat dan ada kalimah di akhir do'anya:

"Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do'a kakak ku,
Jadikan Kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu,
Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
didunia dan akhirat."

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya. Dia telah
salah menilai adiknya. Tak disangka ternyata adiknya tak pernah sekalipun
berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya dan ternyata keberhasilan sang kakak
tak luput dari ketekunan do'a adiknya.

Sahabat, Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang
menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada
hambanya. Itu semua bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang.
Janganlah bangga karena kekayaan dan janganlah putus asa karena kemiskinan.

" Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah BERITA
GEMBIRA KEPADA ORANG-ORANG YANG SABAR, " (Q.S.Al-Baqoroh 155 ).

Seringkali kita mengukur kedekatan kita kepada Allah SWT adalah karena
terpenuhinya segala permintaan duniawi yang sering kita mohonkan dalam
do'a-do'a kita.

Cobalah kita lihat orang yang sedang jatuh cinta atau bisa jadi kita sendiri
pernah jatuh cinta kepada seseorang. Wajahnya selalu terbayang, canda
tawanya serta tingkahnya selalu terkenang. Mau tidur ingat dia, mau makan
ingat dia, mau mandi ingat dia bahkan kita sedang sholatpun ingat dia, surat
cintanya atau sms nya kita selalu baca berkali-kali dan kita simpan dengan
sangat rapi ketika ingat dia kita baca lagi surat cinta atau sms itu,
hari-harinya selalu ingin bertemu, tidak ketemu sehari saja rasanya setahun.
Padahal belum tentu dia akan menjadi milik kita. Masya Allah.

Pernahkah kita merasakan jatuh cinta kepada Allah ? Dia yang memberi nafas
kita setiap detik, memberi berbagai makanan yang kita suka, memberi mata
yang dengan itu kita bisa melihat indahnya dunia, memberi tangan yang
membuat kita bisa berkarya, memberi kecerdasan yang membuat kita mampu
berinovasi dan berkreasi dan memberi segala macam kebutuhan kita tanpa
meminta imbalan sedikitpun, adakah semua itu kita rasakan ? mengapa kita
tidak jatuh cinta kepadaNYA ? sejauh mana bukti cinta kita kepadanya ?

114 surat cintaNYA seberapa sering kita baca dan kita renungkan ? 114 surat
kasihnya adakah pernah kita balas ? Panggilan AdzanNYA sesegera apakah kita
menghadap ? tergetarkah hati kita dan gembirakah hati kita ketika mendengar
panggilanNYA ? bandingkan dengan kita kalau dipanggil atasan kita atau
dipanggil presiden ?

Yah, ada 114 SURAT CINTA yang telah dikirimkan kepada kita dan telah sampai
kepada kita, kapan kita akan mau balas ?

Semoga dengan Kisah tersebut kita semua bisa memetik amanatnya..

0 komentar:

Followers

Mbh