Kamis, 25 Agustus 2011

KehendakNYA bukanlah paksaan

[85 AL BURUUJ 17-22] Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Firaun dan (kaum) Tsamud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lohmahfuz.

Fir'aun menurut pandangan saya adalah orang-orang yang menuhankan dirinya atau dalam arti lain juga menjadikan hawa nafsu/hasrat/kehendaknya sebagai Tuhannya.

Banyak ungkapan-ungkapan khususnya atheis bahwa kehendak Tuhan adalah paksaan, karena ia merasa tidak ingin dilahirkan atau bukan atas kehendaknya ia lahir. Mungkin perlu ditanya lebih jauh kepada orang tua yang melahirkannya. Begitu juga keengganan mereka untuk terikat dengan agamaNYA, sangat nampak pada diri mereka pembangkangan.


Apakah pantas kita menyeru kepada kebaikan dengan paksaan?

2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam kaitain ini saya mencoba mengumpulkan bukti yang ada dalam Al-Qur'an :

Seruan Rosul-Rosul :
6:135. Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.

11:93. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu."

11:121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: "Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami-pun berbuat (pula)."

[2.285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

[2.286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Tentunya akan lebih banyak lagi kita dapati didalam Al-Qur'an, tulisan ini semata untuk penggugah kita dalam memahami takdir, mana yang merupakan kehendak dan mana ketetapanNYA. Begitu juga pada diri kita kemana kehendak kita diarahkan? Menjauh dariNYA maka yang akan didapati adalah ketetapanNYA juga, tentunya ketetapan yang buruk. Dan hendaknya kita dalam memutuskan/menetapkan segala sesuatu tidak lepas dari apa yang telah ditetapkanNYA terutama dalam segi hukum, dan yang paling penting adalah bagaimana mengaplikasikan hukum dengan menggiring orang dengan segala kesadaran untuk terikat/taat. Yang mana kesadaran kadang tidak cukup dengan peringatan namun juga harus dijelaskan sesuai dengan kemampuan kita. Seperti layaknya mengulurkan tali tentu butuh tali yang panjang untuk menguraikan sampai pada kedudukan orang yang sedang minta penjelasan.

5:101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

5:102. Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Dari hikmat dua ayat diatas bahwa hendaknya kita pelajari dulu yang dekat-dekat yang dapat kita maknai dengan baik, jangan biasakan diri dengan jawaban-jawaban namun tetap menghasilkan keraguan, karena pada hakikatnya perolehan iman itu sangat bergantung dengan amalan dan DIA saja yang berhak menentukan.

2:90. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

Dan pahamilah segala sesuatu sesuai dengan wilayahnya, mana wilayah syariat atau hukum dan mana wilayah pengetahuan dan alam. Sehingga tidak tercampur-campur, Al-Qur'an sangat detail jika kita memahami keterkaitan ayat-ayatNYA dan orientasi yang dijelaskannya.

14:52. (Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

0 komentar:

Followers

Mbh