Senin, 12 November 2012

BEGINILAH SEORANG SYAIKH MENGAJARKAN ZUHUD

Oleh: Ustadz Ishak



Pada suatu hari seorang murid berjumpa dengan Asy-Syeikh, lalu memintanya
agar mengajariku berzujud. Lalu beliau berkata kepadaku:



"Kalau engkau ingin menjadi muridku dalam berzuhud, jangan hendaknya engkau
meminta sesuatu dari seseorang, andaikan pemberian itu datang tanpa engkau
minta juga jangan hendaknya engkau terima". Sehingga engkau meyakini, bahwa
hanya Allah-lah yang menjadi segala sumber dari apa-apa yang engkau miliki,
bukan yang lain !



Dalam hatiku aku berkata :"Nabi sendiri menerima hadiah dan beliau juga
bersabda apa yang datang kepadamu tanpa engkau minta, maka terimalah !".



Maka Syaikh berkata :"Nampaknya seolah-olah engkau berkata bahwa Nabi saw.
menerima hadiah dan Nabi bersabda :"Apa yang mendatangimu tanpa engkau
minta maka terimalah !". Tapi ingatlah anakku,



"Katakanlah Aku hanya memperingati kamu dengan wahyu" (Al-Anbiya' 21:45).



"Lalu sejak kapan Allah memberi wahyu kepadamu ?"



"Jika engkau hendak meneladani Rasulullah dalam hal menerima, maka teladani
pula perasaan yang terkandung dalam hati beliau dikala menerima pemberian
itu. Rasulullah saw. mau menerima sesuatu karena beliau handak memberi
kesempatan kepada si pemberi untuk menerima pahala dari pemberiannya dan
Rasulullah pun berdoa agar Allah memberikan penggantian bagi sang pemberi.



Jika jiwamu sudah suci dari najis dan sudah bersih dari segala kotoran,
sudah suci dari nafsu ingin diberi, sudah suci dari nafsu ingin mendapatkan
yang orang lain miliki, barulah engkau diperbolehkan, menerima hadiah,
kalau belum, maka jangan engkau lakukan".



Syarh dari pentahkik :



Pendapat yang amat mendalam ini kami sajikan agar difahami oleh pegawai dan
pejabat yang mempunyai kedudukan dan pangkat dan sering menerima hadiah dan
uang suapan, dan juga bagi siapa saja yang suka makan harta dengan jalan
batal, itulah mereka yang sudah disamarkan oleh setan hingga tidak dap at
membedakan antara kebenaran dan kebatilan.



Keterangan :

Perawi hadis Ibnu Majah mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada
Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu
perbuatan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai oleh Allah dan juga
oleh manusia.''



Rasulullah menjawab, ''Berlaku zuhud-lah kamu terhadap kenikmatan dunia
niscaya kamu akan dicintai Allah, dan berlaku zuhud-lah kamu di tengah
manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.''



"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu
dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia
Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai
karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah
mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Quran surat
Al-Hadiid ayat 20-23)



Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak
mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia –yang bersifat
sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia
mencintanya– dan hakikat akhirat –yang bersifat kekal, baik kenikmatannya
maupun penderitaannya.



Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan tentang
makna dan hakikat zuhud. Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud.
Banyak yang mengira kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala
kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. padahal tidak demikian.
Secara etimologi, zuhud adalah menjauhkan diri dari sesuatu karena
menganggap hina dan tidak bernilai. Bagi para sufi, zuhud adalah
meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup walaupun sudah jelas
kehalalannya.



Rasulullah saw. bersabda, "Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti
atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian
sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian
berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian
sebagaimana telah menghancurkan mereka." (Muttafaqun 'alaihi)



Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar'i, zuhud
bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan.

- Abu Idris Al-Khaulani berkata, "Zuhud terhadap dunia bukanlah
mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud
terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang
apa yang ada di tangan kita. Dan jika kita ditimpa musibah, maka kita
sangat berharap untuk mendapatkan pahala. Bahkan ketika musibah itu masih
bersama kita, kita pun berharap bisa menambah dan menyimpan pahalanya."
- Ibnu Khafif berkata, "Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa."
- Ibnu Taimiyah berkata, "Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak
bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara' adalah meninggalkan sesuatu
yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti."

Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda zuhud, yaitu: * *

1. **tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal
yang hilang.
2. **sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik
terkait dengan harta maupun kedudukan.
3. **hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi
oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan.
Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu.

Imam Ahmad mengatakan, "Zuhud ada tiga bentuk.

1. meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awwam.
2. meninggalkan berlebihan terhadap yang halal, ini adalah zuhudnya
golong yang khusus.
3. meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah,
dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif."

Demikianlah orang-orang zuhud, sampai Abu Bakar berkata*, "Ya Allah,
jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami."*

0 komentar:

Followers

Mbh