Senin, 12 Maret 2012

Tafsir ibnu katsir tentang isti’adzah (ta'awudz) dan Hukum-hukumnya

Allah Ta’ala berfirman :
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ , ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧُﻪُ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﻮْﻧَﻪُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ,
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺑَﺪَّﻟْﻨَﺎ ﺁﻳَﺔً ﻣَﻜَﺎﻥَ ﺁﻳَﺔٍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ
ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻣُﻔْﺘَﺮٍ ﺑَﻞْ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻻ
ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS an-Nahl : 98-100)

Yang masyuhur dikalangan jumhur ulama bahwa isti’azdah dilakukan sebelum membaca al-Aqur’an untuk mengusir gangguan syaitan. Menurut mereka ayat yang berbunyi “Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaiman firman Allah
ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ
ﻭُﺟُﻮﻫَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ
Artinya : “apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu” . (QS al-Maidah : 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan shalat.

Penafsiran seperti itu berdasarkan beberapa hadist dari Rasulullah saw, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu sa’id al Khudri, ia berkata jika Rasulullah saw hendak mendirikan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan :
ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺑﺤﻤﺪﻙ، ﻭﺗﺒﺎﺭﻙ ﺍﺳﻤﻚ،
ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﺪﻙ، ﻭﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻙ . " ﻭﻳﻘﻮﻝ :
" ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ " ﺛﻼﺛًﺎ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ " : ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻤﻴﻊ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ، ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ، ﻣﻦ ﻫَﻤْﺰﻩ ﻭﻧَﻔْﺨِﻪ ﻭﻧَﻔْﺜﻪ
"
Subhaanakallahumma wabihamdika, watabaarakas muka wata’ala jadduka, walaa ilaaha ghoiruk. Dan membaca
ﻻ‎ ‎ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ } tiga kali,
kemudian membaca A’udzubillahis sami’il ‘aliim minasy syaithoonir rajiim, min Hamzihi, wa nafkhiHi, wa nafsiHi.”
Artinya: Mahasuci Engkau, Ya Allah dan segal puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi Kemulia-anMu. Tidak ada Tuhan/ilah yang haq melainkan Engkau. Dan membaca ‏la ilaha illallah‏ tiga kali, kemudian membaca Aku berlindung kepada Allah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syaithan yang terkutuk, dari godaanya, tiupannya, dan hembusannya.

Hadist ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun Kitab as Sunan dari ja’far bin Sulaiman, dari “ali bin ‘Ali ar Rifa’i. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah hadist yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan kata {ﻫَﻤْﺰ / Hamz}, { ﻧَﻔْﺨِﻪ } nafkh ditafsirkan sebagai kesombongan serta {ﻧَﻔْﺜﻪ } Nafst ditafsirkan sebagai sya’ir.

Bukhori meriwayatkan dari sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang yang saling mencela di hadapan rasulullah saw, sedang kami duduk dihadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang memerah, maka Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalaimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan {ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ} ,‏
kemudian para sahabat berkata kepada orang itu: Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw ? Orang itu menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tidak waras.

Hadist diatas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai, melalui beberapa jalur sanad dari al-A’masy.

Wallahu a'lam

0 komentar:

Followers

Mbh