Dalam perjalanan hidup manusia, terkadang perlu untuk kembali menengok ke sejarah masa lampau, masa-masa sebelum datangnya cahaya Islam. Sebuah masa yang penuh dengan perilaku kejahilan dan semangat hawa nafsu, di mana di dalamnya terdapat tatanan kehidupan yang didasarkan hanya pada pandangan baik akal dan “kesepakatan” orang banyak. Bukan tatanan kehidupan yang dibimbing oleh wahyu dari Dzat Yang Maha Benar.
Kita perlu menengok kepada kehidupan di masa jahiliyyah itu karena realita kehidupan kita di masa ini ternyata banyak memiliki kesamaan dengan realita di masa jahiliyyah. Padahal dengan diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang membawa cahaya Islam, berbagai konsep kemasyarakatan ala masyarakat jahiliyyah itu semestinya terhapuskan karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menggali kembali hakikat alam kehidupan jahiliyyah bukan suatu keterbelakangan dan kejumudan berfikir, namun merupakan langkah untuk lebih maju ke depan.
Merupakan suatu keterbelakangan bila kita tidak mau mempelajari berbagai praktek kehidupan jahiliyyah, sehingga disadari atau tidak kita telah terjatuh kepada perilaku kehidupan jahiliyyah itu. Tanpa sadar kita telah menjadi pendukung untuk menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka. Telah digambarkan oleh banyak sastrawan bagaimana kejahatan dan kebiadaban ala hewan dalam alam jahiliyyah. Yang kuat berkuasa dan yang lemah diinjak-injak, bahkan menjadi budak.
Penggambaran dengan bahasa yang indah tentang kehidupan jahiliyyah sesungguhnya tidak mewakili pengupasan akar kejahatan tersebut, lebih-lebih jika ingin mencabutnya. Cikal bakal kehidupan jahiliyyah memunculkan segala wujud kejahatan, berupa kerusakan dalam bentuk pemerkosaan hati setiap insan dengan perbuatan kedzaliman yang terbesar yaitu “Kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala”.
Penghambaan yang keluar dari aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala, penghambaan yang diiringi dengan penghinaan diri kepada sesuatu yang lebih rendah darinya. Penghambaan kepada batu, kuburan, pohon, tempat-tempat keramat dan sebagainya, merupakan pembunuhan terhadap fitrah yang suci, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan setiap hamba dengannya. Juga merupakan perusakan terhadap akal manusia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan dan membedakannya dengan makhluk-makhluk lain. Penjajahan terhadap kemerdekaan setiap insan untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb-nya dan perbudakan diri yang tidak pada tempatnya. Inilah kejahatan yang hakiki.
Menelaah kembali prinsip-prinsip hidup jahiliyyah bukan berarti ingin mengembang-biakkannya, namun semata-mata untuk membentengi diri dan memperingatkan umat untuk tidak terjatuh padanya.
Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu 'anhu menyatakan:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةً أَنْ يَدْرِكَنِي “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang kejahatan, khawatir menimpa diriku.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Fitan bab ‘Bagaimana urusan bila tidak ada jamaah’ no. 6658)
‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu berkata: “Sesungguhnya ikatan Islam akan putus seikat demi seikat apabila muncul di dunia Islam orang-orang yang tidak mengetahui (perkara) jahiliyyah.”
Seorang penyair mengatakan:
Aku mengetahui kejahatan bukan untuk melakukannya
melainkan untuk menjaga diri darinya
Barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan
dari kejahatan
Khawatir dia terjatuh padanya
Semoga dengan menelaah prinsip-prinsip hidup yang rusak itu kita bisa mewanti-wanti diri, anak, dan generasi muslimin darinya1.
Di antara sekian praktek hidup jahiliyyah adalah mengagungkan kuburan.
Hakekat Kematian
Kematian merupakan suatu kepastian yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada setiap yang bernyawa. Ketentuan yang tidak bisa dimajukan dan dimundurkan, yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Perpisahan ini menggambarkan sesuatu yang tidak bisa berbicara lagi, berpikir, bergerak, melihat, mendengar sebagaimana tabiat kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاََّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan tentang sesuatu yang akan menimpa seluruh makhluk, bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, seperti firman Allah: “Sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Wajah Rabbmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan” (Ar-Rahman: 26-27). Dia, Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Esa dan tidak akan mengalami kematian, manusia dan jin yang akan mengalami kematian, demikian juga seluruh malaikat dan para pemikul ‘Arsy Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127)
Manusia telah bersepakat bahwa bila ruh berpisah dengan jasad, maka jasad tersebut tidak bisa bergerak, berbicara, mendengar, bekerja, berdiri dan tanda-tanda kehidupan lainnya. Namun kerusakan aqidah mereka menyebabkan terbaliknya keyakinan tersebut. Sehingga mereka meyakini bahwa orang mati itu bisa muncul lagi ke dunia, bisa berbuat sesuatu di luar perbuatan orang yang hidup, mendatangi keluarganya lalu menyapa mereka, muncul di atas kuburnya, menarik kaki orang-orang yang berjalan di atasnya, dan sebagainya. Ini semua adalah cerita-cerita khurafat yang didalangi oleh Iblis dan tentara-tentaranya untuk merusak aqidah orang-orang Islam.
Bisakah si mayit mendengar dan berbuat sesuatu sehingga kita bisa menjadikan dia sebagai perantara dengan Allah atau kita bisa meminta sesuatu kepadanya?
Bisakah si mayit membantu orang yang mengalami malapetaka dan kesulitan hidup?
Tentu setiap orang akan menjawab bahwa mayit tidak akan sanggup melakukan yang demikian. Namun keyakinan banyak manusia sekarang justru sebaliknya. Begitulah bila kuburan telah diagungkan dan fitrah telah rusak.
Kerusakan Fitrah karena Cerita dan Dongeng
Perusakan fitrah setiap insan tidak akan berhenti dan terus akan berlangsung sampai hari kiamat, hingga tiap orang akan bisa menjadi santapan seruan Iblis. Oleh karena itu, mari kita melihat bahaya cerita dan dongeng yang mengandung khurafat-khurafat, di antaranya:
a. Menyebabkan seseorang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kesucian fitrahnya dan memiliki keyakinan yang bertolak belakang.
b. Menyebabkan seseorang memiliki sifat penakut.
c. Melemahkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
d. Menjatuhkan seseorang kepada kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al Qur’an:
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيآئَهُ فَلاَ تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannyas. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.”(Ali-Imran:175)
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah di dalam Tafsir-nya mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat pelajaran tentang wajibnya takut hanya kepada Allah semata dan itu termasuk dari tuntutan keimanan. Oleh karena itu, seseorang memiliki rasa takut berdasarkan tinggi rendah imannya. Dan takut yang terpuji adalah ketakutan yang menjaga seseorang dari segala keharaman Allah.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 157)
Sesuatu yang tadinya hanya berbentuk cerita-cerita khurafat kemudian diwujudkan dalam bentuk film-film hidup, gambar-gambar, dan kengerian kuburan. Semua itu memperkuat perusakan fitrah sehingga menjadi fitrah yang mati dan kaku, hidup di hadapan cerita-cerita takhayul dan khurafat.
Jahiliyah dan Kuburan
Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran dan kesyirikan di masa jahiliyah. Terbukti hal yang demikian dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
أَفَرَأَيْتُمُ الاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ اْلأُنْثَى تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَى
“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-’Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (An-Najm: 19-22)
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mencerca kaum musyrikin dengan peribadatan mereka kepada patung-patung, tandingan-tandingan bagi Allah dan berhala-berhala, di mana mereka memberikan rumah-rumah untuk menyaingi Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata”. Al-Lata adalah sebutan untuk batu yang terukir di mana di atasnya dibangun rumah dan berada di kota Thaif. Ia memiliki kelambu dan juru kunci dan di sekitarnya terdapat halaman yang diagungkan oleh penduduk Thaif, yaitu kabilah Tsaqif dan yang mengikuti mereka. Mereka berbangga-bangga dengannya di hadapan seluruh kabilah Arab kecuali Quraisy.”
Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma, Mujahid, Rabi’ bin Anas mereka membaca (الاَّتَ) dengan ditasydidkan taa (تَّ) dan mereka menafsirkannya dengan: “Seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji di masa jahiliyyah. Tatkala dia meninggal, mereka i’tikaf di kuburannya lalu menyembahnya.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan: Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma berkata tentang firman Allah “Al-Latta dan Al-’Uzza.”: “Al-Latta adalah seseorang yang menjadikan gandum untuk para jamaah haji.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/35, lihat Tafsir Al-Qurthubi, 9/66, Ighatsatul Lahfan, 1/184)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Al-Latta dengan bacaan ditasydidkan huruf taa adalah bacaan Ibnu ‘Abbas berdasarkan bacaan ini berarti isim fa’il (bentuk subyek) dari kata ‘latta’ (yang berbentuk) patung, ini asalnya adalah seseorang yang mengadoni tepung untuk para jamaah haji yang dicampur dengan minyak samin lalu dimakan oleh para jamaah haji. Tatkala dia mati, orang-orang i’tikaf di kuburnya lalu mereka menjadikannya sebagai berhala.” (Qaulul Mufid, 1/253)
Metode Penyesatan Setan
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Termasuk dari tipu daya setan yang telah menimpa mayoritas orang sehingga tidak ada seorangpun yang selamat-kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah- yaitu “Apa-apa yang telah dibisikkan para setan kepada wali-walinya berupa fitnah kuburan.” (Ighatsatul Lahfan, 1/182)
Yang mengawali terjadinya fitnah besar ini adalah kaum Nabi Nuh 'alaihissalam sebagaimana telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang mereka:
قَالَ نُوْحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًا وَقَالُوْا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوْثَ وَيَعًوْقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَلاَ تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ ضَلاَلاً
“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq dan Nasr. Dan sesungguhnya mereka menyesatkan kebanyakan manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh: 21-24)
Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma dalam riwayat Al-Bukhari menyatakan: “Mereka adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh 'alaihissalam. Ketika orang-orang shalih itu mati, tampillah setan menyampaikan kepada orang-orang agar mendirikan di majelis-majelis mereka gambar orang-orang shalih tersebut dan namakanlah dengan nama-nama mereka! Orang-orang pun melakukan hal tersebut dan belum disembah, sampai ketika mereka meninggal dan ilmu semakin dilupakan, maka gambar-gambar itu pun disembah.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: “Bukan hanya satu ulama salaf yang mengatakan: ‘Mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal, orang-orang i’tikaf di kubur-kubur mereka lalu membuat patung-patung tersebut hingga masa yang sangat panjang, lalu menjadi sesembahan.” Kemudian beliau mengatakan: “Mereka telah menghimpun dua fitnah yaitu fitnah kubur dan fitnah menggambar.” (Ighatsatul Lahfan, 1/184)
Tahapan dan metode penyesatan Iblis dan tentara-tentaranya terhadap penyembah kubur sebagai berikut:
Tahapan pertama, Bahwa membangun kuburan, i’tikaf di sampingnya termasuk wujud kecintaan kepada para nabi dan orang-orang shalih serta berdoa di sisinya cepat diterima.
Tahapan kedua, tawassul dalam berdoa dan bersumpah dengan penghuni kubur tersebut.
Tahapan ketiga, berdoa dan menyembah kepadanya.
Tahapan keempat, menyeru orang untuk berdoa dan beribadah kepadanya dan menjadikannya sebagai tempat untuk merayakan hari raya.
Tahapan kelima, membela dan berjihad dalam membela perbuatan tersebut terhadap setiap orang yang mengingkari perbuatannya dan menganggap bahwa orang yang mengingkari perbuatan tersebut tidak memiliki kehormatan dan kedudukan. (lihat secara ringkas Ighatsatul Lahfan, 1/231)
Demikianlah sepak terjang Iblis dan tentara-tentaranya dalam menyusun metode penyesatan setiap insan dengan memulai dari yang paling kecil menuju yang paling besar. Program yang mereka canangkan dan jaringan yang mereka siapkan telah memakan banyak korban. Semoga Allah melindungi kita darinya.
Haramnya Membangun Bangunandi di atas Kubur
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Tahdzir As-Sajid (hal. 9-20) membawakan hadits-hadits yang semuanya melarang membuat bangunan di atas kuburan. Di antara hadits tersebut antara lain:
1. Hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika di ranjang menjelang wafat beliau:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)
Hadits yang semakna dengan hadits di atas diriwayatkan dari banyak shahabat, di antaranya dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (2/422) dan Al-Imam Muslim (2/71), dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari (1/422, 6/386, dan 8/116) dan Al-Imam Muslim (2/67), dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (2/67-68), dari Harits An-Najrani dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan sanadnya shahih di atas syarat Muslim, dari Usamah bin Zaid diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya (2/113) dan Ahmad (5/204), dari Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad (no. 1691, 1694), Ath-Thahawi di dalam Musykilul Atsar (4/13), Abu Ya’la (1/57) dan selainnya. Juga dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (5/184, 185), dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1/92/2), Ibnu Hibban (no. 340 dan 341) dan selainnya. Dari ‘Ali bin Abi Thalib dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dan Ibnu ‘Asakir, dan dari Abu Bakar diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawaih (lihat Tahdzir As-Sajid secara rinci, halaman 9-20).
2. Hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).
Hadits yang semakna datang dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (2/66). Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Tahdzir As-Sajid (hal. 22) mengatakan: “Sanadnya shahih.” Al-Haitsami (3/61) mengatakan: “Semua rawinya terpercaya.” Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Maka jelaslah dari hadits-hadits yang telah lewat tentang bahaya menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid dan akibat bagi orang-orang yang berbuat demikian berupa ancaman yang pedih dari sisi Allah.” (Tahdzir As-Sajid, hal. 21)
Kemudian beliau berkata: “Keumuman hadits (Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma)mencakup pembangunan masjid di atas kubur, sebagaimana pula mencakup pembangunan kubah di atasnya. Dan tentunya yang pertama (membangun masjid di atas kubur) larangannya lebih keras sebagaimana telah jelas.”
(Tahdzir As-Sajid, hal. 21).
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha) menunjukkan haramnya membangun masjid di atas kubur-kubur orang shalih dan menggambar mereka di dalam masjid tersebut, sebagaimana dilakukan orang-orang Nashrani dan tidak ada keraguan bahwa masing-masing dari keduanya adalah haram. Menggambar anak Adam adalah haram dan membangun masjid di atas kuburan juga diharamkan sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash lain dan akan datang penyebutan sebagiannya.”
Beliau (Ibnu Rajab rahimahullah) selanjutnya berkata: “Gambar-gambar yang ada di banyak gereja yang disebutkan oleh Ummu Habibah dan Ummu Salamah berada di dinding dan tidak berdimensi. Maka menggambar para nabi dan orang shalih untuk bertabarruk dengannya dan meminta syafaat kepadanya adalah diharamkan dalam agama Islam dan termasuk bentuk peribadatan kepada berhala. Inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah bahwa pelakunya termasuk makhluk terjahat pada hari kiamat. Membuat gambar (nabi dan orang shalih) dengan tujuan ketika melihat gambar tersebut bisa mengambil contoh atau untuk mensucikan diri dengan cara seperti itu atau untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk dosa besar. Pelakunya termasuk orang yang mendapat adzab paling keras pada hari kiamat. Ia telah melakukan kezaliman dan menyerupai perbuatan-perbuatan Allah yang para makhluk-Nya tidak sanggup untuk melakukan. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah baik pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.”
(Tahdzir As-Sajid, hal. 13-14)
Makna Menjadikan Kuburan sebagai Masjid
Menjadikan kuburan sebagai masjid memiliki tiga makna:
1. Shalat di atas kuburan, artinya sujud di atasnya.
2. Sujud menghadap kepadanya dan menjadikannya sebagai kiblat di dalam shalat dan berdoa.
3. Membangun masjid di atasnya dan berniat untuk melaksanakan shalat padanya. (Tahdzir As-Sajid, hal. 21)
Wallahu a’lam bish shawab.
(bersambung)
Sebagaimana doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ (إبراهيم : 35)
“Dan jauhkan diriku dan anakku dari menyembah patung-patung.” (Ibrahim: 35)
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=195
Penulis : Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi hafizhahullah
Prinsip kehidupan jahiliyah merupakan prinsip yang menyebabkan kerusakan akal dan fitrah manusia. Oleh karena itu, kaum muslimin harus menjauhi prinsip-prinsip jahiliyah itu dan berusaha mengembalikan kemerdekaan akalnya, kemudian digunakan untuk berfikir tentang sesuatu yang bisa mendatangkan mashlahat bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Tentunya semua itu dilakukan dengan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dan melepaskan diri dari kungkungan prinsip-prinsip jahiliyah yang notabene merupakan pembunuh kemerdekaan berfikir yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada para hamba-Nya.
Pembunuhan kemerdekaan berpikir itu bisa dalam bentuk perbudakan terhadap sesuatu yang tidak berakal seperti batu, pepohonan, kuburan dan sebagainya. Akibatnya semua mashlahat hidup dan kemudaratannya harus digantungkan kepada benda-benda tersebut.
Pada kajian ini penulis mengajak untuk melengkapi pembahasan edisi sebelumnya tentang tema ‘Bila Kuburan Diagungkan’ dan menyelami bahtera kerusakan fitrah yang diakibatkan oleh hal tersebut.
Bentuk-bentuk Pemujaan Terhadap Kuburan
Bagi sebagian besar kaum muslimin di zaman sekarang, kuburan telah menjadi salah satu tempat yang paling sering dan paling banyak mendapat kunjungan. Mereka sering hilir mudik di kuburan tersebut, tak kalah ramai dengan tempat-tempat rekreasi dan hiburan. Bahkan terkadang kuburan itu lebih ramai daripada rumah-rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala (masjid). Mereka datang dengan berbagai hajat dan tujuan. Di antara mereka ada yang ingin lulus dalam ujian sekolah, ada yang ingin berhasil dalam cocok tanam dan perdagangan, ada yang ingin mencari barakah dan anak keturunan, dan ada pula yang berniat agar mendapatkan jodoh yang sesuai selera.
Di antara mereka juga ada yang bertujuan untuk memandikan jimat-jimat dan keris-keris pusaka, ada yang ingin kedudukannya tidak digoyang dan bahkan ada di antara mereka yang mengucapkan nadzar bila telah berhasil dari sesuatu, akan keliling makam para wali yang dikunjunginya itu. Ada yang datang untuk menyucikan diri, bahkan ada yang memang berniat untuk beribadah yaitu hanya semata-mata ziarah. Sehingga untuk keberlangsungan semua ini, setiap kuburan yang dianggap keramat dan memiliki kelebihan, dibangun dengan bangunan yang megah dan mahal yang nilainya melebihi bangunan rumah orang yang meninggal itu semasa hidupnya. Setelah itu diangkat juru kunci sebagai pemandu setiap peziarah. Semua ini merupakan perkara yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melaknat pelakunya (yakni orang-orang yang suka mengagungkan kuburan). Terkadang beliau menyatakan, “Demikian besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan mereka agar mendapatkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala karena apa yang mereka perbuat termasuk perbuatan maksiat. Yang demikian ini terdapat di dalam kitab-kitab Shahih. Terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang (dengan keras) perbuatan tersebut, terkadang mengutus seseorang untuk menghancurkannya, terkadang menyebutkan bahwa hal itu termasuk dari perbuatan Yahudi dan Nasrani, terkadang beliau menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala.” Terkadang menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ied.” Artinya menentukan waktu tertentu untuk berkumpul (di kuburan) sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penyembah kubur. (Lihat Syarh Ash-Shudur Bitahrim Raf’il Qubur hal. 1)
Di antara bentuk-bentuk pengagungan kepada kuburan:
a. Membuat bangunan di atasnya
Telah dibahas di dalam majalah ini edisi sebelumnya tentang hukum membangun kuburan, yang pada kesimpulannya adalah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk meratakannya. Dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullah dari Abu Hayyaj Al-Asadi rahimahullah ia berkata:
قاَلَ لِيْ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طاَلِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى ماَ بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ لاَ تَدَعَ تِمْثاَلاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفاً إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu berkata kepadaku: ‘Maukah engkau aku utus kepada sesuatu yang Rasulullah telah mengutusku padanya? (Yaitu) jangan kamu membiarkan patung kecuali kamu hancurkan dan kuburan yang menonjol lebih tinggi melainkan kamu ratakan’.”
Demikianlah pengajaran nabawi kepada Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu untuk menghancurkan segala wujud berhala dan segala yang akan mengantarkan kepadanya dalam rangka mengingkari kemungkaran. Ini menunjukkan haramnya membangun kuburan.
b. Berdoa padanya
Kita telah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau dari shahabat Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir radhiallahu 'anhu:
الدُّعاَءُ هُوَ الْعِباَدَةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479 dan At-Tirmidzi no. 2973 dari An-Nu’man bin Basyir radhiallahu 'anhu)
Kalau doa itu merupakan sebuah ibadah berarti kita harus mengamalkannya di atas dua persyaratan.
Pertama: Mempersembahkan doa tersebut hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kedua: Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Apakah berdoa di kuburan telah memenuhi kedua syarat itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui bentuk-bentuk doa di kuburan.
Berdoa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di Kuburan
Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di kuburan merupakan perbuatan yang banyak dilakukan oleh para pengagung kuburan. Hal ini mereka lakukan disertai keyakinan tertentu seperti bahwa tempat tersebut memiliki barakah terlebih kuburan para nabi dan wali. Dan berkeyakinan akan mendatangkan kekhusyu’an dan cepat untuk terkabulkan. Adanya kepercayaan-kepercayaan seperti ini telah banyak mengundang kaum muslimin untuk berdoa di sisi kuburan. Tentu perbuatan ini adalah batil karena menentukan tempat peribadatan yang tidak pernah ditentukan oleh syariat termasuk dalam sebutan mengada-ada (bid’ah). Begitu juga para shahabat Nabi tidak pernah melakukan hal demikian di sisi kubur imam para nabi dan rasul yaitu kuburan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذاَ ماَ لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami yang tidak pernah datang dalam urusan tersebut maka hal itu tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha)
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka ia tertolak.” (HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمَتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)
Al-Imam Malik rahimahullah menyatakan sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Ibnu Majisyun: “Barangsiapa yang mengada-ada di dalam Islam sebuah kebid’ahan dan dia menganggap hal itu sebagai sebuah kebaikan, maka sungguh dia telah menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian,” maka segala sesuatu yang di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bukan sebagai agama, pada hari ini juga bukan sebagai agama.” (Al-I’tisham, 1/49)
Berbeda dengan berdoa untuk orang yang meninggal, maka perbuatan ini ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sengaja Berdoa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan Perantara Penghuni Kuburan
Perbuatan ini di dalam agama dinamakan tawassul. Istilah tawassul adalah istilah yang masyhur di kalangan kaum muslimin dan istilah ini telah mengindonesia. Tawassul memiliki makna: Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Para ulama telah membagi tawassul dalam dua bentuk dan kedua bentuk tersebut memiliki bagian-bagian yang banyak.
Pertama: Tawassul yang disyariatkan1
Kedua: Tawassul yang tidak disyariatkan
Tawassul yang disyariatkan jelas nash-nashnya di dalam Al-Quran seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجاَهَدُوا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapatkan keberuntungan.” (Al-Maidah: 35)
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخاَفُوْنَ عَذاَبَهُ إِنَّ عَذاَبَ رَبِّكَ كاَنَ مَحْذُوْراً
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya, sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang harus ditakuti.” (Al-Isra: 57)
Lalu, bertawassul dengan orang yang meninggal termasuk dalam bagian yang mana?
Untuk menjawab pertanyaan ini harus ditinjau dari beberapa sisi.
Pertama: Segala akibat ada sebabnya. Yang menciptakan dan menentukan sebab akibat adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menjadikan suatu sebab yang tidak dijadikan sebab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam syariat termasuk syirik kecil. Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai sebab dan perantara yang akan menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala termasuk di dalam bab ini. Berdasarkan sisi ini berarti perbuatan tawasul dengan orang yang telah mati termasuk dari syirik kecil.
Kedua: Jika perbuatan ini benar, niscaya tidak akan ditinggal oleh para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kuburan imam para Rasul yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka tentu akan berlomba-lomba untuk melakukannya dan tentu akan teriwayatkan dari mereka setelah itu. Berdasarkan sisi ini jelas bahwa perbuatan ini diada-adakan, termasuk perkara baru dan merupakan satu kebid’ahan di dalam agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha)
(Lihat Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Fauzan, At-Tawassul hukumnya dan pembahasannya dari kumpulan-kumpulan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)
(Jika tawassul itu sampai meminta-minta kepada ahli kubur itu sendiri, maka ini termasuk syirik besar sebagaimana pembahasan berikut -red)
Berdoa Kepada Penghuni Kuburan
Perbuatan ini termasuk dari syirik besar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan pelakunya mendapat ancaman-ancaman yang pedih dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَساَجِدَ ِللهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَداً
“Dan bahwa masjid-masjid itu milik Allah maka janganlah kalian berdoa kepada seorangpun bersama Allah.” (Al-Jin: 18)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menerangkan ayat ini: “Tidak doa ibadah ataupun doa masalah (yakni tidak boleh berdoa kepada selain Allah baik doa ibadah maupun doa masalah), karena masjid-masjid yang merupakan tempat yang paling mulia untuk beribadah harus dibangun di atas keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketundukan kepada keagungan-Nya dan tenteram dengan kemuliaan-Nya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 990)
Di antara ancaman-ancaman yang pedih itu ialah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ ماَ دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ ماَّ كاَنُوا يَعْمَلُوْنَ
“Dan jika mereka menyekutukan Allah niscaya akan terlepas dari mereka apa-apa yang mereka telah kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ الناَّرَ
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dia akan masuk ke dalam jannah dan barangsiapa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan Allah, dia masuk ke dalam an-nar.” (HR. Muslim no. 93 dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma)
Sengaja Berdoa Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan Perantara Penghuni Kuburan
Perbuatan ini di dalam agama dinamakan tawassul. Istilah tawassul adalah istilah yang masyhur di kalangan kaum muslimin dan istilah ini telah mengindonesia. Tawassul memiliki makna: Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Para ulama telah membagi tawassul dalam dua bentuk dan kedua bentuk tersebut memiliki bagian-bagian yang banyak.
Pertama: Tawassul yang disyariatkan1
Kedua: Tawassul yang tidak disyariatkan
Tawassul yang disyariatkan jelas nash-nashnya di dalam Al-Quran seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجاَهَدُوا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapatkan keberuntungan.” (Al-Maidah: 35)
أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخاَفُوْنَ عَذاَبَهُ إِنَّ عَذاَبَ رَبِّكَ كاَنَ مَحْذُوْراً
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya, sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang harus ditakuti.” (Al-Isra: 57)
Lalu, bertawassul dengan orang yang meninggal termasuk dalam bagian yang mana?
Untuk menjawab pertanyaan ini harus ditinjau dari beberapa sisi.
Pertama: Segala akibat ada sebabnya. Yang menciptakan dan menentukan sebab akibat adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menjadikan suatu sebab yang tidak dijadikan sebab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam syariat termasuk syirik kecil. Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai sebab dan perantara yang akan menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala termasuk di dalam bab ini. Berdasarkan sisi ini berarti perbuatan tawasul dengan orang yang telah mati termasuk dari syirik kecil.
Kedua: Jika perbuatan ini benar, niscaya tidak akan ditinggal oleh para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kuburan imam para Rasul yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka tentu akan berlomba-lomba untuk melakukannya dan tentu akan teriwayatkan dari mereka setelah itu. Berdasarkan sisi ini jelas bahwa perbuatan ini diada-adakan, termasuk perkara baru dan merupakan satu kebid’ahan di dalam agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha)
(Lihat Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Fauzan, At-Tawassul hukumnya dan pembahasannya dari kumpulan-kumpulan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)
(Jika tawassul itu sampai meminta-minta kepada ahli kubur itu sendiri, maka ini termasuk syirik besar sebagaimana pembahasan berikut -red)
Berdoa Kepada Penghuni Kuburan
Perbuatan ini termasuk dari syirik besar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan pelakunya mendapat ancaman-ancaman yang pedih dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَساَجِدَ ِللهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَداً
“Dan bahwa masjid-masjid itu milik Allah maka janganlah kalian berdoa kepada seorangpun bersama Allah.” (Al-Jin: 18)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menerangkan ayat ini: “Tidak doa ibadah ataupun doa masalah (yakni tidak boleh berdoa kepada selain Allah baik doa ibadah maupun doa masalah), karena masjid-masjid yang merupakan tempat yang paling mulia untuk beribadah harus dibangun di atas keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketundukan kepada keagungan-Nya dan tenteram dengan kemuliaan-Nya.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 990)
Di antara ancaman-ancaman yang pedih itu ialah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ ماَ دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ ماَّ كاَنُوا يَعْمَلُوْنَ
“Dan jika mereka menyekutukan Allah niscaya akan terlepas dari mereka apa-apa yang mereka telah kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ الناَّرَ
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dia akan masuk ke dalam jannah dan barangsiapa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan Allah, dia masuk ke dalam an-nar.” (HR. Muslim no. 93 dari shahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma)
Rabu, 05 Mei 2010
MENCARI MUKA, MENEBAR SORGA
Sayup-sayup tawa berwibawa
Menelanjangi telinga
Tubuh separuh warna pun berkelebat
Menyusuri hati yang lagi merindu
Anggukan jabatan pun ia rengkuh
Anggukan uang ia belai
Siang-malam tak ada lelah
Menyusuri wajah-wajah yang punya kuasa
Membelai ucap dengan seribu kata dan janji
Menganggukkan rasa demi pundak yang semakin tinggi
Para pencari muka di sini dan di sana
Berkelebat
Ikhlas pun berupah warna
Bahkan menjadi hitam kelam
Yang ada hanya tipu, tipu kata dan tubuh berlakon malaikat
Yang sebenarnya adalah syaitan yang terus di laknat
Pencari muka
Yang suatu saat muka yang kau cari menjadi laknat
Dan hilang ditikam kiamat
Pencari muka
Sadarlah.......
Bahka mukamu, suatu saat akan dipertanggung jawabkan
Dihadapa muka yang sebenarnya.
Pencari muka
Carilah muka yang tidak pernah lapuk
Dan itu tempat mencari muka yang sebenarnya
Ketika muka-muka hancur
Muka-Nya abadi dan memberikan kesejukan.
Dan dihadapan Muka-nya kecintaan dan rahmat selalu mengalir.
Dan ingatlah,
mencari muka selain mukanya
hanya menambah kesengsaraan dan petaka
Bahkan kehancuran
Menelanjangi telinga
Tubuh separuh warna pun berkelebat
Menyusuri hati yang lagi merindu
Anggukan jabatan pun ia rengkuh
Anggukan uang ia belai
Siang-malam tak ada lelah
Menyusuri wajah-wajah yang punya kuasa
Membelai ucap dengan seribu kata dan janji
Menganggukkan rasa demi pundak yang semakin tinggi
Para pencari muka di sini dan di sana
Berkelebat
Ikhlas pun berupah warna
Bahkan menjadi hitam kelam
Yang ada hanya tipu, tipu kata dan tubuh berlakon malaikat
Yang sebenarnya adalah syaitan yang terus di laknat
Pencari muka
Yang suatu saat muka yang kau cari menjadi laknat
Dan hilang ditikam kiamat
Pencari muka
Sadarlah.......
Bahka mukamu, suatu saat akan dipertanggung jawabkan
Dihadapa muka yang sebenarnya.
Pencari muka
Carilah muka yang tidak pernah lapuk
Dan itu tempat mencari muka yang sebenarnya
Ketika muka-muka hancur
Muka-Nya abadi dan memberikan kesejukan.
Dan dihadapan Muka-nya kecintaan dan rahmat selalu mengalir.
Dan ingatlah,
mencari muka selain mukanya
hanya menambah kesengsaraan dan petaka
Bahkan kehancuran
AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR
Oleh: Fadhilatus Syaikh Dr. Khalid bin Utsman as-Sabt –hafidzahullah-
Alih Bahasa: Team al-Inshof
Pembaca budiman, disebabkan akhlak dan perangai terpuji begitu tinggi kedudukannya di mata Allah Ta’ala dan umat secara umum, terlebih bagi mereka yang mengusung misi dakwah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, maka kami tergerak mengalih-bahasakan sebuah muhadharah (ceramah) ilmiyah yang sangat bermanfaat, diketengahkan oleh salah seorang ulama tafsir terpandang di kota Dammam Fadhilatus Syaikh Dr. Khalid bin Utsman as-Sabt –hafidzahullah-, yang berjudul “Akhlaq al-Kibar”. Dan dikarenakan terjemahan ini berpijak pada audio, maka kami mohon maaf sebelumnya jika gaya bahasa yang digunakan tidak keluar seratus persen dari gaya bahasa ceramah. Semoga kita sekalian dapat memetik hikmah dan pelajaran dari ceramah berharga ini.
Segala puji hanya bagi Allah Rabb Seru Sekalian Alam, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah bagi penghulu para Nabi dan Rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa salam, amma ba’du.
Ayyuhal Ikhwah, tema kajian ini berkaitan dengan akhlaaqul kibar. Yang kami maksudkan kibar di sini bukan orang yang berumur kibar (tua), namun maksudnya adalah, ashaab an-nufuus al-kabiirah, atau “orang yang memiliki jiwa besar“. Mereka itulah sang pemilik akhlak yang tinggi dan mencampakkan akhlak-akhlak rendah serta perkara-perkara hina. Termasuk pula dalam hal ini, kalangan para ulama, du’at dan kaum muslimin secara umum.
Maksud akhlaqul kibar di sini adalah orang yang berjiwa besar, bukan yang berjiwa kerdil dimana senang jika dipuji dan marah bila dicela. Memutuskan hubungan dengan orang hanya karena tidak senang, tersinggung, atau kerena jengkel dan marah. Atau, menjalin silaturahmi atas landasan senang dengan orang-orang tertentu dan memutuskan hubungan silatuhrahmi atas dasar karena tidak senang atau karena sebab-sebab lainnya. Orang yang berakhlak kibar adalah orang yang tidak memusuhi hanya karena orang lain itu melontarkan kritik atau mengejek dirinya.
Sang pemilik akhlak kibar, bukan pula berarti orang yang memiliki jabatan-jabatan tinggi. Dalam bahasa Arab, “kibar“, bisa berarti tua dan bisa berarti tinggi jabatannya. Jadi orang yang berjiwa besar adalah orang yang menyikapi sesuatu untuk satu kepentingan besar, kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, serta bukan atas dasar kepentingan pribadi. Orang-orang seperti inilah yang lebih pantas kita sebut dan sebarkan kisah heroik mereka, agar menjadi pelajaran bagi kita.
Kita sangat butuh materi penyegar seperti ini, lantaran cakupan persoalan yang begitu penting. Sebab kita saksikan berapa banyak khitbah (proses melamar seorang wanita) dibatalkan, berapa banyak jalinan cinta berubah menjadi permusuhan, dan berapa banyak hubungan kerjasama dalam urusan duniawi maupun ukhrawi (dakwah) bubar, hanya karena sikap orang-orang yang berjiwa kerdil. Tidak rela bila ada atau muncul kekurangan orang lain terhadap dirinya. Dan apabila hal itu terjadi, maka hubungan itu otomatis putus, tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah diperoleh, tidak mengingat lagi kebersamaan yang pernah dijalin apik pada waktu silam. Semua itu menjelma menjadi permusuhan dan kebencian, lantaran kesalahan dan kekurangan dari orang lain terhadap dirinya. Lalu dia menjadi sosok yang mudah membenci, mencela, dan berbuat hal-hal kurang (terpuji) pada dirinya. Seluruh perbuatan diukur melalui timbangan hawa nafsu. Bila menyenangkan dirinya ia senangi namun bila menjengkelkan, dia benci. Sikap seperti ini lahir karena ada orang-orang yang lebih memilih asal penciptaannya, yaitu tanah. Sebab manusia itu diciptakan dari dua unsur yaitu tanah dan ruh. Dan kita tahu, bahwa tanah berada di bawah. Orang-orang yang berjiwa kerdil mengukur segala sesuatu melalui hal-hal hina, dan itu kembali ke asal penciptaanya tadi yaitu tanah. Maka nampaklah dari dirinya akhlak yang rendah dan hina pula. Beda halnya dengan orang-orang mulia. Dimana mereka mengukur sesuatu melalui hal-hal yang tinggi dan mulia. Dan itulah sifat kedua dari penciptaan manusia, yaitu ruh.
Orang yang berjiwa besar adalah mereka yang berusaha mengurai simpul-simpul yang melingkupi jiwanya. Tidak memandang seluruh (perkaranya) dengan takaran hawa nafsunya. Dan tatkala dia sanggup melerai simpul-simpul tersebut, maka dia masuk dalam tingkatan lebih tinggi, yaitu orang yang bisa melepaskan diri dari semua keinginan hawa nafsunya. Dia bisa berhubungan dengan orang, siap menerima kesalahan, kekurangan, dan kelemahan yang muncul dari diri orang lain. Orang yang ingin merengkuh derajat tinggi, tidak mungkin sanggup merengkuhnya tanpa modal jiwa yang tinggi dan akhlak seperti telah disinggung.
Ayyuhal Ihkwan, kala berbicara tentang tema ini, kita tidak mengarahkan pada orang lain. Sebab sasaran utama adalah diri kita pribadi dan kemudian para hadirin sekalian. Jangan sampai kita berpikir bahwa “tema ini untuk si fulan yang akhlaknya masih kurang, atau si fulan yang akhlaknya tidak seperti ini”. Jangan kita bayangkan seperti itu, yakni tema ini ditujukan pada sekelompok orang tertentu. Yang perlu dilakukan adalah menghadirkan diri dan hati kita untuk mencerna dan menerima materi ini. Jadilah orang yang berfikir. Hadir dengan hati dan kemudian mendulang manfaat dan hikmah darinya. Perbaharui hidup anda, tingkatkan akhlak anda, kemudian berubahlah. Lalu kembali dengan wajah berubah, suasana dan akhlak yang berbeda pula.
Materi ini diarahkan pada seluruh kalangan baik ulama, du’at, thulabul ilmi dan mereka yang memangku jabatan, baik jabatan tinggi atau-pun rendah. Juga ditujukan kepada para bapak, ibu, para pendidik dan pengajar serta orang awam pada umumnya. Demikian pula ditujukan kepada semua yang ingin mencari kesempurnaan. Mungkin diantara kita tidak rela disifati dengan sifat kerdil, hidup dalam cara berfikir sempit, hati sempit, dan jiwa yang sempit pula. Semua orang sepakat, bahwa materi kajian ini adalah sesuatu yang baik, terpuji dan mulia dimana semua jiwa pasti merindukannya.
Seandainya dakwah Rasul -shallallahu alaihi wasallam-, hanya bertujuan pada (perbaikan) akhlak saja, tentu orang-orang akan menyambut dakwahnya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, “Kalaulah dakwah ini hanya tertuju pada (perbaikan) akhlak, sebagaimana jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdakwah hanya pada masalah (perbaikan) akhlak tanpa membahas kemusyrikan dan tauhid, tentu orang-orang pasti akan mengikuti dakwahnya”.
Dalam tataran teori semua sepakat, namun pada prakteknya akan nampak sendiri hakikat sebenarnya. Semua orang dapat dengan fasih berbicara tentang akhlak yang baik, tapi dalam kenyataannya akan terlihat aslinya. Yang penting bukan orang menganggap baik, kemudian senang mendengarkan akhlak yang baik, tapi yang paling utama adalah perubahan, dan ada akhlak yang berubah. Orang yang halus lembut bukan orang yang lembut saat senang saja, tapi juga pada saat marah. Yang namanya akhlak, bukan hanya dapat tersenyum kepada saudara kita saat bersama teman-teman, bersama orang-orang yang duduk di majlis, tetapi akhlak adalah yang dapat kita bawa dalam setiap keadaan dan pada setiap tempat.
Ayyuhal Ikhwan, Allah Ta’ala menyifati Dzat-Nya dengan sifat al ‘afuu (Yang Maha Mengampuni). Sifat ini adalah salah satu sifat yang sangat agung dan mulia. Maksud sifat Allah al ‘afuu adalah Allah membiarkan hamba-Nya, mengampuni mereka yang berbuat kesalahan dan tidak menimpakan adzab atasnya secara spontan kala mereka durhaka pada-Nya. Kita memohon pada Allah agar menaungi kita dengan segala ampunan dan kemurahan-Nya.
Ayyuhal Ikhwan, ketika mendengar beberapa sifat ini, mungkin yang manjadi pertanyaan dalam diri adalah apakah kita memiliki sifat-sifat tersebut? Atau kita termasuk orang yang ketika melihat hal ini ternyata akhlak tersebut tidak banyak melekat dalam diri hingga ketika berurusan dengan orang lain, kita sampai bertikai dan membuat hitung-hitungan dengan mereka.
Banyak diantara kita yang rancu membedakan antara membela diri sendiri (al-intishar ‘ala an-nafs) dan membela agama. Kadang balas dendam kepada orang lain dikamuflasekan atas nama agama, aqidah dan keimanan. Namun pada hakikatnya dia hanya membela diri sendiri, dan untuk memuaskan hawa nafsunya, lalu merasa membela Allah Ta’ala. Ada juga yang kemudian mengatasnamakan ‘izzah (kemuliaan jiwa). Mungkin dia mau menunjukkan bahwa orang mukmin adalah orang yang memiliki ‘izzah, karena ‘izzah itu milik Allah Ta’ala, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Namun, dalam prakteknya, kadang dia membalas dendam dan tidak terima dengan semua ejekan atau hal-hal yang menjatuhkan harga dirinya, yang sebenarnya bukan atas nama kemuliaan sebagai seorang mukmin tapi karena dia tidak rela namanya disinggung kemudian diejek oleh orang lain.
Banyak orang rancu atau mencampuradukkan antara sikap mempertahankan diri sendiri serta hawa nafsunya dan mempertahankan agama, juga kemuliaan sebagai seorang mukmin atau kemuliaan pribadinya. Hingga apabila marah dan membalas, dia menyangka hal ini dalam rangka mempertahankan jati diri-nya sebagai seorang mukmin. Padahal sebenarnya dia mempertahankan hawa nafsunya, lalu mengais-ngais pembenaran melalui firman Allah Azza Wa Jalla,
وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنتَصِرُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (Qs: As-Syura : 39).
Padahal sudah ma’lum, bahwa ayat ini dan ayat-ayat lain yang semisal, menjelaskan tentang keutamaan sikap ‘afuu, sikap pemaaf kepada orang yang menyakiti dan merendahkan diri kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat setia“.(Qs: Fushilat : 34).
Dan tiada yang sangup atau diberikan sifat tersebut kecuali orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Qs: Fushilat : 35).
Akan tetapi, datang-lah setan mendorongnya untuk membela dirinya dan beranggapan jika tidak dilakukan pembelaan ini, ia akan dianggap lemah, manusia akan mencelanya dengan mengatakan dirinya “lemah” atau “kurang”. Padahal Allah Jalla Wa ‘Ala berfirman,
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(Qs: Fushilat : 36).
Berapa banyak orang-orang lupa, bahwa Allah Ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat ini serta memberi pujian bagi orang-orang yang mau melakukannya.
Ayyuhal Ikhwan, banyak sekali contoh dari sikap salufus shalih yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat ‘afuu ( memaafkan). Di sini kami tidak banyak gunakan sebagai contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, lantaran beberapa sebab.
Pertama, karena akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah akhlak Al-Quran, sebagai mana disampaikan Ummul Mu’minin A’isyah radhiallahu anha, “Sungguh akhlak beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) adalah al-Quran.” Karena akhlak beliau adalah Al-Quran, maka jelas kita meyakini bahwa dari sisi akhlak beliau-lah yang paling mulia, paling lapang dada dan berjiwa besar.
Kedua, agar orang tidak beralasan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dapat bersifat lapang dada, berjiwa besar dan mudah memaafkan karena beliau adalah rasul, maksum dan telah disucikan oleh Allah Ta’ala. Beliau telah disucikan dari bagian setan, dibersihkan dadanya dari bagian-bagian setan pada masa kecil dan saat isra’ dan mi’raj. Dimana hal ini kemudian dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan salahnya. Olehnya, kami mengangkat contoh dari kehidupan para salafus shalih agar orang tidak beralasan dengan alasan-alasan tersebut di atas. Dan agar kita dapat menakar seberapa jauh akhlak kita dibanding akhlak mereka. Yang paling penting adalah, kita mau merubah akhlak dan tidak perlu melihat contohnya dari siapapun. Artinya, kendati contohnya bukan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang utama di sini adalah upaya untuk memperbaiki akhlak kita.
Ayyuhal ikhwan, cobalah uji bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda dengan kita, yakni berbeda dalam aqidah dan manhaj. Apakah sikap setiap kita seperti dicontohkan para salafus shalih atau tidak? Sekarang kita lihat orang yang tidak memiliki keimanan sama sekali, maka sebagimana keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah kita tidak boleh memberikan wala’ sedikitpun kepada orang tersebut.
لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al Mujaadilah:22).
Berbeda dengan orang yang pada dirinya masih terdapat amal shalih dan amal sayyi’ (amal yang tidak baik), terkumpul padanya syubhat, bid’ah, kesesatan atau syahwat, serta kebaikan dan maksiat, maka wala’ dan baro’ kita terbagi, tidak diberi al-wala’ seratus persen, dan tidak pula diarahkan padanya al-baro’ seratus persen. Sebab aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini jelas, bahwa kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan dan ittiba’-nya pada sunnah, dan kita benci pada orang yang sama sesuai kadar penyimpangannya dari syariat ini.
Inilah yang kadang menjadi rancu pada sebagian orang ketika bermuamalah dengan orang lain yang berbeda. Seharusnya diberikan sikap yang menjadi ciri aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah terhadap orang yang dalam dirinya ada keimanan dan maksiat, keimanan dan bid’ah, keimanan dan syubhat, maka wala’ kita tidak diberikan seratus persen dan tidak juga ditinggalkan keseluruhannya. Yang diarahkan padanya wala’ secara sempurna hanyanya kepada orang yang beriman dengan sempurna. Adapun terhadap orang yang beriman namun masih tercampur amal shaleh dan amal buruk, masih ada dalam dirinya bid’ah maka wala’ kita tidak diberikan seratus persen. Kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan dan ittiba’-nya terhadap sunnah, dan membenci sesuai kadar penyimpangannya dari sunnah. Sayangnya, inilah yang digunakan sebagai alasan oleh orang untuk membela dirinya dengan mengatasnamakan dien, agama, dan sunnah.
Bercerminlah pada diri Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, Imam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Beliau dirantai dan disiksa dari satu penjara ke penjara lain. Didera pada siang hari di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Dijebloskan dalam penjara sementara darah segar masih menetes dari tubuhnya. Semua ini terjadi saat fitnah khalqil Quran (para ahlu bid’ah dan penguasa memaksa Imam Ahmad mengatakan “al-Quran itu makhluk”, padahal al-Quran bukan makhluk akan tetapi Firman Allah). Kita perhatikan, ketika beliau marah, marahnya bukan untuk membalas. Beliau marah bukan untuk hawa nafsunya, akan tetapi marahnya karena Allah Ta’ala. Makanya tidak berat beliau mengatakan ”Semua yang pernah membicarakan-ku maka mereka semua halal dan aku maafkan. Dan aku-pun memaafkan Abu Ishaq (Raja Mu’tashim yang telah memenjarakan dan menyiksanya dengan siksaan berat).” Dan kemudian beliau mengatakan “Aku maafkan Abu Ishaq, sebab aku melihat firman Allah Ta’ala:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An Nuur: 22).
Tidakkah kita melihat, Allah Ta’ala maha pengampun lagi maha pemurah. Jadi, ini menunjukkan bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar radhiallahu anhu untuk memberi maaf sebagaimana dalam kisah tuduhan palsu pada diri ‘Aisyah radhiallahu anha, yang oleh kaum munafiqin difitnah telah melakukan perbuatan zina dengan salah seorang shahabat.
Apa manfaatnya bagi diri kita jika seandainya Allah Ta’ala mengadzab seseorang hanya untuk kepentingan kita? Atau untuk memuaskan hawa nafsu dan membalas dendam kita?
Imam Ahmad rahimahullah telah disiksa dan diperlakukan secara zalim. Namun beliau tidak pernah membuka lagi catatan-catatan masa lalu saat ketika disiksa, tidak ingin mengingat orang-orang yang dahulu pernah terlibat dalam penyiksaan beliau, serta tidak pernah mengungkit-ungkit lagi bahwa “si fulan yang dulu mengejek saya, si fulan yang dulu begini dan begitu”. Beliau tidak membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut, bahkan menghamparkan pintu maaf yang seluas-luasnya bagi semua orang-orang tersebut.
Contoh lain yang sangat mulia adalah perkara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang divonis kafir dan difatwakan bahwa darahnya halal oleh para ulama di zamannya. Beliau dicampakkan dari satu penjara ke penjara lain kemudian disiksa dari waktu ke waktu. Namun setelah beliau bebas, beberapa ahlu bid’ah dan orang-orang yang ingin membela beliau datang memohon maaf pada beliau.
Salah satu musuh utama beliau adalah seorang ulama Madzhab Maliki yang bernama Ibnu Makhluf. Ia wafat pada masa Ibnu Taimiyah. Salah satu murid Ibnu Taimiyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengetahui prihal kematian Ibnu Makhluf, lalu bersegera menemui Ibnu Taimiyah dan menyampaikan kabar gembira ini. Akan tetapi, lihatlah reaksi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kala menyaksikan muridnya memberitahukan kematian musuh besarnya, kita lihat apakah beliau sujud syukur? Apakah beliau mengatakan ‘Alhamdulillah‘ maha suci Allah yang telah menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya’? Tidak, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang. Syaikhul Islam terhadap musuh besarnya, Ibnu Makhluf saat meninggal beliau tidak sujud syukur, tidak pula mengucapkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kebenciannya. Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang. Begitu bencinya kepada seseorang sehingga ketika mendengar kabar kematian orang yang dibencinya, ia mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim.
Bahkan Syaikhul Islam menghardik Ibnul Qoyyim kemudian mengingkari perbuatannya karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh besar beliau, lantas beliau mengucapkan kalimat istirja’, “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un”, dan bersegera mengunjungi rumah Ibnu Makhluf, berta’ziah dan kemudian mengatakan kepada keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf, “Sungguh saat ini status saya seperti bapak bagi kalian. Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.” Akhirnya mereka, keluarga Ibnu Makhluf, senang dan menghadiahkan doa bagi Syaikhul Islam.
Perhatikan keadaan musuh besar beliau. Dan kita tahu, kalau seorang itu musuh besar Ibnu Taimiyah, pasti orang ini aqidah-nya bermasalah. Namun ketika meningggal dunia, Syaikhul Islam mendatangi rumahnya dan menyampaikan bahwa mulai hari ini semua kebutuhan keluarganya menjadi tanggungan Syaikhul Islam. Pertanyaannya, siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti ini?! Siapa diantara kita yang ketika musuhnya meninggal lalu mendatangi keluarganya, mendatangi anak-anaknya kemudian berta’ziah kepada mereka? Siapa diantara kita yang bisa sampai mengatakan, bahwa tidak ada keperluan yang kalian butuhkan melainkan aku akan penuhi kebutuhan tersebut? Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti itu?! Hanya orang-orang yang berjiwa besar. Bahkan kalau kita mau jujur, tidak hanya itu, bahkan kepada teman dekat pun kita belum bisa berbuat seperti itu apalagi terhadap musuh.
Sekarang kalau kita mau jujur pula, jangankan musuh kepada teman kita saja tidak seperti itu. Ini bukti bahwa ukhuwah kita buruk sekali. Kalau teman kita ada yang terkena musibah seperti itu, diantara kita siapa yang dapat berlaku dan berbuat seperti itu? Ada teman yang keluarganya meninggal, maka saksikanlah, adakah diantara kita yang datang kepada keluarganya dan mengatakan “saya akan memenuhi kebutuhan kalian”.
Yah, Syaikhul Islam rahimahullah mendatangi orang yang telah menfatwakan dirinya telah kafir. Ini bukti bahwa orang itu sangat amat mememusuhi Syaikhul Islam. Jika kita katakan dia ahli bid’ah, tentu sifat-sifat ini ada pada diri Ibnu Makhluf. Akan tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah bersikap lebih besar dari itu, dan ini sekali lagi menunjukkan bahwa beliau bukan seorang yang berjiwa kerdil.
Ayyuhal Ikhwan, seandainya perangai kita seperti akhlak ini, tentu kita dapat lebih banyak meraih hati orang. Tetapi kadang kita memperlakukan mereka (orang yang berbeda dengan kita atau orang yang menyakiti kita) seperti dalam ayat-ayat yang Allah tegaskan, bahwa ia ditujukan kepada kaum munafiqin. Yakni, tidak boleh istigfar (memohonkan ampunan) untuk mereka, tidak boleh menyolatkan mereka, tidak boleh (ikut) menguburkan mereka dan selainnya. Celakanya, hukum-hukum ini kita aplikasikan kepada orang yang kami sebutkan (dan masih berstatus sebagai seorang mukmin).
Yah, kadang kita bermuamalah pada sebagian kaum muslimin dengan model muamalah seperti disebutkan dalam al-Qur’an, yakni muamalah dengan orang munafiqin. Kita menjadi orang-orang yang asyida’ alal Mu’minin, [orang yang sangat keras kepada orang mukmin]. Kita menjadi orang-orang yang keras kepada ahlu iman padahal Allah Ta’ala menyifati orang-orang mukmin dan para shahabat yang bersana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai orang-orang yang Asyida’ ‘alal kuffar ruhamaa’u bainahum [keras terhadap kaum kuffar dan saling berkasih sayang di antara mereka (kaum mukminin)]. Sayangnya, kita kemudian menjadi orang yang terbalik. Kepada orang-orang yang beriman kasarnya luar biasa, namun kepada orang-orang kafir tidak ada sikap keras (sebagai bentuk ‘izzah).
Perhatikahn, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah mencapai kesempurnaan dan kemuliaan akhlak masih saja diperintahkan oleh Allah Ta’ala bersikap lemah lembut, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ
“Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai pelajaran bagi beliau dan selainnya. Jika saja Rasul berbuat kasar tentu orang akan lari darinya, maka bagaimana dengan yang bukan rasul. Padahal Rasul mendapat banyak dukungan untuk kemudian diterima dakwahnya, beliau mendapat wahyu, ma’sum, memiliki akhlak yang mulia, dan sebagiainya. Dan disamping itu semua, tetap saja masih diperintahkan bersikap lemah lembut, hingga Allah Ta’ala tegaskan:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَ اسْتَغْفِرْ الَهُمْ وَ شَاوِرُهُمْ فِي الْآَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal duniawiah yang lain). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah (QS. Al Imran : 159).
Sekarang mari kita tengok contoh ketiga, yakni dari diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat bermuamalah dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay terkenal sebagai tokoh kaum munafiqin di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu, bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, sebagaimana ditunjukkan oleh sikapnya terhadap Islam. Saat perang Muraysi’ pecah, dia mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad dan para shahabatnya adalah seperti kata pepatah, “beri makan terus anjingmu, nanti kalau sudah besar ia akan memangsamu.” Artinya, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shabatnya kita beri kesempatan, mereka akan menindas kita. Ini kata Abdullah bin Ubay dan orang-orang munafiq yang bersamanya. Ia juga mengatakan “jangan kalian infakkan apa yang ada ditangan kalian kepada orang-orang yang bersama Muhammad supaya mereka menjauh dari Muhammmad.” Demikianlah ucapan Abdullah bin Ubay, dan ini hanya sebagian dari sikap mereka (yang menyakitkan) terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar jangan diberikan apapun dan agar mereka tidak betah dan memutuskan keluar dari Madinah.
Coba kita perhatikan tatkala Abdullah bin Ubay meninggal, apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Beliau mendatangi kuburnya. Memberikan pakaian beliau kepada putranya, dan kemudian memberi kain untuk dijadikan kafan untuk Abdullah bin Ubay. Padahal orang ini ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, jelas-jelas orang munafiq, bahkan ditegaskan oleh nash, namun Rasulullah tetap datang ke kuburnya. Kemudian kita lihat ia bukanlah hanya sekedar orang munafiq, bahkan merupakan ra’sul munafiqin, tetapi masih diberikan kain kafan, didatangi kuburnya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memintakan ampun kepada Allah Ta’ala. Coba bayangkan, beliau mendatangi kuburnya dan memintakan ampun kepada Allah untuk imamnya orang-orang munafiq, hingga turun firman Allah yang melarang Rasul demikian.(memintakan ampunan). Disini dapat kita saksikan ketinggian jiwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memintakan ampun kepada orang yang selama ini menyakiti beliau. Kalau sendainya itu terjadi pada kita, mungkin kita akan mengatakan “mampus, biar sekalian mati!!”, akan tetapi, beliau memohonkan ampunan, baru setelah itu turun larangan memintakan ampun untuk orang-orang munafiq dan orang kafir,
إِنْ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ
“Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan merberi ampun kepada mereka (Qs: al-Taubah : 80).
Berkenaan dengan ayat ini, beliau bersabda: “Seandainya saya tahu, jika beristighfar lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, saya akan melakukan lebih dari tujuh puluh kali” atau sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam. Ini kepada imamnya orang-orang munafiq, seandainya beliau memintakan ampun lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, niscaya beliau akan melakukannya. Lihat akhlak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap imamnya orang-orang munafiq. Kepada orang yang sudah lama sekali mengganggu dan menyusahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta orang-orang yang bersama beliau. Orang inilah yang telah membuat tuduhan palsu kepada ‘Aisyah radhiallahu anha, dia juga yang mencemarkan kehormatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sekali lagi, bercerminlah pada sosok mulia seperti ini, beliau masih mau mendatangi kuburnya, lalu memberikan kain kafan seraya memintakan ampun kepada Allah Ta’ala. Siapa diantara kita yang bisa berjiwa besar seperti ini?
Jangan difahami bahwa kita ingin mengaburkan aqidah wala’ wal bara’ seperti yang telah kita sebutkan di atas. Harus dipahami aqidah wala’ wal bara’ mana yang dinamakan aqidah wala’ wal bara’ itu, bagaimana sikap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para Salafus Shalih berkaitan dengan orang-orang yang berbeda atau menyimpang. Harus dibedakan antara wala’ dan bara’ dengan hawa nafsu. Al wala’ wal bara’ jalas ada dalam hati kita. Sikap terhadap orang lain, kemudian hawa nafsu kita juga sesuatu yang lain, adalah dua hal yang harus dibedakan.
Seorang da’i tidak pantas memiliki sifat-sifat seperti ini (intishar ala an-nafsi dan keras terhadap sesama muslim). Kalau da’i seperti ini, kerusakan akan lebih besar daripada manfaat. Dimana ia mendoakan kejelekan bagi si fulan pada sepertiga malam terakhir, kemudian melaknat fulan, mencaci maki fulan dan menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mungkin memberikan ampun kepadanya. Orang semacam ini lebih pantas memperbaiki dirinya sendiri dahulu, baru kemudian memperbaiki orang lain. Karena bisa jadi, mafsadatnya jauh lebih besar daripada maslahatnya bagi orang lain (baca: ummat). Sebab dia sendiri belum berhasil memperbaiki diri dan jiwanya, hingga ketika dia memperbaiki orang lain tentu akan lebih berat. Karena kenyataannya, yang terjadi hanya bermasalah dengan si fulan, kemudian bermusuhan dan bertikai dengan orang lain dan seterusnya.
Saat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya, di dalam penjara dan bukan di rumah, beliau dicegat melakukan seluruh aktivitas hingga tidak diberikan pena untuk menulis. Walau demikian, beliau tetap menulis, memberi fatwa kepada kaum muslimin, hanya dengan mengunakan arang hingga akhirnya beliau dilarang menulis sama sekali. Segala aktivitasnya diawasi oleh Ahlu Bid’ah lalu disampaikan kepada penguasa.
Hingga suatu ketika sebagian ahlu bid’ah ini mendatangi Syaikhul Islam di dalam penjara, lalu memohon maaf kepada Syaikhul Islam, lantaran menjadi sebab Syaikul Islam dijebloskan dalam penjara. Maka lihatlah, ikhwah fillah, bagaimana jiwa besar beliau. Tenang beliau mengatakan: “Aku telah maafkan Anda, Aku juga sudah memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan saya”. Beliau memaafkan orang yang memasukkan beliau ke penjara, serta semua orang yang menjadi sebab beliau masuk penjara. Semoga bermanfaat. Bersambung….
Sumber: (http://www.alinshof.com/2010/01/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-i.html)
[Materi ini pernah disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi dalam kajian di Masjid Pogung Raya beberapa tahun silam. Namun karena panjangnya materi, maka dibagi dalam beberapa tulisan.]
Alih Bahasa: Team al-Inshof
Pembaca budiman, disebabkan akhlak dan perangai terpuji begitu tinggi kedudukannya di mata Allah Ta’ala dan umat secara umum, terlebih bagi mereka yang mengusung misi dakwah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, maka kami tergerak mengalih-bahasakan sebuah muhadharah (ceramah) ilmiyah yang sangat bermanfaat, diketengahkan oleh salah seorang ulama tafsir terpandang di kota Dammam Fadhilatus Syaikh Dr. Khalid bin Utsman as-Sabt –hafidzahullah-, yang berjudul “Akhlaq al-Kibar”. Dan dikarenakan terjemahan ini berpijak pada audio, maka kami mohon maaf sebelumnya jika gaya bahasa yang digunakan tidak keluar seratus persen dari gaya bahasa ceramah. Semoga kita sekalian dapat memetik hikmah dan pelajaran dari ceramah berharga ini.
Segala puji hanya bagi Allah Rabb Seru Sekalian Alam, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah bagi penghulu para Nabi dan Rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa salam, amma ba’du.
Ayyuhal Ikhwah, tema kajian ini berkaitan dengan akhlaaqul kibar. Yang kami maksudkan kibar di sini bukan orang yang berumur kibar (tua), namun maksudnya adalah, ashaab an-nufuus al-kabiirah, atau “orang yang memiliki jiwa besar“. Mereka itulah sang pemilik akhlak yang tinggi dan mencampakkan akhlak-akhlak rendah serta perkara-perkara hina. Termasuk pula dalam hal ini, kalangan para ulama, du’at dan kaum muslimin secara umum.
Maksud akhlaqul kibar di sini adalah orang yang berjiwa besar, bukan yang berjiwa kerdil dimana senang jika dipuji dan marah bila dicela. Memutuskan hubungan dengan orang hanya karena tidak senang, tersinggung, atau kerena jengkel dan marah. Atau, menjalin silaturahmi atas landasan senang dengan orang-orang tertentu dan memutuskan hubungan silatuhrahmi atas dasar karena tidak senang atau karena sebab-sebab lainnya. Orang yang berakhlak kibar adalah orang yang tidak memusuhi hanya karena orang lain itu melontarkan kritik atau mengejek dirinya.
Sang pemilik akhlak kibar, bukan pula berarti orang yang memiliki jabatan-jabatan tinggi. Dalam bahasa Arab, “kibar“, bisa berarti tua dan bisa berarti tinggi jabatannya. Jadi orang yang berjiwa besar adalah orang yang menyikapi sesuatu untuk satu kepentingan besar, kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, serta bukan atas dasar kepentingan pribadi. Orang-orang seperti inilah yang lebih pantas kita sebut dan sebarkan kisah heroik mereka, agar menjadi pelajaran bagi kita.
Kita sangat butuh materi penyegar seperti ini, lantaran cakupan persoalan yang begitu penting. Sebab kita saksikan berapa banyak khitbah (proses melamar seorang wanita) dibatalkan, berapa banyak jalinan cinta berubah menjadi permusuhan, dan berapa banyak hubungan kerjasama dalam urusan duniawi maupun ukhrawi (dakwah) bubar, hanya karena sikap orang-orang yang berjiwa kerdil. Tidak rela bila ada atau muncul kekurangan orang lain terhadap dirinya. Dan apabila hal itu terjadi, maka hubungan itu otomatis putus, tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah diperoleh, tidak mengingat lagi kebersamaan yang pernah dijalin apik pada waktu silam. Semua itu menjelma menjadi permusuhan dan kebencian, lantaran kesalahan dan kekurangan dari orang lain terhadap dirinya. Lalu dia menjadi sosok yang mudah membenci, mencela, dan berbuat hal-hal kurang (terpuji) pada dirinya. Seluruh perbuatan diukur melalui timbangan hawa nafsu. Bila menyenangkan dirinya ia senangi namun bila menjengkelkan, dia benci. Sikap seperti ini lahir karena ada orang-orang yang lebih memilih asal penciptaannya, yaitu tanah. Sebab manusia itu diciptakan dari dua unsur yaitu tanah dan ruh. Dan kita tahu, bahwa tanah berada di bawah. Orang-orang yang berjiwa kerdil mengukur segala sesuatu melalui hal-hal hina, dan itu kembali ke asal penciptaanya tadi yaitu tanah. Maka nampaklah dari dirinya akhlak yang rendah dan hina pula. Beda halnya dengan orang-orang mulia. Dimana mereka mengukur sesuatu melalui hal-hal yang tinggi dan mulia. Dan itulah sifat kedua dari penciptaan manusia, yaitu ruh.
Orang yang berjiwa besar adalah mereka yang berusaha mengurai simpul-simpul yang melingkupi jiwanya. Tidak memandang seluruh (perkaranya) dengan takaran hawa nafsunya. Dan tatkala dia sanggup melerai simpul-simpul tersebut, maka dia masuk dalam tingkatan lebih tinggi, yaitu orang yang bisa melepaskan diri dari semua keinginan hawa nafsunya. Dia bisa berhubungan dengan orang, siap menerima kesalahan, kekurangan, dan kelemahan yang muncul dari diri orang lain. Orang yang ingin merengkuh derajat tinggi, tidak mungkin sanggup merengkuhnya tanpa modal jiwa yang tinggi dan akhlak seperti telah disinggung.
Ayyuhal Ihkwan, kala berbicara tentang tema ini, kita tidak mengarahkan pada orang lain. Sebab sasaran utama adalah diri kita pribadi dan kemudian para hadirin sekalian. Jangan sampai kita berpikir bahwa “tema ini untuk si fulan yang akhlaknya masih kurang, atau si fulan yang akhlaknya tidak seperti ini”. Jangan kita bayangkan seperti itu, yakni tema ini ditujukan pada sekelompok orang tertentu. Yang perlu dilakukan adalah menghadirkan diri dan hati kita untuk mencerna dan menerima materi ini. Jadilah orang yang berfikir. Hadir dengan hati dan kemudian mendulang manfaat dan hikmah darinya. Perbaharui hidup anda, tingkatkan akhlak anda, kemudian berubahlah. Lalu kembali dengan wajah berubah, suasana dan akhlak yang berbeda pula.
Materi ini diarahkan pada seluruh kalangan baik ulama, du’at, thulabul ilmi dan mereka yang memangku jabatan, baik jabatan tinggi atau-pun rendah. Juga ditujukan kepada para bapak, ibu, para pendidik dan pengajar serta orang awam pada umumnya. Demikian pula ditujukan kepada semua yang ingin mencari kesempurnaan. Mungkin diantara kita tidak rela disifati dengan sifat kerdil, hidup dalam cara berfikir sempit, hati sempit, dan jiwa yang sempit pula. Semua orang sepakat, bahwa materi kajian ini adalah sesuatu yang baik, terpuji dan mulia dimana semua jiwa pasti merindukannya.
Seandainya dakwah Rasul -shallallahu alaihi wasallam-, hanya bertujuan pada (perbaikan) akhlak saja, tentu orang-orang akan menyambut dakwahnya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, “Kalaulah dakwah ini hanya tertuju pada (perbaikan) akhlak, sebagaimana jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdakwah hanya pada masalah (perbaikan) akhlak tanpa membahas kemusyrikan dan tauhid, tentu orang-orang pasti akan mengikuti dakwahnya”.
Dalam tataran teori semua sepakat, namun pada prakteknya akan nampak sendiri hakikat sebenarnya. Semua orang dapat dengan fasih berbicara tentang akhlak yang baik, tapi dalam kenyataannya akan terlihat aslinya. Yang penting bukan orang menganggap baik, kemudian senang mendengarkan akhlak yang baik, tapi yang paling utama adalah perubahan, dan ada akhlak yang berubah. Orang yang halus lembut bukan orang yang lembut saat senang saja, tapi juga pada saat marah. Yang namanya akhlak, bukan hanya dapat tersenyum kepada saudara kita saat bersama teman-teman, bersama orang-orang yang duduk di majlis, tetapi akhlak adalah yang dapat kita bawa dalam setiap keadaan dan pada setiap tempat.
Ayyuhal Ikhwan, Allah Ta’ala menyifati Dzat-Nya dengan sifat al ‘afuu (Yang Maha Mengampuni). Sifat ini adalah salah satu sifat yang sangat agung dan mulia. Maksud sifat Allah al ‘afuu adalah Allah membiarkan hamba-Nya, mengampuni mereka yang berbuat kesalahan dan tidak menimpakan adzab atasnya secara spontan kala mereka durhaka pada-Nya. Kita memohon pada Allah agar menaungi kita dengan segala ampunan dan kemurahan-Nya.
Ayyuhal Ikhwan, ketika mendengar beberapa sifat ini, mungkin yang manjadi pertanyaan dalam diri adalah apakah kita memiliki sifat-sifat tersebut? Atau kita termasuk orang yang ketika melihat hal ini ternyata akhlak tersebut tidak banyak melekat dalam diri hingga ketika berurusan dengan orang lain, kita sampai bertikai dan membuat hitung-hitungan dengan mereka.
Banyak diantara kita yang rancu membedakan antara membela diri sendiri (al-intishar ‘ala an-nafs) dan membela agama. Kadang balas dendam kepada orang lain dikamuflasekan atas nama agama, aqidah dan keimanan. Namun pada hakikatnya dia hanya membela diri sendiri, dan untuk memuaskan hawa nafsunya, lalu merasa membela Allah Ta’ala. Ada juga yang kemudian mengatasnamakan ‘izzah (kemuliaan jiwa). Mungkin dia mau menunjukkan bahwa orang mukmin adalah orang yang memiliki ‘izzah, karena ‘izzah itu milik Allah Ta’ala, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Namun, dalam prakteknya, kadang dia membalas dendam dan tidak terima dengan semua ejekan atau hal-hal yang menjatuhkan harga dirinya, yang sebenarnya bukan atas nama kemuliaan sebagai seorang mukmin tapi karena dia tidak rela namanya disinggung kemudian diejek oleh orang lain.
Banyak orang rancu atau mencampuradukkan antara sikap mempertahankan diri sendiri serta hawa nafsunya dan mempertahankan agama, juga kemuliaan sebagai seorang mukmin atau kemuliaan pribadinya. Hingga apabila marah dan membalas, dia menyangka hal ini dalam rangka mempertahankan jati diri-nya sebagai seorang mukmin. Padahal sebenarnya dia mempertahankan hawa nafsunya, lalu mengais-ngais pembenaran melalui firman Allah Azza Wa Jalla,
وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنتَصِرُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (Qs: As-Syura : 39).
Padahal sudah ma’lum, bahwa ayat ini dan ayat-ayat lain yang semisal, menjelaskan tentang keutamaan sikap ‘afuu, sikap pemaaf kepada orang yang menyakiti dan merendahkan diri kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat setia“.(Qs: Fushilat : 34).
Dan tiada yang sangup atau diberikan sifat tersebut kecuali orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Qs: Fushilat : 35).
Akan tetapi, datang-lah setan mendorongnya untuk membela dirinya dan beranggapan jika tidak dilakukan pembelaan ini, ia akan dianggap lemah, manusia akan mencelanya dengan mengatakan dirinya “lemah” atau “kurang”. Padahal Allah Jalla Wa ‘Ala berfirman,
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(Qs: Fushilat : 36).
Berapa banyak orang-orang lupa, bahwa Allah Ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat ini serta memberi pujian bagi orang-orang yang mau melakukannya.
Ayyuhal Ikhwan, banyak sekali contoh dari sikap salufus shalih yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat ‘afuu ( memaafkan). Di sini kami tidak banyak gunakan sebagai contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, lantaran beberapa sebab.
Pertama, karena akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah akhlak Al-Quran, sebagai mana disampaikan Ummul Mu’minin A’isyah radhiallahu anha, “Sungguh akhlak beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) adalah al-Quran.” Karena akhlak beliau adalah Al-Quran, maka jelas kita meyakini bahwa dari sisi akhlak beliau-lah yang paling mulia, paling lapang dada dan berjiwa besar.
Kedua, agar orang tidak beralasan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dapat bersifat lapang dada, berjiwa besar dan mudah memaafkan karena beliau adalah rasul, maksum dan telah disucikan oleh Allah Ta’ala. Beliau telah disucikan dari bagian setan, dibersihkan dadanya dari bagian-bagian setan pada masa kecil dan saat isra’ dan mi’raj. Dimana hal ini kemudian dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan salahnya. Olehnya, kami mengangkat contoh dari kehidupan para salafus shalih agar orang tidak beralasan dengan alasan-alasan tersebut di atas. Dan agar kita dapat menakar seberapa jauh akhlak kita dibanding akhlak mereka. Yang paling penting adalah, kita mau merubah akhlak dan tidak perlu melihat contohnya dari siapapun. Artinya, kendati contohnya bukan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang utama di sini adalah upaya untuk memperbaiki akhlak kita.
Ayyuhal ikhwan, cobalah uji bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda dengan kita, yakni berbeda dalam aqidah dan manhaj. Apakah sikap setiap kita seperti dicontohkan para salafus shalih atau tidak? Sekarang kita lihat orang yang tidak memiliki keimanan sama sekali, maka sebagimana keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah kita tidak boleh memberikan wala’ sedikitpun kepada orang tersebut.
لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al Mujaadilah:22).
Berbeda dengan orang yang pada dirinya masih terdapat amal shalih dan amal sayyi’ (amal yang tidak baik), terkumpul padanya syubhat, bid’ah, kesesatan atau syahwat, serta kebaikan dan maksiat, maka wala’ dan baro’ kita terbagi, tidak diberi al-wala’ seratus persen, dan tidak pula diarahkan padanya al-baro’ seratus persen. Sebab aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini jelas, bahwa kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan dan ittiba’-nya pada sunnah, dan kita benci pada orang yang sama sesuai kadar penyimpangannya dari syariat ini.
Inilah yang kadang menjadi rancu pada sebagian orang ketika bermuamalah dengan orang lain yang berbeda. Seharusnya diberikan sikap yang menjadi ciri aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah terhadap orang yang dalam dirinya ada keimanan dan maksiat, keimanan dan bid’ah, keimanan dan syubhat, maka wala’ kita tidak diberikan seratus persen dan tidak juga ditinggalkan keseluruhannya. Yang diarahkan padanya wala’ secara sempurna hanyanya kepada orang yang beriman dengan sempurna. Adapun terhadap orang yang beriman namun masih tercampur amal shaleh dan amal buruk, masih ada dalam dirinya bid’ah maka wala’ kita tidak diberikan seratus persen. Kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan dan ittiba’-nya terhadap sunnah, dan membenci sesuai kadar penyimpangannya dari sunnah. Sayangnya, inilah yang digunakan sebagai alasan oleh orang untuk membela dirinya dengan mengatasnamakan dien, agama, dan sunnah.
Bercerminlah pada diri Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, Imam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Beliau dirantai dan disiksa dari satu penjara ke penjara lain. Didera pada siang hari di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Dijebloskan dalam penjara sementara darah segar masih menetes dari tubuhnya. Semua ini terjadi saat fitnah khalqil Quran (para ahlu bid’ah dan penguasa memaksa Imam Ahmad mengatakan “al-Quran itu makhluk”, padahal al-Quran bukan makhluk akan tetapi Firman Allah). Kita perhatikan, ketika beliau marah, marahnya bukan untuk membalas. Beliau marah bukan untuk hawa nafsunya, akan tetapi marahnya karena Allah Ta’ala. Makanya tidak berat beliau mengatakan ”Semua yang pernah membicarakan-ku maka mereka semua halal dan aku maafkan. Dan aku-pun memaafkan Abu Ishaq (Raja Mu’tashim yang telah memenjarakan dan menyiksanya dengan siksaan berat).” Dan kemudian beliau mengatakan “Aku maafkan Abu Ishaq, sebab aku melihat firman Allah Ta’ala:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An Nuur: 22).
Tidakkah kita melihat, Allah Ta’ala maha pengampun lagi maha pemurah. Jadi, ini menunjukkan bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar radhiallahu anhu untuk memberi maaf sebagaimana dalam kisah tuduhan palsu pada diri ‘Aisyah radhiallahu anha, yang oleh kaum munafiqin difitnah telah melakukan perbuatan zina dengan salah seorang shahabat.
Apa manfaatnya bagi diri kita jika seandainya Allah Ta’ala mengadzab seseorang hanya untuk kepentingan kita? Atau untuk memuaskan hawa nafsu dan membalas dendam kita?
Imam Ahmad rahimahullah telah disiksa dan diperlakukan secara zalim. Namun beliau tidak pernah membuka lagi catatan-catatan masa lalu saat ketika disiksa, tidak ingin mengingat orang-orang yang dahulu pernah terlibat dalam penyiksaan beliau, serta tidak pernah mengungkit-ungkit lagi bahwa “si fulan yang dulu mengejek saya, si fulan yang dulu begini dan begitu”. Beliau tidak membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut, bahkan menghamparkan pintu maaf yang seluas-luasnya bagi semua orang-orang tersebut.
Contoh lain yang sangat mulia adalah perkara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang divonis kafir dan difatwakan bahwa darahnya halal oleh para ulama di zamannya. Beliau dicampakkan dari satu penjara ke penjara lain kemudian disiksa dari waktu ke waktu. Namun setelah beliau bebas, beberapa ahlu bid’ah dan orang-orang yang ingin membela beliau datang memohon maaf pada beliau.
Salah satu musuh utama beliau adalah seorang ulama Madzhab Maliki yang bernama Ibnu Makhluf. Ia wafat pada masa Ibnu Taimiyah. Salah satu murid Ibnu Taimiyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengetahui prihal kematian Ibnu Makhluf, lalu bersegera menemui Ibnu Taimiyah dan menyampaikan kabar gembira ini. Akan tetapi, lihatlah reaksi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kala menyaksikan muridnya memberitahukan kematian musuh besarnya, kita lihat apakah beliau sujud syukur? Apakah beliau mengatakan ‘Alhamdulillah‘ maha suci Allah yang telah menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya’? Tidak, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang. Syaikhul Islam terhadap musuh besarnya, Ibnu Makhluf saat meninggal beliau tidak sujud syukur, tidak pula mengucapkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kebenciannya. Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang. Begitu bencinya kepada seseorang sehingga ketika mendengar kabar kematian orang yang dibencinya, ia mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim.
Bahkan Syaikhul Islam menghardik Ibnul Qoyyim kemudian mengingkari perbuatannya karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh besar beliau, lantas beliau mengucapkan kalimat istirja’, “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un”, dan bersegera mengunjungi rumah Ibnu Makhluf, berta’ziah dan kemudian mengatakan kepada keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf, “Sungguh saat ini status saya seperti bapak bagi kalian. Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.” Akhirnya mereka, keluarga Ibnu Makhluf, senang dan menghadiahkan doa bagi Syaikhul Islam.
Perhatikan keadaan musuh besar beliau. Dan kita tahu, kalau seorang itu musuh besar Ibnu Taimiyah, pasti orang ini aqidah-nya bermasalah. Namun ketika meningggal dunia, Syaikhul Islam mendatangi rumahnya dan menyampaikan bahwa mulai hari ini semua kebutuhan keluarganya menjadi tanggungan Syaikhul Islam. Pertanyaannya, siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti ini?! Siapa diantara kita yang ketika musuhnya meninggal lalu mendatangi keluarganya, mendatangi anak-anaknya kemudian berta’ziah kepada mereka? Siapa diantara kita yang bisa sampai mengatakan, bahwa tidak ada keperluan yang kalian butuhkan melainkan aku akan penuhi kebutuhan tersebut? Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti itu?! Hanya orang-orang yang berjiwa besar. Bahkan kalau kita mau jujur, tidak hanya itu, bahkan kepada teman dekat pun kita belum bisa berbuat seperti itu apalagi terhadap musuh.
Sekarang kalau kita mau jujur pula, jangankan musuh kepada teman kita saja tidak seperti itu. Ini bukti bahwa ukhuwah kita buruk sekali. Kalau teman kita ada yang terkena musibah seperti itu, diantara kita siapa yang dapat berlaku dan berbuat seperti itu? Ada teman yang keluarganya meninggal, maka saksikanlah, adakah diantara kita yang datang kepada keluarganya dan mengatakan “saya akan memenuhi kebutuhan kalian”.
Yah, Syaikhul Islam rahimahullah mendatangi orang yang telah menfatwakan dirinya telah kafir. Ini bukti bahwa orang itu sangat amat mememusuhi Syaikhul Islam. Jika kita katakan dia ahli bid’ah, tentu sifat-sifat ini ada pada diri Ibnu Makhluf. Akan tetapi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah bersikap lebih besar dari itu, dan ini sekali lagi menunjukkan bahwa beliau bukan seorang yang berjiwa kerdil.
Ayyuhal Ikhwan, seandainya perangai kita seperti akhlak ini, tentu kita dapat lebih banyak meraih hati orang. Tetapi kadang kita memperlakukan mereka (orang yang berbeda dengan kita atau orang yang menyakiti kita) seperti dalam ayat-ayat yang Allah tegaskan, bahwa ia ditujukan kepada kaum munafiqin. Yakni, tidak boleh istigfar (memohonkan ampunan) untuk mereka, tidak boleh menyolatkan mereka, tidak boleh (ikut) menguburkan mereka dan selainnya. Celakanya, hukum-hukum ini kita aplikasikan kepada orang yang kami sebutkan (dan masih berstatus sebagai seorang mukmin).
Yah, kadang kita bermuamalah pada sebagian kaum muslimin dengan model muamalah seperti disebutkan dalam al-Qur’an, yakni muamalah dengan orang munafiqin. Kita menjadi orang-orang yang asyida’ alal Mu’minin, [orang yang sangat keras kepada orang mukmin]. Kita menjadi orang-orang yang keras kepada ahlu iman padahal Allah Ta’ala menyifati orang-orang mukmin dan para shahabat yang bersana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai orang-orang yang Asyida’ ‘alal kuffar ruhamaa’u bainahum [keras terhadap kaum kuffar dan saling berkasih sayang di antara mereka (kaum mukminin)]. Sayangnya, kita kemudian menjadi orang yang terbalik. Kepada orang-orang yang beriman kasarnya luar biasa, namun kepada orang-orang kafir tidak ada sikap keras (sebagai bentuk ‘izzah).
Perhatikahn, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah mencapai kesempurnaan dan kemuliaan akhlak masih saja diperintahkan oleh Allah Ta’ala bersikap lemah lembut, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ
“Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai pelajaran bagi beliau dan selainnya. Jika saja Rasul berbuat kasar tentu orang akan lari darinya, maka bagaimana dengan yang bukan rasul. Padahal Rasul mendapat banyak dukungan untuk kemudian diterima dakwahnya, beliau mendapat wahyu, ma’sum, memiliki akhlak yang mulia, dan sebagiainya. Dan disamping itu semua, tetap saja masih diperintahkan bersikap lemah lembut, hingga Allah Ta’ala tegaskan:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَ اسْتَغْفِرْ الَهُمْ وَ شَاوِرُهُمْ فِي الْآَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal duniawiah yang lain). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah (QS. Al Imran : 159).
Sekarang mari kita tengok contoh ketiga, yakni dari diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat bermuamalah dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay terkenal sebagai tokoh kaum munafiqin di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu, bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, sebagaimana ditunjukkan oleh sikapnya terhadap Islam. Saat perang Muraysi’ pecah, dia mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad dan para shahabatnya adalah seperti kata pepatah, “beri makan terus anjingmu, nanti kalau sudah besar ia akan memangsamu.” Artinya, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shabatnya kita beri kesempatan, mereka akan menindas kita. Ini kata Abdullah bin Ubay dan orang-orang munafiq yang bersamanya. Ia juga mengatakan “jangan kalian infakkan apa yang ada ditangan kalian kepada orang-orang yang bersama Muhammad supaya mereka menjauh dari Muhammmad.” Demikianlah ucapan Abdullah bin Ubay, dan ini hanya sebagian dari sikap mereka (yang menyakitkan) terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar jangan diberikan apapun dan agar mereka tidak betah dan memutuskan keluar dari Madinah.
Coba kita perhatikan tatkala Abdullah bin Ubay meninggal, apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Beliau mendatangi kuburnya. Memberikan pakaian beliau kepada putranya, dan kemudian memberi kain untuk dijadikan kafan untuk Abdullah bin Ubay. Padahal orang ini ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, jelas-jelas orang munafiq, bahkan ditegaskan oleh nash, namun Rasulullah tetap datang ke kuburnya. Kemudian kita lihat ia bukanlah hanya sekedar orang munafiq, bahkan merupakan ra’sul munafiqin, tetapi masih diberikan kain kafan, didatangi kuburnya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memintakan ampun kepada Allah Ta’ala. Coba bayangkan, beliau mendatangi kuburnya dan memintakan ampun kepada Allah untuk imamnya orang-orang munafiq, hingga turun firman Allah yang melarang Rasul demikian.(memintakan ampunan). Disini dapat kita saksikan ketinggian jiwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memintakan ampun kepada orang yang selama ini menyakiti beliau. Kalau sendainya itu terjadi pada kita, mungkin kita akan mengatakan “mampus, biar sekalian mati!!”, akan tetapi, beliau memohonkan ampunan, baru setelah itu turun larangan memintakan ampun untuk orang-orang munafiq dan orang kafir,
إِنْ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ
“Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan merberi ampun kepada mereka (Qs: al-Taubah : 80).
Berkenaan dengan ayat ini, beliau bersabda: “Seandainya saya tahu, jika beristighfar lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, saya akan melakukan lebih dari tujuh puluh kali” atau sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam. Ini kepada imamnya orang-orang munafiq, seandainya beliau memintakan ampun lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, niscaya beliau akan melakukannya. Lihat akhlak Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap imamnya orang-orang munafiq. Kepada orang yang sudah lama sekali mengganggu dan menyusahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta orang-orang yang bersama beliau. Orang inilah yang telah membuat tuduhan palsu kepada ‘Aisyah radhiallahu anha, dia juga yang mencemarkan kehormatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sekali lagi, bercerminlah pada sosok mulia seperti ini, beliau masih mau mendatangi kuburnya, lalu memberikan kain kafan seraya memintakan ampun kepada Allah Ta’ala. Siapa diantara kita yang bisa berjiwa besar seperti ini?
Jangan difahami bahwa kita ingin mengaburkan aqidah wala’ wal bara’ seperti yang telah kita sebutkan di atas. Harus dipahami aqidah wala’ wal bara’ mana yang dinamakan aqidah wala’ wal bara’ itu, bagaimana sikap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para Salafus Shalih berkaitan dengan orang-orang yang berbeda atau menyimpang. Harus dibedakan antara wala’ dan bara’ dengan hawa nafsu. Al wala’ wal bara’ jalas ada dalam hati kita. Sikap terhadap orang lain, kemudian hawa nafsu kita juga sesuatu yang lain, adalah dua hal yang harus dibedakan.
Seorang da’i tidak pantas memiliki sifat-sifat seperti ini (intishar ala an-nafsi dan keras terhadap sesama muslim). Kalau da’i seperti ini, kerusakan akan lebih besar daripada manfaat. Dimana ia mendoakan kejelekan bagi si fulan pada sepertiga malam terakhir, kemudian melaknat fulan, mencaci maki fulan dan menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mungkin memberikan ampun kepadanya. Orang semacam ini lebih pantas memperbaiki dirinya sendiri dahulu, baru kemudian memperbaiki orang lain. Karena bisa jadi, mafsadatnya jauh lebih besar daripada maslahatnya bagi orang lain (baca: ummat). Sebab dia sendiri belum berhasil memperbaiki diri dan jiwanya, hingga ketika dia memperbaiki orang lain tentu akan lebih berat. Karena kenyataannya, yang terjadi hanya bermasalah dengan si fulan, kemudian bermusuhan dan bertikai dengan orang lain dan seterusnya.
Saat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya, di dalam penjara dan bukan di rumah, beliau dicegat melakukan seluruh aktivitas hingga tidak diberikan pena untuk menulis. Walau demikian, beliau tetap menulis, memberi fatwa kepada kaum muslimin, hanya dengan mengunakan arang hingga akhirnya beliau dilarang menulis sama sekali. Segala aktivitasnya diawasi oleh Ahlu Bid’ah lalu disampaikan kepada penguasa.
Hingga suatu ketika sebagian ahlu bid’ah ini mendatangi Syaikhul Islam di dalam penjara, lalu memohon maaf kepada Syaikhul Islam, lantaran menjadi sebab Syaikul Islam dijebloskan dalam penjara. Maka lihatlah, ikhwah fillah, bagaimana jiwa besar beliau. Tenang beliau mengatakan: “Aku telah maafkan Anda, Aku juga sudah memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan saya”. Beliau memaafkan orang yang memasukkan beliau ke penjara, serta semua orang yang menjadi sebab beliau masuk penjara. Semoga bermanfaat. Bersambung….
Sumber: (http://www.alinshof.com/2010/01/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-i.html)
[Materi ini pernah disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi dalam kajian di Masjid Pogung Raya beberapa tahun silam. Namun karena panjangnya materi, maka dibagi dalam beberapa tulisan.]
SYAHADAT CINTA
" Bagaimana kamu mencintai sang kekasih dan mampu mengingatnya.. Bila kamu tak pernah berjumpa dan MENGENAL sebelumnya.. Yang ada kamu hanya bersaksi palsu.. Dan yang ada cinta mu bukan yang sejati melainkan kepalsuan dan menduakan..
kau bohongi janji mu yang terucap dari bibir mu yang manis.." aku ber SAKSI tiada sang kekasih selain dia saja.. " akhirnya kamu pun telah ingkar karena tak pernah berSAKSI n menyaksikan.. " ^_^
Jika mau jujur dan bertanya dalam diri sendiri...
kamu ini sudah sangat sering selingkuh..
lupa sama janji janji yang sudah kau ikrarkan setiap hari...
dalam sembilan kali sehari kita sudah berikrar untuk setia..
Tapi sudah berapa ribu kali kau telah mengingkarinya..
Dan mungkin sudah menjadi sifat mu yang paling senang dengan selingkuh..
Bagimu selingkuh itu memang indah..
Dari kata kata indah.. kau ceritakan pada semua bahwa cinta mu hanya satu saja.. tiada yang lain..
Tapi kamu tak pernah mau melihat dan menilai diri mu sendiri.. bila kau telah mendua..
Sungguh tak sedikitpun tiada ada dia yang selalu dalam ingatan mu..
Ucapan mu adalah kepalsuan mu saja..
cinta mu adalah cinta palsu..
sayang mu adalah sayang yang palsu..
indah terucap di bibir.. tetapi di hati mu kau menangis sedih karena ketidak tahuan mu..
kau yang KOSONG.. hampa dalam ketidak tahuan mu.. hingga gelisah dan resah hati mu.. selalu..
kau pun selalu berbohong..
kau bilang telah bersaksi tak ada yang lain yang kau cinta selain dia sang kekasih mu..
kau tak menyadari... sudah sangat jelas sudah.. bila ber saksi itu berarti harus ada perjumpaan dan mengenal lebih dulu sebelum nya..
Agar kamu akhirnya tau.. kau ber saksi seperti apa yang telah kau saksikan..
bukan kah kamu telah membohongi diri mu sendiri..?
Mengapa tak kau bilang saja kau tak tau.. dan mau tau.. dan mau mencari yang kamu ingin cari..
Sang kekasih mu sejati.. untuk kau kenal.. untuk kau cintai..
Dan bila janji di awal saja kau telah berdusta dalam persaksian dan perkenalan dengan kekasih mu..
Yang sebelumnya sama sekali kamu belum pernah mengenal saja..
Sungguh.. kau tak pantas mengatakan cinta mu adalah yang sejati..
Karena yang sejati adalah yang mengenal siapa kekasih sejati nya..
Dan mampu mengingat diri nya.. di setiap waktu.. setiap saat..
Dimana pun diri mu ada.. dimanapun wajahmu berpaling.. kau selalu melihat dia yang terkasih..
Tanyakan pada diri mu sendiri..
kenalilah diri mu sendiri.. agar kamu pun mampu mengenal cinta sejati mu..
masuklah kamu ke dalam diri mu sendiri.. supaya kamu mampu mencintai sang kekasih mu dengan sejati..
Karena yang sejati harus bertemu dengan yang sejati..
Dan bila kau telah bertemu dengan nya... mengenal dia yang tercinta..
maka kau pun mampu dan sanggup ber janji.. bahwa memang tiada yang lain selain dia saja yang kau puja..
Agar cinta mu tulus apa adanya.. dalam setiap laku mu.. ada dia yang selalu kau rindu..
" Dan janji mu adalah palsu.. bila kau tak pernah mengenal sebelum nya.. maka cinta mu adalah cinta yang keluar dari mulut saja.. bukan cinta yang bersemi dari dalam hati.. Dan sungguh kenalilah dia.. agar kau mampu bersaksi atas perjumpaan mu.. bersemilah cinta sejati mu selama nya.. karena janji sejati ini adalah sebenar benar nya SYAHADAT CINTA mu.. " ^_^
SALAM CINTA
Regards,
Moch. Helmi Widayanto
kau bohongi janji mu yang terucap dari bibir mu yang manis.." aku ber SAKSI tiada sang kekasih selain dia saja.. " akhirnya kamu pun telah ingkar karena tak pernah berSAKSI n menyaksikan.. " ^_^
Jika mau jujur dan bertanya dalam diri sendiri...
kamu ini sudah sangat sering selingkuh..
lupa sama janji janji yang sudah kau ikrarkan setiap hari...
dalam sembilan kali sehari kita sudah berikrar untuk setia..
Tapi sudah berapa ribu kali kau telah mengingkarinya..
Dan mungkin sudah menjadi sifat mu yang paling senang dengan selingkuh..
Bagimu selingkuh itu memang indah..
Dari kata kata indah.. kau ceritakan pada semua bahwa cinta mu hanya satu saja.. tiada yang lain..
Tapi kamu tak pernah mau melihat dan menilai diri mu sendiri.. bila kau telah mendua..
Sungguh tak sedikitpun tiada ada dia yang selalu dalam ingatan mu..
Ucapan mu adalah kepalsuan mu saja..
cinta mu adalah cinta palsu..
sayang mu adalah sayang yang palsu..
indah terucap di bibir.. tetapi di hati mu kau menangis sedih karena ketidak tahuan mu..
kau yang KOSONG.. hampa dalam ketidak tahuan mu.. hingga gelisah dan resah hati mu.. selalu..
kau pun selalu berbohong..
kau bilang telah bersaksi tak ada yang lain yang kau cinta selain dia sang kekasih mu..
kau tak menyadari... sudah sangat jelas sudah.. bila ber saksi itu berarti harus ada perjumpaan dan mengenal lebih dulu sebelum nya..
Agar kamu akhirnya tau.. kau ber saksi seperti apa yang telah kau saksikan..
bukan kah kamu telah membohongi diri mu sendiri..?
Mengapa tak kau bilang saja kau tak tau.. dan mau tau.. dan mau mencari yang kamu ingin cari..
Sang kekasih mu sejati.. untuk kau kenal.. untuk kau cintai..
Dan bila janji di awal saja kau telah berdusta dalam persaksian dan perkenalan dengan kekasih mu..
Yang sebelumnya sama sekali kamu belum pernah mengenal saja..
Sungguh.. kau tak pantas mengatakan cinta mu adalah yang sejati..
Karena yang sejati adalah yang mengenal siapa kekasih sejati nya..
Dan mampu mengingat diri nya.. di setiap waktu.. setiap saat..
Dimana pun diri mu ada.. dimanapun wajahmu berpaling.. kau selalu melihat dia yang terkasih..
Tanyakan pada diri mu sendiri..
kenalilah diri mu sendiri.. agar kamu pun mampu mengenal cinta sejati mu..
masuklah kamu ke dalam diri mu sendiri.. supaya kamu mampu mencintai sang kekasih mu dengan sejati..
Karena yang sejati harus bertemu dengan yang sejati..
Dan bila kau telah bertemu dengan nya... mengenal dia yang tercinta..
maka kau pun mampu dan sanggup ber janji.. bahwa memang tiada yang lain selain dia saja yang kau puja..
Agar cinta mu tulus apa adanya.. dalam setiap laku mu.. ada dia yang selalu kau rindu..
" Dan janji mu adalah palsu.. bila kau tak pernah mengenal sebelum nya.. maka cinta mu adalah cinta yang keluar dari mulut saja.. bukan cinta yang bersemi dari dalam hati.. Dan sungguh kenalilah dia.. agar kau mampu bersaksi atas perjumpaan mu.. bersemilah cinta sejati mu selama nya.. karena janji sejati ini adalah sebenar benar nya SYAHADAT CINTA mu.. " ^_^
SALAM CINTA
Regards,
Moch. Helmi Widayanto
"Tolong Aku Mama...!"
Sahabat, saya mendapatkan cerita ini dari salah seorang sahabat. Ketika saya membaca cerita ini, saya langsung teringat ketika seorang ustadz memperlihatkan video tentang proses aborsi dalam kajiannya.
Terlihat gambar yang tidak begitu jelas, tapi sang dokter menjelaskan secara detail mana sang janin, dan sebuat alat penyedotnya. Sebuah alat besar dimasukan ke perut sang ibu untuk mencabik-cabik dan menyedot organ-organ sang janin yang sudah remuk. Hingga bagian kepala yang susah untuk disedot, maka dimasukanlah alat seperti sebuah tang untuk meremukan tengkorak kepala sang bayi, agar bisa disedot. Ah... saya tidak mampu menuliskannya dengan detail. Sebuah kekejian yang luarbiasa, yang dilakukan dokter, dan ibunya sendiri.
Mungkin dari cerita rekaan ini bisa menggambarkan bagaimana keadaan sang bayi kecil tak berdosa itu...
(Di Posting Oleh : BaoYuan 粱寶榞)
Mama sayang,
Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri mungil mu.
Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai
Menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol. Aku cantik seturut perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan tempatku.
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur. Bahkan sejak hari-hari pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.
Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu. Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis. Aku dengar Papa memaki balik. Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali. Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis. Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari.
Pilu hatiku karenanya. Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu berduka. Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi.
Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada. Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong. Mungkin engkau tak pernah mendengarku........
Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak, "Mama, Mama, tolong aku....., Mama......tolong aku."
Suatu teror yang ngeri aku rasakan. Aku berteriak dan berteriak.......hingga tak sanggup lagi. Lalu monster itu mulai mencabik lenganku. Sungguh sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata. Monster itu tidak berhenti. Oh....bagaimana aku harus mohon agar ia berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia mencabik putus kakiku.
Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat. Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku. Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.
Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmu bahagia, Mama....Tapi aku tak dapat. Mimpi-mimpiku musnah sudah. Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya. Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.
Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan. Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku. Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti.
Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya; aku mati.
Aku merasa diriku terangkat, seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah. Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah. Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan Nya. Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku. Lalu, aku merasa bahagia. Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku.
Jawab-Nya,
"Aborsi, Aku menyesal, karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya."
Aku tidak tahu apa itu aborsi; Aku pikir mungkin nama monster itu.
Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu......dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.
Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup......! Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu; monster itu terlalu kuat...Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku.....
Tak mungkin bagiku untuk hidup. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu. Aku tidak mau mati! Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu. Mama aku mengasihimu.....Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.
Berhati-hatilah,
Peluk cium,
Bayi Perempuanmu.........
~~~
Sahabat, saya sangat sedih ketika membaca cerita ini. Saya yakin andapun juga.
Saya memiliki data, walaupun data lama, yakni ”Setiap tahunnya sekitar 150 ribu anak di bawah 18 tahun terjebak jadi pelacur. Dan, 4% kasus kehamilan remaja lebih banyak terjadi pada remaja putri di bawah 18 tahun dan 7% pada remaja putri di bawah 16 tahun. Sementara sebanyak 43,1% gadis berusia di bawah 18 tahun melakukan aborsi” (Guntoro Utamadi, staf Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di harian Kompas 1997)
Itu tahun 1997, Entahlah apakah dari tahun ke tahun semakin naik ataukah semakin turun. Tapi hati kecilku mengatakan semakin naik. Ah, semoga itu hanya prasangkaku belaka.
Tak ada kata lain sahabat. Mari kita bersatu padu untuk mencegah terjadinya praktek pembunuhan janin ini. Saya lebih suka menyebut pembunuh, daripada sekedar pelaku aborsi. Yuk, paling tidak mulai dari diri kita sendiri. Hindarilah, dan jauhilah dari perbuatan zina. Karena zina memang menjadi biangkerok pembunuhan itu.
Maaf, kalau kata-kata saya pada kali ini terasa emosional. Tapi memang itulah kenyataannya. Tidak terbayang, sebuah kekejian orang tua kepada anak kandungnya sendiri. Na’udzubillahimindzalik....
Terimakasih telah membaca, sahabatku....
Terlihat gambar yang tidak begitu jelas, tapi sang dokter menjelaskan secara detail mana sang janin, dan sebuat alat penyedotnya. Sebuah alat besar dimasukan ke perut sang ibu untuk mencabik-cabik dan menyedot organ-organ sang janin yang sudah remuk. Hingga bagian kepala yang susah untuk disedot, maka dimasukanlah alat seperti sebuah tang untuk meremukan tengkorak kepala sang bayi, agar bisa disedot. Ah... saya tidak mampu menuliskannya dengan detail. Sebuah kekejian yang luarbiasa, yang dilakukan dokter, dan ibunya sendiri.
Mungkin dari cerita rekaan ini bisa menggambarkan bagaimana keadaan sang bayi kecil tak berdosa itu...
(Di Posting Oleh : BaoYuan 粱寶榞)
Mama sayang,
Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri mungil mu.
Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai
Menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol. Aku cantik seturut perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan tempatku.
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur. Bahkan sejak hari-hari pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.
Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu. Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis. Aku dengar Papa memaki balik. Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali. Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis. Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari.
Pilu hatiku karenanya. Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu berduka. Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi.
Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada. Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong. Mungkin engkau tak pernah mendengarku........
Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak, "Mama, Mama, tolong aku....., Mama......tolong aku."
Suatu teror yang ngeri aku rasakan. Aku berteriak dan berteriak.......hingga tak sanggup lagi. Lalu monster itu mulai mencabik lenganku. Sungguh sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata. Monster itu tidak berhenti. Oh....bagaimana aku harus mohon agar ia berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia mencabik putus kakiku.
Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat. Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku. Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.
Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmu bahagia, Mama....Tapi aku tak dapat. Mimpi-mimpiku musnah sudah. Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya. Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.
Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan. Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku. Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti.
Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya; aku mati.
Aku merasa diriku terangkat, seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah. Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah. Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan Nya. Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku. Lalu, aku merasa bahagia. Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku.
Jawab-Nya,
"Aborsi, Aku menyesal, karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya."
Aku tidak tahu apa itu aborsi; Aku pikir mungkin nama monster itu.
Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu......dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.
Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup......! Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu; monster itu terlalu kuat...Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku.....
Tak mungkin bagiku untuk hidup. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu. Aku tidak mau mati! Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu. Mama aku mengasihimu.....Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.
Berhati-hatilah,
Peluk cium,
Bayi Perempuanmu.........
~~~
Sahabat, saya sangat sedih ketika membaca cerita ini. Saya yakin andapun juga.
Saya memiliki data, walaupun data lama, yakni ”Setiap tahunnya sekitar 150 ribu anak di bawah 18 tahun terjebak jadi pelacur. Dan, 4% kasus kehamilan remaja lebih banyak terjadi pada remaja putri di bawah 18 tahun dan 7% pada remaja putri di bawah 16 tahun. Sementara sebanyak 43,1% gadis berusia di bawah 18 tahun melakukan aborsi” (Guntoro Utamadi, staf Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di harian Kompas 1997)
Itu tahun 1997, Entahlah apakah dari tahun ke tahun semakin naik ataukah semakin turun. Tapi hati kecilku mengatakan semakin naik. Ah, semoga itu hanya prasangkaku belaka.
Tak ada kata lain sahabat. Mari kita bersatu padu untuk mencegah terjadinya praktek pembunuhan janin ini. Saya lebih suka menyebut pembunuh, daripada sekedar pelaku aborsi. Yuk, paling tidak mulai dari diri kita sendiri. Hindarilah, dan jauhilah dari perbuatan zina. Karena zina memang menjadi biangkerok pembunuhan itu.
Maaf, kalau kata-kata saya pada kali ini terasa emosional. Tapi memang itulah kenyataannya. Tidak terbayang, sebuah kekejian orang tua kepada anak kandungnya sendiri. Na’udzubillahimindzalik....
Terimakasih telah membaca, sahabatku....
DALIL BID'AH HASANAH DAN CONTOH APLIKASINYA
Al-Muhaddits al-‘Allamah as-Sayyid ‘Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani dalam kitab Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan bahwa di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah adalah sebagai berikut (Lihat Itqan ash-Shun’ah, h. 17-28):
1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27)
“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
Ayat ini adalah dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka adalah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka karena mereka kaum yang santun dan penuh kasih sayang, juga karena mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah adalah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, hingga mereka meninggalkan nikah, karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah.
Dalam ayat di atas Allah mengatakan “Ma Katabnaha ‘Alaihim”, artinya: “Kami (Allah) tidak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membuat dan merintis Rahbaniyyah itu untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, karena mereka merintis perkara baru yang tidak ada nash-nya dalam Injil, juga tidak diwajibkan bahkan tidak sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kepada mereka. Melainkan mereka yang ingin berupaya semaksimal mungkin untuk taat kepada Allah, dan berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada-Nya dengan tidak menyibukkan diri dengan menikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah.
2. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)
Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegangteguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya.
3. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)
“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baru dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan tentang adanya bid’ah hasanah. Karena seandainya semua bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah akan mengatakan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Namun Rasulullah mengatakan, sebagaimana hadits di atas: “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang tidak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang tidak termasuk dalam ajaran agama, karena menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.
4. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas mengatakan tentang adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan mengatakan: “Ni’mal Bid’atu Hadzihi”. Artinya, sebaik-baiknya bid’ah adalah shalat tarawih dengan berjama’ah.
Kemudian dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Bacaan talbiyah beliau adalah:
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ
5. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ.
Tentang kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.
6. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha sebagai bid’ah, karena Rasulullah tidak pernah melakukannya. Tentang shalat Dluha ini beliau berkata:
إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح)
“Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan salah satu perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih)
Dalam riwayat lain, tentang shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ البِدْعَةُ (رواه ابن أبي شيبة)
“Shalat Dluha adalah bid’ah, dan ia adalah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah)
Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari dengan sanad yang shahih.
7. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:
رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ
“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.
Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, mengatakan: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).
7. al-Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudlah ath-Thalibin, tentang doa Qunut, beliau menuliskan sebagai berikut:
هذَا هُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَزَادَ الْعُلَمَاءُ فِيْهِ: “وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ” قَبْلَ “تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ” وَبَعْدَهُ: “فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ”. قُلْتُ: قَالَ أَصْحَابُنَا: لاَ بَأْسَ بِهذِهِ الزِّيَادَةِ. وَقَالَ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيْجِيُّ وَءَاخَرُوْنَ: مُسْتَحَبَّةٌ.
“Inilah lafazh Qunut yang diriwayatkan dari Rasulullah. Lalu para ulama menambahkan kalimat: “Wa La Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (an-Nawawi) katakan: Ashab asy-Syafi’i mengatakan: “Tidak masalah (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan al-Bandanijiyy serta beberapa Ashhab yang lain mengatakan bahwa bacaan tersebut adalah sunnah” (Raudlah ath-Thalibin, j. 1, h. 253-254).
Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi-ah
Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah. Di antaranya:
1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Tentang ini Abu Hurairah berkata:
فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ)
“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)
Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “Sanna” untuk menunjukkan makna “merintis”, membuat sesuatu yang baru yang belaum ada sebelumnya. Jelas, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang.
Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab:
صَلاَّهُمَا خُبَيْبٌ وَحُجْرٌ وَهُمَا فَاضِلاَنِ.
“Dua raka’at shalat sunnah tersebut tersebut pernah dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab, j. 1, h. 358)
2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah).
3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur. Beliau adalah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya.
Demikian pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut tidak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, sejak setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah tidak pernah melakukannya?! Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman.
Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membuat titik-titik dalam Mush-haf adalah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur adalah salah seorang ulama tabi’in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya.
Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu’ (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan?!
4. Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-’Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid?!
5. Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.
6. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.
7. Menulis kalimat “Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Karena Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Si Fulan…”.
8. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh. Seperti tarekat ar-Rifa’iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya sekitar berjumlah sekitar 40 tarekat mu'tabaroh. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa oknum tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya.
Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi-ah. di antaranya sebagai berikut:
A. Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan dan tidak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya adalah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, tidak mukmin dan tidak kafir. Mereka juga mengingkari syafa’at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya’mur.
B. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka adalah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia bagaikan sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali tidak memiliki ikhtiar dan kehendak.
C. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar.
D. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran terhadap orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka namun orang yang bertawassul ini tidak berada di hadapan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini adalah Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang kemudian diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kelompok Wahhabiyyah.
1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:
وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27)
“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
Ayat ini adalah dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka adalah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka karena mereka kaum yang santun dan penuh kasih sayang, juga karena mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah adalah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, hingga mereka meninggalkan nikah, karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah.
Dalam ayat di atas Allah mengatakan “Ma Katabnaha ‘Alaihim”, artinya: “Kami (Allah) tidak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membuat dan merintis Rahbaniyyah itu untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, karena mereka merintis perkara baru yang tidak ada nash-nya dalam Injil, juga tidak diwajibkan bahkan tidak sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kepada mereka. Melainkan mereka yang ingin berupaya semaksimal mungkin untuk taat kepada Allah, dan berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada-Nya dengan tidak menyibukkan diri dengan menikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah.
2. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)
Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegangteguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya.
3. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)
“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baru dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan tentang adanya bid’ah hasanah. Karena seandainya semua bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah akan mengatakan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Namun Rasulullah mengatakan, sebagaimana hadits di atas: “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang tidak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang tidak termasuk dalam ajaran agama, karena menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.
4. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas mengatakan tentang adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan mengatakan: “Ni’mal Bid’atu Hadzihi”. Artinya, sebaik-baiknya bid’ah adalah shalat tarawih dengan berjama’ah.
Kemudian dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Bacaan talbiyah beliau adalah:
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ
5. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ.
Tentang kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.
6. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha sebagai bid’ah, karena Rasulullah tidak pernah melakukannya. Tentang shalat Dluha ini beliau berkata:
إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح)
“Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan salah satu perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih)
Dalam riwayat lain, tentang shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:
بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ البِدْعَةُ (رواه ابن أبي شيبة)
“Shalat Dluha adalah bid’ah, dan ia adalah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah)
Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari dengan sanad yang shahih.
7. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:
رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ
“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.
Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, mengatakan: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).
7. al-Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudlah ath-Thalibin, tentang doa Qunut, beliau menuliskan sebagai berikut:
هذَا هُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَزَادَ الْعُلَمَاءُ فِيْهِ: “وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ” قَبْلَ “تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ” وَبَعْدَهُ: “فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ”. قُلْتُ: قَالَ أَصْحَابُنَا: لاَ بَأْسَ بِهذِهِ الزِّيَادَةِ. وَقَالَ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيْجِيُّ وَءَاخَرُوْنَ: مُسْتَحَبَّةٌ.
“Inilah lafazh Qunut yang diriwayatkan dari Rasulullah. Lalu para ulama menambahkan kalimat: “Wa La Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (an-Nawawi) katakan: Ashab asy-Syafi’i mengatakan: “Tidak masalah (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan al-Bandanijiyy serta beberapa Ashhab yang lain mengatakan bahwa bacaan tersebut adalah sunnah” (Raudlah ath-Thalibin, j. 1, h. 253-254).
Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi-ah
Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah. Di antaranya:
1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Tentang ini Abu Hurairah berkata:
فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ)
“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)
Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “Sanna” untuk menunjukkan makna “merintis”, membuat sesuatu yang baru yang belaum ada sebelumnya. Jelas, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang.
Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab:
صَلاَّهُمَا خُبَيْبٌ وَحُجْرٌ وَهُمَا فَاضِلاَنِ.
“Dua raka’at shalat sunnah tersebut tersebut pernah dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab, j. 1, h. 358)
2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah).
3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur. Beliau adalah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya.
Demikian pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut tidak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, sejak setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah tidak pernah melakukannya?! Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman.
Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membuat titik-titik dalam Mush-haf adalah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur adalah salah seorang ulama tabi’in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya.
Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu’ (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan?!
4. Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-’Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid?!
5. Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.
6. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.
7. Menulis kalimat “Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Karena Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Si Fulan…”.
8. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh. Seperti tarekat ar-Rifa’iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya sekitar berjumlah sekitar 40 tarekat mu'tabaroh. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa oknum tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya.
Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi-ah. di antaranya sebagai berikut:
A. Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan dan tidak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya adalah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, tidak mukmin dan tidak kafir. Mereka juga mengingkari syafa’at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya’mur.
B. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka adalah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia bagaikan sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali tidak memiliki ikhtiar dan kehendak.
C. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar.
D. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran terhadap orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka namun orang yang bertawassul ini tidak berada di hadapan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini adalah Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang kemudian diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kelompok Wahhabiyyah.
MUSUH-MUSUH TASAWUF DAN THORIQOH
PENGENALAN
Atas pengamatan dan perhatian ana, sejak saat ini, telah muncul sekelompok kaum yg menertawakan, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat. Berbagai fitnah dan tipu daya terus dilontarkan kepada tokoh-tokoh ulama sufi muktabar serta wali-wali Allah Taala. Golongan ini merasa diri mereka lebih hebat daripada para ulama yang telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yang dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dengan para ulama, namun mereka dengan mudah menepuk dada untuk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri dari kalangan orang Islam sendiri yang mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perusak umat Islam. Mungkin mereka lupa tentang firman Allah Taala di dalam sebuah hadis qudsi seperti berikut:
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baghawi: Daripada Anas bin Malik R.A., dari Rasulullah S.A.W., dari Jibril A.S., dari Allah Taala berfirman (hadis qudsi) bermaksud:
Barangsiapa yang menghina kekasihKu maka sesungguhnya dia telah mengajakKu berperang, sesungguhnya Aku akan murka demi kekasih-kekasihKu seperti marahnya sesekor singa yang garang…
(Riwayat Ibnu Abi ad-Dunya, Abu Nuaim).
Hadis qudsi ini ada juga diriwayatkan dengan lafadz yang berbeda dari riwayat al-Bukhari, Ahmad, at-Tabrani, Abu Yala dan sebagainya lagi).
Sebenarnya telah begitu lama ana ingin menulis serta membahas mengenai perkara ini (musuh-musuh tasawuf dan tarikat). Di harapkan para pembaca mendapat manfaat dari segala pembahasan ini..Aamiin Allaahumma Aamiin
SIAPAKAH MUSUH-MUSUH TASAWUF DAN TARIKAT?
Musuh-musuh tasawuf mencoba segala upaya untuk menyerang dan memfitnah tasawuf Islam dengan berbagai pendustaan dan rekaan cerita semata-mata. Mereka juga akan melontarkan berbagai macam hinaan dan penyelewengan, mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh-musuh tasawuf ini terdiri dari kalangan orang-orang Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah paham mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sebagaimana yang terkandung di dalam sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.
Sabda Rasulullah S.A.W. yg terjemahnya:
Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.
(Riwayat Muslim).
Berkata al-Muhaddits Syeikh Muhammad Siddiq Al-Ghumari:
Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dalam hadits tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yang disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yang mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu-ragu lagi bahwa agamanya tidak sempurna karena dia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukunnya. Tujuan atau puncak yang diajarkan dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah Islam dan Iman sempurna
(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).
Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:
Tasawuf ialah suatu ilmu yang diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta memujahadahkan lahir dan batin bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.
(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).
Berkata Imam Junaid:
Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yang terpuji dan meninggalkan semua tingkah laku yang rendah lagi keji.
(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).
Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf-musuf tasawuf sebagaimana berikut (ana hanya mengambil secara ringkasnya):
Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah direncanakan dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat yg bertujuan mencela dan menghancurkan Islam. Mereka mencoba memusnahkan pokok ajaran Islam dengan menimbulkan berbagai keraguan serta menyebarkan faham-faham untuk memecah umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyelewengkan dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat dua muka. Mereka juga mendakwakan tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tuduhan ini dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf. Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunakan pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara total. Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya? Kadang-kadang mereka ini berlindung di balik seorang pengkaji atau sarjana ilmuwan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perusak agama Islam dari dalam.
Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka mencoba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud yg sebenarnya serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini. Kita bisa membagi mereka ini kepada beberapa golongan:
Golongan pertama:
Fikrah tentang tasawuf yang ada pada mereka diambil melalui amalan suluk, sebagian golongan yang menyelinap masuk serta menyeleweng yang terdiri daripada musuh-musuh tasawuf. Mereka tidak membedakan di antara tasawuf yang hakiki lagi suci dengan perkara jelek dan keji yang datang menyelinap yang tiada hubungannya dengan Islam. atau bisa disebut oknum ilmu tasawuf atau oknum sufi
Golongan kedua:
Mereka merupakan golongan yang terpedaya dengan apa yang mereka dapati daripada kitab-kitab tokoh-tokoh sufi yang terdiri daripada berbagai permasalahan yang ada. Mereka mengambilnya sebagai suatu hakikat sabit tanpa sembarang kepastian terlebih dahulu (tidak memahami maknanya). Mungkin juga mereka mengambil kata-kata tsabit yang terdapat dalam kitab-kitab ahli sufi lalu memahaminya tanpa mengikuti apa yang dikehendaki oleh kitab tersebut. Mereka mengikuti pemahaman dangkal yang dimiliki, ilmu yang dimiliki serta keinginan yang tersendiri tanpa merujuk terlebih dahulu kepada ahli sufi yang jelas kefahamannya tentang syariat dan akidah. Mereka mentakwilkan kalam-kalam para ulama sufi mengikut hawa nafsu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya yang lebih memahami. Mereka ini seumpama mengambil ayat-ayat al-Quran al-Karim yang mempunyai kesamaran (mutasyabihat) lalu mentakwilkannya sesuka hati tanpa melihat kepada ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan tidak juga bertanya terlebih dahulu kepada para ulama yang lebih mengetahui sepertimana yang telah dijelaskan oleh Allah Taala di dalam al-Quran al-Karim (Surah al-Imran: Ayat 7). Sedangkan ada sebagian dari kalangan mereka yang begitu mengecam dan menyesatkan pentakwilan (yg bukan menurut hawa nafsu) oleh para ulama muktabar
Golongan ketiga:
Mereka merupakan golongan yang tertipu. Mereka mengambil ilmu pengetahuan dari para orientalis. Mereka hanya menggunakan pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata-mata. Mereka tidak dapat membedakan antara tasawuf Islam yang sebenarnya dengan tasawuf yang telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan dasar sama sekali.
Inilah di antara musuh-musuh tasawuf serta tarikat yang bertindak menyerang tasawuf dari luar ataupun dari dalam Islam. Mereka bersungguh-sungguh menabur fitnah selagi mereka di berikan nyawa yang sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahwa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Maka bersiap-siaplah!
TARIKAT TASAWUF SESAT?
Maksud tarikat secara umumnya ialah suatu jalan (tarikat) yang dilalui seseorang Islam itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Di sini kita tidak menafikan bahwa wujud segelintir tarikat yang sesat dan tidak mengikut syariat Islam yang benar. Namun untuk menghukum kesemua tarikat tasawuf adalah salah dan sesat secara pukul rata, dakwaan ini tidaklah boleh diterima akal sama sekali. Ulama-ulama muktabar Islam juga turut mengakui kebenaran tarikat tasawuf ini dan ada di antara mereka merupakan pengamal tarikat di antaranya Imam Hanafi (Silakan rujuk kitab ad-Dur al-Mukhtar). Ini merupakan bukti yang kukuh lagi kuat untuk menyatakan bahawa tarikat adalah dibenarkan dan bertepatan dengan Islam. Mana mungkin para ulama muktabar yang begitu memahami dan mendalami Islam mengamalkan tarikat tasawuf jika ia sesuatu yang sesat dan bid'ah dlolalah
Berkata Imam Syafii:
Disukai bagiku dari pada duniamu tiga perkara: Meninggalkan perkara yang membebankan diri, dan bergaul sesama makhluk dengan lemah lembut, serta mengikuti jalan ahli tasawuf.
(Kitab: Kasfu al-Khafa Wa Mazilu al-Albas).
Adapun ahli tasawuf yang sebenarnya tidaklah terlepas dari melakukan syariat Islam bahkan merekalah golongan yang selalu memperbanyakkan lagi amalan-amalan baik dengan berlipat-lipat kali ganda. Ini karena tasawuf dan tarikat itu sendiri terikat dengan al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. sepertimana yang diterangkan oleh Imam Junaid:
Mazhab kami terikat dengan dasar al-Quran al-Karim dan as-Sunnah S.A.W.
(Kitab: al-Tabaqat as-Sufiyyah).
Bagi pengamal tarikat tasawuf Islam yang telah lama maupun kepada yang baru berkenalan dengan tarikat, mungkin kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ini boleh dijadikan pedoman serta panduan:
Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq,
Melakukan yang haram atau yang dicegah adalah maksiat,
Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walau dalam apa jua keadaan sekalipun.
(Kitab: al-Fathu ar-Rabbani).
jadi berdasar Syekh Abdul Qodir al-Jaelani walaupun tingkatan makrifat, harus tetap mengamalkan syari'at sebagaimana Nabi Muhammad S.A.W.
Di sini ana ingin katakan bahwa tarikat tasawuf bukanlah suatu yang sesat dan bid'ah dlolalah dalam Islam sebagaimana yang didakwa oleh sebagian pihak, bahkan tasawuf adalah sebagian dari Islam melalui pengiktirafannya mengenai Ihsan di dalam hadis Jibril A.S. Adapun tarikat yang sesat itu sebenarnya bukanlah dinamakan tarikat tasawuf bahkan mereka ini adalah perusak tasawuf. Mereka mendakwa sebagai pengamal tasawuf, akan tetapi mereka menyeleweng dari landasan yang telah ditetapkan oleh Islam. Inilah di antara masalah-masalah yang terpaksa di hadapi oleh para pengamal tarikat tasawuf sehinggakan ia memberi peluang kepada musuh-musuh tasawuf untuk melancarkan serangan jahat terhadap Islam secara umumnya dan tasawuf secara khususnya.
Namun ada sebagian pengamal tarikat tasawuf (oknum ilmu tasawuf) yang terlalu taksub sehingga mengatakan semua pihak yang mendakwa diri sebagai tarikat adalah betul dan tidak salah sama sekali. Mereka ini terus menyalahkan dan memaki-hamun siapa saja (di manakah akhlak sebagai seorang pengamal tasawuf?) yang mendakwa sesuatu tarikat itu tidak bertepatan dengan Islam walaupun orang yang berkata itu adalah para ulama sufi sendiri. Sedangkan kita semua juga mengetahui bahwa wujud segelintir tarikat yang menyalahi syariat Islam sebagaimana yang telah ana jelaskan di atas. Sikap ketaasuban mereka yang terlalu melampau ini juga bisa membuka ruang bagi musuh-musuh tasawuf dan tarikat untuk merendah-rendahkan Islam dan mengucar-kacir masyarat Islam itu sendiri.
SUFI ATAU PENDAKWA SUFI?
Pada hari ini kelihatan tasawuf dikecam dan diburukkan dengan begitu hebat oleh segelintir golongan yang mempunyai niat busuk lagi keji. Ada di kalangan mereka bertopengkan tasawuf serta menisbahkan diri kepada tasawuf. Ada juga di kalangan mereka yang menabur fitnah yang terus-terusan kepada pengamal tasawuf dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Mereka memburuk-burukkan tasawuf dengan berbagai cara di antaranya melalui kata-kata atau ucapan-ucapan umum, perbuatan, perjalanan hidup, penulisan dan sebagainya lagi sedangkan mereka ini tiada hubungannya dengan tasawuf. Ini menyebabkan masyarakat memandang serong terhadap pengamal tasawuf di sebabkan fitnah yang disebarkan oleh mereka yang konon-kononnya memahami agama Islam. Adakah tindakan mereka itu melambangkan mereka benar-benar memahami Islam?
Pertolongan Allah Taala sentiasa datang untuk membantu hamba-hambaNya yang benar. Allah Taala menunjukkan penyelewengan pendakwa kesufian yang menyeleweng ini untuk membedakan dengan ahli sufi yang sebenarnya. Di antaranya muncul para ulama muktabar terdiri daripada kalangan imam-imam yang diketahui keilmuan dan kealiman mereka itu dan mereka juga ialah tokoh-tokoh sufi yang begitu masyhur serta diakui kehebatannya. Mereka memberi pengakuan dan pengiktirafan terhadap tasawuf ini bahkan mereka juga di antara pengamal tasawuf yang diikuti oleh umat Islam. Mereka bangkit berdakwah dan menyampaikan kebenaran dan menagkis segala kebatilan yang datang dari musuh-musuh tasawuf.
Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa:
Di sana terdapat perbedaan yang begitu jelas di antara tasawuf dan sufi. Golongan yang mendakwa tasawuf dengan segala penyelewengan dan perselisihan bukanlah merupakan gambaran kepada tasawuf. Ia sebagaimana seorang muslim dengan segala perbuatannya yang mungkar bukanlah merupakan gambaran kepada Islam dan agama anutannya.
(Kitab: Haqaiq An al-Tasawuf).
Golongan yang baik ataupun jahat sentiasa ada di dalam semua golongan sehingga hari kiamat. Bukan semua ahli sufi itu sama tarafnya. Ada di kalangan mereka yang soleh dan ada di kalangan mereka yang lebih soleh. Ada yang hebat dan ada yang lebih hebat. Begitu jugalah umat dari generasi salaf yang ada di antara mereka yang baik lagi soleh dan ada di antara mereka yang jahat dan tidak soleh. Semua ini adalah ketentuan dari Allah Taala sebagai ujian dan dugaan kepada hambaNya yang beriman lagi bertakwa.
KESIMPULAN
ana ingin menasihati para sahabat sekalian (serta tidak di lupakan untuk diri sendiri juga) yang begitu bermusuhan dengan tasawuf dan tarikat agar kalian kembali kepada kebenaran. Janganlah kalian bersuka-suka menimbulkan fitnah dan tuduhan terhadap tasawuf yang kalian sendiri tidak fahami dan dalami. Apakah gunanya kali menabur fitnah di dunia yang sementara ini sedangkan kalian akan di hisab di akhirat kelak? ana doakan agar kalian akan diberikan cahaya kebenaran dari Allah Taala.
Semoga penjelasan dan penerangan ringkas ini sedikit banyak dapat memperbaiki tanggapan negatif dan salah faham yang timbul di antara umat Islam masa kini terhadap tasawuf dan tarikat. InsyaAllah. Akhir kata, ana sebenarnya bukanlah di kalangan orang yang begitu layak untuk membicarakan perihal tasawuf ini, akan tetapi inilah sumbangan sekedarnya yang bisa ana tulis untuk membantu agama Islam agar tidak terus dinodai.
Atas pengamatan dan perhatian ana, sejak saat ini, telah muncul sekelompok kaum yg menertawakan, mencaci dan menghina tawasuf serta tarikat. Berbagai fitnah dan tipu daya terus dilontarkan kepada tokoh-tokoh ulama sufi muktabar serta wali-wali Allah Taala. Golongan ini merasa diri mereka lebih hebat daripada para ulama yang telah disebutkan oleh Rasulullah S.A.W. sebagai pewaris para nabi. Walaupun ilmu agama dan amalan yang dimiliki mereka tidaklah seberapa jika hendak dibandingkan dengan para ulama, namun mereka dengan mudah menepuk dada untuk mengatakan mereka begitu arif serta faham semuanya mengenai Islam. Amat menyedihkan lagi, golongan ini terdiri dari kalangan orang Islam sendiri yang mengaku memahami, mendalami dan memperjuangkan Islam, tetapi hakikatnya merekalah perusak umat Islam. Mungkin mereka lupa tentang firman Allah Taala di dalam sebuah hadis qudsi seperti berikut:
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baghawi: Daripada Anas bin Malik R.A., dari Rasulullah S.A.W., dari Jibril A.S., dari Allah Taala berfirman (hadis qudsi) bermaksud:
Barangsiapa yang menghina kekasihKu maka sesungguhnya dia telah mengajakKu berperang, sesungguhnya Aku akan murka demi kekasih-kekasihKu seperti marahnya sesekor singa yang garang…
(Riwayat Ibnu Abi ad-Dunya, Abu Nuaim).
Hadis qudsi ini ada juga diriwayatkan dengan lafadz yang berbeda dari riwayat al-Bukhari, Ahmad, at-Tabrani, Abu Yala dan sebagainya lagi).
Sebenarnya telah begitu lama ana ingin menulis serta membahas mengenai perkara ini (musuh-musuh tasawuf dan tarikat). Di harapkan para pembaca mendapat manfaat dari segala pembahasan ini..Aamiin Allaahumma Aamiin
SIAPAKAH MUSUH-MUSUH TASAWUF DAN TARIKAT?
Musuh-musuh tasawuf mencoba segala upaya untuk menyerang dan memfitnah tasawuf Islam dengan berbagai pendustaan dan rekaan cerita semata-mata. Mereka juga akan melontarkan berbagai macam hinaan dan penyelewengan, mungkin disebabkan oleh perasaan hasad dengki mereka ataupun mungkin juga disebabkan kejahilan diri mereka sendiri terhadap agama Islam. Lebih menyedihkan lagi ada di antara musuh-musuh tasawuf ini terdiri dari kalangan orang-orang Islam sendiri sedangkan mereka semua sudah paham mengenai hakikat kebenaran tasawuf ini sebagaimana yang terkandung di dalam sebuah al-Hadis S.A.W. mengenai Ihsan.
Sabda Rasulullah S.A.W. yg terjemahnya:
Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihatNya dan jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.
(Riwayat Muslim).
Berkata al-Muhaddits Syeikh Muhammad Siddiq Al-Ghumari:
Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dalam hadits tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yang disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yang mana ia merupakan tarikat (jalan) maka tanpa ragu-ragu lagi bahwa agamanya tidak sempurna karena dia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukunnya. Tujuan atau puncak yang diajarkan dan diisyaratkan oleh tarikat ialah maqam Ihsan setelah Islam dan Iman sempurna
(Kitab: Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).
Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansori:
Tasawuf ialah suatu ilmu yang diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta memujahadahkan lahir dan batin bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.
(Kitab: Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).
Berkata Imam Junaid:
Tasawuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yang terpuji dan meninggalkan semua tingkah laku yang rendah lagi keji.
(Kitab: Nusrah al-Nabawiyyah).
Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuf-musuf tasawuf sebagaimana berikut (ana hanya mengambil secara ringkasnya):
Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah direncanakan dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat yg bertujuan mencela dan menghancurkan Islam. Mereka mencoba memusnahkan pokok ajaran Islam dengan menimbulkan berbagai keraguan serta menyebarkan faham-faham untuk memecah umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyelewengkan dan memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat dua muka. Mereka juga mendakwakan tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tuduhan ini dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf. Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunakan pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara total. Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya? Kadang-kadang mereka ini berlindung di balik seorang pengkaji atau sarjana ilmuwan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perusak agama Islam dari dalam.
Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan. Mereka mencoba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud yg sebenarnya serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam. Maka akan timbullah pandangan negatif dan berburuk sangka terhadap tasawuf ini. Kita bisa membagi mereka ini kepada beberapa golongan:
Golongan pertama:
Fikrah tentang tasawuf yang ada pada mereka diambil melalui amalan suluk, sebagian golongan yang menyelinap masuk serta menyeleweng yang terdiri daripada musuh-musuh tasawuf. Mereka tidak membedakan di antara tasawuf yang hakiki lagi suci dengan perkara jelek dan keji yang datang menyelinap yang tiada hubungannya dengan Islam. atau bisa disebut oknum ilmu tasawuf atau oknum sufi
Golongan kedua:
Mereka merupakan golongan yang terpedaya dengan apa yang mereka dapati daripada kitab-kitab tokoh-tokoh sufi yang terdiri daripada berbagai permasalahan yang ada. Mereka mengambilnya sebagai suatu hakikat sabit tanpa sembarang kepastian terlebih dahulu (tidak memahami maknanya). Mungkin juga mereka mengambil kata-kata tsabit yang terdapat dalam kitab-kitab ahli sufi lalu memahaminya tanpa mengikuti apa yang dikehendaki oleh kitab tersebut. Mereka mengikuti pemahaman dangkal yang dimiliki, ilmu yang dimiliki serta keinginan yang tersendiri tanpa merujuk terlebih dahulu kepada ahli sufi yang jelas kefahamannya tentang syariat dan akidah. Mereka mentakwilkan kalam-kalam para ulama sufi mengikut hawa nafsu tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahlinya yang lebih memahami. Mereka ini seumpama mengambil ayat-ayat al-Quran al-Karim yang mempunyai kesamaran (mutasyabihat) lalu mentakwilkannya sesuka hati tanpa melihat kepada ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan tidak juga bertanya terlebih dahulu kepada para ulama yang lebih mengetahui sepertimana yang telah dijelaskan oleh Allah Taala di dalam al-Quran al-Karim (Surah al-Imran: Ayat 7). Sedangkan ada sebagian dari kalangan mereka yang begitu mengecam dan menyesatkan pentakwilan (yg bukan menurut hawa nafsu) oleh para ulama muktabar
Golongan ketiga:
Mereka merupakan golongan yang tertipu. Mereka mengambil ilmu pengetahuan dari para orientalis. Mereka hanya menggunakan pandangan dan sangkaan salah dari para orientalis semata-mata. Mereka tidak dapat membedakan antara tasawuf Islam yang sebenarnya dengan tasawuf yang telah dicemari di sebabkan mereka tiada ilmu dan dasar sama sekali.
Inilah di antara musuh-musuh tasawuf serta tarikat yang bertindak menyerang tasawuf dari luar ataupun dari dalam Islam. Mereka bersungguh-sungguh menabur fitnah selagi mereka di berikan nyawa yang sementara ini dari Allah Taala. Mungkin juga mereka lupa bahwa mereka akan diperhitungkan oleh Allah Taala di akhirat kelak. Maka bersiap-siaplah!
TARIKAT TASAWUF SESAT?
Maksud tarikat secara umumnya ialah suatu jalan (tarikat) yang dilalui seseorang Islam itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Di sini kita tidak menafikan bahwa wujud segelintir tarikat yang sesat dan tidak mengikut syariat Islam yang benar. Namun untuk menghukum kesemua tarikat tasawuf adalah salah dan sesat secara pukul rata, dakwaan ini tidaklah boleh diterima akal sama sekali. Ulama-ulama muktabar Islam juga turut mengakui kebenaran tarikat tasawuf ini dan ada di antara mereka merupakan pengamal tarikat di antaranya Imam Hanafi (Silakan rujuk kitab ad-Dur al-Mukhtar). Ini merupakan bukti yang kukuh lagi kuat untuk menyatakan bahawa tarikat adalah dibenarkan dan bertepatan dengan Islam. Mana mungkin para ulama muktabar yang begitu memahami dan mendalami Islam mengamalkan tarikat tasawuf jika ia sesuatu yang sesat dan bid'ah dlolalah
Berkata Imam Syafii:
Disukai bagiku dari pada duniamu tiga perkara: Meninggalkan perkara yang membebankan diri, dan bergaul sesama makhluk dengan lemah lembut, serta mengikuti jalan ahli tasawuf.
(Kitab: Kasfu al-Khafa Wa Mazilu al-Albas).
Adapun ahli tasawuf yang sebenarnya tidaklah terlepas dari melakukan syariat Islam bahkan merekalah golongan yang selalu memperbanyakkan lagi amalan-amalan baik dengan berlipat-lipat kali ganda. Ini karena tasawuf dan tarikat itu sendiri terikat dengan al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. sepertimana yang diterangkan oleh Imam Junaid:
Mazhab kami terikat dengan dasar al-Quran al-Karim dan as-Sunnah S.A.W.
(Kitab: al-Tabaqat as-Sufiyyah).
Bagi pengamal tarikat tasawuf Islam yang telah lama maupun kepada yang baru berkenalan dengan tarikat, mungkin kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ini boleh dijadikan pedoman serta panduan:
Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq,
Melakukan yang haram atau yang dicegah adalah maksiat,
Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walau dalam apa jua keadaan sekalipun.
(Kitab: al-Fathu ar-Rabbani).
jadi berdasar Syekh Abdul Qodir al-Jaelani walaupun tingkatan makrifat, harus tetap mengamalkan syari'at sebagaimana Nabi Muhammad S.A.W.
Di sini ana ingin katakan bahwa tarikat tasawuf bukanlah suatu yang sesat dan bid'ah dlolalah dalam Islam sebagaimana yang didakwa oleh sebagian pihak, bahkan tasawuf adalah sebagian dari Islam melalui pengiktirafannya mengenai Ihsan di dalam hadis Jibril A.S. Adapun tarikat yang sesat itu sebenarnya bukanlah dinamakan tarikat tasawuf bahkan mereka ini adalah perusak tasawuf. Mereka mendakwa sebagai pengamal tasawuf, akan tetapi mereka menyeleweng dari landasan yang telah ditetapkan oleh Islam. Inilah di antara masalah-masalah yang terpaksa di hadapi oleh para pengamal tarikat tasawuf sehinggakan ia memberi peluang kepada musuh-musuh tasawuf untuk melancarkan serangan jahat terhadap Islam secara umumnya dan tasawuf secara khususnya.
Namun ada sebagian pengamal tarikat tasawuf (oknum ilmu tasawuf) yang terlalu taksub sehingga mengatakan semua pihak yang mendakwa diri sebagai tarikat adalah betul dan tidak salah sama sekali. Mereka ini terus menyalahkan dan memaki-hamun siapa saja (di manakah akhlak sebagai seorang pengamal tasawuf?) yang mendakwa sesuatu tarikat itu tidak bertepatan dengan Islam walaupun orang yang berkata itu adalah para ulama sufi sendiri. Sedangkan kita semua juga mengetahui bahwa wujud segelintir tarikat yang menyalahi syariat Islam sebagaimana yang telah ana jelaskan di atas. Sikap ketaasuban mereka yang terlalu melampau ini juga bisa membuka ruang bagi musuh-musuh tasawuf dan tarikat untuk merendah-rendahkan Islam dan mengucar-kacir masyarat Islam itu sendiri.
SUFI ATAU PENDAKWA SUFI?
Pada hari ini kelihatan tasawuf dikecam dan diburukkan dengan begitu hebat oleh segelintir golongan yang mempunyai niat busuk lagi keji. Ada di kalangan mereka bertopengkan tasawuf serta menisbahkan diri kepada tasawuf. Ada juga di kalangan mereka yang menabur fitnah yang terus-terusan kepada pengamal tasawuf dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Mereka memburuk-burukkan tasawuf dengan berbagai cara di antaranya melalui kata-kata atau ucapan-ucapan umum, perbuatan, perjalanan hidup, penulisan dan sebagainya lagi sedangkan mereka ini tiada hubungannya dengan tasawuf. Ini menyebabkan masyarakat memandang serong terhadap pengamal tasawuf di sebabkan fitnah yang disebarkan oleh mereka yang konon-kononnya memahami agama Islam. Adakah tindakan mereka itu melambangkan mereka benar-benar memahami Islam?
Pertolongan Allah Taala sentiasa datang untuk membantu hamba-hambaNya yang benar. Allah Taala menunjukkan penyelewengan pendakwa kesufian yang menyeleweng ini untuk membedakan dengan ahli sufi yang sebenarnya. Di antaranya muncul para ulama muktabar terdiri daripada kalangan imam-imam yang diketahui keilmuan dan kealiman mereka itu dan mereka juga ialah tokoh-tokoh sufi yang begitu masyhur serta diakui kehebatannya. Mereka memberi pengakuan dan pengiktirafan terhadap tasawuf ini bahkan mereka juga di antara pengamal tasawuf yang diikuti oleh umat Islam. Mereka bangkit berdakwah dan menyampaikan kebenaran dan menagkis segala kebatilan yang datang dari musuh-musuh tasawuf.
Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa:
Di sana terdapat perbedaan yang begitu jelas di antara tasawuf dan sufi. Golongan yang mendakwa tasawuf dengan segala penyelewengan dan perselisihan bukanlah merupakan gambaran kepada tasawuf. Ia sebagaimana seorang muslim dengan segala perbuatannya yang mungkar bukanlah merupakan gambaran kepada Islam dan agama anutannya.
(Kitab: Haqaiq An al-Tasawuf).
Golongan yang baik ataupun jahat sentiasa ada di dalam semua golongan sehingga hari kiamat. Bukan semua ahli sufi itu sama tarafnya. Ada di kalangan mereka yang soleh dan ada di kalangan mereka yang lebih soleh. Ada yang hebat dan ada yang lebih hebat. Begitu jugalah umat dari generasi salaf yang ada di antara mereka yang baik lagi soleh dan ada di antara mereka yang jahat dan tidak soleh. Semua ini adalah ketentuan dari Allah Taala sebagai ujian dan dugaan kepada hambaNya yang beriman lagi bertakwa.
KESIMPULAN
ana ingin menasihati para sahabat sekalian (serta tidak di lupakan untuk diri sendiri juga) yang begitu bermusuhan dengan tasawuf dan tarikat agar kalian kembali kepada kebenaran. Janganlah kalian bersuka-suka menimbulkan fitnah dan tuduhan terhadap tasawuf yang kalian sendiri tidak fahami dan dalami. Apakah gunanya kali menabur fitnah di dunia yang sementara ini sedangkan kalian akan di hisab di akhirat kelak? ana doakan agar kalian akan diberikan cahaya kebenaran dari Allah Taala.
Semoga penjelasan dan penerangan ringkas ini sedikit banyak dapat memperbaiki tanggapan negatif dan salah faham yang timbul di antara umat Islam masa kini terhadap tasawuf dan tarikat. InsyaAllah. Akhir kata, ana sebenarnya bukanlah di kalangan orang yang begitu layak untuk membicarakan perihal tasawuf ini, akan tetapi inilah sumbangan sekedarnya yang bisa ana tulis untuk membantu agama Islam agar tidak terus dinodai.
Jejak-Jejak Iblis
"Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya, dan setan berkata: 'Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)'. Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Dia membujuk keduanya dengan tipu daya...." (Al-A'raf: 20 -- 22).
Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, Iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, Iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua dikeluarkan dari surga.
Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya.... Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat kepada Allah. Fawaswasa lahuma… (Iblis kemudian membisiki keduanya). Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi.
Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di surga."
Pintu tipu daya terbesar adalah ketika Iblis berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan…, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.
Setelah iblis berhasil mengendus keinginan moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua....').
Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."
Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim fa'il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi'il yang menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.
Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu."
Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan berkata: 'Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa'?" (Thaha: 120).
Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran; pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut memerangi teroris, dan seterusnya.
Mendompleng keinginan orang juga lazim digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot.
Sebagaimana Iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na waata'na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan. Sebagaimana juga kasus Bank Century dengan alasan penyelamatan karena berdampak sistemis.
Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak (sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia.
Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah: 'Aku berlindung dari Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia'." (An-Naas: 1 - 6). (Abu Zahrah).
Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, Iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, Iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua dikeluarkan dari surga.
Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya.... Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat kepada Allah. Fawaswasa lahuma… (Iblis kemudian membisiki keduanya). Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi.
Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di surga."
Pintu tipu daya terbesar adalah ketika Iblis berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan…, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.
Setelah iblis berhasil mengendus keinginan moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua....').
Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."
Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim fa'il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi'il yang menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.
Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu."
Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan berkata: 'Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa'?" (Thaha: 120).
Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran; pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut memerangi teroris, dan seterusnya.
Mendompleng keinginan orang juga lazim digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot.
Sebagaimana Iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na waata'na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan. Sebagaimana juga kasus Bank Century dengan alasan penyelamatan karena berdampak sistemis.
Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak (sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia.
Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah: 'Aku berlindung dari Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia'." (An-Naas: 1 - 6). (Abu Zahrah).
KENALKAN ANAK PADA AGAMA SEJAK DINI
Anak merupakan unsur yang terpenting dalam keluarga. Anak ad...alah penerus generasi, pelanjut sejarah. Di tangan merekalah masa depan umat. Allah berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (28)
"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS al-Anfal: 28). Ayat ini merupakan peringatan, jika kita dapat mendidik anak dengan baik, insya Allah anak tersebut menjadi anak yang saleh.
Upaya mendidik anak dimulai dengan mendoakannya semasih bayi, dengan doa yang dibacakan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, Ismail dan Ishak, "Aku berlindung dengan firman Allah yang sempurna dari segala setan, gangguan, dan penggoda yang jahat." (HR Bukhari). Selanjutnya memberikan pendidikan agama.
Imam Al Ghazali mengamati perkembangan anak mulai dari masa al-Janin, al-Thifi, dan al-Tamziz. Dalam masa ini anak diperbanyak latihan dan kebiasaan akhlak yang baik sehingga mampu membedakan baik dan buruk. Akal pikiran anak dikembangkan, agar dapat memahami ilmu.
Rasulullah SAW menyuruh kita untuk mengajari anak yang telah berumur 7 tahun untuk shalat. Memukulnya jika dia telah berumur 10 tahun. Sabda Rasulullah SAW, "Suruhlah anak-anakmu shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila telah berumur 10 tahun," (HR Abu Dawud dan Hakim).
Biar bagaimanapun sibuknya orang tua, haruslah memprioritaskan pendidikan anak. Terlebih lagi di saat sekarang ini yang sedang diliputi kerusakan, sehingga pengaruh lingkungan banyak memberikan pendidikan negatif terhadap perkembangan tabiat anak. Kehidupan semakin sulit. Moral kian runtuh, akhlak bertambah rusak. Pastinya, tidak layak membiarkan anak-anak kita hidup tanpa didikan yang baik.
Penanaman pendidikan anak tidak dapat dilakukan secara sambilan. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang anak (bayi) dilahirkan dalam keadaan bersih. Maka, ayah ibunyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani." Bila pendidikan anak terabaikan, maka kecelakaanlah yang akan menimpa kita, baik di dunia maupun akhirat.
Lukmanul Hakim yang hidupnya sezaman dengan Nabi Musa AS, memberikan nasihat terhadap anaknya, termaktub di surat Luqman ayat 12 sampai 19. Di antaranya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar," (ayat 13). "Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di dalam bumi, niscaya Alah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui," (ayat 16). "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar. Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah." (ayat 17).
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (28)
"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS al-Anfal: 28). Ayat ini merupakan peringatan, jika kita dapat mendidik anak dengan baik, insya Allah anak tersebut menjadi anak yang saleh.
Upaya mendidik anak dimulai dengan mendoakannya semasih bayi, dengan doa yang dibacakan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, Ismail dan Ishak, "Aku berlindung dengan firman Allah yang sempurna dari segala setan, gangguan, dan penggoda yang jahat." (HR Bukhari). Selanjutnya memberikan pendidikan agama.
Imam Al Ghazali mengamati perkembangan anak mulai dari masa al-Janin, al-Thifi, dan al-Tamziz. Dalam masa ini anak diperbanyak latihan dan kebiasaan akhlak yang baik sehingga mampu membedakan baik dan buruk. Akal pikiran anak dikembangkan, agar dapat memahami ilmu.
Rasulullah SAW menyuruh kita untuk mengajari anak yang telah berumur 7 tahun untuk shalat. Memukulnya jika dia telah berumur 10 tahun. Sabda Rasulullah SAW, "Suruhlah anak-anakmu shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila telah berumur 10 tahun," (HR Abu Dawud dan Hakim).
Biar bagaimanapun sibuknya orang tua, haruslah memprioritaskan pendidikan anak. Terlebih lagi di saat sekarang ini yang sedang diliputi kerusakan, sehingga pengaruh lingkungan banyak memberikan pendidikan negatif terhadap perkembangan tabiat anak. Kehidupan semakin sulit. Moral kian runtuh, akhlak bertambah rusak. Pastinya, tidak layak membiarkan anak-anak kita hidup tanpa didikan yang baik.
Penanaman pendidikan anak tidak dapat dilakukan secara sambilan. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang anak (bayi) dilahirkan dalam keadaan bersih. Maka, ayah ibunyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani." Bila pendidikan anak terabaikan, maka kecelakaanlah yang akan menimpa kita, baik di dunia maupun akhirat.
Lukmanul Hakim yang hidupnya sezaman dengan Nabi Musa AS, memberikan nasihat terhadap anaknya, termaktub di surat Luqman ayat 12 sampai 19. Di antaranya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar," (ayat 13). "Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di dalam bumi, niscaya Alah akan membalasnya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui," (ayat 16). "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar. Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah." (ayat 17).
Rabu, 28 April 2010
Wildan Hasan: Saudi dan Wahabi dalam Buku ‘Api Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara
Langganan:
Postingan (Atom)
