Minggu, 20 Desember 2009

Musuh Berwajah Ramah

Di saat ini, dunia tengah mengalami ancaman krisis moral secara global. Generasi muda yang tidak terbatas pada kaum muslimin saja, tengah dihadapkan pada penghancuran moral secara besar-besaran. Mulai dari narkoba, minuman keras, seks bebas dan penyelewengan terhadap norma agama lainnya. Hal ini dipicu dengan bantuan “si Musuh Berwajah Ramah” alias TV, yang telah berhasil meracuni otak-otak generasi muda.

Kehidupan glamour para selebriti yang menawarkan gaya hidup mewah dan perilaku seks bebas, telah menjadi idaman para remaja. Tak heran jika banyak para pemuda saat ini tergiur dengan dunia fatamorgana yang disajikan oleh televisi. Antrian panjangpun tak terelakkan ketika kontes artis dibuka. Mereka rela berdesak-desakkan sampai mengorbankan harga dirinya asalkan ia menjadi selebritis.

Televisi telah mengubah akal sehat penontonnya. Lihatlah hari ini, manusia memandang bahwa wanita yang memperlihatkan dada dan paha (baca: berpakaian, tapi telanjang) adalah trend masa kini dan ciri era modern. Sehingga banyak manusia yang mengikutinya dan menjadikannya suatu kebanggaan. Mereka telah berani menentang perintah Allah untuk menutup aurat dalam firman-Nya,

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS. Al-A’raf: 25)

Padahal dengan memperlihatkan dada dan pahanya akan menghilangkan rasa malu dan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah. Tidakkah mereka membaca peringatan Allah - Subhana Wa Ta’ala- di dalam Al-Qur’an,

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya." (QS. Al A’raf: 27)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa diantara makar setan adalah menelenjangi anak Adam sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawwa’. Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, "Allah berfirman demikian dalam rangka mengingatkan anak cucu Adam tentang bahaya setan dan bala tentaranya, dan dalam rangka menjelaskan kepada mereka tentang permusuhan Iblis yang telah lama kepada Bapak manusia –alaihis salam- berupa usaha Iblis dalam mengeluarkan Adam dari surga yang merupakan kampung kenikmatan menuju kampung kelelahan dan payah, dan Iblis juga menjadi penyebab tersingkapnya aurat Adam yang sebelumnya tertutup darinya. Hal ini tak akan terjadi, kecuali karena permusuhan yang kuat". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/420)]

Kaum muslimin pada hari ini bagaikan buih yang berada di tengah lautan. Mereka terombang-ambing oleh derasnya gelombang syahwat dan syubhat hingga mereka di hempaskan oleh setan hingga ke jurang kebinasaan yang abadi yaitu neraka.

Dengan bantuan televisi, setan membuat kaum muslimin terbiasa menyaksikan kemaksiatan sehingga mereka meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah dan baik. Anas bin malik -radhiyallahu anhu- berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian wahai manusia, melakukan amalan-amalan yang di mata kalian, kalian anggap lebih halus daripada rambut (sangat remah dan ringan). Namun kami di masa Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- manganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan.” [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ar-Riqoq (6492)]

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata, "Diantara dampak buruk maksiat, seorang hamba senantiasa melakukan dosa sampai dosa itu akan remeh menurutnya, dan terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda kebinasaan, karena dosa jika semakin kecil dalam pandangan seorang hamba, maka akan semakin besar urusannya di sisi Allah." [Lihat Ad-Daa'u wad Dawaa' (hal. 93-94), cet. Dar Ibnul Jauziy]

Oleh karena itu, hendaknya seseorang kembali kepada Rabb-nya! Janganlah ia menunda-nunda taubatnya hingga ia tidak mampu lagi untuk melakukannya. Ibarat seorang pemuda yang ingin mencabut sebuah pohon yang masih kecil, maka hal itu tidaklah sulit baginya. Namun apabila ia mengulur-ulur waktu, maka pohon itu akan semakin membesar dan akarnya akan semakin kuat tertancap ke dalam bumi, dan ia pun akan semakin tua dan melemah sehingga ia tidak mampu lagi untuk mencabutnya.

Para pembaca budiman, setiap hari televisi menyajikan kepada kaum muslimin tontonan-tontonan yang erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show dan klip lagu yang sarat dengan muatan pornografi telah menjadi menu setiap hari. Para wanita meliuk-liuk di depan kamera dengan mempertontonkan kemolekan wajah dan kelangsingan tubuhnya. Mereka menjual auratnya demi kehidupan fatamorgana. Akibatnya paha dan dada sudah menjadi pemandangan setiap hari di tengah kaum muslimin. Rasa malu telah hilang dan aurat pun menjadi sangat murah. Mereka bukan saja mencelakakan dirinya sendiri bahkan membuat fitnah di tengah kaum laki-laki dan menyeret kaumnya ke lumpur kehinaan. Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- telah memperingatkan tentang mereka,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُئُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَ إِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَ كَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” [HR. Muslim (2128)].

Kerusakan yang ditimbulkan oleh televisi untuk merusak akhlak dan meruntuhkan aqidah kaum muslimin begitu besar dan luas. Sebab, saat ini seolah-olah televisi dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Hingga menjadi aib jika suatu rumah tidak memilikinya. Hampir tak satu rumahpun baik yang berada di kota maupun di pedesaan, melainkan televisi telah hadir dan memberikan pengaruhnya. Hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh islam untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka menyatakan, “Gelas (khamr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta dan syahwat”. [Lihat Majalah Asy-Syari'ah]

Saluran-saluran televisi yang ada, seakan berlomba-lomba menyajikan tayangan dan gambar-gambar artis wanita. Oleh karenanya, kita melihat iklan-iklan yang ditayangkan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wanita dan yang ditampilkan adalah perempuan yang membuka auratnya. Namun, yang ditonjolkan bukanlah kualitas produknya, tapi justru kemolekan tubuh dan kecantikan wajah wanita itu. Wanita hanyalah dijadikan pemancing agar orang melirik produknya. Padahal perlu diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tak boleh tampak di depan selain mahramnya. Jadi, rambut, dada, paha, kaki, dan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Aurat bukan cuma kemaluan dan sekitarnya, tapi seluruh tubuh wanita!!

Ketika Ummu Salamah radiyallahu'anha bertanya kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tentang ujung bawah pakaian wanita, maka beliau bersabda, "Turunkan sejengkal". Lalu Ummu Salamah menjelaskan bahwa jika turun sejengkal saja, maka masih memungkinkan aurat wanita tersingkap. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

فَيُرْخِينَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ

"Kalau begitu turunkan satu depa (dua jengkal). Jangan melebihi satu depa." [HR. Abu Dawud (4119), At-Tirmidziy (1731), dan Ibnu Majah (3581). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar'ah (hal. 80)]

Hadits ini menunjukkan bahwa pakaian wanita (jilbab) adalah menutupi dari ujung kepala sampai ke tanah, sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mewajibkan wanita di zaman itu untuk menurunkan ujung pakaiannya sebanyak satu-dua jengkal dari tengah betis sampai menutupi telapak kaki.

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya menutup kedua kaki wanita." [Lihat As-Sunan Al-Kubro (2/233) karya Al-Baihaqiy]

Pembaca budiman, televisi juga telah merusak kehidupan rumah tangga kaum muslimin. Pada hari ini, ibu-ibu sangat gandrung dengan sinetron dan telenovela yang seluruhnya menawarkan gaya hidup mewah dan modern. Dahulu ia bersikap lemah lembut, taat kepada suaminya, menundukkan pandangannya kepada suaminya (memuliakannya), memohon ridhanya jika suaminya marah dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya. Namun, ketika televisi masuk ke rumahnya, TV tersebut mengajarkan kepadanya untuk durhaka kepada suaminya dan bermuka masam di hadapannya. Ia menuntut suaminya supaya menambah berbagai perabot yang ia lihat di sinetron-sinetron dan berbagai bentuk dan mode pakaian yang dipamerkan di televisi. Ia pun melihat di televisi laki-laki yang lebih tampan dan lebih menarik dari suaminya. Akhirnya mulai menertawakan suaminya dan menghinakannya, sehingga rusaklah kehidupan rumah tangganya.

Televisi juga telah melatih para pemuda tentang cara mencuri atau merampok melalui film-film yang mereka saksikan. Dahulu kejahatan masih sangat sedehana sehingga dalam tempo yang singkat dapat terungkap. Adapun sekarang, para penjahat mendapatkan cara dan modus kejahatan terbaru yang didapat dari televisi. Betapa banyak terjadi penculikan, perkosaan dan pembunuhan berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu dan sistematis, serta mampu melemahkan petugas dan menyulitkan mereka untuk mengungkap otak pelaku kerjahatan itu.

Begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan televisi, tapi kebanyakan manusia menutup mata darinya. Dosa yang ditimbulkan televisi begitu besar dan banyak. Dengan dalih berita dan informasi, semua dosa itu menjadi remeh, sirna dan termaafkan.

Fenomena ini sangat mengiris hati kaum mukminin. Hati yang dipenuhi dengan pengagungan kepada perintah dan larangan-larangan Allah -Subhana Wa Ta’ala-. Hanya kepada Allah mereka (kaum mukminin) mengadukan kesedihan ini. Sebab mereka takut akan ancaman Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an ketika merajalelanya kemaksiatan,

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Ketika Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab-Nya pada suatu kaum, maka tidak ada yang bisa mencegahnya, walaupun orang-orang shalih berada di tengah mereka. Zainab bintu Jahsyin -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-, ”Apakah kita akan dibinasakan sedangkan di tengah-tengah kita ada orang-orang shalih?” Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,

نَعَمْ, إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Ya, apabila telah banyak kejelekan.” [HR. Al-Bukhari (7059) dan Muslim (2880)].

Kita yang hidup di zaman ini , seharusnya lebih takut dan khawatir kepada ancaman Allah Yang Maha Keras Siksanya. Kita hidup di zaman yang sangat memprihatinkan, zaman yang penuh dengan fitnah (problema & ujian) dan banyaknya orang yang durhaka kepada Allah serta sangat sedikit orang-orang yang taat.

Hal ini bisa kita lihat ketika sebuah konser musik digelar, maka ribuan manusiapun berbondong-bondong ke sana, walaupun hujan lebat mengguyurnya. Namun kondisi itu berbalik 180 derajat ketika dalam perkara yang ma’ruf. Lihatlah rumah-rumah Allah kosong melompong ketika waktu sholat telah datang. Tidak ada yang menghadirinya melainkan hanya segilintir orang dari kaum muslimin. Itupun kebanyakannya kakek-kakek yang sudah hampir mati.

Wahai kaum muslimin, dahulu betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam ketenangan dan keamanan. Mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan dan melimpahnya makanan. Kemudian Allah membinasakan dan menggantikan keadaan mereka. Allah -Subhana Wa Ta’ala- mengganti nikmat itu dengan kelaparan, rasa takut dan adzab yang pedih. Hal ini disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala . Dengarkan Allah mengisahkan perihal mereka,

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112)

Ketahuilah, dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar yang membinasakan umat-umat terdahulu. Hawa nafsu telah menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan merasakan pedihnya siksa Allah Yang Maha Perkasa. Padahal mereka memiliki badan-badan yang lebih kuat dari kita, harta-harta yang melimpah dan tentara-tentara yang banyak. Namun semua itu, tidak mampu melindungi mereka dari murka Allah sedikitpun!! [Lihat Ad-Daa'u wa Ad-Dawaa' (hal.65-67) oleh Ibn Al-Qoyyim, tahqiq Ali bin Hasan Al-Halabiy, cet. Dar Ibn Al-Jauzy]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qoof: 36-37)

Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (taubat yang tulus) dan kembalilah kepada-Nya. Semoga Allah -Azza wa Jalla- meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya.

Tidak ada komentar:


review http://mahesakujenar.blogspot.com on alexa.com
free counters

Followers

 
heramkempek © . Template by: SkinCorner. SEO By: Islamic Blogger Template