Sabtu, 27 Agustus 2011

8 HAL YANG HARUS DILEPASKAN DALAM HIDUP, JIKA ANDA INGIN BAHAGIA ^_^

Bismillaahirrohmaanirrohiim

1. Melepas tekanan

Lelah tidaknya Anda tergantung pada persepsi Anda. Apabila Anda tidak membersihkan pikiran, maka pikiran akan penuh debu. Setiap hari Anda akan menemui banyak kegiatan, sebagian bahagia, sebagian lagi tidak.

Semua peristiwa ini akan menetap di pikiran, melebur dan mengacaukan pikiran. Bila Anda menyimpan kenangan yang menyakitkan, Anda akan merasa sangat tertekan. Oleh karenanya, bersihkan pikiran Anda, biarkan hal-hal itu berlalu, singkirkan kenangan pahit, maka Anda akan memiliki banyak ruang untuk kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan merupakan akar penderitaan Anda.

2. Melepas kekhawatiran

Kebahagiaan sebenarnya cukup sederhana. Melatih tersenyum, bukan secara mekanis memasang ekspresi pada wajah Anda, tetapi berusaha keras untuk mengubah apa yang Anda rasakan di dalam. Belajar untuk menerima kenyataan dengan tenang; belajar bagaimana mengatakan kepada diri sendiri, “Saya akan mengikuti sifat alam.”

Belajar bagaimana menghadapi krisis dengan jujur, memandang hidup dengan positif, melihat sisi terang dari segala sesuatu. Dengan demikian, secercah cahaya akan masuk ke dalam hati Anda dan menghalau kegelapan.

Kebahagiaan itu sebenarnya sederhana. Hanya membiarkan diri Anda merasa bahagia.

3. Melepas pikiran ruwet

Hilangkan hal itu dari kamus Anda. Tidak semua orang bisa menjadi contoh teladan yang dikagumi semua orang, namun semua orang dapat memiliki pikiran yang besar. Pikiran yang besar dapat meredam rasa sakit dan kesedihan seseorang; dapat mengompensasi kekurangan Anda; memungkinkan Anda untuk melanjutkan perjalanan hidup tanpa rasa takut dan membantu menyadari bahwa pikiran Anda sendiri dapat melampaui gedung pencakar langit dan gunung tertinggi!

Percaya pada diri sendiri, temukan relung sendiri dan Anda juga dapat memiliki kehidupan yang berharga.

4. Melepas rasa malas

Kerja keras dapat mengubah hidup seseorang. Jangan gelap mata, iri pada orang lain. Jika Anda dapat mencoba keras dan gigih, Anda juga bisa memilikinya. Karena ketika Anda berlatih hingga sempurna, itu adalah sebuah ketrampilan.

Hanya untuk mengingatkan: memperbaiki diri sendiri, bahagia, sehat, dan bersikap baik, akan memungkinkan Anda untuk memiliki kehidupan yang indah.

5. Melepas sikap buruk

Jika ingin berhasil, berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Ganti sikap negatif Anda dengan positif. Ganti keacuhan dengan martabat, kemunafikan dengan ketulusan; pikiran sempit dengan toleransi, depresi dengan kebahagiaan, kemalasan dengan ketekunan, kerentanan dengan ketangguhan… selama Anda mau, Anda akan menjadi yang terbaik sepanjang hidup Anda.

Tidak ada yang bisa mempengaruhi hasil perjuangan Anda. Anda adalah satu-satunya yang bertanggung jawab.

Meskipun tidak semua mimpi dapat menjadi kenyataan, mimpi indah dapat membawa keindahan pada hidup seseorang.

6. Melepas keluhan

Lebih baik bekerja keras daripada mengeluh. Semua kegagalan adalah dasar untuk sukses. Mengeluh dan menyerah adalah halangan yang mencegah datangnya keberhasilan. Menerima kegagalan dengan tenang adalah cara cerdas.

Mengeluh tidak dapat mengubah kenyataan, hanya kerja keras yang bisa membawa kembali harapan. Emas murni selalu ada saatnya bersinar.

Banyak mukjizat dalam kehidupan dibuat oleh orang yang lahir dalam lingkungan yang tidak menyenangkan.

Jangan khawatir pada hidup, dan jangan berpikir bahwa kehidupan memperlakukan Anda secara tidak adil.

Pada kenyataannya, Anda diberikan porsi hidup yang sama dengan orang lain.

7. Melepas keraguan

Mengambil tindakan cepat. Setelah Anda memutuskan sesuatu, jangan ragu. Majulah ke tujuan Anda dan jangan menoleh ke belakang. Kesempatan muncul sekejab dan hanya kecepatan dan ketegasan yang dapat menangkapnya.

Mengambil tindakan cepat merupakan salah satu karakteristik orang sukses. Bila Anda tahu bahwa ide Anda baik, bertindaklah secepat Anda bisa, jika Anda melihat peluang yang baik, tangkaplah. Dengan demikian, Anda dijamin akan sukses.

Beberapa orang harus Anda lupakan. Beberapa kejadian baik untuk mengintrospeksi diri Anda. Beberapa hal harus diurus. Beberapa hal tidak bisa menunggu, dan sekali keraguan timbul akan mengakibatkan penyesalan dalam hidup Anda. Hanya jika Anda dapat membiarkan hal-hal tersebut pergi ketika Anda harus melepasnya

Anda dapat memperoleh kebahagiaan yang benar-benar milik Anda dalam hidup ini.

8. Melepas prasangka

Ketika pikiran Anda luas, langit dan bumi akan menunjukkan ruang.

Toleransi adalah kebaikan. Bila Anda menolerir orang lain, Anda benar-benar membuat ruang bagi jiwa Anda. Hanya dalam dunia yang penuh toleransi, manusia dapat memainkan lagu kehidupan yang harmonis.

Jika tidak menginginkan prasangka, kita harus menciptakan masyarakat yang toleransi. Jika kita ingin menghilangkan prasangka, pertama-tama kita harus menyingkirkan pikiran sempit.

Hanya dengan menyingkirkan prasangka jauh-jauh, seseorang dapat memiliki keharmonisan dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat.

Bukan hanya kita yang menginginkan kebahagiaan, tetapi juga teman dan saudara kita, dan bahkan orang asing. Kita ingin mereka semua merasakan kebahagiaan kita.

Sukacita berbagi kegembiraan melampaui sukacita dalam memiliki.

Alhamdulillaahirobbil'aalamiin

Ciri-ciri orang beriman

Untuk melihat secara full (web version) dari tulisan ini silahkan lihat disini

Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "tiga hal yg termasuk dari iman;

berderma meski dalam kondisi kekurangan, jujur dengan diri sendiri, dan mengupayakan perdamaian di alam semesta (HR. Ahmad)

Sabda Nabi di atas merupakan ciri utama jika dia adalah benar2 orang yg beriman, yaitu:

1. mau berbagi walau keadaan diri masih kekurangan, karena imannya dia mau berbagi, dia yakin tidak ada kebaikan yg sia2 ^_^

2. jujur dg diri sendiri, dalam arti dia tidak pernah pura2 menjadi orang lain, kalau di dunia maya ini dia tidak pura2 jadi orang 'alim dengan hanya mengandalkan copas, jika tidak tahu, mengaku jujur tidak tahu, dan bukannya sok tahu. begitu juga jujur dg apa adanya dirinya ^_^

3. mengupayakan perdamaian, inilah yang utama, Islam itu agama yang damai, tidak suka dengan kekerasan, siapapun yg melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama Islam, sebenarnya dia telah menginjak-injak agama Islam, seperti para teroris yang ngakunya mujahidin tapi faktanya hanya menuruti keinginan hawa nafsu dan ammarah dirinya, sehingga berani berbuat dzolim dg mengatasnamakan agama.

begitu juga sikap suka menyesatkan amalan muslim lain yg sesuai dg syari'at dengan tuduhan bid'ah dlolalah, atau sesat. atau syirik, atau khurafat, juga jelas2 sikap provokator yg menunjukkan orang yg bersikap demikian, imannya masih lemah, jadi kalau kalian tahu ada orang menyesatkan tahlilan, menyesatkan Maulid Nabi, menyesatkan Pancasila, menyesatkan bermadzhab, harap maklumi saja, mereka itu orang2 yg lemah imannya, kalau bisa kita maafkan sikap mereka dan kita doakan semoga mereka tidak lagi menjadi provokator ^_^

Jumat, 26 Agustus 2011

MERINDUKAN WAJAH-WAJAH MULIA

Oleh : Abdullah bin Husein bin Thohir al-Alawy

Orang-orang yang dekat dengan Allah SWT adalah magnet yang bisa menarik siapa saja yang berada di sekitar mereka untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bagai berdaya listrik, mereka mampu mengisi ulang setiap iman yang cahayanya mulai redup akibat timbunan dosa-dosa. Beruntung sekali bila kita berkesempatan bertemu dengan orang-orang pilihan ini. Kita akan bisa memperbaharui energi iman kita dengan memandang wajahnya dan mendengarkan nasehat-nasehat yang mengalir dari lisannya.

Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawiy mengingatkan kita akan pentingnya berdekatan dengan ulama-ulama yang saleh. Berikut nasehat beliau kepada kita yang disampaikan sekitar dua ratus tahun lampau.

Ketahuilah, sesuatu yang paling mujarab untuk mempercantik hati, memancing ampunan atas dosa-dosa, menepis kegundahan hati, dan mengundang segala kesenangan rohani, adalah menghadiri majelis para wali, shalihin, alim ulama berhati khusyuk yang mengamalkan pengetahuannya, serta para ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud.

Merekalah manusia-manusia yang bila kita pandang akan mampu mengingatkan siapa saja kepada Allah SWT. Gerak-gerik mereka senantiasa membangkitkan gairah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ucapan-ucapan mereka mampu menggiring kita kepada rahmat-Nya. Cahaya mereka menaungi siapa saja yang ada di dekat mereka. Akhlak mereka yang indah akan menulari akhlak-akhlak kita. Amal-amal mereka yang hebat membuat nafsu kita merasa kerdil, dan yang terutama, berkah mereka akan dapat kita raih baik di kehidupan ini maupun di alam yang akan datang.

Dekat dengan mereka adalah suatu fadhilah besar. Memandang mereka bernilai ibadah. Cinta kepada mereka akan membuahkan keberuntungan. Siapa yang duduk di dekat mereka bakal memetik cahaya kebahagiaan dan meneguk tetesan rasa cinta.

Kapankah diriku ‘kan memandang mereka

Aduhai, kapankah mata ini menatap mereka

Atau telinga ini mendengar kabar tentang mereka?

Barangsiapa dikaruniai kesempatan untuk bisa duduk bersama atau sekadar memandang mereka, maka seyogyanya ia meyakini bahwa kesempatan itu adalah karunia teragung dalam rentang usia hidupnya. Hendaklah ia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin dan melazimkan diri untuk selalu berada di dekat mereka dengan perasaan cinta, hormat, husnuddzon, tatakrama yang baik lahir maupun bathin. Raihlah manfaat dan berkah mereka. Teladanilah mereka. Setiap insan kelak akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Baik buruknya seseorang tergantung pada pergaulannya.

Merekalah penabur hidayah di tengah manusia, sungguh beruntung siapa yang memandang mereka

Dan duduk di dekat mereka walau sejenak di sepanjang usia hidupnya

Merekalah suatu kaum yang menjadi hasratku

Dan haluanku di antara hamba-hamba-Nya

Cinta kepada mereka telah bersemi di relung hatiku

Mereka penyandang makrifat, kebeningan kalbu dan budi pekerti

Ada baiknya kita bercermin kepada anjing Ashabul Kahfi yang dengan setia menemani para wali-Nya. Berkat selalu bersama mereka, anjing itu menjadi beruntung hingga disebut bersama mereka di dalam Al-Quran, dan kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di dalam surga.

Perhatikanlah kertas sampul yang menempel pada Al-Quran itu. Ia menjadi mulia dan tak boleh disentuh kecuali oleh mereka yang telah bersuci, berkat menempel pada Kalamullah. Begitulah gambaran dalam berkawan dan bergaul.

Baginda Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan kawan yang saleh itu seperti penjual minyak misik. Kamu bakal diolesi minyak itu dengan cuma-cuma, atau kamu membelinya. Minimal kamu mencium aroma harum darinya.”

Syeikh Fadhal pernah berujar, “Barangsiapa melaksanakan shalat dengan bermakmum kepada orang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya diampuni pula. Barangsiapa bersantap makan bersama seseorang yang telah mendapat ampunan, maka dosanya pun diampuni. Dan barangsiapa duduk bersama orang-orang saleh, maka gairahnya pada kebaikan akan bertambah.”

Junjungan kita, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi bertutur, “Kefahaman adalah cahaya yang menyala di dalam hati. Karunia itu hanya akan diperoleh oleh mereka yang kerap duduk bersama orang-orang saleh dan tekun menelaah kitab-kitab mereka.”

TATA KRAMA

Ketahuilah, banyak sekali manfaat yang akan dipetik oleh mereka yang senantiasa bergaul dengan kaum shalihin dengan sikap yang penuh adab, dalam tingkah laku fisik maupun hati. semua keutamaan terpendam di dalam tatakrama. Andai tatakrama tidak diindahkan, maka yang berlaku adalah apa yang pernah diucapkan seorang bijak, “Tidaklah penolakan (dari rahmat) itu kamu dapatkan bila kamu tidak ditakdirkan dekat dengan kaum shalihin. Tapi penolakan itu niscaya kamu dapatkan bila kamu ditakdirkan dekat dengan mereka namun kamu tidak bertatakrama kepada mereka.”

Andai kita tidak memiliki atau jarang berkesempatan berada di dekat orang-orang saleh, maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, yakni berkumpul dengan orang-orang yang lalai dan fasik. Kembalilah mengenang sejarah hidup kaum shalihin berikut kondisi dan amal-amal mereka. Bacalah kitab-kitab dan wasiat-wasiat mereka, juga kasidah-kasidah dan hikayat tentang perilaku zuhud, wara’, qana’ah, khumul (menjauhi ketenaran) yang mereka terapkan, serta ibadah dan akhlak mereka yang luar-biasa.

Dengan mengenang mereka, maka rahmat Allah SWT akan mengalir deras kepada kita. “Bila dirimu tak berkesempatan menjumpai mereka, maka di dalam kalam mereka terkandung sinar yang mampu menghidupkan hati dan sanubari,” begitulah kata sebagian orang bijak.

Sayangnya, yang begitu dominan di zaman kita sekarang ini adalah cerita tentang kekejian dan para pelakunya. Saat ini orang lebih asyik menyimak omong kosong, gosip murahan, adu domba, berita kriminal dan asusila. Mereka tak lagi tertarik pada kisah orang-orang saleh dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Bahkan, mereka enggan untuk sekadar bertanya mengenai urusan agama mereka kepada ulama.

Sumber : www.cahayanabawiyonline.com

Lelaki parlente

Lelaki perlente itu tidak hanya dikenal sangat tampan, yang ketampanannya bahkan mengalahkan kecantikan wanita paling cantik. Ia juga lelaki paling berkuasa dan paling disegani di muka bumi ketika itu. Lelaki itu adalah khalifah pertama sekaligus pendiri khilafah Bani Umayyah. Di ibu kota khilafahnya, Damaskus, ia membangun sebuah istana megah. Ia punya selera. Semua yang ia miliki adalah mimpi-mimpi wanita. Namun itu lantas jadi ironi: kali ini cinta tersedak. Ia tergila-gila pada seorang gadis badui yang cantik dan innocent. Ia menikahinya. Lalu memboyongnya tinggal di istannya. Tapi ia gagal menerbitkan bahkan sebersitpun cinta dalam hati sang istri. Ketampanan, kemewahan dan kekuasaan Muawiyah tidak cukup memadai membangkitkan cinta dalam jiwanya. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana menikmati kemewahan dalam istana sang suami. Setiap kali langkah kakinya menderap di sudut-sudut istana, ingatannya malah kembali ke dusunnya. Sebab disana ada seorang pemuda badui yang terus merindukannya. Pada suatu malam yang sunyi, ketika purnama menghias langit malam, kesabarannya berakhir. Rindunya meledak dalam bait-bait syair yang ia senandungkan. Sayup-sayup Muawiyah mendengarnya. Ia terhenyak. Ia tahu bait-bait itu adalah sebuah deklarasi: aku tidak mencintaimu, aku tidak mencintaimu, aku ingin pulang, aku tidak bisa mencintaimu, aku ingin menikah dengan kekasihku! Muawiyah tersadar. Kekuasaan memungkinkan ia menikahi gadis badui itu dengan mudah. Tapi kekuasaan tidak dapat membantunya merebut cintanya. Gadis innocent itu adalah perempuan merdeka. Ia memilih untuk meninggalkan istana Muawiyah yang megah hanya untuk hidup bersama seorang pemuda dusun yang teramat sederhana. Dengan berat hati akhirnya Muawiyah menceraikan sang istri, seorang gadis lugu yang telah membuatnya tergila-gila. Cinta secara umum adalah emosi kebajikan yang meledakkan semangat memberi dalam jiwa kita. Itu sebabnya kita selalu menjadi lebih baik ketika kita sedang jatuh cinta. Tapi ketika cinta dihadapkan pada objeknya, khususnya cinta antara laki-laki dan wanita, emosi kebajikan tetaplah emosi kebajikan, tapi dengan chamistry yang sangat unik. Dua emosi kebajikan belum tentu bisa bertaut secara kimiawi dengan mudah. Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dia fisik, ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta. Maka sepasang laki-laki dan wanita bisa melakukan hubungan seks tanpa cinta. Atau, pernikahan bisa berlangsung tanpa cinta. Sebagai manusia jiwa kita memiliki tabiat kimiawi yang sangat unik. Dan tidak bisa ditebak. Seorang perempuan lembut bisa jadi mencintai seorang laki-laki kasar, kerena kelembutan dan kekasaran adalah dua kutub jiwa yang bisa bertemu seperti air dan api: saling tergantung dan saling menggenapkan. Tapi keunikan jiwa itu sama sekali tidak mengurangi kadar kebenaran dari fakta bahwa cinta sebagai emosi kebajikan tetaplah harus mengejawantah pada semangat memberi, dan bahwa nilai kita di mata orang yang kita cintai tetaplah terletak pada kadar manfaat yang kita berikan padanya. Dan jika pada suatu hubungan cinta kita tidak memberi sesuatu pada yang kita cintai, sementara hubungan cinta itu tetap berlanjut, bahkan langgeng, percayalah, itu semata-mata karena kesabaran sang kekasih menyaksikan pencintanya mengkonsumsi kebajikannya setiap saat, atas nama cinta. Yang satu memberi atas nama cinta, yang lain menerima atas nama cinta. Ironis memang. Tapi faktanya ada. Bahkan mungkin banyak beredar di sekitar kita.

Kamis, 25 Agustus 2011

KehendakNYA bukanlah paksaan

[85 AL BURUUJ 17-22] Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Firaun dan (kaum) Tsamud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lohmahfuz.

Fir'aun menurut pandangan saya adalah orang-orang yang menuhankan dirinya atau dalam arti lain juga menjadikan hawa nafsu/hasrat/kehendaknya sebagai Tuhannya.

Banyak ungkapan-ungkapan khususnya atheis bahwa kehendak Tuhan adalah paksaan, karena ia merasa tidak ingin dilahirkan atau bukan atas kehendaknya ia lahir. Mungkin perlu ditanya lebih jauh kepada orang tua yang melahirkannya. Begitu juga keengganan mereka untuk terikat dengan agamaNYA, sangat nampak pada diri mereka pembangkangan.


Apakah pantas kita menyeru kepada kebaikan dengan paksaan?

2:256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam kaitain ini saya mencoba mengumpulkan bukti yang ada dalam Al-Qur'an :

Seruan Rosul-Rosul :
6:135. Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.

11:93. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu."

11:121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: "Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami-pun berbuat (pula)."

[2.285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

[2.286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Tentunya akan lebih banyak lagi kita dapati didalam Al-Qur'an, tulisan ini semata untuk penggugah kita dalam memahami takdir, mana yang merupakan kehendak dan mana ketetapanNYA. Begitu juga pada diri kita kemana kehendak kita diarahkan? Menjauh dariNYA maka yang akan didapati adalah ketetapanNYA juga, tentunya ketetapan yang buruk. Dan hendaknya kita dalam memutuskan/menetapkan segala sesuatu tidak lepas dari apa yang telah ditetapkanNYA terutama dalam segi hukum, dan yang paling penting adalah bagaimana mengaplikasikan hukum dengan menggiring orang dengan segala kesadaran untuk terikat/taat. Yang mana kesadaran kadang tidak cukup dengan peringatan namun juga harus dijelaskan sesuai dengan kemampuan kita. Seperti layaknya mengulurkan tali tentu butuh tali yang panjang untuk menguraikan sampai pada kedudukan orang yang sedang minta penjelasan.

5:101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

5:102. Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Dari hikmat dua ayat diatas bahwa hendaknya kita pelajari dulu yang dekat-dekat yang dapat kita maknai dengan baik, jangan biasakan diri dengan jawaban-jawaban namun tetap menghasilkan keraguan, karena pada hakikatnya perolehan iman itu sangat bergantung dengan amalan dan DIA saja yang berhak menentukan.

2:90. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

Dan pahamilah segala sesuatu sesuai dengan wilayahnya, mana wilayah syariat atau hukum dan mana wilayah pengetahuan dan alam. Sehingga tidak tercampur-campur, Al-Qur'an sangat detail jika kita memahami keterkaitan ayat-ayatNYA dan orientasi yang dijelaskannya.

14:52. (Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

Rabu, 24 Agustus 2011

Bersama Yang Kau Cinta

Riwayat dari Abu Musa ra, mengatakan: Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw,
lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, seseorang mencintai suatu kaum dan ia tak
pernah berjumpa dengan mereka…"
Rasulullah Saw, bersabda:
"Seseorang beserta orang yang dicintai."

Hadits mulia ini berniscaya bagi kita untuk mencintai kaum ahli ma'rifat
('arifin), sekaligus menjadi berita gembira bahwa
kita bersama mereka, manakala cinta kita benar. Bukankah agama itu tidak
lain adalah cinta dalam Allah dan benci karena Allah?
Maka diantara rahasia cinta sejati adalah sang 'arif diangkat ke wilayah
maqom Sirr dan Keagungan ketika berdialog pada selain Dia.

Anak-anak sekalian! Ketahuilah bahwa Allah Yang Maha mengenal terhadap
rahasia-rahasia para penempuh, Yang Melihat hasrat kaum 'arifin, memberikan
tugas kepada mereka agar selaras dalam 'ubudiyah, lalu mewujudkannya dengan
prasyarat-prasyaratnya, agar tidak melampaui batas kehambaannya, jangan
sampai memasuki batas Rububiyah. Jangan sampai melampaui batas kefakiran
melewati batas Kemaha cukupan Allah Ta'ala. Allah Swt berfirman:

"Wahai manusia, kalian semua adalah fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah
adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji."

Segala sesuatu ini ada sebab, dan sebab bagi jalan keluar adalah ubudiyah
yang benar. Allah Swt berfirman:

"Siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar".
Jalan keluar dari penyembahan selain Allah Swt.
Dan Allah "Memberi rizki" berupa rasa senang bahagia dan cinta serta rindu
kepadaNya, "Tanpa bisa dihitung."

Makna ayat tersebut dalam versi lain juga, "Siapa yang bertaqwa kepada
Allah" dengan menjaga rahasia-rahasia diri dari bencana berpaling kepada
selain Allah, "Maka Allah akan memberikan jalan keluar padanya," dari hijab
penjauhan dari Allah, "dan Allah memberikan rizki" berupa Musyahadah dan
Wushul, "dari arah yang tak terduga."
Begitu juga Allah menjadikan sebab kema'rifatan hamba kepada Tuhannya,
melalui pengenalan hamba pada dirinya, "Siapa yang mengenal dirinya maka ia
mengenal Tuhannya."
Maknanya:
• Siapa yang mengenal dirinya dengan wujud kehambaannya, maka ia mengenal
Tuhannya dengan RububiyahNya.
• Siapa mengenal dirinya dengan fananya, maka dia mengenal Tuhannya dengan
Baqa'Nya.
• Siapa yang mengenal dirinya dengan kehampaan dan serba salahnya, maka ia
mengenal Tuhannya dengan keselarasan dan anugerahNya.
• Siapa mengenal dirinya dengan rasa butuhnya, maka dia mengenal Tuhannya
dengan menegakkan rasa sangat terdesak untuk menuju hanya kepada dan bagi
Allah.
• Siapa mengenal dirinya hanya bagi Tuhannya, maka sedikit sekali kebutuhan
kepada selain Allah.
Nabi Saw Bersabda:

"Siapa yang mengenal (ma'rifat) Allah, maka ia teguh dengan haknya."

Maksudnya:
• Siapa mengenal Allah melalui hidayah, maka ia pasti menyerahkan sepenuhnya
kepadaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui RububiyahNya, ia tegak dengan prasyarat
Ubudiyah kepadaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui balasanNya, maka terjadilah rasa mohon
pertolongan padaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui kecukupan dariNya, maka ia tidak butuh kepada
selain DiriNya.

Nabi Saw Bersabda:

"Siapa yang mengenal (ma'rifat) Allah, maka ia teguh dengan haknya."

Maksudnya:
• Siapa mengenal Allah melalui hidayah, maka ia pasti menyerahkan sepenuhnya
kepadaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui RububiyahNya, ia tegak dengan prasyarat
Ubudiyah kepadaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui balasanNya, maka terjadilah rasa mohon
pertolongan padaNya.
• Siapa mengenal Allah melalui kecukupan dariNya, maka ia tidak butuh kepada
selain DiriNya.

Dalam riwayat, Allah Swt memberi wahyu kepada Nabi Dawud as: "Ingatlah,
siapa yang mengenalKu, berarti menghendakiKu
dan mencariKu. Siapa yang mencariKu akan bertemu denganKu. Siapa yang
bertemu denganKu, pasti tidak akan pernah memilih kekasih selain DiriKu".
Syeikh Abu Bakr al-Wasithy ra, mengatakan, "Siapa mengenal Allah ia
mencintai Allah. Siapa mencintai Allah
ia taat kepada Allah. Siapa yang taat kepada Allah segala sesuatu selain
Allah akan terputus darinya".
Siapa yang terhalang ma'rifat, akan terhalang manisnya taat. Siapa yang
terhalang manisnya taat, terhalang bermesraan dalam khalwat (sunyi).
Maka ia tak akan menemukan pandangan terhadap anugerah dalam beribadah, dan
tidak mengenal kekuasaan Allah secara hakiki, hingga dalam berbagai situasi
ia terkalahkan, lalu gugurlah dalam menjaga istiqomahnya Rahasia bersama
Allah Ta'ala.
Syeikh Husuf al-Asbath ra, mengatakan:
• Siapa yang mengenal Allah, sedang dalam qalbunya ada hasrat selain Allah,
berarti tak pernah sujud yang sejati kepada Allah.
• Siapa yang mengenal Allah, sedang ia tidak merasa cukup bersama Allah,
maka Allah tidak pernah mencukupinya.
• Siapa yang berkata, "Allah" namun dalam hatinya masih tersisa selain
Allah, sesungguhnya ia tidak pernah berkata "Allah".
• Memang, siapa yang takut kepada Allah dalam segala hal, maka Allah
memberikan rasa aman dari ancaman segala hal.
• Siapa yang bahagia dengan Tuhannya, maka segala hal selain diriNya tak
membuatnya gentar.
• Siapa yang mencari kemuliaan kepada Yang Empunya Sifat Mulia, maka ia pun
jadi mulia.
• Siapa yang mencari kemuliaan selain DiriNya, maka tak ada kebanggaan dan
tak ada kemuliaan yang didapatinya.
• Siapa yang putus dari sebab akibat dunia yang bisa menyibukkan dari Allah
Swt, maka ia akan bertemu dengan segala kesibukan yang menyambungkan dirinya
pada Allah Swt.
• Siapa yang meninggalkan ikatan ketergantungan pada makhluk, ia akan
bahagia dalam seluruh waktunya.
• Siapa yang merasakan manisnya dzikir pada Tuhannya, ia akan bosan
mengingat selain Allah.
• Siapa yang menyembunyikan rahasia hatinya, akan muncul
rahasia-rahasia tersembunyi padanya.
• Siapa yang menjadikan hasratnya adalah Satu hasrat kepadaNya, maka Allah
mencukupi seluruh hasratnya.
• Siapa yang mencari ridho Tuhannya, ia tak akan pernah peduli dengan
kebencian selain Allah.
• Siapa yang merasa cukup puas dengan maqom (posisi ruhani)nya, ia malah
terhijab dari apa yang di depannya (maqom lebih tinggi).
• Siapa yang dekat kepada Allah, maka segala hal selain Allah terasa asing.
• Siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat, hendaknya
ia memutuskan diri hanya kepada Sang Pemilik dunia akhirat.
• Siapa yang meninggalkan kebaikan menjaga diri, ia akan terpeleset dari
jalan hidayah.
• Siapa yang hendak minum dari Cinta Allah satu tegukan, hendaknya ia juga
minum dengan memuntahkan segala hal
selain Allah.
• Siapa yang mesra bahagia dengan selain Allah, segalanya membuatnya jadi
gentar.
• Siapa yang hatinya tentram pada selain Allah, maka ia tak dapat apa pun
dari Allah Swt.

Rasulullah Saw, bersabda:

"Siapa yang ketika dinihari hasratnya sudah tertuju pada selain Allah, maka
ia tak akan dapat apa-apa."

Dalam sebagian Kitab-kitab Allah Swt berfirman:

"Siapa yang menghendaki Kami, maka Kami menghendakinya.
Siapa yang menghendaki anugerah Kami maka Kami memberikannya.
Siapa yang mencintai Kami, maka Kami mencintainya. Siapa merasa cukup
pemberian dari Kami, maka Kami memberikan hanya padanya dan apa pun anugerah
Kami. Ingatlah siapa yang mencariKu pasti bertemu denganKu, dan siapa yang
mencari selain DiriKu, ia tak pernah menjumpaiKu."

Dikatakan dalam KitabNya pula:
• Siapa yang mencariKu dengan taubatnya, ia mendapatkanKu dengan
MaghfirahKu.
• Siapa yang mendapatkanKu dengan syukurnya atas nikmatKu,
ia mendapatkanKu dengan tambahnya nikmat.
• Siapa yang mencariKu melalui doa, ia dapatkan DiriKu
melalui Ijabah.
• Siapa yang mencariKu dengan rasa pasrah diri kepadaKu,
ia dapati DiriKu dengan Kecukupan dariKu.
• Siapa yang mencariku dengan Kedekatan padaKu, ia jumpai Aku dengan
kemesraan bahagia.

• Siapa yang mencariKu dengan Cinta, ia dapatkan DiriKu dengan WushulKu.
• Siapa yang mencariKu dengan penuh kerinduannya, ia dapatkan Aku dengan
Perjumpaan dan melihat kepadaKu.

Sebagian Sufi mengatakan:
• Siapa yang hanya bagi Allah Swt , maka Allah Swt. hanya baginya: Yakni
siapa yang berselaras dalam urusan Allah Swt, maka Allah Swt, mengurusinya.
• Siapa yang berada dalam Dzikrullah, maka Allah Swt senantiasa
mengingatnya.
• Siapa yang berada dalam Cinta kepada Allah Swt, maka Allah Swt, dalam
cintanya.
• Siapa yang berada dalam jalan meraih Ridho Allah Swt, maka Allah Swt,
berada dalam Ridho kepadanya.

"Siapa yang berpegang teguh pada Allah maka benar-benar
ia diberi hidayah jalan mustaqim (yang lurus menuju Allah)."

Rasulullah Saw, bersabda:

"Siapa yang cinta bertemu Allah Swt, maka Allah Cinta pula menemuinya. Siapa
yang benci bertemu Allah, Allah pun membenci bertemu dengannya."

Aturan hukum kaum 'arifin
Diantara aturan kaum 'arifin:
• Siapa yang diuji melalui amal ibadahnya sang hamba,
maka hendaknya ia menggunakan pakaian dari besi.
• Siapa yang rela pada sedikit dunia, ia akan istirahat dari kesibukan yang
menumpuk.
• Siapa yang ambisi pada dunia, pada saat yang sama ia sedang jauh dari
Allah Ta'ala.
• Siapa membuka tutup ketaqwaan, maka langit yang luhur tak akan
menutupinya.
• Siapa yang memandang akibat-akibat perkara yang dijalaninya, ia akan
selamat dari tahun-tahun yang berganti.
• Siapa yang tidak menerima sedikit, ia akan susah berkepanjangan.
• Siapa mencabut pedang taqwa dari sarungnya, ia akan memukul leher-leher
kontra Tuhannya.
• Siapa yang terus menerus memanjakan kesenangan,
selamanya akan terpedaya.
• Siapa yang tidak bisa menjaga ucapannya, maka akan rusak perilakunya.
• Siapa yang tidak mengenal tempat bahayanya, ia tidak mengenal tempat
manfaatnya.
• Siapa yang kontra dengan pergaulan kaum penyimpang agama, Allah Swt, akan
menggantikan dengan pergaulan orang-orang
yang baik.
• Siapa yang meraih kemuliaan tanpa kebenaran, Allah Swt. akan
menghinakannya dengan kebenaran.
• Siapa yang menelantarkan hari-hari tanamnya, ia akan menyesal
di hari-hari panennya.
• Siapa yang pasrah diri pada selain Allah Swt, maka pasrah diri itu
dijadikan siksa oleh Allah Swt, padanya.
• Siapa yang rela kepada Allah sebagai Tempat Berserah diri, maka setiap
kebaikan akan jadi bukti baginya, dan setiap kebaikan yang ditemuinya
menjadi jalan baginya.
• Siapa yang menemukan kemesraan akan keluhuran diri, ia tidak akan
menemukan kepahitan cobaan.

"Siapa yang di dunia ini buta hatinya, maka dia di akhirat lebih
buta lagi."

Diantara Wasiat 'arifin
Disebutkan, ada tiga kalimat, dimana kaum terpilih dahulu saling memberikan
wasiat satu sama lainnya:
1. Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah Swt, mencukupi urusan
dunianya.
2. Siapa yang memperbagus rahasia batinnya, Allah Swt, memperbagus
dzohirnya.
3. Siapa yang memperbagus apa yang ada antara dirinya dengan Allah Swt.
Allah pun memperbagus antara Dirinya dan makhluk manusia.

Sebuah syair dilantunkan:
Sungguh batin dan lahir manusia sama
Memandang dunia akhirat dan ingin puja
Bila lahir kontra batin maka sungguh tiada utama
Melainkan hanya kepayahan dan derita

Syair lain:
Siapa yang meraih kemuliaan pada Tuhannya
Itulah keagungan
Siapa yang melemparkan kemuliaan diri pada selain DiriNya
Itulah kehinaan
Jika saja ada seseorang yang dibagusi rajanya
Yang memenuhi kebutuhannya dalam satu sujud saja
Itu pun tak ada artinya

Sumber:
Buku Mejelang Marifat | Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y
Terjemahan : KHM Luqman Hakim MA

Agar Taqwa Terasa Mudah dan Ringan

ALLAH SWT. menciptakan manusia dengan kecenderungan mencari kepuasan dan
menghindari kesulitan, padahal Allah Swt. menghendaki para hambaNya untuk
melakukan ibadah, yang berat,

dan meninggalkan maksiat, yang sulit ditinggalkan. Dia menyelimuti surgaNya
dengan kesulitan dan menyelubungi nerakaNya dengan kenikmatan syahwat.

Mengetahui tabiat ini, Allah Swt. menjanjikan pahala dan keagungan bagi
orang yang patuh kepadaNya dan berpaling dari syahwat, supaya hamba tertarik
untuk beribadah dan mendekatkan diri kepadaNya. Disamping itu, Dia memberi
ancaman siksa dan kehinaan atas orang yang mendurhakaiNya dan memperturutkan
hawa nafsu, supaya hamba tidak membangkang dan tidak berbuat buruk.

Cara mudah dalam meningkatkan takwa adalah dengan berharap-harap cemas.
Ketika melihat kemuliaan yang Allah janjikan kepada hambaNya yang taat,
manusia senang dan tergerak untuk mengabaikan kesulitan dalam beribadah dan
meninggalkan larangan. Saat mengetahui ancaman Allah untuk hambaNya yang
bermaksiat, manusia takut dan tergerak untuk mematuhiNya.

Berharap-harap cemas merupakan sarana efektif menuju pelaksanaan amal wajib
dan amal sunah serta penghindaran perbuatan terlarang dan perbuatan makruh.
Seorang hamba harus senantiasa menghadirkan perasaan tersebut, sehingga
pahala dan siksa benar-benar terpampang di depan kedua matanya. Dengan
begitu, ia terpicu untuk menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan.

Masalahnya adalah bahwa konsistensi untuk selalu menghadirkan perasaan
tersebut berat bagi jiwa, dan ini disebabkan oleh tiga faktor:
1. Bayangan kejadian akhirat yang mengerikan sangat berat bagi jiwa, bahkan
menyakitkan hati, terutama bagi orang yang bergelimang dosa, banyak cela,
dan mengkhawatirkan pertemuannya dengan Tuhan saat keburukannya diungkap.
2. Bayangan akhirat yang menakutkan membuat impian tentang indahnya dunia
dan hasrat untuk memperturutkan syahwat padam.
3. Setan dan hawa nafsu selalu membisikkan bahwa tobat berarti mencegah diri
untuk menikmati kesenangan dan kepuasan di dunia.

Oleh sebab itulah, setan dan hawa nafsu menyuruh manusia untuk membuang
keinginan bertobat. Hawa nafsu menyuruh demikian agar ia bisa mereguk
kesenangan dan kenikmatan duniawi. Adapun setan adalah musuh manusia,
sehingga wajarlah kalau ia selalu membisikkan dosa dan permusuhan demi
mendapatkan teman ketika disiksa dalam neraka.

Cara melawan bisikan dalam dada ini adalah membandingkan kenikmatan duniawi
dengan kenikmatan ukhrawi. Dengan begitu, orang akan sadar bahwa kenikmatan
duniawi yang terlewatkan sejatinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan
kenikmatan yang bisa diperoleh di akhirat, terutama nikmat menatap wajah
Tuhan Yang Mahamulia.

Orang cerdas tentu takkan pernah mengutamakan sesuatu yang sedikit lagi fana
di atas sesuatu yang mehmpah lagi abadi. Setelah terbiasa membandingkan
kedua kenikmatan tersebut, hamba pasti lebih menghargai kenikmatan agung
yang kekal daripada kepuasan sesaat yang rendah. Ketika melihat beratnya
ibadah di dunia, bandingkanlah dengan beratnya azab akhirat yang disertai
dengan murka Tuhan Sang Pencipta.

Dengan begitu, hamba pasti rela menjalani kesulitan sesaat agar terhindar
dan penderitaan luar biasa yang abadi. Orang cerdas pasti memilih
penderitaan sejenak daripada penderitaan selamanya. Ia akan mengintrospeksi
diri dan berkata kepada jiwanya:

Bedebah kau jiwa! Engkau gelisah saat tersengat bayangan akhirat yang
mengerikan, tetapi tidak resah dengan ancaman akhirat yang menghanguskan
segenap jiwa dan ragamu?! Engkau keberatan untuk membuang bayangan
kenikmatan duniawi yang semu dan hina, tetapi tidak keberatan untuk
menyingkirkan bayangan kenikmatan akhirat yang hakiki?! Apakah kau ingin
menukar sesuatu yang mulia dengan sesuatu yang nista?! "Dan amat jahatlah
perbuatan mereka menjual diri demi sihir andai saja mereka tahu." Kalau
engkau membiasakan diri memikirkan perkara akhirat, niscaya Allah mengganti
hasrat bermaksiat dengan indahnya ibadah dan harapan akan pahala di akhirat.

Orang dapat konsisten menghadirkan bayangan mengerikan Hari Kiamat jika ia
berusaha sekuat tenaga membayangkannya. Ini baru bisa dicapai jika hati
kosong dan hanya memikirkan peristiwa itu berikut segala sesuatu yang
berhubungan dengannya. Di samping itu, anggota tubuh juga tidak boleh sibuk
dengan sesuatu yang menghapus pikiran tentang Hari Kiamat.

Rangkaian kejadian Hari Kiamat harus selalu diingat hingga kalbu gemetar dan
takut, lalu menggerakkan Anda untuk menyiapkan diri guna menghadapi hari
itu. Untuk membuat masakan dalam panci cepat matang, umpamanya, kayu bakar
di bawahnya harus banyak. Hati pun cepat matang dan membuang nafsu
syahwatnya bila telah dirasuki rasa takut akan siksa. Ketika Anda berusaha
menakut-nakuti kalbu, setan pasti berusaha merusak usaha itu dengan
menanamkan kepercayaan bahwa Anda telah sukses melakukan itu berkat tekad
dan kecermatan Anda dalam menata kalbu. Kalau Anda menerima bisikan ini,
usaha Anda pasti sia-sia. Kalau Anda mengacuhkannya, rasa takut kalbu
benar-benar berguna.

Rasa takut yang bermanfaat ini akan berpadu dengan taufik dan membuat Anda
terhindar dan dosa serta giat beribadah kepada Tuhan Sang Pencipta langit
dan bumi.

Seandainya cahaya makrifat menyinari seseorang, segenap hasrat dan tekadnya
terhimpun tanpa harus membiasakan diri memikirkan akhirat. Sayangnya, zaman
sekarang, sulit menemukan orang seperti itu.

Hatiku dipenuhi segudang ambisi
Yang segera sirna setelah mata hatiku melihat-Mu
Aku meninggalkan dunia dan agama manusia demi menyibukkan diri dalam
mengingat-Mu
Wahai agama dan duniaku, orang yang kudengki berubah iri kepadaku
aku menjadi tuan di dunia setelah menjadikan-Mu sebagai Tuhan.

Kebiasaan memikirkan akhirat dan memusatkan tekad yang meningkatkan
ketakwaan dan ibadah kepada Allah Swt. bisa dicermati melalui dua ilustrasi
berikut.

Baju kotor yang dipenuhi noda hanya bisa dibersihkan dengan dicuci
berulang-ulang. Demikian juga kalbu yang dipenuhi kotoran syahwat dan noda
perbuatan haram. Ia hanya bisa dibersihkan dengan senantiasa mengingat
akhirat, sehingga ia bertobat dan meninggalkan perbuatan nista. Penyakit
yang menahun hanya bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan
berkesinambungan. Demikian pula kalbu berpenyakit. Ia hanya bisa diobati
dengan terus-menerus membayangkan siksa yang Allah Swt. janjikan kepada para
pendosa.

KH M LUQMAN HAKIM MA

Selasa, 23 Agustus 2011

Meraih Ridha Allah Dengan Tiga Perkara

“Bukti paling nyata atas kesempurnaan akal seseorang adalah pujiannya kepada teman sejawat; bukti paling nyata atas kerendahan hati seseorang, kerelaannya untuk diakhirkan di tempat yang semestinya ia berhak didahulukan; dan bukti paling nyata keikhlasan seorang hamba ialah tidak menghiraukan dalam membuat marah makhluk dalam membela kebenaran.” (Imam Abdullah Al-Haddad)

KESEMPURNAAN AKAL

Saat seseorang mendapati teman yang selalu memberi kritik membangun, dan ia senang dengan hal itu, petanda kesempurnaan akal. Sebaliknya, pada saat ia dikritik ia tidak mau menerima, itu artinya ia menganggap pendapatnya yang terbaik, ingin menang sendiri, egois, selalu mencari kesalahan orang lain dan selalu hendak menjadi nomor satu, meskipun ia tak layak.

Seharusnya, pendapat dari siapapun tidak boleh dipandang sebelah mata, harusnya dipikir masak-masak, ambil yang baik dan tinggalkan selainnya. Orang lainlah yang lebih bisa meneliti diri kita ketimbang diri kita sendiri. Ibarat seorang yang baru terjaga dari tidurnya, lantas diingatkan, “Matamu ada kotorannya.” Atau orang yang berkata, “Pakainmu kurang rapi.” Hal demikian ini jangan dipandang sebagai upaya menjatuhkan harga diri. Mestinya ia berkata, “Terima kasih, kamu temanku yang paling perhatian kepadaku.”

Kesempurnaan seseorang akan terbukti jika ia mau mengakui keunggulan teman sebayanya. Ingat, kalau ia merasa unggul dari orang lain, dia adalah orang yang bodoh. Selain itu, ini juga suatu isyarat hendaknya kita dalam segala hal mendasarkannya dengan prasangka baik. Sikap semacam penting digaris bawahi agar tidak melihat semua orang sebagai lawan, semua orang jelek. Husnuddzan kepada hamba termasuk perangai terbaik. Nabi SAW bersabda:


Ø®َصْÙ„َتاَÙ†ِ Ù„َÙŠْسَ بَÙŠْÙ†َÙ‡ُÙ…َا Ø®َÙŠْرٌ Ù…ِÙ†ْÙ‡ُÙ…َا: Ø­ُسْÙ†ُ الظَّÙ†ِّ بِاللهِ ÙˆَØ­ُسْÙ†ُ الظَّÙ†ِّ بِعِباَدِ اللهِ

“Ada dua perangai dimana tidak ada yang lebih baik dari selainnya: baik sangka kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya.”

Bagaimana bentuk berprsangka baik kepada Allah? Ambil misal, hari ini pasaran kita lagi seret, toko mengalami kemerosotan omzet. Kita berucap, “Allah menghendaki aku untuk lebih banyak memohon kepada-Nya sekarang. Hari ini tak ada pembeli, mungkin besok ada. Yang jelas Allah ingin menguji kesabaranku dan ridhaku kepada-Nya.”

Akan tetapi, ada sebagian orang yang mendapati rezeqinya seret berkata, “Kenapa si Allah tidak membuat tokoku laris padahal aku tadi sudah salat, apakah Allah sudah tidak suka kepadaku, benci kepadaku?” Bandingkan dengan misal berikutnya, ketika kita sedang sakit, pergi ke dokter dengan berprasangka baik sekalipun si dokter mengeluarkan jarum suntik. Tapi berhubung kita sudah yakin dengannya, kita mantap saja bahwa dokter tidak mungkin mencelakakan, ia ingin mengobati. Kenapa hal demikian tak terwujud kepada Allah. Inilah yang dinamakan Husnuddzan kepada Allah.

Yang kedua husnuddzan kepada para hamba Allah. Allah SWT. berfirman:

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّØ°ِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا اجْتَÙ†ِبُوا ÙƒَØ«ِيرًا Ù…ِÙ†َ الظَّÙ†ِّ Ø¥ِÙ†َّ بَعْضَ الظَّÙ†ِّ Ø¥ِØ«ْ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari pra-sangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Berangkat dari ayat ini, kita dilarang bersikap apriori kepada orang lain, baik saat ia mengkritik atau menasihati. Tentunya, tidak untuk semua orang bisa kita sangka baik. Ada saatnya kita harus waspada khususnya dalam hal ini kepada orang-orang Nashrani, Yahudi, kaum Kafir, betapapun baiknya. Prasangka itu ada yang bagus tapi kebanyakan jelek.

KERENDAHAN HATI

Bukti nyata kerendahan hati misalnya, ada seorang pejabat. Seharusnya ia ditempatkan di tempat yang terhormat namun ternyata ditempatkan di tempat yang bukan selayaknya untuk orang sekelas pejabat, tapi ia tidak marah, berarti ia orang yang rendah hati. Ia rela menerima perlakuan demikian, maka itu bukti jelas dari ke-tawadhuan-nya. Tidak semua orang bisa seperti ini. Orang semacam ini disinggung oleh Nabi, “Tidaklah seorang hamba ber-tawadhu` karena Allah kecuali diangkat derajatnya oleh-Nya.”

Contoh sikap rendah hati Nabi SAW bahwa diriwayatkan beliau makan bersama para sahabatnya. Sudah pasti tempat Nabi SAW paling istimewa. Di sela-sela pejamuan itu, ada seorang peminta, orang yang sudah tua sekali saking tuanya tidak bisa mengurus badan hingga mengeluarkan aroma tak sedap. Ia datang minta makan. Pengemis tersebut diizinkan masuk dengan disambut oleh Rasululah dengan sambutan luar biasa seakan-akan beliau hendak memangkunya. Saat itu, ada seorang keturunan Quraish merasa jijik melihat pnegemis tua yang kelaparan tadi. Ia dihukum dengan dipanjangkan usianya seperti umur orang tua itu yang orang-orang merasa jijik darinya.

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah berjalan di sebuah kampung. Di situ beliau mendapati perempuan menangis di kuburan anaknya. Kata Rasul menasihati, “Hai perempuan, jangan begitu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.”

“Kamu memang tidak kena musibah, sedang aku ditinggal mati anakku yang kusayang,” timpal perempuan yang tak mengenali sosok Nabi. Ditegurlah oleh sahabat yang melihat kejadian itu, “Apa kamu tahu siapa dia? Dia Muhammad Rasulullah.” Datanglah ia ke rumah Rasululah, “Ya Rasululah, saya tidak tahu kalau Anda yang nasihati, saya minta maaf.”

“Tidak masalah, tapi yang terpenting itu, kamu bersabar pada saat terjadinya musibah yang pertama.”

Habib Saleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), juga patut dicatat dalam soal rendah hati. Bukan hal baru jika rumahnya sering dijujuki para tamu dari berbagai daerah. Pada jam dua, salah satu tamunya mau buang air kecil, di muka rumah Habib Saleh ada dua kamar mandi, waktu itu belum ada listrik. Ternyata di kamar mandi ada orang mengenakan kaos dan sarung sedang menimba air untuk kolam kamar mandi. Dilihat ternyata Habib Saleh dan beliau wanti-wanti kepada tamunya yang memergoki beliau untuk tidak bilang ke siapapun. “Tidur kembali ke kamarmu dan ga usah ngomong-ngomong,” kata Habib Saleh. Paginya, Habib Saleh dengan pakaian rapi, menerima tamu dengan penuh keramahan hingga membuat tamu yang semalam terbengong-bengong heran melihat sikap beliau yang begitu sederhana.

Keikhlasan

Bukti nyata keikhlasan ialah tidak mencari ‘muka’ pada makhluk, tidak mencari ridhanya makhluk ketika dia membawa kebenaran. Ikhlas, berarti tidak mengharapkan pujian, menjalankan kebenaran tanpa memperhatikan manusia itu senang atau tidak padanya. Seorang yang ikhlas tidak pernah berubah prinsip. Dalam Al-Quran diterangkan :

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini turun berkenaan seseorang yang berbuat amal saleh. Dalam hatinya ada dua harapan: amal karena Allah dan ingin dipuji oleh orang. Dengan kata lain, amalan orang ini belum berstatus ikhlas sebab masih ada embel-embelnya. Maka dari itu, bila seorang yang telah menunaikan haji merasa sewot bila tidak dipanggil, “Pak Haji, Bu Haji,” jelas belum sampai ke maqam ikhlas atau ustaz yang tidak dipanggil denga gelar ke-ustaz-annya.

Karenanya, jangan kita mencari ridha makhluk, yang penting kita terus beramal sesuai ajaran agama Allah. Jalani saja aktivitas ibadah. Lihat keluarga Nabi, Sayyidina Ali dan Fatimah yang dipuji oleh Allah karena keikhlasannya membantu orang lain, tidak mengharap ucapan terima kasih atau balasan selain dari Allah:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 09)

Ikhlas, tawadhu`, dan husnuddzan (mengakui keunggulan teman sebaya), merupakan tiga pionir dalam mengisi hari-hari dengan kesalehan ritual maupun sosial. Dengan ketiganya, kita cukup ridha Allah, menyingkirkan rasa sombong, riya`, bangga diri yang hinggap di hati.semoga bermanfaat,amin :):)

Senin, 22 Agustus 2011

Cinta Kepada Allah

Oke, Brader & Sista, beberapa edisi kedepan, kita akan berbicara tentang cinta; Ups, bukan cinta biasa, tapi cinta yg begitu tinggi: Cinta Allah, Cinta Rasul, dan Cinta Karena Allah. insyaAllah akan berlanjut dalam beberapa edisi, semoga saja Brader & Sista suka, dan bermanfaat.

Nah, mungkin sering skali Brader & Sista mendengar orang berkata, 'Aku mencintai Allah.' Atau mungkin Brader & Sista pernah mengatakannya?

Tentu saja, kalimat itu bukan sekedar omdo -omong doang. Tapi, kalimat itu ada arti dan pembuktiannya.

Mencintai Allah adalah mendekatkan diri pada Allah. Nah, mendekatkan diri pada Allah, bisa Brader & Sista lakukan, dengan dua hal:
* Dg Amalan wajib.
* Dg amalan sunnah.

Jika Brader & Sista mengerjakan amalan2 wajib, ex: shalat, puasa Ramadlan, berbakti pada ortu, tidak minum miras, dll, dengan begitu berarti Brader & Sista telah mencintaiNya! Tentu saja Cinta Brader & Sista pada Allah bisa lebih sempurna lagi, jika Brader & Sista mengamalkan sunnah: senyuman, salam, sedekah, shalat sunnah. Mau tidak??

Tapi, ingat, amalan sunnah saja tanpa amalan wajib, tak akan diterima -ayolah, amalan wajib adalah pondasi; Tak mungkin seseorang membuat atap tanpa tiang, bukan??

Perumpamaan yg pas, adalah jika kita mendapat tugas membuat nasi. Jika kita membuat nasi saja, kita sdah melakukan kewajiban. Tapi, jika kita sekalian membuatkan lauk, mana yg lebih baik?

Dalam hadits qudsi disebutkan, artinya, 'Dan hambaKu tidak mendekat padaku dg suatu amalan yg lbih Aku cintai daripada apa yg Aku wajibkan padanya. Dan dia akan terus menerus mendekatkan dirinya padaku dg amalan2 sunnah, hingga Aku mencintainya.'

Nah, indah bukan, jika Brader & Sista mencintai Allah, lalu Allah pun mencintai Brader & Sista? InsyaAllah...

Brader & Sista akan mengetahui beberapa tanda jika orang sudah mencintai Allah. Perhatikan yuk, n semoga kita bisa mendapatkan hal2 ini!

* Melakukan kebaikan, hanya karena Allah.
Brader & Sista tahu, lah, kalau disana ada segelintir orang yg tidak melakukan kebaikan, kecuali jika didepan umum. Hm, kita tak bisa berburuk sangka dg mereka. Tapi, apa tidak sebaiknya, Brader & Sista selalu melakukan kebaikan, dimanapun dan kapanpun??

* Meninggalkan hal2 yg membuat diri lupa dariNya.
Brader & Sista tentu lebih mengetahui, apa yg menyibukkan Brader & Sista dari dzikir. Nah, langkah pertama utk mencintaiNya: sedikit-demi-sedikit, kurangi frekwensi kesukaanmu dg hal tsb!

* Tidak takut celaan atas perbuatan sesuai agama.
Oops, bukan berarti terorisme -itu sangat bertentangan dengan Islam! Tapi, sebagai contoh dan keterangan, ayolah, Brader & Sista lakukan sunnah2 Nabi yang -jujur saja- mulai banyak dtinggalkan, atau bahkan, jika melakukannya akan dianggap mengganggu atau ketinggalan zaman.

* Slalu mengerjakan sunnah Sang Kinasih -shallallah alaih wasallam.
* Banyak Berdzikir
Baik dg anggota tubuh (ex: shalat sunnah), atau dg ucapan (ex: bershalawat dan istighfar), atau dg pikiran (ex: brtafakkur akan KeagunganNya dan KekuasaanNya atas alam semesta ini).

* Dermawan
* Slalu merasa rendah dan remeh dihadapanNya.
* Slalu menerima dan mensyukuri keputusanNya: baik ataupun buruk.
* Cmburu, jika ada orang yg lebih mencintai Allah drpd dirinya.
Bukan cemburu yg biasa; Tapi, cemburu yg membakar Brader & Sista, untuk bisa menjadi lebih baik dan lebih mencintaiNya, daripada hari2 yg sudah lewat!

Sudah mempunyai tanda2 Para Pecinta diatas?? Semoga! :):)

Minggu, 21 Agustus 2011

Pengaruh Dahsyat Pergaulan

Kalam Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi

Akhir-akhir ini pergaulan yang salah disinyalir sebagai faktor utama penyebab meningkatnya tindak kriminalitas dan kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat. Maka tidak ada salahnya apabila kita menyimak analisa Habib Idrus bin Umar Alhabsyi mengenai pengaruh pergaulan terhadap baik buruknya kepribadian seseorang berikut; ‘Sesungguhnya pergaulan keseharian memberikan dampak yang signifikan dalam perkembangan kepribadian seseorang. Entah dampak yang positif ataupun yang negatif.

Seseorang yang senantiasa bergaul dengan orang-orang baik, maka lambat laun kepribadiannya akan menjadi baik. Demikian sebaliknya, seseorang yang senantiasa bergaul dengan orang-orang berakhlak buruk, keji dan fasik, maka kepribadiannya menjadi buruk dan lacur. Namun terkadang perubahan kepribadian sebagai dampak dari pergaulan tidaklah spontanitas, akan tetapi melalui proses yang lama dan berkesinambungan sehingga sering kali tidak dirasakan oleh yang bersangkutan. Bergaul dengan orang-orang baik dan soleh, akan tertanam di hati kita cinta kepada kebaikan dan tumbuh semangat untuk berbuat baik seperti mereka.

Adapun apabila kita bergaul dengan orang-orang fasik, maka gemar berbuat fasik dan lacurlah yang akan tertanam dalam hati kita. Maka dapat disimpulkan, bahwa kepribadian seseorang terprogram secara otomatis sesuai karakter lingkungan pergaulan. Dalam kitab ‘Awarif, syeikh Umar Syahrawardi berkata, “Persahabatan dengan orang-orang baik memberikan dampak positif yang luar biasa. Sedangkan rasa cinta dan sayang akan memperkokoh persahabatan tersebut.” Seorang ahli hikmah berpendapat bahwa apabila seseorang bertemu sahabatnya, maka terjadi pembauran karakter diantara keduannya. Mereka saling mengisi dan memperkuat kepribadian masing-masing.

Ada sebuah kaidah klasik berbunyi. “Pandangan kepada sesuatu akan mempengaruhi perilaku pihak yang memandang sehingga selaras dengan perilaku pihak yang dipandang”. Seperti apabila kita melihat sesuatu yang mengharukan, maka hati kita terbawa rasa haru lalu menjadi sedih. Demikian juga apabila kita melihat sesuatu yang menggembirakan, maka di hati kita akan muncul rasa senang dan gembira. Seekor unta liar yang tak dapat dikendalikan akan menjadi patuh dan terkendali apabila dikumpulkan dengan unta-unta yang telah jinak.

Bahkan hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan udara sekalipun berevolusi baik secara fisik maupun karakter sesuai kondisi lingkungan masing-masing. Rasulullah SAW bersabda, ”Agama seseorang tergantung agama orang yang dicintainya (sahabatnya).” Sebuah kalam bijak menyebutkan bahwa seseorang yang suka bergaul dan berteman dengan orang yang baik, maka akan dijadikan oleh Allah sebagai orang baik sekalipun sebelumnya ia adalah orang jahat. Dan seseorang yang suka bergaul dengan orang fasik, maka ia akan dijadikan sebagai orang yang fasik dan jahat sekalipun sebelumnya ia adalah orang yang baik.

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW ditanya salah satu sahabat,” Wahai Rasulullah! Ada seorang laki-laki mencintai suatu kaum, namun ia bukan termasuk kaum tersebut.” Rasulullah SAW dengan bijak menjawab,” Kamu kelak dikumpulkan bersama orang yang kamu cintai.” “Quthbul Irsyad” Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad berkata, “Barang siapa senantiasa duduk bersama dan berkumpul dengan para ulama besar didasari rasa cinta kepada mereka dan keinginan meneladani budi pekerti dan perilaku mereka yang cenderung mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhi kemewahan dunia atau sekedar mengharapkan keberkahan dan doa-doa mereka tanpa adanya niatan untuk meniru perilaku mereka, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan berkah yang melimpah.

Seperti tersebut dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, ”Merekalah (para ulama besar) segolongan orang yang takkan celaka orang-orang yang duduk berkumpul bersama mereka.” Hanya saja, kebaikan dan keberkahan mereka takkan didapatkan orang-orang yang berkumpul dengan mereka dengan niatan agar ia dikenal orang sebagai orang baik karena sering berkumpul dengan para ulama dan orang soleh, sedangkan ia sendiri sebenarnya adalah orang yang keji dan dhalim.” Seorang ulama besar tempo dulu pernah berkata,” Sesungguhnya prasangka buruk dan rasa cinta yang murni akan menyatukan orang-orang awam bersama para ulama besar.

Dan tidak ada ibadah selain fardlu yang dilaksanakan seorang hamba yang lebih utama dari rasa cinta kepada para wali Allah, karena cinta kepada wali Allah adalah pertanda cintanya kepada Allah.” Terkadang seorang murid mendapatkan keberkahan dan manfaat yang melimpah dari guru-gurunya sekalipun ia tak mengenal bahkan tak pernah melihat mereka. Hal tersebut dikarenakan rasa cinta yang menggelora, keterikatan yang kuat dan prasangka baik kepada mereka.

Sayid Ali bin Abubakar Baalawi berkata,”Seorang murid akan mendapatkan manfaat dari guru-gurunya sekalipun mereka telah meninggal jika ikatan antara murid dan guru sangat kuat di dasari rasa cinta yang murni kepada mereka.” Al Imam Ali bin Abubakar As-Sakran berkata,”Para ulama tasawuf sejati yang ikhlas kepada Allah dalam setiap amal perbuatanya dan senantiasa berusaha menyempurnakan diri dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW adalah para wali pembawa cahaya dan rahasia-rahasia Allah sekaligus sebagai kholifah di muka bumi. Maka beruntunglah orang-orang yang mencintai mereka, mendapatkan berkah mereka dan memperoleh doa kebaikan dari mereka.

Apalagi orang-orang yang berusaha berhidmat dan menjadi murid yang senantiasa menerima dan melaksanakan nasehat-nasehat mereka. Padahal, dengan memandang wajah mereka saja, rahmat dan keberkahan akan didapatkan.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba, barang siapa memandang salah satu diantara mereka, maka niscaya ia beruntung dan takkan celaka selamanya.” Sedangkan Syeikh Abubakar bin Salim pernah berkata,”Demikian jika kita memandang salah satu diantara hamba-hamba pilihan Allah tersebut. Adapun pandangan mereka kepada kita, maka itu akan menyampaikan kita kepada derajat yang sangat mulia di sisi-Nya.” Walhasil, dengan mendekati ulama, hidup akan menjadi penuh berkah.Semoga bermanfa'at,amin :):)

review http://mahesakujenar.blogspot.com on alexa.com
free counters

Followers

 
heramkempek © . Template by: SkinCorner. SEO By: Islamic Blogger Template