Anda pernah mendengar atau membaca tentang tokoh asal Timur Tengah, yaitu Nasruddin??? Saat suatu hari ia sedang mencari jarum di halaman rumahnya. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantu mencari jarum tersebut.
Tetapi sudah satu jam lebih mereka mencarinya, jarum itu tak ditemukan juga.
“Jarumnya jatuh di mana?” si tetangga bertanya.
“Jarumnya jatuh di dalam rumah,” jawab Nasruddin.
“Kalau jarumnya jatuh di dalam mengapa mencarinya di luar?” tanya tetangganya heran.
Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, “Karena di dalam gelap, sementara di luar terang.”
Itulah gambaran sebagian besar manusia dalam mencari kebahagiaan dan keindahan. Seringkali kita mencarinya di luar diri kita dan tidak mendapat apa-apa. Justru letak “sumur” kebahagiaan yang tak pernah kering berada didalam. Dan tak perlu mencarinya jauh-jauh, karena sumur itu ada pada semua orang.
Sayangnya, banyak sekali orang yang mencari sumur itu di luar. Ada yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam jabatan, kecantikan wajah, baju mahal, mobil bagus atau rumah yang indah. Tetapi pada kenyataannya, setiap pencarian di luar tersebut selalu berujung pada bukan apa-apa, karena semuanya tidak akan berlangsung lama.
Wajah yang cantik akan keriput, mobil bagus akan berganti dengan model terbaru, jabatan akan berakhir dengan pensiun dan seterusnya. Setiap kekecewaan dan keputusasaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan berawal dari mencarinya di luar.
Untuk mencapai tingkat keindahan dan kebahagiaan yang sempurna, setiap orang setidaknya harus melalui 5 buah pintu untuk menuju kesana.
Pintu pertama, stop comparing and start flowing.
Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, dimulai dari membandingkan. Karena itu, marilah kita menuju ke sebuah titik, mengalir menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri. Kita akan menemukan yang terbaik dalam diri kita, jika kita mulai belajar menerimanya. Dari sinilah kepercayaan diri akan muncul, kepercayaan yang muncul dari keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari dalam.
“Tidak ada kehidupan yang paling indah selain menjadi diri sendiri. Itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya!”
Pintu kedua, memberi.
Memberi tidak harus dalam bentuk materi. Senyuman, perhatian, pelukan adalah juga bentuk pemberian yang tak ternilai. Membuat orang lain bahagia, berarti membuat diri sendiri berbahagia. Memberi tidak berarti harta kita menjadi berkurang. Tidak perlu khawatir, setiap pemberian itu ada yang mencatatnya. Jika atasan kita di kantor tidak mencatat pemberian Anda, ada “Atasan Tertinggi” yang mencatatnya. Seperti halnya seorang petani, orang-orang yang suka memberi akan memanen hasilnya.
Pintu ketiga, cahaya.
Keindahan dan kebahagiaan berawal dari semakin gelap hidup kita, semakin terang cahaya yang ada di dalam. Perhatikan bintang di malam hari, ia akan bercahaya jika langitnya gelap. Sedangkan lilin akan bercahaya dengan bagus jika ruangannya gelap. Artinya semakin kita berhadapan dengan masalah dan cobaan hidup, semakin bercahaya kita dari dalam. Memiliki suami yang pemarah membuat kita melatih kesabaran, memiliki atasan yang diktator melatih kita untuk belajar kebijaksanaan.
Pintu keempat adalah surga, yang bukanlah sebuah tempat melainkan adalah rangkaian sikap.
Jika kita melihat hidup adalah kesusahan dan penderitaan, maka neraka tidak akan ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu sekarang. Sedangkan kita akan bertemu dengan surga, jika hasil dari rangkaian sikap kita adalah benar. Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, dan yakinkan diri sendiri bahwa segalanya akan berjalan dengan baik dan sempurna.
Pintu terakhir adalah tahu diri.
Manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah manusia yang tidak pernah menemukan keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
{Sumur kehidupan yang tak pernah kering berada di dalam. Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri sendiri. Jika sumur kehidupan telah ditemukan, maka kemudian kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. I intend good, I do good, and I am good}
Semoga bermanfaat.
Kamis, 22 Maret 2012
Minggu, 18 Maret 2012
Isti'adzah (bag 2)
Melanjutkan posting sebelumnya. Isti’adzah berarti permohonan perlindungan kepada Allah dari setiap kejahatan. Jadi {
ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ
ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ }
berarti aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk agar tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang telah Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang, karena tidak ada yang mampu mencegah godaaan syaitan itu kecuali Allah.
Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia agar menarik dan membujuk hati syaithan jenis manusia dengan cara memberikan sesuatu yang baik kepadanya hingga dapat berubah tabiat dari kebiasaannya yang mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi oleh kebaikan. Tabiat mereka jahat dan tidak dapat yang mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakan. Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat al-Qur’an, yaitu
{ ﺧُﺬِ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻑِ ﻭَﺃَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻦِ
ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴﻦَ },
artinya Jadilah engku pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang bodoh. (QS: al-A’raaf: 199).
Makna ayat ini berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.
Kemudian Allah berfirman {
ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ }
artinya: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: al-A’raaf: 200).
Sedangkan dalam suraat Al-Mukminun, Allah berfirman:
ﺍﺩْﻓَﻊْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﻧَﺤْﻦُ
ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼِﻔُﻮﻥَ , ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ
ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ , ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ
ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ
Artinya: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS al-Mukminun: 96-97).
Dalam bahasa arab, kata syaithan berasal dari kata Syathon, yang berarti jauh. Jadi tabiat syaithan itu sangat jauh dari tabi’at manusia, dan karena kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan. Ada juga yang mengatakan bahwa syaitan itu berasal dari kata “Syatha” artinya terbakar, karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut adalah benar, tetapi makna pertama lebih benar.
Menurut Sibawaih, bangsa Arab biasa mengatakan “Tasyaithona Fulan”, jika sifulan berbuat seperti perbuatan syaitan. Jika kata syaithan itu berasal dari kata “Syatha” tentu mereka mengatakan “tasyaitha”. Jadi menurut pendapat yang benar, kata syaithan itu berasal dari kata “Syathana” yang berarti jauh. Oleh karena itu mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan.
Berkenaan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ
ﺍﻹﻧْﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ
ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭًﺍ
Artinya: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am: 112).
Dalam Musnad Ahmad, disebutkan hadist dari Abu Dzarr, Rasulullah saw bersabda :”Wahai Abu Dzarr, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaithan-syaithan jenis manusia dan jin.” Lalu aku bertanya, Apakah ada syaithan dari jenis manusia? Rasulullah menjawab “ya”. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Dzarr, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “yang dapat membatalkan shalat adalah wanita, keledai dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan: “Ya, Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing kemerahan atau kekuningan? Beliau menjawab: “Anjing hitam itu adalah syaithan”.
Kata “ar-rajiim” berwazan fa’il (subjek), tapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa syathan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: {
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ
ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ
ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ}
artinya : Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan. (QS al-Mulk: 5).
Wallahua'lam.
ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ
ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ }
berarti aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk agar tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang telah Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang, karena tidak ada yang mampu mencegah godaaan syaitan itu kecuali Allah.
Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia agar menarik dan membujuk hati syaithan jenis manusia dengan cara memberikan sesuatu yang baik kepadanya hingga dapat berubah tabiat dari kebiasaannya yang mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi oleh kebaikan. Tabiat mereka jahat dan tidak dapat yang mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakan. Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat al-Qur’an, yaitu
{ ﺧُﺬِ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻑِ ﻭَﺃَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻦِ
ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴﻦَ },
artinya Jadilah engku pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang bodoh. (QS: al-A’raaf: 199).
Makna ayat ini berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.
Kemudian Allah berfirman {
ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ }
artinya: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: al-A’raaf: 200).
Sedangkan dalam suraat Al-Mukminun, Allah berfirman:
ﺍﺩْﻓَﻊْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﻧَﺤْﻦُ
ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼِﻔُﻮﻥَ , ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ
ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ , ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ
ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ
Artinya: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS al-Mukminun: 96-97).
Dalam bahasa arab, kata syaithan berasal dari kata Syathon, yang berarti jauh. Jadi tabiat syaithan itu sangat jauh dari tabi’at manusia, dan karena kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan. Ada juga yang mengatakan bahwa syaitan itu berasal dari kata “Syatha” artinya terbakar, karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut adalah benar, tetapi makna pertama lebih benar.
Menurut Sibawaih, bangsa Arab biasa mengatakan “Tasyaithona Fulan”, jika sifulan berbuat seperti perbuatan syaitan. Jika kata syaithan itu berasal dari kata “Syatha” tentu mereka mengatakan “tasyaitha”. Jadi menurut pendapat yang benar, kata syaithan itu berasal dari kata “Syathana” yang berarti jauh. Oleh karena itu mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan.
Berkenaan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ
ﺍﻹﻧْﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ
ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭًﺍ
Artinya: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am: 112).
Dalam Musnad Ahmad, disebutkan hadist dari Abu Dzarr, Rasulullah saw bersabda :”Wahai Abu Dzarr, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaithan-syaithan jenis manusia dan jin.” Lalu aku bertanya, Apakah ada syaithan dari jenis manusia? Rasulullah menjawab “ya”. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Dzarr, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “yang dapat membatalkan shalat adalah wanita, keledai dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan: “Ya, Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing kemerahan atau kekuningan? Beliau menjawab: “Anjing hitam itu adalah syaithan”.
Kata “ar-rajiim” berwazan fa’il (subjek), tapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa syathan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: {
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ
ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑِﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ
ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ}
artinya : Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan. (QS al-Mulk: 5).
Wallahua'lam.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Minggu, 18 Maret 2012
Minggu, Maret 18, 2012
Tidak ada komentar:
Senin, 12 Maret 2012
Tafsir ibnu katsir tentang isti’adzah (ta'awudz) dan Hukum-hukumnya
Allah Ta’ala berfirman :
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ , ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧُﻪُ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﻮْﻧَﻪُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ,
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺑَﺪَّﻟْﻨَﺎ ﺁﻳَﺔً ﻣَﻜَﺎﻥَ ﺁﻳَﺔٍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ
ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻣُﻔْﺘَﺮٍ ﺑَﻞْ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻻ
ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS an-Nahl : 98-100)
Yang masyuhur dikalangan jumhur ulama bahwa isti’azdah dilakukan sebelum membaca al-Aqur’an untuk mengusir gangguan syaitan. Menurut mereka ayat yang berbunyi “Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaiman firman Allah
ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ
ﻭُﺟُﻮﻫَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ
Artinya : “apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu” . (QS al-Maidah : 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan shalat.
Penafsiran seperti itu berdasarkan beberapa hadist dari Rasulullah saw, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu sa’id al Khudri, ia berkata jika Rasulullah saw hendak mendirikan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan :
ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺑﺤﻤﺪﻙ، ﻭﺗﺒﺎﺭﻙ ﺍﺳﻤﻚ،
ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﺪﻙ، ﻭﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻙ . " ﻭﻳﻘﻮﻝ :
" ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ " ﺛﻼﺛًﺎ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ " : ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻤﻴﻊ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ، ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ، ﻣﻦ ﻫَﻤْﺰﻩ ﻭﻧَﻔْﺨِﻪ ﻭﻧَﻔْﺜﻪ
"
Subhaanakallahumma wabihamdika, watabaarakas muka wata’ala jadduka, walaa ilaaha ghoiruk. Dan membaca
ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ } tiga kali,
kemudian membaca A’udzubillahis sami’il ‘aliim minasy syaithoonir rajiim, min Hamzihi, wa nafkhiHi, wa nafsiHi.”
Artinya: Mahasuci Engkau, Ya Allah dan segal puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi Kemulia-anMu. Tidak ada Tuhan/ilah yang haq melainkan Engkau. Dan membaca la ilaha illallah tiga kali, kemudian membaca Aku berlindung kepada Allah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syaithan yang terkutuk, dari godaanya, tiupannya, dan hembusannya.
Hadist ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun Kitab as Sunan dari ja’far bin Sulaiman, dari “ali bin ‘Ali ar Rifa’i. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah hadist yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan kata {ﻫَﻤْﺰ / Hamz}, { ﻧَﻔْﺨِﻪ } nafkh ditafsirkan sebagai kesombongan serta {ﻧَﻔْﺜﻪ } Nafst ditafsirkan sebagai sya’ir.
Bukhori meriwayatkan dari sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang yang saling mencela di hadapan rasulullah saw, sedang kami duduk dihadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang memerah, maka Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalaimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan {ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ} ,
kemudian para sahabat berkata kepada orang itu: Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw ? Orang itu menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tidak waras.
Hadist diatas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai, melalui beberapa jalur sanad dari al-A’masy.
Wallahu a'lam
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ , ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧُﻪُ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﻮْﻧَﻪُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ,
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺑَﺪَّﻟْﻨَﺎ ﺁﻳَﺔً ﻣَﻜَﺎﻥَ ﺁﻳَﺔٍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ
ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﻣُﻔْﺘَﺮٍ ﺑَﻞْ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﻻ
ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS an-Nahl : 98-100)
Yang masyuhur dikalangan jumhur ulama bahwa isti’azdah dilakukan sebelum membaca al-Aqur’an untuk mengusir gangguan syaitan. Menurut mereka ayat yang berbunyi “Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaiman firman Allah
ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺘُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼﺓِ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ
ﻭُﺟُﻮﻫَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ
Artinya : “apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu” . (QS al-Maidah : 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan shalat.
Penafsiran seperti itu berdasarkan beberapa hadist dari Rasulullah saw, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu sa’id al Khudri, ia berkata jika Rasulullah saw hendak mendirikan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan :
ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺑﺤﻤﺪﻙ، ﻭﺗﺒﺎﺭﻙ ﺍﺳﻤﻚ،
ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﺪﻙ، ﻭﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻙ . " ﻭﻳﻘﻮﻝ :
" ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ " ﺛﻼﺛًﺎ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ " : ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻤﻴﻊ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ، ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ، ﻣﻦ ﻫَﻤْﺰﻩ ﻭﻧَﻔْﺨِﻪ ﻭﻧَﻔْﺜﻪ
"
Subhaanakallahumma wabihamdika, watabaarakas muka wata’ala jadduka, walaa ilaaha ghoiruk. Dan membaca
ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ } tiga kali,
kemudian membaca A’udzubillahis sami’il ‘aliim minasy syaithoonir rajiim, min Hamzihi, wa nafkhiHi, wa nafsiHi.”
Artinya: Mahasuci Engkau, Ya Allah dan segal puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi Kemulia-anMu. Tidak ada Tuhan/ilah yang haq melainkan Engkau. Dan membaca la ilaha illallah tiga kali, kemudian membaca Aku berlindung kepada Allah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syaithan yang terkutuk, dari godaanya, tiupannya, dan hembusannya.
Hadist ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun Kitab as Sunan dari ja’far bin Sulaiman, dari “ali bin ‘Ali ar Rifa’i. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah hadist yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan kata {ﻫَﻤْﺰ / Hamz}, { ﻧَﻔْﺨِﻪ } nafkh ditafsirkan sebagai kesombongan serta {ﻧَﻔْﺜﻪ } Nafst ditafsirkan sebagai sya’ir.
Bukhori meriwayatkan dari sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang yang saling mencela di hadapan rasulullah saw, sedang kami duduk dihadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang memerah, maka Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalaimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan {ﺃﻋﻮﺫ
ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ} ,
kemudian para sahabat berkata kepada orang itu: Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw ? Orang itu menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tidak waras.
Hadist diatas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai, melalui beberapa jalur sanad dari al-A’masy.
Wallahu a'lam
Rabu, 07 Maret 2012
FIQIH TAMADDUN
Ini adalah tulisan KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PBNU
Saat ini, kerap terlontar dengan begitu entengnya dari kelompok-kelompok Muslim tertentu berupa kata-kata "syirik", "kafir", atau "bid'ah" . Kata-kata tersebut diayunkan kepada kelompok Muslim di luar mereka. Bahkan, hanya karena perbedaan furu'iyyah, bisa menyembur kata-kata tersebut. Ini fakta yang sudah terjadi di daerah-daerah yang kerap menimbulkan ketegangan fisik.
Ada keyakinan "laten" dan "manifes" yang dipegangi oleh mereka yang merasa paling benar. Padahal, bukankah menuduhkan kata-kata tersebut tidak segampang itu? Model sikap ini dikhawatirkan akan berpotensi pada bentuk radikalisme. Kita hidup di negeri yang serbamulti. Di negeri Arab saja yang cenderung "monolitik", muncul beragam aliran keagamaan, bahkan aliran diluar bingkai keagamaan, seperti sosialisme dan Marxisme. Ada apa sebenarnya dan bagaimana membaca kenyataan tersebut?
Menakar fikih Pengkajian kitab-kitab fikih
selama ini tampaknya hanya mendaras kembali kitab-kitab fikih klasik (al-fuqaha al-qudama). Artinya, di sini belum ada upaya untuk "membaca ulang" beberapa pandangan fikih terdahulu. Sebaliknya, hanya mereproduksi pandangan-pandangan fikih klasik dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang lebih mengacu pada upaya membangun peradaban (tamaddun). Selama ini, telah muncul beberapa pakar dari Timur Tengah, seperti Ali Jum'ah dan Jamaluddin Athiyah, Jamal al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, atau juga Muhammad Syahrur. Mereka melihat betapa pentingnya membaca ulang fikih klasik secara kritis dengan arah memperbarui fikih dan ushul fikih guna merespons problem kekinian dan melahirkan fikih peradaban.
Kecenderungan untuk memperbarui fikih terasa penting tatkala muncul kecenderungan pemahaman yang bersifat puritan dan radikal. Sejauh ini, banyak yang menjadikan fikih bukan sebagai metode (manhaj) untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma kaku. Di negeri kita, kesadaran untuk memperluas cakupan fikih dengan menjadikan sebagai metodologi dalam merumuskan masalah kontemporer, alhamdulillah, sudah bermunculan. Misalnya saja, muncul buku-buku seperti "Fikih Jurnalistik", "Fikih Lintas Agama", dan juga "Fikih Perlindungan Konsumen" yang ditulis oleh Soffa Ihsan. Ini pertanda lahirnya kesadaran untuk tidak hanya mempersempit ruang fikih dengan hanya berputar-putar pada soal-soal ibadah, halal-haram, bid'ah-syirik, atau babagan jihad.
Fikih menyimpan formulasi-formulasi ijtihadi yang masih berserakan dan bisa digali dalam rangka membaca kekinian. Dimensi keuniversalan dan kelenturan fikih jangan disembunyikan dan lalu yang mengedepankan sosok fikih sebagai "tatapan mata elang", penebar kebencian dan kecurigaan terhadap sesama, baik seagama maupun tidak seagama. Kita jadi mafhum mengapa muncul beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fikih klasik, yaitu "syirik", "bid'ah", dan "kafir". Pertanyaannya, mengapa watak fikih klasik bisa seperti itu? Apakah Islam memang benar-benar sebagai agama yang menebarkan konflik dan kekerasan? Inilah apa yang disebut sebagai dilema paradigma fikih yang merupakan pemandangan menyejarah dan senantiasa menghiasi pemikiran keagamaan kontemporer. Banyaknya kaum terpelajar Muslim di Tanah Air yang belajar ke Timur Tengah setidaknya menyebabkan pandangan keagamaan mereka arabis dan teosentris. Menurut Abid al-Jabiri, fikih yang dikonstruksi para ulama terdahulu tidak hanya menutup masa depan atau masa setelah fikih tersebut dikodifikasi, tetapi juga tidak mengakomodasi tradisi yang berkembang pada masa-masa sebelumnya (jabb al-islam ma qablahu). Hal itu terjadi karena fikih ibarat pendulum yang tidak secara tegas melakukan dialektika epistemologis.
Fikih hanya dijadikan upaya untuk memapankan kepatuhan dan ketundukan terhadap sebuah aliran dan mazhab tertentu. Memang fikih dan ushul fikih merupakan khazanah luar biasa kebanggaan Muslim. Dulu Amir al-Mahdi, gubernur di Asia Tengah, mengirim surat kepada Imam Syafi'i yang isinya tentang kebingungan Amir al-Mahdi saat membaca Alquran dan hadis yang isinya tampak bertentangan. Untuk menjawab ini, Imam Syafi'i menyusun kitab Al-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fikih yang kemudian lahir ilmu fikih. Dari sini, ada penjelasan mengenai rukun shalat, yang kalau hanya membaca Alquran dan hadis, tidak akan ada penjelasannya secara perinci. Di sisi lain, formalisasi fikih yang awalnya bersifat kultural ini, pada akhirnya dijadikan "bahan bakar" untuk cakar-cakaran karena perbedaan mazhab serta saling berebut pengaruh. Ini menunjukkan adanya "pendulum peradaban" sebagaimana disebut Ibnu Khaldun sebagai "tarik ulur" yang membawa peradaban dari kemegahannya menuju kehancuran.
Fikih menjadi jumud dan beku, atau yang paling ekstrem, fikih hanya dijadikan ajang kontestasi untuk saling menyalahkan sesama Muslim. Disinilah perlunya mengembalikan fikih kepada semangatnya yang terbuka dan progresif sehingga fikih lebih fokus memotret isu-isu peradaban... NEXT KOMENT :P
Saat ini, kerap terlontar dengan begitu entengnya dari kelompok-kelompok Muslim tertentu berupa kata-kata "syirik", "kafir", atau "bid'ah" . Kata-kata tersebut diayunkan kepada kelompok Muslim di luar mereka. Bahkan, hanya karena perbedaan furu'iyyah, bisa menyembur kata-kata tersebut. Ini fakta yang sudah terjadi di daerah-daerah yang kerap menimbulkan ketegangan fisik.
Ada keyakinan "laten" dan "manifes" yang dipegangi oleh mereka yang merasa paling benar. Padahal, bukankah menuduhkan kata-kata tersebut tidak segampang itu? Model sikap ini dikhawatirkan akan berpotensi pada bentuk radikalisme. Kita hidup di negeri yang serbamulti. Di negeri Arab saja yang cenderung "monolitik", muncul beragam aliran keagamaan, bahkan aliran diluar bingkai keagamaan, seperti sosialisme dan Marxisme. Ada apa sebenarnya dan bagaimana membaca kenyataan tersebut?
Menakar fikih Pengkajian kitab-kitab fikih
selama ini tampaknya hanya mendaras kembali kitab-kitab fikih klasik (al-fuqaha al-qudama). Artinya, di sini belum ada upaya untuk "membaca ulang" beberapa pandangan fikih terdahulu. Sebaliknya, hanya mereproduksi pandangan-pandangan fikih klasik dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang lebih mengacu pada upaya membangun peradaban (tamaddun). Selama ini, telah muncul beberapa pakar dari Timur Tengah, seperti Ali Jum'ah dan Jamaluddin Athiyah, Jamal al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, atau juga Muhammad Syahrur. Mereka melihat betapa pentingnya membaca ulang fikih klasik secara kritis dengan arah memperbarui fikih dan ushul fikih guna merespons problem kekinian dan melahirkan fikih peradaban.
Kecenderungan untuk memperbarui fikih terasa penting tatkala muncul kecenderungan pemahaman yang bersifat puritan dan radikal. Sejauh ini, banyak yang menjadikan fikih bukan sebagai metode (manhaj) untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma kaku. Di negeri kita, kesadaran untuk memperluas cakupan fikih dengan menjadikan sebagai metodologi dalam merumuskan masalah kontemporer, alhamdulillah, sudah bermunculan. Misalnya saja, muncul buku-buku seperti "Fikih Jurnalistik", "Fikih Lintas Agama", dan juga "Fikih Perlindungan Konsumen" yang ditulis oleh Soffa Ihsan. Ini pertanda lahirnya kesadaran untuk tidak hanya mempersempit ruang fikih dengan hanya berputar-putar pada soal-soal ibadah, halal-haram, bid'ah-syirik, atau babagan jihad.
Fikih menyimpan formulasi-formulasi ijtihadi yang masih berserakan dan bisa digali dalam rangka membaca kekinian. Dimensi keuniversalan dan kelenturan fikih jangan disembunyikan dan lalu yang mengedepankan sosok fikih sebagai "tatapan mata elang", penebar kebencian dan kecurigaan terhadap sesama, baik seagama maupun tidak seagama. Kita jadi mafhum mengapa muncul beberapa istilah yang selalu dianggap musuh dalam fikih klasik, yaitu "syirik", "bid'ah", dan "kafir". Pertanyaannya, mengapa watak fikih klasik bisa seperti itu? Apakah Islam memang benar-benar sebagai agama yang menebarkan konflik dan kekerasan? Inilah apa yang disebut sebagai dilema paradigma fikih yang merupakan pemandangan menyejarah dan senantiasa menghiasi pemikiran keagamaan kontemporer. Banyaknya kaum terpelajar Muslim di Tanah Air yang belajar ke Timur Tengah setidaknya menyebabkan pandangan keagamaan mereka arabis dan teosentris. Menurut Abid al-Jabiri, fikih yang dikonstruksi para ulama terdahulu tidak hanya menutup masa depan atau masa setelah fikih tersebut dikodifikasi, tetapi juga tidak mengakomodasi tradisi yang berkembang pada masa-masa sebelumnya (jabb al-islam ma qablahu). Hal itu terjadi karena fikih ibarat pendulum yang tidak secara tegas melakukan dialektika epistemologis.
Fikih hanya dijadikan upaya untuk memapankan kepatuhan dan ketundukan terhadap sebuah aliran dan mazhab tertentu. Memang fikih dan ushul fikih merupakan khazanah luar biasa kebanggaan Muslim. Dulu Amir al-Mahdi, gubernur di Asia Tengah, mengirim surat kepada Imam Syafi'i yang isinya tentang kebingungan Amir al-Mahdi saat membaca Alquran dan hadis yang isinya tampak bertentangan. Untuk menjawab ini, Imam Syafi'i menyusun kitab Al-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fikih yang kemudian lahir ilmu fikih. Dari sini, ada penjelasan mengenai rukun shalat, yang kalau hanya membaca Alquran dan hadis, tidak akan ada penjelasannya secara perinci. Di sisi lain, formalisasi fikih yang awalnya bersifat kultural ini, pada akhirnya dijadikan "bahan bakar" untuk cakar-cakaran karena perbedaan mazhab serta saling berebut pengaruh. Ini menunjukkan adanya "pendulum peradaban" sebagaimana disebut Ibnu Khaldun sebagai "tarik ulur" yang membawa peradaban dari kemegahannya menuju kehancuran.
Fikih menjadi jumud dan beku, atau yang paling ekstrem, fikih hanya dijadikan ajang kontestasi untuk saling menyalahkan sesama Muslim. Disinilah perlunya mengembalikan fikih kepada semangatnya yang terbuka dan progresif sehingga fikih lebih fokus memotret isu-isu peradaban... NEXT KOMENT :P
Kamis, 23 Februari 2012
Abu Nawas Melarang Rukuk dan Sujud dalam Shalat
Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam shalat.
Lebih lagi, Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah!
Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.
"Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak rukuk dan sujud dalam salat?" tanya Khalifah ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, "Benar, Saudaraku."
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, "Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?"
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudaraku.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, "Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!"
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, "Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah."
Khalifah berkata dengan ketus, "Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya."
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, "Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud."
"Bagaimana soal aku yang suka fitnah?" tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, "Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi "ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu (fitnah). Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ’fitnah’ (ujian) itu."
Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun Al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya.
Abu Nawas memanggil Khalifah dengan "ya akhi" (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.
Lebih lagi, Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah!
Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.
"Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak rukuk dan sujud dalam salat?" tanya Khalifah ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, "Benar, Saudaraku."
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, "Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?"
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudaraku.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, "Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!"
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, "Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah."
Khalifah berkata dengan ketus, "Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya."
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, "Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud."
"Bagaimana soal aku yang suka fitnah?" tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, "Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi "ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu (fitnah). Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ’fitnah’ (ujian) itu."
Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun Al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya.
Abu Nawas memanggil Khalifah dengan "ya akhi" (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Kamis, 23 Februari 2012
Kamis, Februari 23, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
cerita
Selasa, 21 Februari 2012
11 Adab Bersenggama ( adabul jima' )
Lama juga tidak posting disini, oke langsung saja :
ﻟﻠﺠﻤﺎﻉ ﺁﺩﺍﺏ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺛﺎﺑﺘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎﻳﺄﺗﻲ
(1)
: ﺗﺴﺘﺤﺐ
ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻗﺒﻠﻪ، ﻭﻳﻘﺮﺃ } ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ {
] ﺍﻹﺧﻼﺹ : 1/112 [ ، ﻭﻳﻜﺒﺮ ، ﻭﻳﻬﻠﻞ،
ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﺍﻟﻴﺄﺱ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻟﺪ : »
ﺑﺎﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻬﺎ
ﺫﺭﻳﺔ ﻃﻴﺒﺔ، ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻗﺪﺭﺕ ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ
ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺻﻠﺒﻲ « » ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺟﻨِّﺒﻨﻲ
ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻭﺟﻨﺐ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﺎﺭﺯﻗﺘﻨﻲ «
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ . ﻭﻳﻨﺤﺮﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ،
ﻭﻻﻳﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺑﺎﻟﻮﻗﺎﻉ، ﺇﻛﺮﺍﻣﺎً ﻟﻠﻘﺒﻠﺔ .
ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻐﻄﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻫﻮ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﺑﻐﻄﺎﺀ،
ﻭﺃﻻ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﻣﺘﺠﺮﺩﻳﻦ
(2)
ﻓﺬﻟﻚ ﻣﻜﺮﻭﻩ
ﻛﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ . ﻭﺃﻥ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﻤﻼﻋﺒﺔ ﻭﺍﻟﻀﻢ
ﻭﺍﻟﺘﻘﺒﻴﻞ . ﻭﺇﺫﺍ ﻗﻀﻰ ﻭﻃﺮﻩ، ﻓﻠﻴﺘﻤﻬﻞ
ﻟﺘﻘﻀﻲ ﻭﻃﺮﻫﺎ ، ﻓﺈﻥ ﺇﻧﺰﺍﻟﻬﺎ ﺭﺑﻤﺎ ﺗﺄﺧﺮ .
ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﻹﻛﺜﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ،
ﻭﻻﻳﺨﻠﻴﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻛﻞ ﺃﺭﺑﻊ ﻟﻴﺎﻝ
ﻣﺮﺓ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ . ﻭﺗﺄﺗﺰﺭ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﺑﺈﺯﺍﺭ
ﻣﺎﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ
ﺑﻬﺎ
.-----------
(1) ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ : 25/7 ، ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
46/2 ﻭﻣﺎﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻛﺸﺎﻑ ﺍﻟﻘﻨﺎﻉ :
216/5 ﻭﻣﺎﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﻨﻬﺎﺝ
ﺍﻟﻘﺎﺻﺪﻳﻦ : ﺹ 73 ، ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ : ﺹ
107 ،ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﻟﻠﻨﻮﻭﻱ : ﺹ 159 ، ﻧﻴﻞ
ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 194/6 .
(2) ﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﻋﻦ ﻋﺘﺒﺔ ﺑﻦ
ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴُّﻠﻤﻲ » : ﺇﺫﺍ ﺃﺗﻰ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺃﻫﻠﻪ،
ﻓﻠﻴﺴﺘﺘﺮ، ﻭﻻﻳﺘﺠﺮﺩﺍ ﺗﺠﺮﺩ ﺍﻟﻌَﻴْﺮﻳﻦ « ﺃﻱ
ﺍﻟﺤﻤﺎﺭﻳﻦ ) ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 194/6 .(
ﻭﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺠﺎﻣﻊ ﻣﺮﺓ ﺛﺎﻧﻴﺔ، ﻓﻠﻴﻐﺴﻞ
ﻓﺮﺟﻪ، ﻭﻳﺘﻮﺿﺄ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻳﺰﻳﺪ ﻧﺸﺎﻃﺎً
ﻭﻧﻈﺎﻓﺔ . ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ
ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻓﻲ ﻟﻴﺎﻝ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻛﺎﻻﺛﻨﻴﻦ ﺃﻭ
ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ
ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ .… ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ
ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺰﻓﺎﻑ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬ
ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺑﻨﺎﺻﻴﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻳﻘﻮﻝ : » ﺍﻟﻠﻬﻢ
ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ
ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ
ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ . (1) «
.-----------
(1) ﺛﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ
ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺷﻌﻴﺐ ﻋﻦ
ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺟﺪﻩ ) ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 189/6 .(
Dalam menjalani hubungan ‘intim’ antara suami istri, islam mengajarkan berbagai macam etika yang telah diatur berdasarkan hadits-hadits Nabi, diantaranya :
1. Disunahkan membaca BASMALAH sebelum menjalani senggama kemudian membaca “QUL HUWA ALLAAHU AHAD” dilanjutkan dengan membaca takbir (ALLAAHU AKBAR), tahlil (LAA ILAAHA ILLALLAAH) dan disunahkan meskipun tidak sedang mengharapkan keturunan dari persenggamaannya untuk berdoa :
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ، ﺍﻟﻠﻬﻢ
ﺍﺟﻌﻠﻬﺎ ﺫﺭﻳﺔ ﻃﻴﺒﺔ، ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻗﺪﺭﺕ
ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺻﻠﺒﻲ » «
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺟﻨِّﺒﻨﻲ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻭﺟﻨﺐ
ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﺎﺭﺯﻗﺘﻨﻲ
BISMILLAAHIL ’ALIYYIL ‘AZHIIM, ALLAAHUMA IJ’ALHAA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN IN KUNTA QADDARTA AN TAKHRUJA DZAALIKA MIN SHULBII, ALLAAHUMMA JANNIBNII AS-SYAITHAANA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANII
“Dengan menyebut nama Allah yang agung, Ya Allah, jadikanlah ia anak yang baik bila Engkau takdirkan ia lahir dari keturunanku, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepadaku.” (HR. Abu Daud).
2. Berpaling dari arah kiblat, jangan menghadap kiblat saat menjalani senggama sebagai bentuk penghormatan pada kiblat.
3. Memakai penutup, jangan melakukan persenggamaan dengan telanjang bulat, karena ini hukumnya makruh seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam “Bila salah seorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, pakailah penutup dan janganlah kalian berdua telanjang seperti telanjangnya keledai” (HR. Ibn Maajah Nail al-Authaar VI/194).
4. Diawali dengan cumbuan, sentuhan dan ciuman.
5. Saat seorang suami telah mencapai orgasme, jangan berlalu begitu saja, hantarkan secara perlahan-lahan istrinya dalam mencapai orgasme, karena tak jarang pencapaian klimaks seorang wanita datangnya cenderung belakangan.
6. Dimakruhkan terlalu banyak pembicaraan saat melakukan senggama.
7. Bila tanpa adanya ‘udzur (halangan), jangan biarkan empat malam sekali berlalu tanpa hubungan badan.
8. Saat istri tengah datang bulan, sementara keinginan berhubungan tak dapat tertahankan, untuk menghindari keharaman, sebaiknya istri memakai kain penutup pada anggota tubuh antara pusar dan lutut saat mencumbuinya.
9. Bagi yang menginginkan mengulangi senggama untuk yang kesekian kalinya, sebaiknya terlebih dahulu dicuci kelaminnya, karena hal ini dapat menambah gairah dan dapat menjaga kebersihan.
10. Tidak ada anjuran khusus menjalani senggama dimalam-malam tertentu seperti malam senin atau jumah namun sebagian ulama ada yang mensunahkan menjalaninya dimalam jumah.
11. Disunahkan bagi seorang suami dimalam pengantin saat berkeinginan menjalani persenggamaan terlebih dahulu memegang rambut depan (ubun-ubun) istrinya sambil berdoa :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ
ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭﺷﺮ
ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ
Allahumma inni as-aluka min khairihaa wa khairi ma jabaltuhaa 'alaiih, wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltuhaa'alaiih.
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMU kebaikannya (isteri) dan kebaikan apa yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan apa.....
Baca kelanjutannya dikolom komentar yah ;-) soalnya saya posting pake hp jadi jumlah karakternya terbatas. :-P
ﻟﻠﺠﻤﺎﻉ ﺁﺩﺍﺏ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺛﺎﺑﺘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎﻳﺄﺗﻲ
(1)
: ﺗﺴﺘﺤﺐ
ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﻗﺒﻠﻪ، ﻭﻳﻘﺮﺃ } ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ {
] ﺍﻹﺧﻼﺹ : 1/112 [ ، ﻭﻳﻜﺒﺮ ، ﻭﻳﻬﻠﻞ،
ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﺍﻟﻴﺄﺱ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻟﺪ : »
ﺑﺎﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻬﺎ
ﺫﺭﻳﺔ ﻃﻴﺒﺔ، ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻗﺪﺭﺕ ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ
ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺻﻠﺒﻲ « » ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺟﻨِّﺒﻨﻲ
ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻭﺟﻨﺐ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﺎﺭﺯﻗﺘﻨﻲ «
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ . ﻭﻳﻨﺤﺮﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ،
ﻭﻻﻳﺴﺘﻘﺒﻞ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺑﺎﻟﻮﻗﺎﻉ، ﺇﻛﺮﺍﻣﺎً ﻟﻠﻘﺒﻠﺔ .
ﻭﺃﻥ ﻳﺘﻐﻄﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻫﻮ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﺑﻐﻄﺎﺀ،
ﻭﺃﻻ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﻣﺘﺠﺮﺩﻳﻦ
(2)
ﻓﺬﻟﻚ ﻣﻜﺮﻭﻩ
ﻛﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ . ﻭﺃﻥ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﻤﻼﻋﺒﺔ ﻭﺍﻟﻀﻢ
ﻭﺍﻟﺘﻘﺒﻴﻞ . ﻭﺇﺫﺍ ﻗﻀﻰ ﻭﻃﺮﻩ، ﻓﻠﻴﺘﻤﻬﻞ
ﻟﺘﻘﻀﻲ ﻭﻃﺮﻫﺎ ، ﻓﺈﻥ ﺇﻧﺰﺍﻟﻬﺎ ﺭﺑﻤﺎ ﺗﺄﺧﺮ .
ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﻹﻛﺜﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ،
ﻭﻻﻳﺨﻠﻴﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻛﻞ ﺃﺭﺑﻊ ﻟﻴﺎﻝ
ﻣﺮﺓ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ . ﻭﺗﺄﺗﺰﺭ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﺑﺈﺯﺍﺭ
ﻣﺎﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ
ﺑﻬﺎ
.-----------
(1) ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ : 25/7 ، ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
46/2 ﻭﻣﺎﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻛﺸﺎﻑ ﺍﻟﻘﻨﺎﻉ :
216/5 ﻭﻣﺎﺑﻌﺪﻫﺎ، ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﻨﻬﺎﺝ
ﺍﻟﻘﺎﺻﺪﻳﻦ : ﺹ 73 ، ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ : ﺹ
107 ،ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﻟﻠﻨﻮﻭﻱ : ﺹ 159 ، ﻧﻴﻞ
ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 194/6 .
(2) ﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﻋﻦ ﻋﺘﺒﺔ ﺑﻦ
ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴُّﻠﻤﻲ » : ﺇﺫﺍ ﺃﺗﻰ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺃﻫﻠﻪ،
ﻓﻠﻴﺴﺘﺘﺮ، ﻭﻻﻳﺘﺠﺮﺩﺍ ﺗﺠﺮﺩ ﺍﻟﻌَﻴْﺮﻳﻦ « ﺃﻱ
ﺍﻟﺤﻤﺎﺭﻳﻦ ) ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 194/6 .(
ﻭﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺠﺎﻣﻊ ﻣﺮﺓ ﺛﺎﻧﻴﺔ، ﻓﻠﻴﻐﺴﻞ
ﻓﺮﺟﻪ، ﻭﻳﺘﻮﺿﺄ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻳﺰﻳﺪ ﻧﺸﺎﻃﺎً
ﻭﻧﻈﺎﻓﺔ . ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ
ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻓﻲ ﻟﻴﺎﻝ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻛﺎﻻﺛﻨﻴﻦ ﺃﻭ
ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ
ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ .… ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ
ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺰﻓﺎﻑ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬ
ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺑﻨﺎﺻﻴﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻭﻳﻘﻮﻝ : » ﺍﻟﻠﻬﻢ
ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ
ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭﺷﺮ ﻣﺎ
ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ . (1) «
.-----------
(1) ﺛﺒﺖ ﺫﻟﻚ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ
ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻋﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺷﻌﻴﺐ ﻋﻦ
ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺟﺪﻩ ) ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ : 189/6 .(
Dalam menjalani hubungan ‘intim’ antara suami istri, islam mengajarkan berbagai macam etika yang telah diatur berdasarkan hadits-hadits Nabi, diantaranya :
1. Disunahkan membaca BASMALAH sebelum menjalani senggama kemudian membaca “QUL HUWA ALLAAHU AHAD” dilanjutkan dengan membaca takbir (ALLAAHU AKBAR), tahlil (LAA ILAAHA ILLALLAAH) dan disunahkan meskipun tidak sedang mengharapkan keturunan dari persenggamaannya untuk berdoa :
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻠﻲ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ، ﺍﻟﻠﻬﻢ
ﺍﺟﻌﻠﻬﺎ ﺫﺭﻳﺔ ﻃﻴﺒﺔ، ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻗﺪﺭﺕ
ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺻﻠﺒﻲ » «
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺟﻨِّﺒﻨﻲ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻭﺟﻨﺐ
ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻣﺎﺭﺯﻗﺘﻨﻲ
BISMILLAAHIL ’ALIYYIL ‘AZHIIM, ALLAAHUMA IJ’ALHAA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN IN KUNTA QADDARTA AN TAKHRUJA DZAALIKA MIN SHULBII, ALLAAHUMMA JANNIBNII AS-SYAITHAANA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANII
“Dengan menyebut nama Allah yang agung, Ya Allah, jadikanlah ia anak yang baik bila Engkau takdirkan ia lahir dari keturunanku, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepadaku.” (HR. Abu Daud).
2. Berpaling dari arah kiblat, jangan menghadap kiblat saat menjalani senggama sebagai bentuk penghormatan pada kiblat.
3. Memakai penutup, jangan melakukan persenggamaan dengan telanjang bulat, karena ini hukumnya makruh seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam “Bila salah seorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, pakailah penutup dan janganlah kalian berdua telanjang seperti telanjangnya keledai” (HR. Ibn Maajah Nail al-Authaar VI/194).
4. Diawali dengan cumbuan, sentuhan dan ciuman.
5. Saat seorang suami telah mencapai orgasme, jangan berlalu begitu saja, hantarkan secara perlahan-lahan istrinya dalam mencapai orgasme, karena tak jarang pencapaian klimaks seorang wanita datangnya cenderung belakangan.
6. Dimakruhkan terlalu banyak pembicaraan saat melakukan senggama.
7. Bila tanpa adanya ‘udzur (halangan), jangan biarkan empat malam sekali berlalu tanpa hubungan badan.
8. Saat istri tengah datang bulan, sementara keinginan berhubungan tak dapat tertahankan, untuk menghindari keharaman, sebaiknya istri memakai kain penutup pada anggota tubuh antara pusar dan lutut saat mencumbuinya.
9. Bagi yang menginginkan mengulangi senggama untuk yang kesekian kalinya, sebaiknya terlebih dahulu dicuci kelaminnya, karena hal ini dapat menambah gairah dan dapat menjaga kebersihan.
10. Tidak ada anjuran khusus menjalani senggama dimalam-malam tertentu seperti malam senin atau jumah namun sebagian ulama ada yang mensunahkan menjalaninya dimalam jumah.
11. Disunahkan bagi seorang suami dimalam pengantin saat berkeinginan menjalani persenggamaan terlebih dahulu memegang rambut depan (ubun-ubun) istrinya sambil berdoa :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻭﺧﻴﺮ ﻣﺎ
ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﺷﺮﻫﺎ ﻭﺷﺮ
ﻣﺎ ﺟﺒﻠﺘﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ
Allahumma inni as-aluka min khairihaa wa khairi ma jabaltuhaa 'alaiih, wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltuhaa'alaiih.
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMU kebaikannya (isteri) dan kebaikan apa yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan apa.....
Baca kelanjutannya dikolom komentar yah ;-) soalnya saya posting pake hp jadi jumlah karakternya terbatas. :-P
Selasa, 14 Februari 2012
PWNU dan Tokoh Lintas Agama Kalteng Tolak FPI
Berbagai tokoh masyarakat lintas agama, suku, dan organisasi kemasyarakatan se-Provinsi Kalimantan Tengah sepakat menolak pelantikan pengurus Front Pembela Islam (FPI) di provinsi tersebut.
Semua pimpinan agama, ormas, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kalteng menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tidak ada kaitannya dengan agama dan suku," kata Wakil Gubernur Kalteng H Achmad Diran ketika membacakan pernyataan sikap para tokoh di Palangka Raya, Senin kemarin. Selanjutnya, agar kejadian tidak terulang kembali, semua pihak wajib bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama dan memelihara Tri-Kerukunan Umat Beragama sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku.
Sepakat menyatakan, masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap untuk kembali menciptakan kondisi Kalteng yang rukun dan damai, dan hindari upaya adu domba dalam masyarakat serta tindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku.
Bukan hanya itu, semua pihak juga diminta untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan dengan semangat "Huma Betang di Bumi Tambun Bungai dan Bumi Pancasila Kalteng".
Berbagai tokoh masyarakat, agama dan ormas yang menyatakan sikap tersebut yakni, Ketua MUI Kalteng, Ketua PW-NU Kalteng, Ketua PW Muhammadiyah Kalteng, Ketua LDII Kalteng. Kemudian dilanjutkan Ketua FKUB Kalteng, Ketua PGPI Kalteng, Ketua DAD Kalteng, Ketua Majelis Jemaat GKE Kalteng, Ketua PGLI Kalteng, Ketua MBAHK Kalteng dan Ketua GPDI Kalteng.
Pernyataan sikap tersebut diketahui Gubernur Kalteng Agustin teras Narang, Wagub Kalteng H Achmad Diran, Wakil Ketua DPRD Kalteng H Arief Budiatmo, Kapolda Kalteng Brigjen Pol Drs H Damianus Jackie, Ketua Pengadilan Tinggi Kalteng Yohanes Ether Binti SH M. Hum.
Selain itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Kalteng DR Syaifudin Kasim, SH. M. Si, mewakili Danrem 102/Pjg Mayor ARH Kurniawan Fitriana dan Kepala Pelaksana Harian BIN Kalteng Brigjen IGN Anjar Pramono, S.Sos.
Sebagaimana diketahui, penolakan semua tokoh masyarakat Kalteng itu berawal ketika FPI ingin membentuk dan melantik kepengurusan FPI di dua Kabupaten dan satu Kota di Kalteng, yaitu di Kabupaten Kapuas, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Kota Palangka Raya.
Kemarin, FPI bereaksi dengan meminta DPR, Polisi, Menkopolhukam, dan Mendagri mengusut upaya "pencekalan" terhadap FPI di Kalteng diusut.
Sumber : Antara
Semua pimpinan agama, ormas, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kalteng menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tidak ada kaitannya dengan agama dan suku," kata Wakil Gubernur Kalteng H Achmad Diran ketika membacakan pernyataan sikap para tokoh di Palangka Raya, Senin kemarin. Selanjutnya, agar kejadian tidak terulang kembali, semua pihak wajib bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama dan memelihara Tri-Kerukunan Umat Beragama sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku.
Sepakat menyatakan, masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap untuk kembali menciptakan kondisi Kalteng yang rukun dan damai, dan hindari upaya adu domba dalam masyarakat serta tindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku.
Bukan hanya itu, semua pihak juga diminta untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan dengan semangat "Huma Betang di Bumi Tambun Bungai dan Bumi Pancasila Kalteng".
Berbagai tokoh masyarakat, agama dan ormas yang menyatakan sikap tersebut yakni, Ketua MUI Kalteng, Ketua PW-NU Kalteng, Ketua PW Muhammadiyah Kalteng, Ketua LDII Kalteng. Kemudian dilanjutkan Ketua FKUB Kalteng, Ketua PGPI Kalteng, Ketua DAD Kalteng, Ketua Majelis Jemaat GKE Kalteng, Ketua PGLI Kalteng, Ketua MBAHK Kalteng dan Ketua GPDI Kalteng.
Pernyataan sikap tersebut diketahui Gubernur Kalteng Agustin teras Narang, Wagub Kalteng H Achmad Diran, Wakil Ketua DPRD Kalteng H Arief Budiatmo, Kapolda Kalteng Brigjen Pol Drs H Damianus Jackie, Ketua Pengadilan Tinggi Kalteng Yohanes Ether Binti SH M. Hum.
Selain itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Kalteng DR Syaifudin Kasim, SH. M. Si, mewakili Danrem 102/Pjg Mayor ARH Kurniawan Fitriana dan Kepala Pelaksana Harian BIN Kalteng Brigjen IGN Anjar Pramono, S.Sos.
Sebagaimana diketahui, penolakan semua tokoh masyarakat Kalteng itu berawal ketika FPI ingin membentuk dan melantik kepengurusan FPI di dua Kabupaten dan satu Kota di Kalteng, yaitu di Kabupaten Kapuas, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Kota Palangka Raya.
Kemarin, FPI bereaksi dengan meminta DPR, Polisi, Menkopolhukam, dan Mendagri mengusut upaya "pencekalan" terhadap FPI di Kalteng diusut.
Sumber : Antara
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Selasa, 14 Februari 2012
Selasa, Februari 14, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
Senin, 06 Februari 2012
SEJARAH ADZAN
Sebelum adzan Subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat benua Afrika, adzan Dzuhur pun siap berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya. Sementara kumandang adzan Dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah belahan dunia lainnya. Saat gema adzan Ashar belum selesai, Adzan Magrib telah merambah bumi ini. Selang beberapa saat adzan Isya’ pun siap melanjutkan. Ketika gema adzan Isya’ belum selesai di benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia.
Seiring bergantinya siang dan malam ternyata adzan akan selalu berkumandang di muka bumi ini. Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini, tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan. Insya Allah, gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.
Tahukah pembaca bagaimana sejarah dari Adzan itu?
Adzan merupakan sarana untuk mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba. Dikarenakan itu, setiap muslim seyogyanya segera mendirikan shalat tatkala adzan berkumandang. Sebagaimana kita ketahui, shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Kumandang adzan, baik di masa kini maupun masa lalu, adalah keunikan karakteristik Islam. Ini sangat terasa apabila seorang muslim bermukim atau mengunjungi ibukota negara-negara Barat. Tatkala mendengar suara adzan berkumandang dari sebuah masjid, “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ia akan merasakan kesan mendalam yang ditimbulkan suara itu. Lebih mengesankan lagi bila ia mendengarnya di sela-sela hiruk-pikuk kehidupan modern di sekeliling masjid itu. Hanya dengan mendengarnya, muslim yang baik akan segera meninggalkan gemerlap kehidupan yang menipu dan palsu. Dengan menghayati makna adzan, sirnalah segala gemerlap dunia yang menipu dari pandangan seorang muslim.
Asal Usul Adzan begitu unik dan menarik. Tuhan Yang Maha Besar melapangkan penduduk Madinah untuk memeluk Islam. Mereka –kalangan Ansar– menyambut kedatangan Nabi Muhammmad SAW dan pengikutnya –kalangan muhajirin– memasuki Madinah, setelah sebelumnya Allah SWT memperkenankan nabi berhijrah. Di kota Madinah, Islam pun tersebar dengan cepat. Fenomena ini sekaligus berarti bahwa kuantitas umat Islam bertambah.
Seiring dengan bertambahnya kuantitas umat Islam di Madinah, munculah kesulitan kecil di antara kaum muslim untuk memperkirakan waktu shalat. Sampai suatu hari pada tahun kedua Hijriah, sejumlah orang menemui Rasulullah SAW.
Di antara hadirin, terdapat Umar bin Khattab. Pertemuan tersebut membahas topik perlunya berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah dan mencari solusi bagaimana memberitahu umat Islam bahwa waktu shalat tengah menjelang.
Sejumlah hadirin mengusulkan penggunaan lonceng, sama dengan yang digunakan orang Nasrani untuk memanggil jemaatnya ke gereja. Adapun hadirin yang lain menawarkan terompet yang terbuat dari tanduk, sama dengan yang digunakan orang Yahudi ketika memanggil penganutnya ke sinagog-sinagog. Usulan lainnya adalah penggunaan api. Jadi setiap kali waktu shalat tiba, ditempat yang tinggi dinyalakan api. Dengan begitu, seluruh muslim dapat melihatnya dan bergegas menuju masjid.
Umar bin Khattab tampak asyik menyimak jalannya musyawarah tersebut. Merasa tidak tertarik dengan ketiga usulan yang terlontar, ia berkata dengan lugas, “Mengapa bukan seorang muslim saja yang menyeru untuk shalat?” Tidak diduga, justru Nabi Muhammad SAW menyetujui gagasan Umar bin Khattab. Sembari memandang Bilal bin Rabah, Nabi berucap, “Hai Bilal, berdiri dan serukanlah shalat!”
Sementara itu, lafal adzan yang kita kenal selama ini berasal dari mimpi Abdullah bin Zayd yang kemudian diceritakan kepada Rasulullah, dan kemudian diajarkan dan dihafal oleh Bilal bin Rabah. Bilal dipilih Rasulullah sebagai muadzin pertama lantaran ia diketahui memiliki suara yang merdu.
Dari mana Rasulullah SAW mengetahui bahwa Bilal bin Rabah punya suara merdu? Tidak ada seorang penulis sejarah pun yang dapat menjawabnya. Akan tetapi diduga Nabi Muhammad SAW mengetahui dari istrinya Aisyah binti Abu Bakar. Tatkala Bilal dan Abu Bakar menderita demam setibanya di Madinah, Aisyahlah yang merawat keduanya. Sepengetahuan Aisyah, jika terserang panas tinggi, Bilal acapkali mengigau dan melantunkan beberapa bait syair Hassan bin Tsabit yang digubah untuk memuji Rasulullah SAW. Wajar jika Aisyah binti Abu Bakar menceritakan fenomena menarik itu kepada Rasulullah SAW.
Sekian dulu yah, dah sore maw maghrib :-) terimakasih telah membacanya.
Seiring bergantinya siang dan malam ternyata adzan akan selalu berkumandang di muka bumi ini. Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini, tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan. Insya Allah, gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.
Tahukah pembaca bagaimana sejarah dari Adzan itu?
Adzan merupakan sarana untuk mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba. Dikarenakan itu, setiap muslim seyogyanya segera mendirikan shalat tatkala adzan berkumandang. Sebagaimana kita ketahui, shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Kumandang adzan, baik di masa kini maupun masa lalu, adalah keunikan karakteristik Islam. Ini sangat terasa apabila seorang muslim bermukim atau mengunjungi ibukota negara-negara Barat. Tatkala mendengar suara adzan berkumandang dari sebuah masjid, “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ia akan merasakan kesan mendalam yang ditimbulkan suara itu. Lebih mengesankan lagi bila ia mendengarnya di sela-sela hiruk-pikuk kehidupan modern di sekeliling masjid itu. Hanya dengan mendengarnya, muslim yang baik akan segera meninggalkan gemerlap kehidupan yang menipu dan palsu. Dengan menghayati makna adzan, sirnalah segala gemerlap dunia yang menipu dari pandangan seorang muslim.
Asal Usul Adzan begitu unik dan menarik. Tuhan Yang Maha Besar melapangkan penduduk Madinah untuk memeluk Islam. Mereka –kalangan Ansar– menyambut kedatangan Nabi Muhammmad SAW dan pengikutnya –kalangan muhajirin– memasuki Madinah, setelah sebelumnya Allah SWT memperkenankan nabi berhijrah. Di kota Madinah, Islam pun tersebar dengan cepat. Fenomena ini sekaligus berarti bahwa kuantitas umat Islam bertambah.
Seiring dengan bertambahnya kuantitas umat Islam di Madinah, munculah kesulitan kecil di antara kaum muslim untuk memperkirakan waktu shalat. Sampai suatu hari pada tahun kedua Hijriah, sejumlah orang menemui Rasulullah SAW.
Di antara hadirin, terdapat Umar bin Khattab. Pertemuan tersebut membahas topik perlunya berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah dan mencari solusi bagaimana memberitahu umat Islam bahwa waktu shalat tengah menjelang.
Sejumlah hadirin mengusulkan penggunaan lonceng, sama dengan yang digunakan orang Nasrani untuk memanggil jemaatnya ke gereja. Adapun hadirin yang lain menawarkan terompet yang terbuat dari tanduk, sama dengan yang digunakan orang Yahudi ketika memanggil penganutnya ke sinagog-sinagog. Usulan lainnya adalah penggunaan api. Jadi setiap kali waktu shalat tiba, ditempat yang tinggi dinyalakan api. Dengan begitu, seluruh muslim dapat melihatnya dan bergegas menuju masjid.
Umar bin Khattab tampak asyik menyimak jalannya musyawarah tersebut. Merasa tidak tertarik dengan ketiga usulan yang terlontar, ia berkata dengan lugas, “Mengapa bukan seorang muslim saja yang menyeru untuk shalat?” Tidak diduga, justru Nabi Muhammad SAW menyetujui gagasan Umar bin Khattab. Sembari memandang Bilal bin Rabah, Nabi berucap, “Hai Bilal, berdiri dan serukanlah shalat!”
Sementara itu, lafal adzan yang kita kenal selama ini berasal dari mimpi Abdullah bin Zayd yang kemudian diceritakan kepada Rasulullah, dan kemudian diajarkan dan dihafal oleh Bilal bin Rabah. Bilal dipilih Rasulullah sebagai muadzin pertama lantaran ia diketahui memiliki suara yang merdu.
Dari mana Rasulullah SAW mengetahui bahwa Bilal bin Rabah punya suara merdu? Tidak ada seorang penulis sejarah pun yang dapat menjawabnya. Akan tetapi diduga Nabi Muhammad SAW mengetahui dari istrinya Aisyah binti Abu Bakar. Tatkala Bilal dan Abu Bakar menderita demam setibanya di Madinah, Aisyahlah yang merawat keduanya. Sepengetahuan Aisyah, jika terserang panas tinggi, Bilal acapkali mengigau dan melantunkan beberapa bait syair Hassan bin Tsabit yang digubah untuk memuji Rasulullah SAW. Wajar jika Aisyah binti Abu Bakar menceritakan fenomena menarik itu kepada Rasulullah SAW.
Sekian dulu yah, dah sore maw maghrib :-) terimakasih telah membacanya.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Senin, 06 Februari 2012
Senin, Februari 06, 2012
Tidak ada komentar:
Jumat, 03 Februari 2012
Mencintai Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wa Sallam
Rasulullah Baginda Nabi Besar Muhammad SAW adalah satu-satunya ni’mat dan anuerah terbesar dari Allah SWT bagi semesta alam, kehadiran beliau kepersada dunia membawa visi dan misi Rahmatan Lil Alamin.
Rasulullah Insan Paripurna yang telah mendedikasikan segenap jiwa dan raga untuk menyelamatkan manusia dari diskriminasi moralitas dan identitas serta peradaban kemanusiaan yang jahili dari dulu sekarang hingga akan datang.
Baginda Rasulullah SAW mengemban missi ke-Nabian dan ke-Rasulan, membawa Dakwah Islamiyah dengan methode Robbani yang Rahmatan Lil Alamin. "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu *) Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."
*) Maksud fil amr : urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
Dalam nuansa kita dibulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW kali ini, dapat kita simak dan telusuri sirah dan perjalanan kenabian dari Nabi Besar Muhammad yang lahir keparsada bumi serta etika dan prilaku Baginda Nabi dalam menghadapi peradaban manusia yang jahili pada waktu itu. Sehingga diantara pernyataan beliau tentang misi kehadiran beliau kepersada bumi dalam sebuah sabda beliau :
ﺍﻧﻤﺎ ﺑﻌﺜﺖ ﻷﺗﻤﻢ ﻣﻜﺎﺭﻡ ﺍﻻﺧﻼﻕ
Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Keluhuran budi dan prilaku serta etika kehidupan baginda Nabi bukan hanya manusia yang memuji tapi sesungguhnya Sang Pencipta manusialah yang memuji beliau sebagaimana dalam firman Allah SWT. Surah Al-Qalam ayat 3 dan 4 : "Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung."
Karena itulah kita sebagai ummat Rasullah dan sebagai Hamba Allah, teramat sangat penting bagi kita untuk memuji dan mengagungkan Rasulullah baik dalam bentuk membaca kitab Malawid, Syair-syair Madah kepada Nabi, mengenang sirah dan perjalanan peristiwa penting kehidupan Beliau seperti Maulid, Hijrah, serta Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad.
Betapa seorang Shohibud Daiba’ Al-Imamul Jalil Abdurrahman Addaiba’ie memberikan gambaran dan ilustrasi dalam sebuah natsarnya begitu agung menggambarkan etika Rasulullah ketika baginda Nabi ketika berdialog maupun bericara dengan setiap lapisan masyarakat beliau : Dan apabila beliau berdialog maka laksana mutiara yang jatuh berguguran, dan apabila beliau berbicara maka laksana minyak wangi yang keluar dari mulut beliau yang mulia.
Dari gambaran sekilas, ini menunjukkan betapa dan dimanapun kehadiran beliau Rasullullah selalu memberikan manfat yang luar biasa dan memberikan kesejukan dan kedamaian relung jiwa yang tandus dan gersang.
Shohibud Daiba’ melanjutkan pujian kepada baginda nabi dengan menerangkan betapa Rasullah dapat dikenali keberadaan beliau disuatu tempat dan majelis atau lewat disuatu jalan oleh karena tempat dan majlis atau jalan yang pernah ditempati atau dilewati baginda nabi itu akan menimbulkan wangi-wangian dan bekas wangi dan harumnnya nabi terasa begitu lama :
Maka tak berlebihan betapa seorang Shohibul Burdah Al-Imam Al-Bushiry yang diberi gelar Sayyidul Muddah dalam sebait syairnya begitu agung memuji baginda Nabi SAW dari semua sisi akhlaq yang mulia, dan prilaku maupun dalam dan bentuk fisik yang sempurna :
ﻓﺎﻕ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻓﻰ ﺧﻠﻖ ﻭ ﻓﻰ ﺧﻠﻖ
ﻭﻟﻢ ﻳﺪﺍﻧﻮﻩ ﻓﻰ ﻋﻠﻢ ﻭﻻ ﻛﺮﻡ
Karena itulah sesungguhnya mencintai Rasullah adalah kewajiban setiap insan yang beriman dari rangkaian cabang-cabang keimanan.
Semoga dengan Mau’izhoh Muhadhoroh yang sederhana ini, diri pribadi dan kita semua selalu dapat memberikan cinta dan mahabbah untuk baginda Rasullah bukan sebuah cinta semu yang kita berikan kepada seorang wanita yang mana akhirnya melahirkan duka dan pilu yang teraniaya. Dan semoga pula dengan semangat kita memperingati kelahiran junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW kali ini, kita dapat mengambil ibroh dan suri taulan kenabian dalam etika kehidupan. Serta kita dapat ittiba’ atas segala titah yang selalu beliau sampaikan melalui pesan-pesan ‘Ulamushsholihin sebagai wirotsah kenabian. Amin ya Robbal Alamin.
Rasulullah Insan Paripurna yang telah mendedikasikan segenap jiwa dan raga untuk menyelamatkan manusia dari diskriminasi moralitas dan identitas serta peradaban kemanusiaan yang jahili dari dulu sekarang hingga akan datang.
Baginda Rasulullah SAW mengemban missi ke-Nabian dan ke-Rasulan, membawa Dakwah Islamiyah dengan methode Robbani yang Rahmatan Lil Alamin. "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu *) Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."
*) Maksud fil amr : urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
Dalam nuansa kita dibulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW kali ini, dapat kita simak dan telusuri sirah dan perjalanan kenabian dari Nabi Besar Muhammad yang lahir keparsada bumi serta etika dan prilaku Baginda Nabi dalam menghadapi peradaban manusia yang jahili pada waktu itu. Sehingga diantara pernyataan beliau tentang misi kehadiran beliau kepersada bumi dalam sebuah sabda beliau :
ﺍﻧﻤﺎ ﺑﻌﺜﺖ ﻷﺗﻤﻢ ﻣﻜﺎﺭﻡ ﺍﻻﺧﻼﻕ
Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.
Keluhuran budi dan prilaku serta etika kehidupan baginda Nabi bukan hanya manusia yang memuji tapi sesungguhnya Sang Pencipta manusialah yang memuji beliau sebagaimana dalam firman Allah SWT. Surah Al-Qalam ayat 3 dan 4 : "Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung."
Karena itulah kita sebagai ummat Rasullah dan sebagai Hamba Allah, teramat sangat penting bagi kita untuk memuji dan mengagungkan Rasulullah baik dalam bentuk membaca kitab Malawid, Syair-syair Madah kepada Nabi, mengenang sirah dan perjalanan peristiwa penting kehidupan Beliau seperti Maulid, Hijrah, serta Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad.
Betapa seorang Shohibud Daiba’ Al-Imamul Jalil Abdurrahman Addaiba’ie memberikan gambaran dan ilustrasi dalam sebuah natsarnya begitu agung menggambarkan etika Rasulullah ketika baginda Nabi ketika berdialog maupun bericara dengan setiap lapisan masyarakat beliau : Dan apabila beliau berdialog maka laksana mutiara yang jatuh berguguran, dan apabila beliau berbicara maka laksana minyak wangi yang keluar dari mulut beliau yang mulia.
Dari gambaran sekilas, ini menunjukkan betapa dan dimanapun kehadiran beliau Rasullullah selalu memberikan manfat yang luar biasa dan memberikan kesejukan dan kedamaian relung jiwa yang tandus dan gersang.
Shohibud Daiba’ melanjutkan pujian kepada baginda nabi dengan menerangkan betapa Rasullah dapat dikenali keberadaan beliau disuatu tempat dan majelis atau lewat disuatu jalan oleh karena tempat dan majlis atau jalan yang pernah ditempati atau dilewati baginda nabi itu akan menimbulkan wangi-wangian dan bekas wangi dan harumnnya nabi terasa begitu lama :
Maka tak berlebihan betapa seorang Shohibul Burdah Al-Imam Al-Bushiry yang diberi gelar Sayyidul Muddah dalam sebait syairnya begitu agung memuji baginda Nabi SAW dari semua sisi akhlaq yang mulia, dan prilaku maupun dalam dan bentuk fisik yang sempurna :
ﻓﺎﻕ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻓﻰ ﺧﻠﻖ ﻭ ﻓﻰ ﺧﻠﻖ
ﻭﻟﻢ ﻳﺪﺍﻧﻮﻩ ﻓﻰ ﻋﻠﻢ ﻭﻻ ﻛﺮﻡ
Karena itulah sesungguhnya mencintai Rasullah adalah kewajiban setiap insan yang beriman dari rangkaian cabang-cabang keimanan.
Semoga dengan Mau’izhoh Muhadhoroh yang sederhana ini, diri pribadi dan kita semua selalu dapat memberikan cinta dan mahabbah untuk baginda Rasullah bukan sebuah cinta semu yang kita berikan kepada seorang wanita yang mana akhirnya melahirkan duka dan pilu yang teraniaya. Dan semoga pula dengan semangat kita memperingati kelahiran junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW kali ini, kita dapat mengambil ibroh dan suri taulan kenabian dalam etika kehidupan. Serta kita dapat ittiba’ atas segala titah yang selalu beliau sampaikan melalui pesan-pesan ‘Ulamushsholihin sebagai wirotsah kenabian. Amin ya Robbal Alamin.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Jumat, 03 Februari 2012
Jumat, Februari 03, 2012
Tidak ada komentar:
Rabu, 25 Januari 2012
Rabi`ul Awwal adalah Bulan Mawlid dan Hijrah Nabi Muhammad Saw
Kemarin malam, adalah malam 1 Rabiul Awal 1433 tahun silam, Nabi Muhammad Saw. memulai perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Bertolak dari rumah mulia beliau, meninggalkan Ali bin Abi Thalib yang menggantikannya terkepung para pembunuh bayaran yang sudah siap dengan pedang terhunus…
Ditemani Abu Bakar, beliau berjalan selama 11 hari. Pada 12 Rabi`ul Awwal, beliau menginjakkan kaki di Madinah untuk pertama kali.
Bagaimana dengan Ali yang ditinggalkan oleh Nabi di rumah beliau, dalam ancaman maut yang siap dihunuskan???
Setelah berhasil dengan selamat, menghadapi orang-orang garang dengan nafsu membunuh, yang memaksa mendobrak pintu rumah Nabi, dan hampir saja mereka membunuhnya, Ali yang pemberani itu pun menyusul Nabi belakangan. Atas keikhlasannya menghadapi maut, di ujung pedang-pedang yang siap diayunkan itulah, turun ayat, “Wa min al-naasi man yasyri nafsahu ibtigha`i mardhaatillah, wallahu ra`uufun bi al-`ibad...” Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Allah Maha Penyantun bagi para hamba (QS al-Baqarah, 2:207)
Saat-saat Nabi hijrah adalah peristiwa yang sangat heroik, Semoga kita kecipratan spiritnya.
Bagaimana dengan Abu Bakar yang menyertai Nabi hijrah ke Yatsrib (Madinah)?
Tentang kebersamaannya menemani Nabi Saw. hijrah, juga diungkapkan dalam Al-Quran. Saat keduanya bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran musuh yang sudah mendekat di pintu gua,, Saat Abu Bakar gemetar ketakutan, Sang Nabi memberi nasihat, “Laa tahzan… Jangan bersedih.” “Ingatlah ketika keduanya (bersembunyi) di dalam gua, ketika Muhamamd berkata kepada temannya (Abu Bakar), “janganlah engkau bersedih.”
Hijrah adalah perjalanan yang menegangkan, dan menguji keimanan. Maka bulan Rabi`ul Awwal bukan hanya Syahrul Mawlid al-Rasul (bulan kelahiran Rasul), tetapi juga bulan Syahru Hijrati al-Rasul (Bulan Hijrah Rasul) Sehingga peringatan didalamnya berkenaan dengan dua peristiwa penting tersebut sekaligus. Karenanya yang dibahas dalam peringatan Mawlid Nabi di bulan Rabi`ul Awwal ini, selain hikmah mawlidnya juga sekaligus hikmah hijrahnya. Itu akan menjadi bahasan yang menarik. Dan para mubaligh bisa memiliki tema bahasan yang lebih variatif.
Sungguh Kelahiran Nabi Saw. adalah busyra, kabar gembira bagi alam semesta. Bahkan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Agung ini selalu dikabarkan oleh semua nabi. Seperti yang ditegaskan oleh Nabi Isa dalam surat al-Shaff. “...Mubasysyiran bi rasuulin ya`tii min ba`dii ismuhu ahmad...” ....(Aku diutus) untuk memberi kabar gembira dengan kedatangan seorang rasul yang datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad)...”
Sementara hijrah beliau adalah sebuah fase penting dari visi besar risalah untuk menciptakan sejarah kemanusiaan yang diwahyukan..
Alhasil, Rabi`ul Awwal adalah bulan mawlid (kelahiran) dan bulan hijrah Nabi Saw.. Karenanya bulan ini memiliki makna penting bagi umat Islam. Dan kita harus memaknainya lebih penting dan aktual lagi....
Ditemani Abu Bakar, beliau berjalan selama 11 hari. Pada 12 Rabi`ul Awwal, beliau menginjakkan kaki di Madinah untuk pertama kali.
Bagaimana dengan Ali yang ditinggalkan oleh Nabi di rumah beliau, dalam ancaman maut yang siap dihunuskan???
Setelah berhasil dengan selamat, menghadapi orang-orang garang dengan nafsu membunuh, yang memaksa mendobrak pintu rumah Nabi, dan hampir saja mereka membunuhnya, Ali yang pemberani itu pun menyusul Nabi belakangan. Atas keikhlasannya menghadapi maut, di ujung pedang-pedang yang siap diayunkan itulah, turun ayat, “Wa min al-naasi man yasyri nafsahu ibtigha`i mardhaatillah, wallahu ra`uufun bi al-`ibad...” Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Allah Maha Penyantun bagi para hamba (QS al-Baqarah, 2:207)
Saat-saat Nabi hijrah adalah peristiwa yang sangat heroik, Semoga kita kecipratan spiritnya.
Bagaimana dengan Abu Bakar yang menyertai Nabi hijrah ke Yatsrib (Madinah)?
Tentang kebersamaannya menemani Nabi Saw. hijrah, juga diungkapkan dalam Al-Quran. Saat keduanya bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran musuh yang sudah mendekat di pintu gua,, Saat Abu Bakar gemetar ketakutan, Sang Nabi memberi nasihat, “Laa tahzan… Jangan bersedih.” “Ingatlah ketika keduanya (bersembunyi) di dalam gua, ketika Muhamamd berkata kepada temannya (Abu Bakar), “janganlah engkau bersedih.”
Hijrah adalah perjalanan yang menegangkan, dan menguji keimanan. Maka bulan Rabi`ul Awwal bukan hanya Syahrul Mawlid al-Rasul (bulan kelahiran Rasul), tetapi juga bulan Syahru Hijrati al-Rasul (Bulan Hijrah Rasul) Sehingga peringatan didalamnya berkenaan dengan dua peristiwa penting tersebut sekaligus. Karenanya yang dibahas dalam peringatan Mawlid Nabi di bulan Rabi`ul Awwal ini, selain hikmah mawlidnya juga sekaligus hikmah hijrahnya. Itu akan menjadi bahasan yang menarik. Dan para mubaligh bisa memiliki tema bahasan yang lebih variatif.
Sungguh Kelahiran Nabi Saw. adalah busyra, kabar gembira bagi alam semesta. Bahkan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Agung ini selalu dikabarkan oleh semua nabi. Seperti yang ditegaskan oleh Nabi Isa dalam surat al-Shaff. “...Mubasysyiran bi rasuulin ya`tii min ba`dii ismuhu ahmad...” ....(Aku diutus) untuk memberi kabar gembira dengan kedatangan seorang rasul yang datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad)...”
Sementara hijrah beliau adalah sebuah fase penting dari visi besar risalah untuk menciptakan sejarah kemanusiaan yang diwahyukan..
Alhasil, Rabi`ul Awwal adalah bulan mawlid (kelahiran) dan bulan hijrah Nabi Saw.. Karenanya bulan ini memiliki makna penting bagi umat Islam. Dan kita harus memaknainya lebih penting dan aktual lagi....
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Rabu, 25 Januari 2012
Rabu, Januari 25, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
Senin, 23 Januari 2012
Perancang burung garuda yang terlupakan
Siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak – keduanya sekarang di Negeri Belanda. Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marahi.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, dimana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis..... Selengkapnya silahkan menuju blogmwb sebagai sumbernya :P
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, dimana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis..... Selengkapnya silahkan menuju blogmwb sebagai sumbernya :P
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Senin, 23 Januari 2012
Senin, Januari 23, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
Minggu, 22 Januari 2012
Nilai-nilai Pancasila Yang Sering Dilupakan
Pancasila sudah mulai sepi dari pembicaraan publik. Padahal Pancasila sebagai dasar negara merupakan puncak kesepakatan nasional. Melihat aneka sikap dan perilaku, tindakan dan perbuatan dari beberapa elit partai politik, pejabat negara, aksi sekelompok organisasi massa seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme, kekerasan terhadap penganut agama lain, mementingkan diri atau kelompok, menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah mulai dilupakan.
Tak luput juga, hubungan antar pemeluk agama menjadi agak renggang, karena adanya larangan mengucapkan selamat natal, soal pendirian rumah ibadah dan kebebasan beribadah kelompok minoritas.
Alangkah baiknya jika setiap pejabat publik, elit politik, tokoh agama, segenap masyarakat, merefleksikan nilai-nilai dari setiap Sila Pancasila sebagai berikut:
A. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa:
1 Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab;
2 Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup;
3 Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya;
4 Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
B. Kemanusiaan yang adil dan beradab:
1 Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban antara sesama manusia;
2 Saling mencintai sesama manusia;
3 Mengembangkan sikap tenggang rasa;
4 Tidak semena-mena terhadap orang lain;
5 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan;
6 Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan;
7 Berani membela kebenaran dan keadilan;
8 Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia karena dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
C. Persatuan Indonesia:
1 Menempatkan persatuan, kesatuan, diatas kepentingan pribadi atau golongan;
2 Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara;
3 Cinta tanah air dan bangsa;
4 Bangga sebagai bangsa Indonesia dan berTanah Air Indonesia;
5 Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika.
D kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan:
1 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat;
2 Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;
3 Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama;
4 Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan;
5 Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah;
6 Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur;
7 Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
E. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:
1 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan;
2 Bersikap adil
3 Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban;
4 Menghormati hak-hak orang lain;
5 Suka memberikan pertolongan kepada orang lain;
6 Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain;
7 Tidak bersifat boros
8 Tidak bergaya hidup mewah;
9 Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum
10 Suka bekerja keras;
11 Menghargai hasil karya orang lain;
12 Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Jika segenap masyarakat Indonesia benar-benar mengacu pada nilai-nilai Pancasila ini dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, maka pada saatnya kita akan melihat Indonesia sebagai bangsa yang nasionalis dan religius, sebab nilai-nilai Pancasila universal dan tidak bertentangan dengan agama manapun.
Dibutuhkan satu komitmen dan kemauan untuk Indonesia, agar Garuda dan Pancasila benar-benar didada segenap warga bangsa. Dengan demikian, kita yakin kita akan menjadi bangsa PEMENANG bukan pecundang.
Tak luput juga, hubungan antar pemeluk agama menjadi agak renggang, karena adanya larangan mengucapkan selamat natal, soal pendirian rumah ibadah dan kebebasan beribadah kelompok minoritas.
Alangkah baiknya jika setiap pejabat publik, elit politik, tokoh agama, segenap masyarakat, merefleksikan nilai-nilai dari setiap Sila Pancasila sebagai berikut:
A. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa:
1 Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab;
2 Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup;
3 Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya;
4 Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
B. Kemanusiaan yang adil dan beradab:
1 Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban antara sesama manusia;
2 Saling mencintai sesama manusia;
3 Mengembangkan sikap tenggang rasa;
4 Tidak semena-mena terhadap orang lain;
5 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan;
6 Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan;
7 Berani membela kebenaran dan keadilan;
8 Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia karena dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
C. Persatuan Indonesia:
1 Menempatkan persatuan, kesatuan, diatas kepentingan pribadi atau golongan;
2 Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara;
3 Cinta tanah air dan bangsa;
4 Bangga sebagai bangsa Indonesia dan berTanah Air Indonesia;
5 Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika.
D kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan:
1 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat;
2 Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;
3 Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama;
4 Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan;
5 Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah;
6 Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur;
7 Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
E. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:
1 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan;
2 Bersikap adil
3 Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban;
4 Menghormati hak-hak orang lain;
5 Suka memberikan pertolongan kepada orang lain;
6 Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain;
7 Tidak bersifat boros
8 Tidak bergaya hidup mewah;
9 Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum
10 Suka bekerja keras;
11 Menghargai hasil karya orang lain;
12 Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Jika segenap masyarakat Indonesia benar-benar mengacu pada nilai-nilai Pancasila ini dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, maka pada saatnya kita akan melihat Indonesia sebagai bangsa yang nasionalis dan religius, sebab nilai-nilai Pancasila universal dan tidak bertentangan dengan agama manapun.
Dibutuhkan satu komitmen dan kemauan untuk Indonesia, agar Garuda dan Pancasila benar-benar didada segenap warga bangsa. Dengan demikian, kita yakin kita akan menjadi bangsa PEMENANG bukan pecundang.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Minggu, 22 Januari 2012
Minggu, Januari 22, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
PBNU dan KWI usulkan Ormas cantumkan asas Pancasila
Wakil Sekjen PBNU Hanif Saha Ghafur dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Pansus Ormas di gedung DPR, Rabu lalu (18/1), mengusulkan adanya klausul dalam RUU Keormasan agar mencantumkan Pancasila dalam asas organisasi.
“Ini penting untuk menghindari liberalisasi dan radikalisasi Ormas yang ada di Indonesia sekaligus sebagai bukti komitmen dan kesetiaan kepada NKRI,” katanya seperti dilansir NU ONLINE
PBNU juga mengusulkan didalam pasal 19 sebuah poin baru, yaitu Ormas harus memperoleh perlakuan yang sama dihadapan hukum. Dalam hal ini, Ormas juga berkewajiban untuk menjunjung tinggi supremasi hukum, dan memiliki komitmen untuk memelihara dan mempertahankan tidak hanya kesatuan NKRI tetapi juga Ideologi bangsa.
Selain itu, RUU Ormas perlu diatur agar kemudahan fasilitas Negara untuk Ormas tidak dimanfaatkan untuk kegiatan pencucian uang, pencucian pajak dan lainnya oleh segelintir oknum untuk menghindari kewajiban sebagai warga negera.
Sementara itu Romo Antonius Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seperti dilansir hukumonline.com, mengatakan RUU Ormas ini sangat terasa sekali paradigma pemerintah yang ingin terlalu intervensi kepada kehidupan ormas. “RUU Ormas ini harus dibongkar total. RUU ini semangatnya masih ingin intervensi, paradigma ini harus dirombak total,” ujarnya usai menyampaikan pendapatnya diruang rapat Pansus DPR, Kamis (19/1).
Romo Benny mengatakan, seharusnya RUU Ormas ini secara tegas menyatakan ormas yang ada di Indonesia harus mengacu kepada empat pilar yang diakui oleh Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Kalau tak mau mengacu kepada ini, ormas itu jangan beraktivitas di Indonesia,” ujarnya. Sayangnya, lanjut Romo Benny, RUU ini tak secara tegas mengatur hal tersebut. Pasal 2 menyatakan ‘Asas Ormas tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945’. Ketentuan selanjutnya, membolehkan ormas memiliki ciri tertentu.
Pasal 3 berbunyi ‘Ormas dapat mencantumkan diri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Ormas yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945’.
Sumber : (www.cathnewsindonesia.com)
“Ini penting untuk menghindari liberalisasi dan radikalisasi Ormas yang ada di Indonesia sekaligus sebagai bukti komitmen dan kesetiaan kepada NKRI,” katanya seperti dilansir NU ONLINE
PBNU juga mengusulkan didalam pasal 19 sebuah poin baru, yaitu Ormas harus memperoleh perlakuan yang sama dihadapan hukum. Dalam hal ini, Ormas juga berkewajiban untuk menjunjung tinggi supremasi hukum, dan memiliki komitmen untuk memelihara dan mempertahankan tidak hanya kesatuan NKRI tetapi juga Ideologi bangsa.
Selain itu, RUU Ormas perlu diatur agar kemudahan fasilitas Negara untuk Ormas tidak dimanfaatkan untuk kegiatan pencucian uang, pencucian pajak dan lainnya oleh segelintir oknum untuk menghindari kewajiban sebagai warga negera.
Sementara itu Romo Antonius Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seperti dilansir hukumonline.com, mengatakan RUU Ormas ini sangat terasa sekali paradigma pemerintah yang ingin terlalu intervensi kepada kehidupan ormas. “RUU Ormas ini harus dibongkar total. RUU ini semangatnya masih ingin intervensi, paradigma ini harus dirombak total,” ujarnya usai menyampaikan pendapatnya diruang rapat Pansus DPR, Kamis (19/1).
Romo Benny mengatakan, seharusnya RUU Ormas ini secara tegas menyatakan ormas yang ada di Indonesia harus mengacu kepada empat pilar yang diakui oleh Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Kalau tak mau mengacu kepada ini, ormas itu jangan beraktivitas di Indonesia,” ujarnya. Sayangnya, lanjut Romo Benny, RUU ini tak secara tegas mengatur hal tersebut. Pasal 2 menyatakan ‘Asas Ormas tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945’. Ketentuan selanjutnya, membolehkan ormas memiliki ciri tertentu.
Pasal 3 berbunyi ‘Ormas dapat mencantumkan diri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Ormas yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945’.
Sumber : (www.cathnewsindonesia.com)
Rabu, 18 Januari 2012
Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan TRADISI SAPARAN CIREBON
Saparan atau Safar adalah bulan kedua dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Bulan ini dipercaya masyarakat adalah bulan musim kawin hewan.
khewan sing pada kawin seperti anjing (asu), sehingga di bulan ini sebaiknya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat Cirebon mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan.
Di samping itu, bulan Sapar juga dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau wulan sing akeh sial (blai) khususnya hari rabu terakhir dibulan ini atau orang Cirebon mengenal dengan istilah "Rebo Wekasan".
Asal usul keyakinan ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang diyakini masyarakat bahwa di hari rabu terakhir di bulan Sapar ini biasanya banyak terjadi bala. Sehingga dipercaya untuk mencegah bala ini kita dianjurkan melakukan sholat 4 rokaat dengan bacaan surat al-Kautsar sebanyak 17 kali, di rakaat pertama, baca surat al-Ikhlas sebanyak 5 kali, di rokaat ke dua, baca surat al-Falaq. Di rakaat ketiga surat an-Nas di baca satu kali, juga di raka’at yang keempat. Kemudian diakhiri dengan membaca do'a Asyura.
Masyarakat Cirebon percaya, dibulan ini, untuk menghindari melakukan perjalanan jauh, perkerjaan yang cukup berbahaya. Dianjurkan di bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah, khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua dan kaum jompo, selain itu pula kita lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama. Berkaitan dengan ini maka masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan 3 macam kegiatan yang dikenal dengan "Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan".
Ngapem berasal dari kata Apem, yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras yang di fermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (Selametan) di bulan Sapar yang kita terhindar dari malapetaka. Pesan yang diambil dari Apem dan Kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih memperhatikan fakir miskin, tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempererat tali silaturahmi karena di bulan ini penuh dengan malapetaka. Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus dicelupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah. Ada juga cerita dari beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang sering membagi-bagikan apem dibulan ini, ada juga diartikan pada masa penjajahan belanda di Cirebon bahwa apem melambangkan belanda yang harus di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca.
Bulan Safar yang diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita. hal ini konon di yakini sebagai upaya Sunan kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan, beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala dihari Rebo Wekasan. Ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang di yakini dulu Sunan kalijaga mandi. Adat ini disebut dengan "Ngirab" yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor.
Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini.
Semua kegiatan di bulan Sapar ini belumlah lengkap bila tidak diakhiri dengan Rebo Wekasan yang merupakan hari yang sangat penting. Selepas Isya hingga Shubuh merupakan pergantian hari yg biasanya dipagi hari banyak anak-anak yang berkopiah dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke rumah untuk mensenandungkan nyanyian "Wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur..." yang artinya " Bu, bagikanlah sesuatu ke kami semoga selalu sehat/aman dan panjang umur..." artinya bebas/selamatlah anda setelah hari Rebo terakhir ini. Bisanya si empunya rumah akan menanyakan " Sing endi cung?" terus akan di jawab oleh mereka dari pesantren atau dari daerah mana mereka tinggal. Mereka biasanya berkelompok minimal dua atau tiga orang dan kadang berlima.
Ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut Syeikh Lemahabang/Syeh Siti Djenar alias Syeikh Datuk Abdul Djalil alias Syeikh Jabaranta. Berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa Syek SitiDjenar ini dulunya bagian dari para Wali hanya beliau mengajarkan sesuatu yang membuat orang lupa/mengesampingkan Syariat sehingga beliau konon di adili oleh dewan Walisongo di Masjid Agung Cirebon dan di eksekusi oleh Sunan Kudus dengan menggunakan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Djati. Stelah beliau wafat jasadnya dimakamkan di Kemlaten. Setelah wafatnya Syeikh Lemah Abang, para pengikutnya.... NEXT COMENT >>>
khewan sing pada kawin seperti anjing (asu), sehingga di bulan ini sebaiknya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat Cirebon mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan.
Di samping itu, bulan Sapar juga dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau wulan sing akeh sial (blai) khususnya hari rabu terakhir dibulan ini atau orang Cirebon mengenal dengan istilah "Rebo Wekasan".
Asal usul keyakinan ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang diyakini masyarakat bahwa di hari rabu terakhir di bulan Sapar ini biasanya banyak terjadi bala. Sehingga dipercaya untuk mencegah bala ini kita dianjurkan melakukan sholat 4 rokaat dengan bacaan surat al-Kautsar sebanyak 17 kali, di rakaat pertama, baca surat al-Ikhlas sebanyak 5 kali, di rokaat ke dua, baca surat al-Falaq. Di rakaat ketiga surat an-Nas di baca satu kali, juga di raka’at yang keempat. Kemudian diakhiri dengan membaca do'a Asyura.
Masyarakat Cirebon percaya, dibulan ini, untuk menghindari melakukan perjalanan jauh, perkerjaan yang cukup berbahaya. Dianjurkan di bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah, khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua dan kaum jompo, selain itu pula kita lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama. Berkaitan dengan ini maka masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan 3 macam kegiatan yang dikenal dengan "Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan".
Ngapem berasal dari kata Apem, yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras yang di fermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (Selametan) di bulan Sapar yang kita terhindar dari malapetaka. Pesan yang diambil dari Apem dan Kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih memperhatikan fakir miskin, tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempererat tali silaturahmi karena di bulan ini penuh dengan malapetaka. Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus dicelupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah. Ada juga cerita dari beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang sering membagi-bagikan apem dibulan ini, ada juga diartikan pada masa penjajahan belanda di Cirebon bahwa apem melambangkan belanda yang harus di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca.
Bulan Safar yang diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita. hal ini konon di yakini sebagai upaya Sunan kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan, beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala dihari Rebo Wekasan. Ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang di yakini dulu Sunan kalijaga mandi. Adat ini disebut dengan "Ngirab" yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor.
Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini.
Semua kegiatan di bulan Sapar ini belumlah lengkap bila tidak diakhiri dengan Rebo Wekasan yang merupakan hari yang sangat penting. Selepas Isya hingga Shubuh merupakan pergantian hari yg biasanya dipagi hari banyak anak-anak yang berkopiah dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke rumah untuk mensenandungkan nyanyian "Wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur..." yang artinya " Bu, bagikanlah sesuatu ke kami semoga selalu sehat/aman dan panjang umur..." artinya bebas/selamatlah anda setelah hari Rebo terakhir ini. Bisanya si empunya rumah akan menanyakan " Sing endi cung?" terus akan di jawab oleh mereka dari pesantren atau dari daerah mana mereka tinggal. Mereka biasanya berkelompok minimal dua atau tiga orang dan kadang berlima.
Ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut Syeikh Lemahabang/Syeh Siti Djenar alias Syeikh Datuk Abdul Djalil alias Syeikh Jabaranta. Berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa Syek SitiDjenar ini dulunya bagian dari para Wali hanya beliau mengajarkan sesuatu yang membuat orang lupa/mengesampingkan Syariat sehingga beliau konon di adili oleh dewan Walisongo di Masjid Agung Cirebon dan di eksekusi oleh Sunan Kudus dengan menggunakan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Djati. Stelah beliau wafat jasadnya dimakamkan di Kemlaten. Setelah wafatnya Syeikh Lemah Abang, para pengikutnya.... NEXT COMENT >>>
Label:
artikel
Selasa, 17 Januari 2012
12 Barisan Manusia di padang mahsyar
Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra mengadap Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, tolong jelaskan kepadaku mengenai firman Allah SWT: (Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris” (Surah an-Naba’:1) Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaianNYA dengan air mata. Lalu menjawab: “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris menjadi 12 barisan, masing-masing dengan pembawaan mereka sendiri….”
Maka dijelaskanlah oleh Rasulullah ke 12 barisan tersebut :
* BARISAN PERTAMA Di iring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEDUA Diiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KETIGA Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. “Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEEMPAT Diiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancutan keluar dari mulut mereka. “Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jualbeli, maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah neraka…”
* BARISAN KELIMA Diiring dari kubur dengan bau busuk daripada bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. “Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEENAM Diiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. “Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KETUJUH Diiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. “Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
BARISAN KELAPAN Diiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEMBILAN Diiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEPULUH Diiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEBELAS Diiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. “Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEDUA BELAS Mereka diiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: “Mereka adalah orang yang beramal salih dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat keampunan, kasih sayang dan keridhoan Allah Yang Maha Pengasih
Source: http://ikbalblog.blogspot.com/
Maka dijelaskanlah oleh Rasulullah ke 12 barisan tersebut :
* BARISAN PERTAMA Di iring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEDUA Diiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KETIGA Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. “Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEEMPAT Diiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancutan keluar dari mulut mereka. “Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jualbeli, maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah neraka…”
* BARISAN KELIMA Diiring dari kubur dengan bau busuk daripada bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. “Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEENAM Diiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. “Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KETUJUH Diiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. “Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
BARISAN KELAPAN Diiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEMBILAN Diiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEPULUH Diiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KESEBELAS Diiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. “Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
* BARISAN KEDUA BELAS Mereka diiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: “Mereka adalah orang yang beramal salih dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat keampunan, kasih sayang dan keridhoan Allah Yang Maha Pengasih
Source: http://ikbalblog.blogspot.com/
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Selasa, 17 Januari 2012
Selasa, Januari 17, 2012
Tidak ada komentar:
Senin, 16 Januari 2012
Golongan-golongan yang di laknat Allah swt menurut qur'an dan hadits Nabi saw
Dilaknat artinya disingkirkan dan dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya, dan dimurkai oleh-Nya. Orang-Orang yang dilaknat dan dikutuk Allah di dalam Al-Qur'an:
1. Orang-orang kafir dan yang ingkar "Mereka berkata: hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman." (Al-Baqarah: 88 ). "Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang yang kafir, dan menyiapkan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)." (Al-Ahzab: 64).
2. Orang-orang yang menentang kebenaran "Hai orang-orang yang telah diberi Al-kitab, berimanlah kamu pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah wajahmu, lalu Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti berlaku." (Al-Nisa': 47) "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka mempercayai Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Barangsiapa yang dilaknat oleh Allah, niscaya kamu tidak akan mendapat penolong baginya." (An-Nisa': 51-52).
3. Para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan "Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata: sekiranya kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakan kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar." (Al-Ahzab: 66-68)
4. Orang-orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang-orang yang murtad "Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan memutuskan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telingan mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka." (Muhammad: 22-23)
5. Orang-orang yang menentang undang-undang Ilahiyah dan menyimpan kebenaran. "Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 159-160)
6. Para pemimpin kekufuran dan pelaku kerusakan di muka bumi "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan dimuka bumi, orang-orang itulah yang mendapat laknat dan lagi mereka yang memperoleh kediaman yang buruk (Jahannam)." (Ar'd: 25).
7. Orang-orang munafik yang menyakiti Rasulullah saw "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya didunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." (Al-Ahzab: 57) "Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu untuk memerangi mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka jumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-sehebatnya." (Al-Ahzab: 60-61) "Allah mengancam orang-orang munafik laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang abadi." (At-Taubah: 68 ).
8. Orang-orang yang zalim "Penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka: Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang dijanjikan kami oleh Tuhan kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan yang sebenarnya apa yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhanmu? Mereka penghuni neraka menjawab: Betul. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." (Al-A' raf: 44) "Mereka itu (orang-orang yang zalim) balasannya: Sesungghnya atas mereka laknat Allah ditimpakan, demikian juga laknat malaikat dan semua manusia." (li- Imran: 87).
9. Orang-orang yang membunuh orang mukmin "Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar." (An-Nisa': 93).
10. Iblis. "Sesungguhnya atasmu (Iblis) laknat sampai hari kiamat." (Al-Hijr/15 : 35)
11 . Orang-orang yang menuduh....... Lanjut ke kolom komentar yah, soalnya ngetik pake hape jadi jumlah karakternya di batasi :-D
1. Orang-orang kafir dan yang ingkar "Mereka berkata: hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman." (Al-Baqarah: 88 ). "Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang yang kafir, dan menyiapkan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)." (Al-Ahzab: 64).
2. Orang-orang yang menentang kebenaran "Hai orang-orang yang telah diberi Al-kitab, berimanlah kamu pada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah wajahmu, lalu Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti berlaku." (Al-Nisa': 47) "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka mempercayai Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Barangsiapa yang dilaknat oleh Allah, niscaya kamu tidak akan mendapat penolong baginya." (An-Nisa': 51-52).
3. Para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan "Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata: sekiranya kami mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakan kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar." (Al-Ahzab: 66-68)
4. Orang-orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang-orang yang murtad "Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan memutuskan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telingan mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka." (Muhammad: 22-23)
5. Orang-orang yang menentang undang-undang Ilahiyah dan menyimpan kebenaran. "Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 159-160)
6. Para pemimpin kekufuran dan pelaku kerusakan di muka bumi "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan dimuka bumi, orang-orang itulah yang mendapat laknat dan lagi mereka yang memperoleh kediaman yang buruk (Jahannam)." (Ar'd: 25).
7. Orang-orang munafik yang menyakiti Rasulullah saw "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya didunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." (Al-Ahzab: 57) "Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu untuk memerangi mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka jumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-sehebatnya." (Al-Ahzab: 60-61) "Allah mengancam orang-orang munafik laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang abadi." (At-Taubah: 68 ).
8. Orang-orang yang zalim "Penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka: Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang dijanjikan kami oleh Tuhan kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan yang sebenarnya apa yang dijanjikan kepadamu oleh Tuhanmu? Mereka penghuni neraka menjawab: Betul. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." (Al-A' raf: 44) "Mereka itu (orang-orang yang zalim) balasannya: Sesungghnya atas mereka laknat Allah ditimpakan, demikian juga laknat malaikat dan semua manusia." (li- Imran: 87).
9. Orang-orang yang membunuh orang mukmin "Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar." (An-Nisa': 93).
10. Iblis. "Sesungguhnya atasmu (Iblis) laknat sampai hari kiamat." (Al-Hijr/15 : 35)
11 . Orang-orang yang menuduh....... Lanjut ke kolom komentar yah, soalnya ngetik pake hape jadi jumlah karakternya di batasi :-D
Label:
artikel
Sabtu, 14 Januari 2012
Ayat Al-quran pada kromosom manusia
Kenapa yah akhir-akhir ini blogspot jadi susah diakses? Apa google yang lagi error atau cuman lapak saya saja yang susah diakses? Hampir dua minggu saya tidak posting disini akses jadi susah dan alexa rank pun menurun drastis. :D sudah ah curhatnya, sekarang lanjut pada judul posting kali ini. Dr. Ahmad Khan seorang peneliti lulusan Summa Cumlaude dari Duke University menemukan informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. DNA (Deoxy Nucleotida Acid) sendiri merupakan materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan pada inti sel dan di dalam mitokhondria.
Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY). Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali.
Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah. Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.
Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon Pada kromosom manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Al-Qur”an.
Akhirnya pada tanggal 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillahir Rahmanir Rahiim. “Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A”laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut, ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai menemukan 1/10 ayat Alquran.
Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A. Masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Sekian dulu postingan kali ini, semoga menambah keteguhan iman kita kepada Allah sang Kholiq.
Sumber : misteridunia.wordpress.com
Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY). Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali.
Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah. Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.
Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon Pada kromosom manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Al-Qur”an.
Akhirnya pada tanggal 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillahir Rahmanir Rahiim. “Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A”laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut, ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai menemukan 1/10 ayat Alquran.
Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A. Masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Sekian dulu postingan kali ini, semoga menambah keteguhan iman kita kepada Allah sang Kholiq.
Sumber : misteridunia.wordpress.com
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Sabtu, 14 Januari 2012
Sabtu, Januari 14, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
Jumat, 13 Januari 2012
Rasulullah saw tidak dapat tidur karena sisa sedekah kurma
Bismillahirahmanirahim..
Assalamualaikum wr. wb.
kita adalah umat rasulullah saw. beliau senantias bermusyawarah ketika mengambil sebuah keputusan, rencana, dan pendapatnya juga beliau musyawarahkan. maka dari itu kita umatnya sepantasnya memusyawarahkan tentang apa-apa yang menjadi hukum islam bukan berpendapat tanpa musyawarah karena yang akan mendominasi dalam pendapat kita adalah syaitan dan nafsu kita. Sehingga marilah bermusyawarah sebelum berpendapat agar nafsu tidak tercampur dalam pendapat kita. Nah kali ini kita akan share tentang kisah rasulullah saw, semoga dapat memberi manfaat untuk kita semua. amin
Pernah terjadi, Nabi s.a.w tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam. Beliau selalu mengubah posisi tidurnya, tetapi sedikit pun belum dapat memejamkan matanya. Sehingga salah seorang istri beliau bertanya, "Mengapa engkau tidak bisa tidur ya Rasulullah?" Beliau s.a.w menjawab, "Tadi ada sebiji kurma yang diletakan di suatu tempat. karena khawatir kurma itu terbuang begitu saja, maka aku telah memakannya. Sekarang aku merasa khawatir dan menyesal, karena mungkin, buah kurma itu dikirimkan ke sini untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin."
faidah:
kemungkinan besar buah kurma yang dimakan Rasulullah s.a.w itu memang kepunyaan beliau sendiri. Tetapi karena para dermawan biasanya mengantarkan sedekah mereka ke rumah Nabi s.a.w untuk dibagikan oleh beliau kepada yang berhak, maka perbuatan beliau memakan buah kurma tersebut telah menimbulkan keraguan di dalam hati beliau, Sehingga beliau tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur.
Demikian perbuatan seorang Rasulullah s.a.w. hanya karena masalah sepele saja membuat beliau tidak bisa tidur sepanjang malam.
Bagaimanakah dengan kita yang mengaku pengikutnya?
Lihatlah, di antara kita ada yang memakan uang suap, uang riba, hasil mencuri, merampok, dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak dibolehkan oleh agama tanpa perasaan takut dan khawatir. padahal kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad S.a.w. nauzubillahiminzaliq
copied from : kitab fadhilah amal oleh maulana muhammad zakariyya al-kandahlawi rah.a
Assalamualaikum wr. wb.
kita adalah umat rasulullah saw. beliau senantias bermusyawarah ketika mengambil sebuah keputusan, rencana, dan pendapatnya juga beliau musyawarahkan. maka dari itu kita umatnya sepantasnya memusyawarahkan tentang apa-apa yang menjadi hukum islam bukan berpendapat tanpa musyawarah karena yang akan mendominasi dalam pendapat kita adalah syaitan dan nafsu kita. Sehingga marilah bermusyawarah sebelum berpendapat agar nafsu tidak tercampur dalam pendapat kita. Nah kali ini kita akan share tentang kisah rasulullah saw, semoga dapat memberi manfaat untuk kita semua. amin
Pernah terjadi, Nabi s.a.w tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam. Beliau selalu mengubah posisi tidurnya, tetapi sedikit pun belum dapat memejamkan matanya. Sehingga salah seorang istri beliau bertanya, "Mengapa engkau tidak bisa tidur ya Rasulullah?" Beliau s.a.w menjawab, "Tadi ada sebiji kurma yang diletakan di suatu tempat. karena khawatir kurma itu terbuang begitu saja, maka aku telah memakannya. Sekarang aku merasa khawatir dan menyesal, karena mungkin, buah kurma itu dikirimkan ke sini untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin."
faidah:
kemungkinan besar buah kurma yang dimakan Rasulullah s.a.w itu memang kepunyaan beliau sendiri. Tetapi karena para dermawan biasanya mengantarkan sedekah mereka ke rumah Nabi s.a.w untuk dibagikan oleh beliau kepada yang berhak, maka perbuatan beliau memakan buah kurma tersebut telah menimbulkan keraguan di dalam hati beliau, Sehingga beliau tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur.
Demikian perbuatan seorang Rasulullah s.a.w. hanya karena masalah sepele saja membuat beliau tidak bisa tidur sepanjang malam.
Bagaimanakah dengan kita yang mengaku pengikutnya?
Lihatlah, di antara kita ada yang memakan uang suap, uang riba, hasil mencuri, merampok, dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak dibolehkan oleh agama tanpa perasaan takut dan khawatir. padahal kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad S.a.w. nauzubillahiminzaliq
copied from : kitab fadhilah amal oleh maulana muhammad zakariyya al-kandahlawi rah.a
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Jumat, 13 Januari 2012
Jumat, Januari 13, 2012
Tidak ada komentar:
Apakah benar Orang Fakir miskin Mendahului Orang Kaya Masuk Surga???
Imam Muslim dalam kitab shahinya meriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya pada Hari Kiamat, orang-orang fakir kaum muhajirin akan mendahului orang-orang kaya memasuki surga dengan 40 tahun lamanya" (HR.MUSLIM)
Imam tirmidzi meriwayatkan dari Abi Sa'ad dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,"Orang-orang fakir kaum muhajirin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu sebelum orang-orang kaya dari mereka." (HR.TIRMIDZI)
Sungguh di tempat lain Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa mereka terus berjuang dan tidak memiliki harta untuk dihisab.
Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya meriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Apakah kamu tahu rombongan pertama dari umatku yang akan memasuki surga?" Aku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ." kemudian beliau bersabda, "Yaitu orang-orang fakir dari kalangan muhajirin. Pada Hari kiamat mereka akan datang ke pintu surga, lalu minta pintu surga dibukakan. Maka, penjaga itu bertanya kepada mereka, "Apakah kamu telah dihisab?" Mereka berkata, "Apakah ada sesuatu yang perlu dihisab pada kami?" Mereka berkata, "Apakah ada sesuatu yang perlu dihisab pada kami? Sesungguhnya pedang kami senantiasa tergantung dipundak kami untuk di jalan Allah sampai kami mati, dalam keadaan demikian." beliau bersabda, "Kemudian pintu itu dibukakan untuk mereka. Maka mereka memasuki surga 40 tahun lebih dahulu sebelum orang-orang lain memasukinya." (HR. AL-HAKIM)
Dalam Shahih bukhari diriwayatkan dari usamah bin zaid bahwa Nabi saw, bersabda, "Aku berdiri di pintu surga. Maka kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan. hanya saja, para penghuni neraka telah diperintahkan masuk neraka" (HR.BUKHARI)
Adapun orang-orang kaya yang dimaksud adalah dari kalangan kaum muslimin. Dalam beberapa hadist terdahulu dijelaskan bahwa orang-orang fakir itu akan masuk surga lebih dahulu dari orang-orang kaya terpaut 40 tahun. Sedangkan dalam hadist lain 500 tahun. Adapun cara untuk menyatukan kedua hadist ini adalah bahwa keadaan orang-orang miskin berbeda-beda demikian dengan keadan orang kaya. imam qurthubi mengatakan bahwa orang-orang fakir itu memiliki tingkatan iman yang berbeda-beda, demikian pula orang kaya. Jika hisab itu dihitung mulai orang fakir pertama memasuki surga sampai dengan orang kaya terakhir masuk surga, maka terpautnya 500 tahun, jika dihitung dari orang miskin yang terakhir memasuki surga dengan orang kaya yang pertama memasuki surga maka jaraknya 40 tahun. wallahu alam
Faidah :
dari kajian diatas kita sebagai umat yang beriman sudah sepantasnya jangan menganggap rendah orang-orang miskin karena orang-orang miskin yang beriman dan bertaqwa lebih mulia derajatnya di akhirat dari pada orang yang paling kaya dan paling beriman sekalipun. dan mari kita bersama saling membantu sesama umat bersedekah kepada saudara kita yang membutuhkan karena harta yang kita miliki terdapat hak kaum fakir.
Imam tirmidzi meriwayatkan dari Abi Sa'ad dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,"Orang-orang fakir kaum muhajirin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu sebelum orang-orang kaya dari mereka." (HR.TIRMIDZI)
Sungguh di tempat lain Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa mereka terus berjuang dan tidak memiliki harta untuk dihisab.
Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya meriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Apakah kamu tahu rombongan pertama dari umatku yang akan memasuki surga?" Aku berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ." kemudian beliau bersabda, "Yaitu orang-orang fakir dari kalangan muhajirin. Pada Hari kiamat mereka akan datang ke pintu surga, lalu minta pintu surga dibukakan. Maka, penjaga itu bertanya kepada mereka, "Apakah kamu telah dihisab?" Mereka berkata, "Apakah ada sesuatu yang perlu dihisab pada kami?" Mereka berkata, "Apakah ada sesuatu yang perlu dihisab pada kami? Sesungguhnya pedang kami senantiasa tergantung dipundak kami untuk di jalan Allah sampai kami mati, dalam keadaan demikian." beliau bersabda, "Kemudian pintu itu dibukakan untuk mereka. Maka mereka memasuki surga 40 tahun lebih dahulu sebelum orang-orang lain memasukinya." (HR. AL-HAKIM)
Dalam Shahih bukhari diriwayatkan dari usamah bin zaid bahwa Nabi saw, bersabda, "Aku berdiri di pintu surga. Maka kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan. hanya saja, para penghuni neraka telah diperintahkan masuk neraka" (HR.BUKHARI)
Adapun orang-orang kaya yang dimaksud adalah dari kalangan kaum muslimin. Dalam beberapa hadist terdahulu dijelaskan bahwa orang-orang fakir itu akan masuk surga lebih dahulu dari orang-orang kaya terpaut 40 tahun. Sedangkan dalam hadist lain 500 tahun. Adapun cara untuk menyatukan kedua hadist ini adalah bahwa keadaan orang-orang miskin berbeda-beda demikian dengan keadan orang kaya. imam qurthubi mengatakan bahwa orang-orang fakir itu memiliki tingkatan iman yang berbeda-beda, demikian pula orang kaya. Jika hisab itu dihitung mulai orang fakir pertama memasuki surga sampai dengan orang kaya terakhir masuk surga, maka terpautnya 500 tahun, jika dihitung dari orang miskin yang terakhir memasuki surga dengan orang kaya yang pertama memasuki surga maka jaraknya 40 tahun. wallahu alam
Faidah :
dari kajian diatas kita sebagai umat yang beriman sudah sepantasnya jangan menganggap rendah orang-orang miskin karena orang-orang miskin yang beriman dan bertaqwa lebih mulia derajatnya di akhirat dari pada orang yang paling kaya dan paling beriman sekalipun. dan mari kita bersama saling membantu sesama umat bersedekah kepada saudara kita yang membutuhkan karena harta yang kita miliki terdapat hak kaum fakir.
Minggu, 01 Januari 2012
SIFAT-SIFAT YANG DIKEHENDAKI ALLAH SWT
Al Qur'an, yang merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia, merupakan perkataan Allah. Kita bisa mencapai sifat yang diridhai oleh Allah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hidup dengan itu. Ini sangat mudah. Namun, meskipun demikian, sebagian besar manusia melakukan kesalahan karena menjauhi sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Jika suatu hari, semua orang di sekitarmu patuh pada keinginan Allah dan mengamalkan sifat-sifat yang dituntut oleh Allah dari manusia, maka dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik.
Sekarang, mari kita lihat secara singkat tentang hal ini. Kita semua tahu bahwa Allah telah menciptakan manusia. Dengan begitu, Allah-lah Yang Maha Mengetahui akhlak terpuji dan tercela yang dimiliki manusia. Seseorang mungkin bisa menipu orang lain, tetapi dia tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Allah. Hal ini karena, tidak seperti kita, Allah mengetahui apa yang dipikirkan seseorang. Oleh sebab itu, seseorang harus selalu ikhlas dan jujur kepada Allah. Salah satu ayat menyebutkan: Katakanlah, ”Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kalian melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.” Allah mengetahui apa pun yang ada dilangit dan apa pun yang ada dibumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali-Imran: 29)
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kalian melahirkan yang ada didalam hatimu atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang di kehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah: 284)
Orang yang sadar bahwa Allah Maha Mendengar segala kata yang ia ucapkan, mengetahui segala tindakan yang dia perbuat dan setiap pikiran yang melintas dipikirannya, tidak akan pernah berani melakukan perbuatan jahat, meskipun tidak terlihat oleh orang lain. Artinya, agar menjadi orang terpuji, kita harus benar-benar beriman pada adanya Allah dan keesaan-Nya, mengetahui sifat-Nya yang Mahakuasa dan sadar bahwa Dia Maha Melihat dan Mendengar segala sesuatu. Ini adalah salah satu syarat untuk mencapai sifat yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya.
Sekarang, mari kita lihat secara singkat tentang hal ini. Kita semua tahu bahwa Allah telah menciptakan manusia. Dengan begitu, Allah-lah Yang Maha Mengetahui akhlak terpuji dan tercela yang dimiliki manusia. Seseorang mungkin bisa menipu orang lain, tetapi dia tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Allah. Hal ini karena, tidak seperti kita, Allah mengetahui apa yang dipikirkan seseorang. Oleh sebab itu, seseorang harus selalu ikhlas dan jujur kepada Allah. Salah satu ayat menyebutkan: Katakanlah, ”Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kalian melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.” Allah mengetahui apa pun yang ada dilangit dan apa pun yang ada dibumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali-Imran: 29)
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kalian melahirkan yang ada didalam hatimu atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang di kehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah: 284)
Orang yang sadar bahwa Allah Maha Mendengar segala kata yang ia ucapkan, mengetahui segala tindakan yang dia perbuat dan setiap pikiran yang melintas dipikirannya, tidak akan pernah berani melakukan perbuatan jahat, meskipun tidak terlihat oleh orang lain. Artinya, agar menjadi orang terpuji, kita harus benar-benar beriman pada adanya Allah dan keesaan-Nya, mengetahui sifat-Nya yang Mahakuasa dan sadar bahwa Dia Maha Melihat dan Mendengar segala sesuatu. Ini adalah salah satu syarat untuk mencapai sifat yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya.
Diposting oleh
Mahesa ibnu_romli
di
Minggu, 01 Januari 2012
Minggu, Januari 01, 2012
Tidak ada komentar:
Label:
artikel
Langganan:
Komentar (Atom)