Kamis, 30 Juni 2011

Puncak Iman

Kamu takkan pernah
sanggup mendaki
sampai ke puncak
gunung iman, kecuali
dengan satu kata:
cinta. Imanmu hanyalah
kumpulan keyakinan
semu dan beku, tanpa
nyawa tanpa gerak,
tanpa daya hidup
tanpa daya cipta.
Kecuali ketika ruh cinta
menyentuhnya.
Seketika ia hidup,
bergeliat, bergerak
tanpa henti, penuh
vitalitas, penuh daya
cipta, bertarung dan
mengalahkan diri
sendiri, angkara murka
atau syahwat.
Iman itu laut, cintalah
ombaknya.
Iman itu api, cintalah
panasnya.
Iman itu angin, cintalah
badainya.
Iman itu salju, cintalah
dinginnya.
Iman itu sungai,
cintalah arusnya.
Seperti itulah cinta
bekerja ketika kamu
harus memenangkan
Allah atas dirimu
sendiri, atau bekerja
dalam diri pemuda ahli
ibadah itu. Kejadiaanya
diriwayatkan Al
Mubarrid dari Abu
Kamil, dari Ishak bin
Ibrahim dari Raja' bin
Amr Al Nakha'i.
Seorang pemuda Kufa
yang terkenal ahli
ibadah suatu saat
jatuh cinta dan tergila-
gila pada seorang
gadis. Cintanya
berbalas. Gadis iru
sama gilanya. Bahkan
ketika lamaran sang
pemuda ditolak karena
sang gadis telah
dijodohkan dengan
saudara sepupunya,
mereka tetap nekat,
ternyata. Gadis itu
bahkan menggoda
kekasihnya, "Aku
datang padamu, atau
kuantar cara supaya
kamu bisa menyelinap
ke rumahku". Itu jelas
jalan sahwat.
"Tidak! Aku menolak
kedua pilihan itu. Aku
takut pada neraka
yang nyalanya tak
pernah padam!" Itu
jawaban sang pemuda
yang menghentak sang
gadis. Pemuda itu
memenangkan iman
atas syahwatnya
dengan kekuatan cinta.
"Jadi dia masih takut
pada Allah?" Gumam
sang gadis. Seketika ia
tersadar, dan dunia
tiba-tiba jadi kerdil di
matanya. Ia pun
bertaubat dan
kemudian mewakafkan
dirinya untuk ibadah.
Tapi cintanya pada
sang pemuda tidak
mati. Cintanya berubah
jadi rindu yang
menggelora dalam jiwa
dan doa-doanya.
Tubuhnya luluh lantak
didera rindu. Ia mati,
akhirnya.
Sang pemuda
terhenyak. Itu mimpi
buruk. Gadisnya telah
pergi membawa semua
cintanya. Maka
kuburan sang gadislah
tempat ia mencurahkan
rindu dan doa-doanya.
Sampai suatu saat ia
tertidur di atas
kuburan gadisnya.
Tiba-tiba sang gadis
hadir dalam tidurnya.
Cantik. Sangat cantik.
"Apa kabar?
Bagaimana keadaanmu
setelah kepergianku,"
tanya sang gadis.
"Baik-baik saja. Kamu
sendiri disana
bagaimana," jawabnya
sambil balik bertanya.
"Aku disini, dalam
surga abadi, dalam
nikmat dan hidup tanpa
akhir," jawab
gadisnya. "Doakan aku.
Jangan pernah lupa
padaku. Aku selalu
ingat padamu. Kapan
aku bisa bertemu
denganmu," tanya
sang pemuda lagi. "Aku
juga tidak pernah lupa
padamu. Aku selalu
berdoa kepada Allah
menyatukan kita di
surga. Teruslah
beribadah. Sebentar
lagi kamu akan
menyusulku," jawab
sang gadis. Hanya
tujuh malam setelah
mimpi itu, sang pemuda
pun menemui ajalnya.
Atas nama cinta ia
memenangkan Allah
atas dirinya sendiri,
memenangkan iman
atas syahwatnya
sendiri. Atas nama
cinta pula Allah
mempertemukan
mereka. Cinta selalu
bekerja dengan cara
itu.

Ibadah Paling Mudah

Kita pasti tahu, bahwa
tujuan asal penciptaan
kita adalah tiada lain
kecuali untuk
beribadah
(Q.S.addzariyaat 56).
Sudah seyogyanya
apabila semua langkah
kita, gerak tubuh kita,
kedipan mata kita,
pertarikan nafas kita,
sampai perdetak
jantung kita harus
bernilai ibadah.
Seharusnya juga tidak
satu detikpun diri kita
luput dari prosesi
pelaksanaan ibadah
itu.
Itu seharusnya, tapi
pada kenyataannya?
Berapakah waktu yang
di sana mencakup
semua gerak-gerik
kita, tindak tanduk kita
yang terbuang?
Tercampakkan sia-sia
tidak bermakna
ibadah? Lalu, mengapa
hal ini terjadi?
Bukankah itu sudah
keluar dari jalur
penghambaan? Tidak
tepat sasaran dengan
(liya'buduuni)?
Kenaifan kita akan hal
ini adalah (salah
satunya) karena
kesalahfahaman kita
dalam memaknai arti
ibadah.
Bagi kita, bila
disebutkan kata
ibadah, maka yang
terilustrasikan dibenak
kita seketika itu juga
adalah hanya sholat di
mesjid, puasa
romadhon, zakat
(fitrah lagi), dan haji,
itu saja.
Sehingga tanpa sadar
kita mempersempit arti
ibadah yang
seharusnya luas
mencakup semua gerak
kita, permilimeter.
Padahal sholat 5 waktu
dan sejenisnya yang
tergambar dibenak kita
tadi adalah baru
"ibadah protokoler"
yang memang wajib
kita lakukan.
Nah, di sana masih ada
"ibadah extra" yang
mungkin jarang kita
lakukan, semacan
dhuha, tahajjud,
shodaqoh, puasa
sunnah, umroh, dan
lain-lain.
Bahkan masih ada
"ibadah non formal"
semacam dzikir sirri,
sholawat, menata hati
dan niat (masuk dalam
hal ini,kerja,jika diniati
untuk ibadah,maka jadi
ibadah),dan
seterusnya.
Nah, salah satu ibadah
non formal yang
sangat jarang kita
lakukan, padahal
ibadah yang ini paling
santai dan ringan,
adalah MERENUNG,
atau kontemplasi atau
tafakkur.
Sekarang, seringkah
kita merenung akan
birunya langit?
Hijaunya daun?
Semilirnya angin?
Segarnya air? Asinnya
garam? Manisnya gula?
Bahkan gurihnya
buntut ikan mujair
goreng? Atau kenapa
lombok berwarna
merah, tidak biru muda
saja?
Pernahkah hati kita
tergetar setelah
melihat barisan pohon
yang berjejer di tepi
jalan? Indahnya
temaram bulan
purnama? Dinginnya
malam? Atau ketika
naik perahu, kok
nggak tenggelam?
Pernahkah bibir kita
terucap kata
(Subhanallah) setelah
melihat lantas
memikirkan keajaiban-
keajaiban itu?
Merasakan sebuah
ketenangan yang luar
biasa, berdesir di
sanubari kita setelah
meresapi semua itu?
Merasakan kedamaian
yang tiada banding?
Takjub atas semua itu
dengan sebuah
finishing touch bahwa
semua ini Ada Yang
Menciptakan?
Seandainya sekali saja
hal itu terlintas di
benak kita, niscaya
kedamaian akan
memeluk kita. Apalagi
jika kita
membiasakannya.
Merenung, itulah salah
satu ibadah besar
yang kerap kita
lupakan. Berapa ayat
dalam al-quran yang
menganjurkan kita
untuk bertafakkur,
tetapi kita hanya
melewatinya saja tanpa
melaksanakannya.
Sudah saatnya bagi
kita menuju proses
wushul ilallah melalui
jalan ini. Karena
sebenarnya, tafakkur
inilah ibadah non
formal terbesar, inilah
multimedia dzikir sirri,
mengingatNya melalui
ciptaanNya.
Bahkan diceritakan,
ada seorang sahabat
yang mendapat jaminan
surga, karena selalu
merenung setiap
menjelang tidur.
Nah, sekarang,
bagaimana dengan
kita? Jalan terbuka
lebar bagi kita,
siapapun kita,
semenumpuk apapun
dosa kita. Tinggal kita,
mau apa tidak
menempuhnya. Wallahu
a'lam ( *)
Catatan akhir :
bukankah segala
kemajuan teknologi
yang ada sekarang ini
adalah berawal dari
renungan? Kenapa
ibadah ini dengan
begitu baik
dimanfaatkan non
muslim. Sementara kita
yang sejak awal
disediakan media ini
tak mampu
memanfaatkannya?
Layak kita renungkan
lagi :-)

Rabu, 29 Juni 2011

Tanda-Tanda berilmu yang Bermanfaat

Dalam kitab "Bidayatus
Salikin", al-Imam Abdus
Shomad al-Balibbani
menerangkan:
7 ciri-ciri ilmu yang
bermanfaat (ilmu
apapun itu)
adalah,apabila ilmu itu
dipelajari maka..:
1) semakin membuat
kita takut kepada
ALLAH
2) membuat kita
semakin mampu melihat
kesalahan dalam diri
sendiri.
3) menyebabkan kita
lebih gemar dan
bersemangat dalam
beribadah kepada
ALLAH.
4) membuat kegemaran
kita kepada dunia
semakin berkurang
5) membuat kita lebih
gemar dan terobsesi
kepada kehidupan
akhirat.
6) ilmu tersebut
membuka mata hati
kita.
7) mengantar dan
membuat kita dapat
memahami berbagai
macam tipu daya setan.

pesan rasul kepada ibnu umar

Rasulullah Sallallahu
Alayhi Wasallam
Pernah Berpesan Ke
Abdullah Bin Umar
Radiyallahu Anhuma
Sambil Memangang
Pundak Iparnya Ini :
" Jadilah engkau
didunia ini seperti
orang asing atau
bahkan seperti orang
yang sekedar lewat
( musafir ) ". ( HR . Al-
Bukhari )
Ibnu Baththal
Rahimahullah
Menjelaskan
berkenaan dengan
hadist Ibnu Umar diatas
" dalam hadist ini
terdapat isyarat untuk
mengutamakan sifat
zuhud dalam kehidupan
dunia dan mengambil
perbekalan
secukupnya
sebagaimana musafir
tidak membutuhkan
bekal lebih daripada
apa yang dapat
mengantarkannya
sampai ke tujuan,
demikian pula seorang
mu,min di dunia ini ia
tidak butuh lebih dari
pada apa yang dapat
menyampaikannya ke
tempat akhirat .
Al - Imam An - Nawawi
Rahimahullah Berkata
memberikan penjelasan
terhadap hadist ini "
Janganlah engkau
condong kepada dunia,
jangan engakau
jadikan dunia sebagai
tanah air ( tempat
menetap , dan jangan
pula pernah terbetik di
jiwamu untuk hidup
kekal di dalamnya,
jangan engkau terpaut
kepada dunia kecuali
sekedar terkaitnya
seorang asing pada
selain tanah airnya,
dimana dia ingin
segera tinggalkan
negeri asing tersebut
guna kembali kepada
keluarganya .
Duhai Saudaraku
marilah kita renungkan
nasehat yang
berharga ini , nasehat
dari utusan Allah Yaitu
Rasulullah Sallallahu
Alayhi Wasallam .

Tidurlah Dalam Dekapan Cinta

Malam yang kian larut..
Tak mampu
menghentikan langkah
cintaku..
Sekalipun terpejam
mata ini dalam lelah..
Dalam mimpipun
namamu slalu
menggema…
Sayangku..
Sadarlah bahwa ku
sungguh mencintaimu…
Kumengerti akan
situasi yang tak
mendukung..
Tapi beban yang
kuemban ini akan tetap
ringan..
Selama cinta ini
menjaga dan terus
berada..
Naungan kelelahan itu
kan tetap merasuk..
Jadilah sinar dalam
palungan mimpi..
Dan temuilah aku sang
bidadari..
Agar lika-liku dunia
alam tidur..
Tak menjebak kita
dalam kepalsuan..
Segeralah tidur
sayangku…
Dan nantikanlah nafas
segar esok pagi..
Kan menunggumu
hingga malam lanjut
menjemputmu…
Dalam doa, aku
berbisik akan cinta…
Serta merta ketulusan
yang membahana..
Mampu membawamu
terlelap dalam
indahnya mimpi..

Sebuah Cara untuk Menenangkan Hati

Secara etimologi zikir
berasal dari bahasa
Arab yang berarti
‘menyebut’ atau
‘mengingat’. Dalam
bahasa agama (Islam)
zikir acap kali
didefinisikan dengan
menyebut atau
mengingat Allah dengan
lisan melalui kalimat-
kalimat thayyibah.
Kendatipun zikir sering
disebut-sebut sebagai
upaya mengingat Allah
melalui lisan, namun
sesungguhnya esensi
zikir ada pada
kesadaran penuh akan
pengawasan Allah
dalam segala aspek
kehidupan manusia.
Kesadaran akan
kehadiran dan
pengawasan Allah
inilah yang akan
membuat hidup menjadi
tenang dan tenteram.
Sebab, hidup dalam
pengawasan Allah pasti
mengarahkan
seseorang untuk tampil
humanis, amanah,
disiplin, dan taat
hukum.
Allah berfirman:
“(yaitu) orang-orang
yang beriman lagi hati
mereka menjadi
tenteram dengan
mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati
akan menjadi
tenteram.” (QS Ar-
Ra’du : 28). Maka, zikir
seharusnya tidak
hanya di forum-forum
tertentu, seperti
masjid atau mushala,
tetapi juga harus
melekat saat berbisnis,
bekerja, mengajar,
rapat tertutup maupun
terbuka, dan dalam
semua kesempatan.
Seringkali kita
menemukan dan
bahkan dirasakan
sebagian orang, masih
ada orang yang
gelisah dan gamang
dalam hidupnya,
kendati sudah berzikir.
Imam al-Ghjazali dalam
kitabnya Ihya
‘Ulumuddin
menjelaskan tentang
keajaiban hati (aja’ib
al-qalb).
Ia mengilustrasikan,
jika seseorang sedang
berjalan, lalu ada
anjing yang hendak
mengganggu dan ia
menghardiknya, maka
anjing itu akan segera
pergi. Namun, bila di
sekitarnya banyak
tulang dan daging yang
menjadi makanannya,
maka anjing tersebut
tidak akan pergi
meskipun dihardik
dengan keras.
Kalaupun dia pergi,
paling hanya sebentar
untuk kemudian
mengintai lagi,
menunggu kita lengah
lalu segera kembali.
Melalui ilustrasi
tersebut, al-Ghazali
ingin menjelaskan
bahwa zikir itu ibarat
sebuah hardikan
terhadap setan. Zikir
baru akan efektif,
kalau hati kita bersih
dari makanan setan.
Kalau hati sudah
bersih, maka zikir
akan mampu
menghardik setan.
Sebaliknya, bila hati
dipenuhi dengan
makanan setan, maka
zikir sebanyak apa
pun tidak akan
sanggup mengusir
setan. Bahkan, setan
akan ikut berzikir pula
dalam hati kita. Oleh
sebab itu, tidak ada
pilihan lain, bila ingin
zikir efektif dan
mempunyai kekuatan,
maka kita harus
membersihkan hati dari
segala macam makanan
setan.
Al-Ghazali
menambahkan,
makanan setan menjadi
peluang dan pintu
masuk (madkhal) setan.
Pintu masuknya adalah
segala bentuk penyakit
hati. Dan di antara
akses masuknya setan
yang merupakan
penyakit hati yang
kerap menyerang
manusia adalah al-
hirts. Al-hirts adalah
ambisi atau keinginan
yang sangat rakus,
dan selalu ingin lebih.
Akibatnya, ia menjadi
tuli dan buta mata
hatinya. Dan ia pun
rela melakukan apa
saja.
Oleh: Ahmad Yani
[republika]

Jauhilah Sifat Hasud

Sabda Nabi SAW : Hati-
hati kalian dari sifat
hasud, sungguh hasud
itu dapat `memakan`
(pahala) kebaikan
seperti api yang
melahap kayu bakar.
Sifat hasud adalah
keinginan buruk
terhadap orang lain
yang sedang mendapat
kenikmatan, agar
kenikmatan orang lain
itu menjadi luntur,
hancur atau hilang,
dan dapat beralih
kepada dirinya.
Sifat hasud sering kali
mendorong pemiliknya
untuk berbuat apa
saja, bahkan
menghalalkan segala
cara, demi kehancuran
orang yang dihasudi.
Sering terdengar ada
seorang yang hasud
kepada tetangganya,
entah itu di
perkampungan,
pertokohan,
perkantoran maupun di
pasar dan sebagainya,
yang mana si hasud ini
dalam melancarkan
aksinya sampai
menggunakan bantuan
dukun atau ilmu sihir.
Hal itu dilakukan demi
terpenuhi ambisinya
dalam menjatuhkan
`lawan` yang dihasudi.
Biasanya, cara yang
sering digunakan
dalam memulai aksinya,
adalah menjadikan
sang `lawan` sebagai
bahan pergunjingan,
misalnya dengan cara
mencari-cari
kesalahannya, bahkan
terkadang mengada-
ada serta memberi
bumbu penyedap
omongan.
Jika cara itu dirasa
belum cukup, maka
mulailah melancarkan
serangan fisik sedikit
demi sedikit, hingga
melakukan hal-hal
yang dapat
membahayakan
keselamatan jiwa
`lawannya`, namun
umumnya, dilakukan
secara sembunyi-
sembunyg hingga
susah dilacak
sumbernya.
Jika cara licik ini masih
dianggap kurang
memadai, maka si
hasud tidak segan-
segan menggunakan
ilmu sihir atau meminta
bantuan dukun.
Biasanya, si pelaku
berusaha
menampakkan
kebaikan kepada
orang lain termasuk
kepada `lawannya`,
dengan tujuan agar
kelakuannya tidak
terdeteksi.
Sifat hasud seringkali
bergandengan dengan
sifat dengki.
Sedangkan dengki
adalah perilaku
permusuhan terhadap
orang lain, baik yang
dilakukan secara
sembunyi-sembunyi
maupun terang-
terangan, dengan
tanpa alasan yang
dibenarkan oleh
syariat.
Jadi orang yang
memiliki sifat dengki
dan hasud ini,
termasuk orang yang
berakhlaq buruk.
Menurut Nabi SAW
keburukan sifat dengki
dan hasud, dapat
mengurangi perolehan
pahala dari kebaikan
yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Dalam kata mutiara
juga diungkapkan
Alhasuud la yasuud,
orang yang bersifat
hasud itu tidak layak
memimpin. Karena sifat
buruk hasud tersebut
akan menjadi
penyebab perpecahan
dan kehancuran dalam
tubuh anggotanya.
Betapa nistanya sifat
hasud ini. Karena itu
alangkah keliru jika
ada seorang muslim
yang sengaja
`memelihara` dan
`melestarikan` sifat
hasud pada dirinya.
Ada cara bagi seorang
muslim yang ingin
belajar mengendalikan
diri tatkala dirinya
akan diterpa penyakit
hasud. Yaitu
mengamalkan ajaran
Nabi SAW yang
bernama Ghibthah.
Sedangkan maksud
ghibthah adalah
seperti berikut :
Seseorang yang
melihat pihak lain
mendapat kenikmatan,
misalnya mendapat
pekerjaan yang
mapan, lantas orang
tersebut mengatakan
dalam dirinya : Saya
ingin seperti dia, bisa
sukses dalam
pekerjaannya, dan
semoga dia tetap
berjaya bahkan
mendapatkan tambahan
rejeki lebih, dan
mudah-mudahan saya
bisa mendapatkan pula
rejeki seperti yang dia
dapatkan.
Pemilik sifat ghibthah
tidak menginginkan
orang lain yang
dighibthahi menjadi
hancur, bahkan
sebaliknya bisa saja
menjadika mitra kerja
dalam menggapai
kesuksesan bersama,
terlebih jika dinilai
dapat saling mengisi
dan melengkapi serta
menguntungkan.
Source : http://
www.pejuangislam.com/
main.php?
prm=karya&var=detail&id=231

Sufi dan Tasawwuf yang sebenarnya

Dalam sedikit
petualanganku di dunia
maya,ada satu
fenomena yang cukup
menarik perhatianku.
Yaitu,sedikit kesalah
fahaman,atau salah
informasi tentang apa
itu sufi dan tasawwuf
yang dialami sebagian
sahabat.
Dan aku
yakin,fenomena
ini,seperti gunung
es,yang tampak di
permukaan hanya
sedikit,tapi yang tak
nampak,begitu besar.
Banyak yang
bertanya,apa sih
tasawwuf itu? Apa sih
sufi itu? Kamu sufi ya?
Aku dengar,katanya
sufi adalah
sesat,aliran yang
membahayakan aqidah.
Katanya sufi itu
asalnya dari india,dan
lain sebagainya dari
hal tentang tasawwuf
dan sufi yang secara
menyedihkan
mengalami pencoreng
morengan makna dan
arti yang sebenarnya.
Ada oknum yang
dengan kebobrokan
hatinya sengaja
berbuat ini untuk
mengkaburkan apa itu
sufi dan tasawwuf di
kalangan masyarakat
umum.
Lalu,apakah sufi dan
tasawwuf sebenarnya?
Tasawwuf pada
dasarnya
adalah,sebuah ilmu dan
tata cara proses
pembenahan dan
pembersihan hati, ilmu
dan tata cara
bagaimana
mendekatkan diri pada
Allah Ta'ala. Juga
tasawwuf adalah,tata
cara bertata krama
dengan akhlak yang
mulia,serta
meninggalkan akhlak
yang tercela.
Ini lah arti dan makna
tasawwuf yang
sebenarnya.
Kalau sufi? Sufi adalah
nama orang yang
melakukan tasawwuf
itu.
Aku dengar,katanya
tasawwuf itu sudah
tidak lagi wajib
melaksanakan syariat.
Ya hoooo?! Tasawwuf/
Hakikat dan Fikih/
Syariat,adalah dua sisi
mata uang yang tak
terpisah. Keduanya
selalu saling terkait.
Memisah salah
satunya,berarti
bencana dalam
kehidupan pelakunya.
Orang bertasawwuf
tapi tak berfiqih,maka
bisa-bisa jadi zindiq
tanpa sadar,karena
tak melakukan syariat
(kayak ada orang yang
dianggap keramat,tapi
ga jumatan,saat
ditanya,kok dia ga
jumatan? Jawab orang
yang tertipu olehnya,
oh,kyai sedang sholat
jumat di
Mekkah,makanya ga
jumatan dengan kalian.
Begonya, Makkah jam
segitu masih jam 8 !!).
Atau Orang berfiqih
saja tanpa
tasawwuf,maka bisa-
bisa jadi fasiq,sebab
tidak ada ketakutan di
hatinya pada Allah,saat
dengan berani-
beraninya dia
memainkan hukum
untuk kepentingan
pribadinya.
Nah,adapun orang
yang menjalankan
syariat sekaligus
bertasawwuf,maka
orang ini akan
mencapai makrifat.
Tahu siapa dan
mengenal
Allah,Tuhannya.
Jadi,orang yang
memvonis bahwa
semua tasawwuf
sesat,maka dia 100%
tidak tahu apa itu
tasawwuf sebenarnya.
Terus terang,nama
tasawwuf rusak
memang salah satunya
juga oleh oknum-
oknum pelaku
tasawwuf sendiri yang
tak memahami syariat
dengan baik, dengan
beranggapan,jika
seseorang telah
mencapai hakikat,maka
bebas dari syariat
(tentu ini adalah tipuan
terbesar dari iblis
yang seketika itu
juga,menendangnya
keluar jauh,dari
syariat,sekaligus
tasawwuf itu sendiri).
Nabi saja sholat
sampai kakinya
bengkak,iya kan?
Jadi,Tasawwuf dan
Fiqih,Hakikat dan
Syariat,adalah dua hal
yang tak pernah
terpisah. Tasawwuf
sendiri,adalah aplikasi
daripada Ihsan. Ini
yang harus difaham.
Abu Yazid al-Busthomi
berkata : jika kamu
melihat seseorang
yang tingkat
keluarbiasaannya
begitu hebat,sampai
dia bisa berjalan di
atas air. Maka jangan
terpukau dulu
olehnya,lihat
bagaimana syariat dia.
Kalau beres,maka ikuti
dia.
Al-Imam Junaid al-
Baghdadi berstatemen :
seseorang yang
mengaku
bertasawwuf,mencapai
tingkat hakikat,tetapi
dia tak hafal al-
Qur'an,tak pernah
belajar hadits,maka
tak bisa dijadikan
panutan dalam hal
tasawwuf ini. Sebab
tasawwuf terikat erat
dengan al-Quran dan
Hadits dan terbangun
dari keduanya.
Maka jika ada orang
mengaku telah
mencapai hakikat,tapi
dia meninggalkan
syariat,maka itu sama
sekali bukan tasawwuf.
Sebab hakikat
sendiri,adalah buah
daripada syariat.
So sebaliknya,jika ada
orang berpegang
teguh pada syariat,tapi
dia tak mencapai
hakikat,maka orang
tersebut masih perlu
mengkoreksi lagi
dirinya,terutama
hatinya.
Semoga catatan
sederhana
ini,memberikan sedikit
gambaran pada
kita,apa itu tasawwuf
yang sebenarnya.
Jangan langsung
mengklaim bahwa
semua yang
bertasawwuf adalah
sesat,kesalahan
sangat besar ini,sebab
tasawwuf lahir sejak
islam ada. Hanya
istilahnya saja yang
muncul belakangan.
Perlu memahami segala
sesuatu dengan
baik,sebelum
memberikan penilaian
akhir. Wallahu a'lam :)

Ingin menjadi kyai

Pada suatu hari terjadi percakapan antara timbul seorang penarik becak dengan seorang kyai.

"Yai.. enak ya kalau
jadi Kyai itu.." kata
Timbul membuka
percakapan kepada
penumpang langganan
becaknya, yang
kebetulan seorang
Kyai yang akan
mengajar disebuah
tempat.
Kyai : " masa sih kang
Timbul ? dari sudut
mana kang Timbul
memandangnya ? "
Timbul : " Lah.. iya Yai..
saya melihatnya dari
sisi IBADAH."
" Seorang Kyai itu
selalu syiar kepada
umat, mengajak umat
mengenal Allah dan
mengajak umat agar
selalu taat sama Allah"
"Khan sama saja Kyai
itu kerjanya melulu
IBADAH.. ya nggak
Yai ?"
Kyai : " Begini kang
Timbul.."
" Allah itu menciptakan
manusia , masing2
sudah ada tugasnya.."
" Tugas Kyai itu
seperti yang kang
Timbul sebutkan tadi..
Ya wajar lah kalau
Kyai itu begitu.."
" Tapi perlu kang
Timbul ketahui.. bahwa
Makna IBADAH itu
sangat luas, tidak
terbatas batas sosok
Kyai , Ulama, Ustad
saja.."
Kang Timbul sambil
mengontel becaknya
menyela " Saya
kepengen banget loh
menjadi seperti Kyai..
supaya Allah itu Ridho
sama saya.."
Kyai : " Sebentar kang
Timbul.. kita menepi
dulu ya.. tuh dibawah
pohon rindang itu.."
Kang Timbul menepikan
becaknya, lalu sang
Kyai mengajak Timbul
untuk duduk di
tanggulan sungai yang
ada pohon ridang
tersebut.
Digandengnya tangan
kang Timbul, dan
diajaknya duduk
disampingnya.
Kang Timbul
merasakan aura
kelembutan yang
memancar dari diri
sang Kyai. Dia
merasakan kedamaian
berada disisi sang Kyai
tersebut.
" Begini loh kang
Timbul.." sambung Kyai
tersebut menyambung
pembicaraan diatas
becak itu..
" Sesuatu itu disebut
IBADAH kepada Allah
harus memenuhi
beberapa kriteria,
bukan dari wujud
jabatan yang
disandang oleh
seseorang"
"PERTAMA, seseorang
itu harus menerima
dahulu TAKDIR ALLAH
atas dirinya yang
sedang
disandangnya.... apa itu
Kyai, TUkang becak,
buruh bangunan,
manajer, direktur
bahkan maling
sekalipun.."
Kang Timbul kaget atas
kata2 terakhir Kyai
tersebut yaitu maling.
"Loh jadi maling kok
harus menerima sih
Yai.."
"Sebentar kang
Timbul.." sahut Kyai
tersebut dengan
kalem..
"saya teruskan dahulu
ya.."
"KEDUA, apabila dia
ingin meningkatkan
taraf hidupnya.. maka
seseorang tersebut
HARUS berusaha masuk
dalam KORIDOR
SYARIAT, tidak
melanggar hukum2
yang Allah yg sudah
tetapkan..
"Misalnya si maling itu..
ya dia harus tobat
untuk kembali ke jalan
yang benar.. Kenapa si
maling harus menerima
TAKDIR-NYA yang
kemaren dia masih jadi
maling ? "
" Karena itu sudah
terjadi... dan nggak
mungkin waktu itu
diputar kembali.. Yang
sudah2 ya sudah,
jangan terpaku kepada
dosa2nya yang
kemaren. Karena kalau
dia kelamaan terpaku
menyesali dosa2nya yg
kemaren, maka dia
tidak akan memulai
perjalanan hidup yang
benar. Sedang hidup
itu kedepan.."
" di Depannya rahmat
dan ampunan Allah
sudah menunggu.. dan
Allah begitu
gembiranya melebihi
gembiranya seseorang
yg kehilangan bekal
dan kudanya ditengah
gurun padang pasir,
lalu tiba2 kuda dan
perbekalan tiba2 ada
kembali dihadapannya..
sampai2 saking
gembiranya orang itu
salah berucap .. Ya
Allah aku itu tuhanmu
dan engkau hambaku.."
" Nah untuk sampeyan,
kang Timbul bisa
sambil jualan air
mineral dan makanan
kecil untuk ditawarkan
kepada penumpang
becaknya kang
Timbul.."
" Ya ya saya mengerti
Yai.. tolong lanjutkan
mengenai Ibadah itu
Yai .."
"KETIGA, sebelum,
sesudah dan antara
keduanya.. sesorang
melakukan ikhtiar dan
usaha maka seseorang
itu HARUS lah
menumbuhkan
KESADARAN dalam JIWA
nya , bahwa ikhtiar
dan usaha itu SEMATA
atas pertolongan dan
anugerah dari NYA..
Laa haula walaa
quwata ila billah.."
" dan yang dimaksud
dng ikhtiar dan usaha
tersebut termasuk
didalamnya
menjalankan kewajiban
Syariat seperti sholat,
puasa, zakat, doa dll "
" Nah apabila ketiga
unsur diatas selalu
dijalaninya dalam
mengarungi takdir
hidupnya.. nggak peduli
dia itu tukang becak
sekalipun maka dimata
Allah dia itu sama saja
dengan seorang Kyai
sekalipun.."
" Bahkan dia bisa lebih
mulia dimata ALLAH
dibandingkan ulama,
ustad, Kyai yang
dakwahnya tapi
terselip keinginan2
untuk SELAIN ALLAH.."
Mata kang Timbul
berbinar-binar
mendengar keterangan
sang Kyai tersebut..
diciumnya tangan Sang
Kyai sambil matanya
begayut linangan
airmata keharuan dan
kerinduan kepada
TUHANnya YANG
BEGITU MAHA
BIJAKSANA..

TEORI BIG BANG DALAM AL QUR'AN

Teori Big Bang
Tercantum Dalam Al-
QuranAllah berfirman :
ﺃَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺮَ
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ
ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ
ﺭَﺗْﻘًﺎ
ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ
ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻛُﻞَّ
ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﻲٍّ ﺃَﻓَﻠَﺎ
ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
Artinya : "Dan apakah
orang-orang yang
kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara
keduanya. Dan dari air
Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup.
Maka mengapakah
mereka tiada juga
beriman?" (QS Al-
Anbiya' : 30)
Kata "ratq" yang di sini
diterjemahkan sebagai
"suatu yang padu"
digunakan untuk
merujuk pada dua zat
berbeda yang
membentuk suatu
kesatuan. Ungkapan
"Kami pisahkan antara
keduanya" adalah
terjemahan kata Arab
"fataqa", dan
bermakna bahwa
sesuatu muncul
menjadi ada melalui
peristiwa pemisahan
atau pemecahan
struktur dari "ratq".
Perkecambahan biji
dan munculnya tunas
dari dalam tanah
adalah salah satu
peristiwa yang
diungkapkan dengan
menggunakan kata ini.
Teori Big Bang
Tercantum Dalam Al-
QuranMarilah kita kaji
ayat ini kembali
berdasarkan
pengetahuan ini. Dalam
ayat tersebut, langit
dan bumi adalah
subyek dari kata sifat
"fatq". Keduanya lalu
terpisah ("fataqa")
satu sama lain.
Menariknya, ketika
mengingat kembali
tahap-tahap awal
peristiwa Big Bang, kita
pahami bahwa satu titik
tunggal berisi seluruh
materi di alam semesta.
Dengan kata lain,
segala sesuatu,
termasuk "langit dan
bumi" yang saat itu
belumlah diciptakan,
juga terkandung dalam
titik tunggal yang
masih berada pada
keadaan "ratq" ini.
Titik tunggal ini
meledak sangat
dahsyat, sehingga
menyebabkan materi-
materi yang
dikandungnya untuk
"fataqa" (terpisah),
dan dalam rangkaian
peristiwa tersebut,
bangunan dan tatanan
keseluruhan alam
semesta terbentuk.
Ketika kita bandingkan
penjelasan ayat
tersebut dengan
berbagai penemuan
ilmiah, akan kita
pahami bahwa
keduanya benar-benar
bersesuaian satu sama
lain. Yang sungguh
menarik lagi,
penemuan-penemuan
ini belumlah terjadi
sebelum abad ke-20.

Didiklah Anak Kalian Untuk Mencintai Agama (oleh habib umar bin Hafidz )

Ini adalah urusan
agama yang
mempengaruhi akhirat
kita. Perhatikanlah
dengan sungguh-
sungguh. Terutama
pendidikan anak-anak,
perhatikanlah ajaran
mana yang mereka
ikuti, mereka sukai dan
mereka teladani.
Masing-masing dari
kalian adalah pemimpin
dan tiap-tiap pemimpin
akan
mempertanggung-
jawabkan apa yang
dipimpinnya.
Didiklah anak-anak
kalian untuk mencintai
agama, mencintai
Rasulullah SAW, dan
kaum sholihin. Didiklah
mereka agar
memperhatikan
perkara Allah SWT,
Rasul-Nya dan hari
kiamat. Serta
bersungguh-sungguh
dalam menyebut Allah
SWT dan menjalankan
ibadah sholat.
Perintahkanlah anak-
anak kalian untuk
sholat ketika
menginjak usia 7
tahun. Ketika usia 10
tahun pukullah mereka
jika meninggalkan
sholat. Dan
bangunkanlah mereka
untuk sholat jika tidur.
Ikutilah agama dan
sunnah Rasulullah
SAW. Berapa banyak
TV yang berada di
rumah-rumah yang
telah merusak dan
menghilangkan iman
kita. Hal itu menjadi
salah satu sebab
seseorang meninggal
dalam keadaan su’ul
khotimah.Seperti
dikisahkan seseorang
yang meninggal ketika
melihat gambar-gambar
yang penuh maksiat di
televisi dalam keadaan
hatinya mati. Dan ia
menjalani sakaratul
maut dengan susah
payah.
Sebaliknya, hati-hati
yang sholih akan
meninggal dalam
keadaan mengingat
para Nabi, Sayyidah
Fatimah, dan Sayyidah
Khadijah, sahabat,
kaum Muhajirin dan
Anshor. Dan kelak
akan dibangkitkan
bersama mereka.
Beberapa orang ketika
sakaratul maut tak
bisa berkata
LailahaillAllah,bahkan
setelah di talqin tiga
kali. Namun mereka
dapat mengucap kata
selain LailahaillAllah
SWT. Ketika
ditanyakan kepada
salah satu mayat di
dalam mimpi, Kenapa
engkau tak bisa
berkata Lailahaillah? Ia
pun menjawab, Yang
mencegah saya
berkata LailahaillAllah
SWT adalah
pandangan-pandangan
haram ketika saya di
dunia. Itulah hal yang
mencegah antara kita
dan Allah SWT
(Lailahaillah).
“Katakanlah kepada
orang laki-laki yang
beriman hendaklah
mereka menahan
pandangannya dan
memelihara
kemaluannya. Yang
demikian itu adalah
lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah
SWT Maha Mengetahui
apa yang mereka
perbuat. (An-Nur : 30)
Dahulu orang-orang
kafir di Indonesia
menutup aurat mereka
karena malu dengan
wanita-wanita muslimat
dan karena haibah
(keagungan) agama.
Sekarang justru
wanita-wanita muslimat
yang ber tabarruj
(memamerkan
kecantikan).
Wahai Allah SWT yang
Maha Penolong,
tolonglah kami! Wahai
Allah SWT yang Maha
Perubah Keadaan,
rubahlah keadaan kami
menjadi lebih baik!
Ajaklah anak-anak
kalian, laki-laki dan
perempuan, kepada
kebaikan dan menuntut
ilmu yang bermanfaat.
Kalian akan menghadap
Allah SWT dengan
wajah seperti apa jika
mendukung anak kalian
pergi ke Amerika! Apa
yang akan mereka
pelajari di Amerika?!
Seberapa besar nilai
yang mereka dapatkan
sepulang dari Amerika
dan cahaya apa yang
mereka bawa? Bahkan
kadang-kadang
mereka pergi tanpa
muhrim!
Wahai yang tak
beradab! Di padang
mahsyar kalian akan
diliputi kegelapan dan
menyesali perbuatan
(mendukung kepergian
itu) sedangkan orang-
orang lain berada
dibawah lindungan
junjungan-junjungan
kita.
Oleh karena itu
kirimlah anak-anak
kalian ke tempat-
tempat belajar agama.
Sehingga iman mereka
menguat dan yakin.
Kirimlah anak-anak
perempuan kalian
bersama muhrim.
Seperti ke Hadramaut.
Bertakwalah kepada
Allah SWT…berapa
lamakah umurmu di
dunia?! Siapakah yang
berada di hati kalian?!
Kalian telah
mengagungi perbuatan,
perkataan, dan ilmu-
ilmu orang kafir!
Sesungguhnya ilmu
Rasulullah SAW (Al-
Mukhtar) lebih agung!
Hidupkanlah pada diri
kami Ilmu Nabi kita
Rasulullah SAW yang
memberi petunjuk dan
jalan kepada Allah
SWT.
Semoga Allah SWT
merubah keadaan
menjadi lebih baik. Dan
masing-masing dari
kalian menjadi qurrot
‘ain (penyejuk
pandangan) Sayyidah
Fatimah az-Zahra dan
dibangkitkan bersama
beliau.
====================================
sumber : http://
ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/
mutiara/habib-umar-
bin-hafidz/didiklah-
anak-kalian-untuk-
mencintai-agama/

**SEGENGGAM GARAM**

Seorang guru sufi
mendatangi seorang
muridnya ketika
wajahnya belakangan
ini selalu tampak
murung.
“Kenapa kau selalu
murung, nak?
Bukankah banyak hal
yang indah di dunia
ini? Kemana perginya
wajah bersyukurmu?”
Sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini
hidup saya penuh
masalah. Sulit bagi
saya untuk tersenyum.
Masalah datang seperti
tak ada habis-
habisnya,” jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh.
“Nak, ambil segelas air
dan dua genggam
garam. Bawalah kemari.
Biar kuperbaiki
suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak
pelan tanpa semangat.
Ia laksanakan
permintaan gurunya
itu, lalu kembali lagi
membawa gelas dan
garam sebagaimana
yang diminta.
“Coba ambil
segenggam garam, dan
masukkan ke segelas
air itu,” kata Sang
Guru.”Setelah itu coba
kau minum airnya
sedikit.”
Si murid pun
melakukannya.Wajahnya
kini meringis karena
meminum air asin.
“Bagaimana rasanya?”
tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi
mual,” jawab si murid
dengan wajah yang
masih meringis.
Sang Guru terkekeh-
kekeh melihat wajah
muridnya yang
meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut
aku.” Sang Guru
membawa muridnya ke
telaga di dekat tempat
mereka.
“Ambil garam yang
tersisa, dan tebarkan
ke telaga.” Si murid
menebarkan
segenggam garam
yang tersisa ke telaga,
tanpa bicara. Rasa asin
di mulutnya belum
hilang. Ia ingin
meludahkan rasa asin
dari mulutnya, tapi tak
dilakukannya. Rasanya
tak sopan meludah di
hadapan guru, begitu
pikirnya.
“Sekarang, coba kau
minum air telaga itu,”
kata Sang Guru sambil
mencari batu yang
cukup datar untuk
didudukinya, tepat di
pinggir telaga.
Si murid menangkupkan
kedua tangannya,
mengambil air telaga,
dan membawanya
kemulutnya lalu
meneguknya. Ketika air
telaga yang dingin dan
segar mengalir
ditenggorokannya,
Sang Guru bertanya
kepadanya,
“Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,”
kata si murid sambil
mengelap bibirnya
dengan punggung
tangannya.
Tentu saja, telaga ini
berasal dari aliran
sumber air di atas
sana . Dan airnya
mengalir menjadi
sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air
telaga ini juga
menghilangkan rasa
asin yang tersisa di
mulutnya.
“Terasakah rasa
garam yang kau
tebarkan tadi?” tanya
sang guru
“Tidak sama sekali,”
kata si murid sambil
mengambil air dan
meminumnya lagi.
Sang Guru hanya
tersenyum
memperhatikannya,
membiarkan muridnya
itu meminum air telaga
sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru
setelah muridnya
selesai minum. “Segala
masalah dalam hidup
itu seperti segenggam
garam. Tidak kurang,
tidak lebih. Hanya
segenggam garam.
Banyaknya masalah
dan penderitaan yang
harus kau alami
sepanjang
kehidupanmu itu sudah
dikadar oleh Allah,
sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap,
segitu-segitu saja,
tidak berkurang dan
tidak bertambah. Setiap
manusia yang lahir ke
dunia ini pun demikian.
Tidak ada satu pun
manusia, walaupun dia
seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan
dan masalah.”
Si murid terdiam,
mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa ‘asin’
dari penderitaan yang
dialami itu sangat
tergantung dari
besarnya hati yang
menampungnya. Jadi
Nak, supaya tidak
merasa menderita,
berhentilah jadi gelas.
Jadikan hati dalam
dadamu menjadi seluas
telaga agar kau bisa
menikmati hidup"

Langkah-Langkah Tazkiyatun Nafs

Allah Azza wa Jalla
berfirman,
"Sungguh beruntunglah
orang-orang
mensucikannya (hati),
dan merugilah orang-
orang yang
mengotorinya" (Asy-
Syams: 9-10).
"Dan apabila disebut
asma Allah bergetarlah
hati mereka, dan
apabila dibacakan
kepada mereka ayat-
ayat-Nya
bertambahlah imannya,
dan kepada Rabbnya
mereka
bertawakal" (an-
Anfaal: 2-4).
Adapun langkah-
langkah yang dapat
ditempuh dalam
mensucikan jiwa adalah
dengan:
1. Bersegera pada
kebenaran
Yakni dengan
senantiasa menyambut
berbagai syiar dan
seruan kebenaran
dengan sambutan
sami'na wa atha'na..
kami dengar dan kami
taati (Allah) (Az-Zumar:
18; Al-Ahzab: 36; An-
Nisaa': 65). Sebagai
contoh adalah
kesigapan para
sahabat Rasul dalam
menyambut larangan
minum khamr. Mereka
segera menghancurkan
gentong-gentong
minuman keras
mereka, sehingga
Madinah banjr khamr.
Bahkan ada di antara
sahabat yang baru
saja minum khamr,
segera memasukkan
jarinya ke mulut untuk
memuntahkan khamr
yang baru diminumnya.
Juga kesigapan para
muslimah sahabat
Rasul dalam menerima
perintah hijab (jilbab),
segera mereka ambil
dan sobek kain yang
dimilikinya untuk
menutup auratnya,
dada dan seluruh
tubuhnya dengan jilbab
untuk menunjukkan
ketaatannya kepada
Allah dan Rasul-Nya.
2. Cinta kebenaran dan
berlapang dada untuk
Islam (Al-An'am: 125)
Artinya ia siap
mengorbankan segala
kesenangan pribadi
dan egonya untuk
mengamalkan Islam,
tanpa ada tawar-
menawar.
3. Menyambut seruan
keimanan
Yakni digunakan
segala waktu dan
kesempatan untuk
mengabdi kepada Allah
(Al-Ashr: 1-3; Ali-
Imran: 193).
Rasulullah SAW
bersabda,"min husnil
islaamil mar'i tarkuhu
maa laa ya'niih...
rawahu muslim...
diantara kebaikan
Islamnya seseorang
adalah meninggalkan
perkara yang tidak
berguna baginya" (HR.
Muslim). "Khairunnaasi
man thaala 'umruhu wa
hasuna 'amaluhu...
sebaik-baik manusia
adalah yang panjang
umurnya dan baik
amalnya" (HR. Tirmidzi).
4. Banyak berdzikir
Yakni mewarnai
kehidupannya dengan
banyak mengingat
Allah, diawali dengan
asma Allah, beramal
merasa diawasi Allah
mengakhiri amal
perbuatan dengan
menyebut asma Allah.
Mengadakan koreksi
diri untuk semata-mata
menggapai ridha Allah,
bekerja semaksimal
mungkin, sungguh-
sungguh, efektif dan
efisien untuk mencari
kecintaan Allah.
Manfaat dzikir adalah
akan menjauhkan dari
syetan, menyingkirkan
kesusahan,
mendatangkan
ketentraman,
mendatangkan rizki,
membuka pintu ma'rifat
kepada Allah,
mengeyahkan
perkataan kotor dan
perbuatan sia-sia,
hiburan orang susah
dan miskin karena
amal-amal banyak
"diborong" orang-
orang kaya, dan masih
banyak lagi yang
lainnya.
5. Yakin yang diikuti
dengan pembenaran
berupa amal shalih
Yakni keyakinan yang
tiada henti pada
konsep tetapi
membuahkan amal
nyata. Syahadat diikuti
dengan shalat, nilai-
nilai shalat diwujudkan
dengan meninggalkan
perbuatan keji dan
munkar, menegakkan
jiwa disiplin. Puasa
mendidik jiwa sabar
dan istiqamah direalisir
di dalam kehidupan.
Zakat diwujudkan
dalam kepedulian
sosial terhadap
kerabat, tetangga,
masyarakat maupun
umat secara
menyeluruh, karena
masih banyak belahan
dunia Islam yang miskin
dan kelaparan. Nilai
haji diwujudkan
dengan meningkatkan
pengorbanan untuk
tegaknya masyarakat
Islam, yakni selalu
mendermakan apa
yang dimilikinya di
jalan Allah, baik waktu,
harta, jiwa, maupun
raganya untuk Islam
(At-Taubah: 111) untuk
ditukar dengan surga.
Karena ibadah
bukanlah sekedar
"wisata ruhani" untuk
mencari kepuasan
batin semata.
6. Melembutkan hati
dengan mengingat Allah
Artinya pribadi mukmin
tidak layak ditaburi
butir-butir maksiat,
dosa, kedengkian,
hasad, prasangka,
yang justru akan
mengotori dan
merusaknya (Az-
Zummar: 22; Al-Anfaal:
2). Maka ia terus-
menerus berinteraksi
dengan Al-Qur'an,
banyak bersujud, dan
amal-amal shalih yang
membebaskan jiwa.
Seorang ulama salaf
berkata, "telitilah
hatimu dalam tiga hal,
ketika membaca Al-
Qur'an, berdzikir, dan
shalat. Jika dalam
saat-saat tersebut
tidak dapat khusyu',
maka mohonlah kepada
Allah agar diri anda
diberi "hati". Sebab
ketika diri anda tidak
menggapai
kekhusyu'an,
sebenarnya anda tidak
"berhati".
7. Ittiba' terhadap Al-
Qur'an dan Sunah
Yakni mengembalikan
segala cara kehidupan
dengan Al-Qur'an dan
Sunah. Al-Qur'an dan
Sunah yang menyatu
dalam kepribadian,
dalam ibadah, akhlaqul
karimah, dan
muamalah.
Bila langkah-langkah
ini ditempuh, insya
Allah jiwa kita akan
bertambah bersih dan
suci. Allahu a'lam.
dikutip dari:
Materi Ceramah
Ramadhan dan Umum
Abu Izzuddin

Aku Miskin

Suatu hari, seorang
ayah dari keluarga
yang sangat kaya
membawa anaknya
bepergian ke suatu
daerah yang sebagian
besar penduduknya
hidup dari hasil
pertanian. Ia
bermaksud untuk
mengajarkan
bagaimana kehidupan
yang selama ini mereka
kenyam dengan
membandingkan
kehidupan orang-
orang yang miskin.
Mereka menghabiskan
waktu berhari-hari di
sebuah tanah
pertanian milik
keluarga yang terlihat
sangat miskin.
Sepulang dari
perjalanan tersebut,
sang Ayah bertanya
kepada anaknya,
"Bagaimana perjalanan
tadi?"
"Sungguh luar biasa,
Pa." Jawab si Anak
yang masih terkesan.
"Kamu lihat kan
bagaimana kehidupan
mereka yang miskin?"
tanya sang
Ayah.
"Iya Pa," jawabnya.
"Jadi, apa yang dapat
kamu pelajari dari
perjalanan ini?" tanya
Ayahnya lagi.
Si Anak menjawab,
"Saya melihat
kenyataan bahwa kita
mempunyai seekor
anjing, sedangkan
mereka memiliki empat
ekor. Kita punya
sebuah kolam yang
panjangnya hanya
sampai ke tengah-
tengah taman,
sedangkan mereka
memiliki sungai yang
tak terhingga
panjangnya. Kita
memasang lampu taman
yang dibeli dari luar
negeri, sedangkan
mereka memiliki
bintang-bintang di
langit untuk menerangi
taman mereka. Beranda
rumah kita lebarnya
hanya mencapai
halaman depan,
sedangkan milik
mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup
di tanah yang sempit,
sedangkan mereka
mempunyai tanah
sejauh mata
memandang. Setiap
kebutuhan kita hanya
mampu dilayani pelayan
yang kita miliki, tetapi
mereka mampu
melayani diri mereka
sendiri. Kita membeli
makanan yang akan
kita makan, tetapi
mereka bisa menanam
sendiri. Kita mempunyai
dinding indah yang
melindungi diri kita dan
mereka memiliki teman-
teman untuk menjaga
kehidupan mereka."
Mendengar cerita
tersebut, sang Ayah
tersenyum dan
memandang wajah
anaknya.
Kemudian si Anak
melanjutkan, "Terima
kasih Pa, akhirnya aku
tahu betapa miskinnya
diri kita."
Sahabat, terkadang
kekurangan yang
dimiliki seseorang
merupakan anugrah
bagi orang lain. Terlalu
sering kita melupakan
apa yang kita miliki dan
hanya berkonsentrasi
terhadap apa yang
tidak kita miliki. Semua
kembali pada
perspektif secara
pribadi.
Pikirkanlah apa yang
akan terjadi jika kita
semua bersyukur
kepada Tuhan atas
anugrah yang telah
disediakan oleh-Nya
bagi kita daripada
kuatir untuk meminta
lebih lagi.
(Author : Agustian
Husin)

Pengajian Al-Hikam, Ibnu Athaillah : Jebakan Imaginasi Semu

“Tak satupun wujud
yang bisa menutupi
Allah, karena
sesungguhnya tidak
satu pun yang
menyertaiNya. Bahwa
sesungguhnya anda
tertutup dari Allah
disebabkan oleh
imajinasi (seakan) ada
wujud yang
menyertaiNya.”
Adanya imajinasi wujud
selain Allah membuat
anda lebih sibuk
dengan wujud semu
itu, berupa dunia
seisinya dengan
segala masalahnya,
secara tidak langsung
maupun langsung,
anda telah terjebak
seakan-akan wujud
semu itu yang
mengancam dan
memberi manfaat bagi
kehidupan anda,
sehingga anda pun
terhijab dari Allah azza
wa-Jalla.
Padahal wujud itu
hakikatnya tidak ada,
yang berhak punya
sifat Wujud hanyalah
Allah swt.
Dalam kitab Lathaiful
Minan, karya lain Ibnu
Athaillah digambarkan,
“ketika melihat wujud
semesta ini, anda
melihat adanya
bayangan dengan mata
kepala. Padahal
bayangan itu
sesungguhnya tidak
ada jika ditinjau dari
struktur wujud itu
sendiri, tetapi juga
tidak bisa disebut tidak
ada, jika dilihat dari
struktur ketiadaan.
Dengan demikian
bayangan semesta itu
tidak bisa menghapus
yang empunya bayang.
Karena sesuatu itu
menyerupai
padanannya dan
terkumpul dalam
bentuknya. Begitu pula
yang menyaksikan
sifat bayangan alam
tidak bisa menghalangi
Allah swt, sebagaimana
bayangan pohon di
siang hari tidak
menghalangi lajunya
kapal untuk berjalan.
Dari sinilah jelas
bahwa tirai atau tutup
itu bukan sebagai
wujud yang
menghadang antara
diri anda dengan Allah
Ta’ala. Apabila hijab itu
memiliki sifat wujud
antara diri anda
dengan Allah Ta’ala,
pastilah wujud tadi
lebih dekat dibanding
Allah Ta’ala, padahal
tak satu pun yang
lebih dekat padamu
dibanding Allah Ta’ala.
Maka hakikat hijab itu
sesungguhnya kembali
pada imajinasi tentang
adanya hijab itu
sendiri.”
Beliau melanjutkan,
bahwa dengan
memandang SifatNya,
segala makhluk akan
terliputinya:
“Apabila Sifat-sifatNya
tampak, maka seluruh
semesta ini akan
tersirnakan. Kalaulah
bukan tampakNya
dibalik semesta
ciptaanNya, mata hati
tak pernah bisa
memandangnya.”
Dapat disebutkan,
tidak ada ketetapan
pada makhluk dengan
munculnya efek dari
Allah Ta’ala. “Sungguh
mengherankan,
bagaimana bisa wujud
menjadi tampak dalam
ketiadaan? Atau
bagaimana bisa ada
sesuatu yang baru
bersanding dengan
Dzat yang punya sifat
Maha Dahulu?”, begitu
disebut oleh Ibnu
Athaillah pada hikmah-
hikmah terdahulu.
Kalaulah bukan karena
pengaruh Sifat-
sifatNya yang diyakini
dengan ilmu dan
dikhususnya dengan
IrodahNya dan
dimunculkan melalui
KuasaNya, maka tak
ada yang tampak sama
sekali, baik oleh mata
kepala maupun mata
hati. Yang Dzohir
berarti adalah sifat-
sifatNya. Bila
memandang pada yang
lain dari Sifat itu, akan
terjebak pada
imajinasi-imajinasi
yang dibatasi rupa,
tanpa kembali ke
hakikatnya yang bisa
menghapus imajinasi
semu tadi.
Oleh: KHM Luqman
Hakim MA
Sumber: Majalah
Cahaya Sufi Edisi 64
Hotline: 021 856 1695

Selasa, 28 Juni 2011

DUA METODE PENJERNIHAN QALBU

Alam semesta seisinya
ini tidak ada artinya
apa-apa dibanding
dengan Allah. Berarti
tidak ada sesuatu pun
yang mampu
menampung adanya
Allah. Segalanya tidak
bisa menjadi tempat
semayamnya Allah,
kecuali hati hambanya
yang beriman. Maka
disanalah Allah
bersinggasana.
Hati orang yang
beriman adalah rumah
Allah. Dan karena itu
hati merupakan
amanah Ilahi untuk kita
jaga jangan sampai
terkena kotoran dunia.
Oleh sebab itu hati
harus kita jaga,
dirawat, dirias biar
menjadi elok. Hati kita
adalah ruang dimana
pertemuan dialogis
(munajad) antara
hamba dan Rabb
berlangsung.
Dalam menjaga dan
merawat rumah Allah
ada dua cara menurut
tradisi keagamaan kita
yang agung.
Pertama tradisi
Tazkiyatun Nafs, yaitu
tradisi membersihkan
kotoran jiwa yang
dimulai dengan tobat.
Dalam jiwa kita ada sisi
gelap yang dipenuhi
oleh virus-virus paling
menjijikkan. Dimulai
dengan virus iri
dengki, lalu
berkembang menjadi
takabur, riya’, ujub,
mencintai dunia,
kedzaliman, kefasikan,
kemunafikan, dan
kemudian menjurus
pada kekufuran.
Semua virus itu harus
dibersihkan melalui
taubat dan dzikrullah.
Dari sinilah muncul
paradigma kedua
melalui Tathirul Qulub.
Yaitu menyucikan hati
melalui riasan etika
atau akhlak hamba
dengan Allah Ta’ala.
Penyucian hati berbeda
dengan pembersihan
jiwa. Kalo penucian hati
lebih menekankan pada
riasan pasca
pertobatan, lalu
memasuki wilayah
spiritual dengan
riasan-riasan maqamat
demi maqamat.
Sedangkan
pembersihan jiwa
adalah upaya untuk
melakukan asketisme
secara total, baik lewat
tobat, zuhud, wara’,
dan sebagaianya.
Dua proses tadi tidak
tergantung dengan
lifestyle dan
penampilan orang per
orang. Orang yang
berjenggot panjang
dan berjubah serta
tasbih di tangannya
belum tentu orang suci
atau sufi. Siapa tahu
dia dengan jubah dan
jenggo malah tumbuh
riya’, dan takabur atas
nama syiar. Siapa tau
mereka yang
bernampilan necis dan
perlente malah lebih
dekat dengan Allah,
ketimbang Anda yang
memakai baju-baju
relegius.
Dalam wilyah ruhani
spiritual, baju dan
bendera haruslah
dilepaskan. Bahkan
prestasi amaliyah
sebagai tempat
gantungan masa depan
dan akhirat harus
dikubur habis. Hanya
Allah lah tempat
bergantung kita, bukan
amal perbuatan,
prestasi ibadah, dan
bukan pula hasrat-
hasrat luhur. Bahwa
kita sedang beramal itu
bagus, itulah indicator
bahwa kita berada
dalam lindungan Ilahi.
Tetapi sebaliknya
ketika kita sedang
berbuat maksian dan
hina, itu pertanda
bahwasanya kita
sedang dihina oleh
Allah, na’ubillahi min
dzalik. Kelak jika dua
cara pembersiahan dan
penyucian itu
berlangsung, kita akan
memasuki ruang zinatul
asrar. Yaitu ruang
rahasia yang menjadi
manifestasi
kemahaindahan Ilahi.
Maka disana rumah
Tuhan, bukan saja
menjadi bersih, tetapi
telah menjadi arasy
yang haqiqi.

ISTERI CEREWET DAN KAROMAH KYAI

Konon, hiduplah
seorang kiai yang
sangat alim,. Di dalam
dirinya jauh dari
penyakit hati. Sifat
sombong, rakus, iri,
dengki, adigang
adigung adiguno, dan
kikir sedikit pun tak
berani menempel dalam
relung hatinya.
Sebaliknya, yang
selalu terllihat
bersinar-sinar
menyilaukan seperti
sinar lentera di
kegelapan malam
adalah sifat-sifat
utama. Sabar, narimo,
tawakkal, jujur, loman,
dan ngalah
Dalam sestiap
muthola’ah di serambi
masjid kecil di
pesantrennya, sang
kiai tak henti-hentinya
mengingatkan ratusan
santri yang berguru
padanya. Mereka
dinasihatkan
mengugemi sifat-sifat
keutamaan itu.
“Orang itu harus
sabar dan ngalah,”
kata sang kiai suatu
ketika. Kemudian dua
sifat utama itu
diuraikan dengan
penuh kebaikan dan
waskita . Kata kiai,
hakikat sabar itu
adalah Sejatining
Amalan Kang Biso ‘Alaf
Rahmat (Allah)
Sedangkan ngalah,
bermakna Ngawula
marang gusti Allah. Itu
artinya orang bias
ngawula atau
menghamba , bahwa
tidak ada kekuatan
sejati selain
kekuasaan itu
datangnya dari Allah.
Bahwa, manusia itu
hanyalah sak dermo.
Tak memiliki kekuatan
apapun di hadapan
Allah Yang Qowiyyu
dan Yang Matin.
Kia ini terus
menjelaskan dua sifat
mulia ini dengan contoh
sehari-hari
dimasyarakat.
Sementara ratusan
santrinya semakin
meyakini kemuliaan hati
sang kiai.
Mereka juga
menyaksikan
bagaimana setiap hari
karomah yang
dipancarkan dari diri
sang kiai semakin
bertambah. Bukan
hanya di hadapan
santri, karomah ini
juga muncul di hadapan
makhluk-makhluk lain.
Pernah suatu hari,
ketika sang kiai pergi
ke hutan, binatang-
binatang penghuninya
tampak tawadlu’
memberi salam dan
hormat pada sang kiai.
Bahkan hewan-hewan
itu mengantarkan
langkahnya sampai
kepintu rumah.
Begitulah , bila
keheningan hari ini
selalu disinari sifat-
sifat terpuji, siapa pun
bias menari dengan
cahaya Ilahi.
Tapi suatu ketika sang
kiai ini tidak seperti
biasanya. Beliau
tampak termenung di
serambi masjid
pesantrennya. Sinar
karomah yang
menyala-nyala tampak
redup. Dia tampa sedih.
Melihat kianya seperti
itu, dating seorang
santri dan berkata
“Kiai.! Beberapa hari ini
engkau tampak sedih.
Selalu termenung
sendiri. Kadang saya
menyaksikan engkau
menangis. Saya juga
menyaksikan,
sekarang tidak lagi
hewan-hewan hutan
berucap salam kepda
kiai. Sesungguhnya
apa yang terkadi
kiai..?”
Sang kiai berucap “Aku
memang sedang
bersedih. Ketahuilah
santriku, aku sangat
khawatir tak bias
mendekati nur Allah.
Karena tujuh hari ini,
semenjak aku
beristrikan nyai
(sebutan santri untuk
istri kiai), tak seorang
pun menguji
kesabaranku. Istriku
sekarang orangnya
penyabar, tawakkal,
jujur, dan loman. Tak
pernah ada kata kasar
yang keluar dari
bibirnya. Sebaliknya
yang ada hanya
kerendahan hati, dia
nurut pada saya.”
“Sementara nyai yang
pertama dulu, sebelum
meninggal dunia, dia
orangnya cerewet.
Sedikit saja saya
salah, pasti
ditegurnya. Sedikit ada
yang tidak sesuai
dengan dia, pasti
marah. Mungkin karena
aku jauh dari ujian itu,
apa yang engkau
saksikan dulu tentang
aku lalu sekarang
mulaui menjauh
dariku.”
Memang benar.
Karomah pancaran
kemuliaan tak begitu
saja muncul dalam diri
manusai. Untuk
mendapatkan ini,
sestia saat kita harus
diuji. Ujian bias datang
dari sendiri, dari anak,
dan istri, atau
lingkungan kita.
Bahkan kalau memang
ujian itu sebagai jalan
menuju kesempurnaan
hakikat diri, harusnya
tak dihindari.
Sebaliknya harus
dijalani. Seperti juga
kiai kita ini. Beliau
bersedih, karena tak
pernah lagi diuji.
Lalu dihadapan santri
ini, kiai ini berpesan:
“Kesempurnaan lelaku
sabar, narima,
tawakkal, jujur dan
ngalah adallah
bertanding dengan
lelaku marah, menang-
menangan. Maka
jangan engkau
bersedih hati bila
waktunya diuji.
Berucaplah Lahaula
wala quwwata illa billah.
Tidak ada daya dan
kekuatan sejati,
kecuali dari dan
dengan Allah. Insya
Allah”

Hijab ilmu, amal dan diri

Nah, kebetulan nih
ketemu kang Hasan.."
seru Jaka ketika
melihat Hasan sdg
melayani pembeli
digerobak sayurnya..
Hasan : " memang ada
apa Jak..? "
Jaka : " itu loh kang, si
Husni temen kita
sedang kena musibah "
Hasan : " musibah apa
Jak.."
Jaka : " dia kena tipu
sama rekan
kerjasamanya dalam
usahanya.."
Hasan : " trus , kondisi
Husni gimana Jak.."
Jaka : " Nah itu dia
kang... Saya justru
nggak nyangka bahwa
Husni masih bisa
stress berat
menghadapi musibah
itu.."
Hasan : " kamu ini
malah aneh Jak, ya
bisa aja, namanya juga
manusia.."
Jaka : " loh, kalau
orang lain yg seperti
itu sih aku maklum
kang.. Tapi kita semua
kan tahu siapa dia..
Bahkan hampir semua
jamaah masjid kita
sering minta nasehat
kepada Husni mengenai
ilmu Fiqih, Tauhid dan
Tasawuf..."
Hasan : " ah.. kamu
Jak.. Memangnya ada
jaminan bahwa jika kita
menguasi seluruh ilmu,
lalu kita terhindar dari
rasa stress dan sedih,
ketika Allah
menghendaki
demikian..? "
Jaka : " ya nggak juga
si kang.."
Hasan : " nah itu kamu
tahu .."
Jaka : " tapi kamu kok
beda sih kang..."
Hasan : " ini apa lagi
Jak, kok aku dibeda
beda in ?"
Jaka : " lah iya.. Saya
tahu bahwa kang
Hasan ini ilmunya tinggi
banget, nggak kalah
dengan Husni.. Tapi
saya lihat kang Hasan
ini banyak diamnya dan
dalam menjalani profesi
kang Hasan sebagai
tukang sayur nggak
pernah saya denger
kang Hasan ini
berkeluh kesah .."
Hasan : " ah.. Sok tahu
kamu Jak.., emang
kamu tahu atau
mendengar kalau saya
sering ngeluh sama
istri saya.."
Tiba tiba seorang ibu
yang sudah agak
berumur yang sedang
asyik tinggal sendirian
memilih sayuran di
gerobak Hasan
berbicara kepada
mereka berdua..:
" itulah bedanya
seseorang yang
mengamalkan ilmu
dengan jasad dan
jiwanya, DENGAN orang
yang mengumpulkan
segala macam ilmu di
otaknya, lalu dia
sedikit mengamalkan
ilmunya, lebihbanyak
menikmati pemahaman2
ilmunya untuk
dibicarakan kepada
orang2.."
" Bahkan ilmu mengenai
situasi2 maqom ruhani
yang telah dibaca,
didegar dan diketahui
menyebabkan dia
menduga bahwa situasi
jiwanya sudah seperti
situasi jiwa seorang
wali.."
"Jadilah ilmu yang
dikuasai menjadi Hijab
paling TEBAL antara
dirinya dengan
Rabbnya..."
"Bukan..bukan hanya
ilmu, bahkan amal pun
atau segala sesuatu
dapat menjadi
hijab..termasuk
dirinya.."
Dengan sedikit
keheranan Hasan
bertanya kepada si
Ibu, sementara Jaka
terlihat tidak percaya
akan kata-kata yang
keluar dari mulut
seorang ibu yang
terlihat sederhana itu ..
Hasan : " Apa tolak
ukurnya bu, ilmu, amal
atau segala sesuatu
menjadi Hijab antara
hamba dengan
Tuhannya..? "
si Ibu : " Bagi para
SALIKIN adalah
hilangnya Allah .. Allah
dari hatinya dan bagi
WASHILUN adalah
hilangnya penyaksian
Allah dari mata
hatinya..."
Setelah berkata
seperti itu sii Ibu
menghampiri Hasan dan
berkata lirih : "
istiqomahkan apa yang
berbunyi didalam
hatimu itu ya nak.."
Lalu si ibu tanpa
banyak cakap
membayar sejumlah
uang untuk
belanjaannya, lalu dia
ngeloyor pergi begitu
saja meninggalkan si
Jaka yang tambah
terlongong longong
sangat keheranan
mendengar ucapan si
ibu misterius tersebut..
Jaka : " si..si..siapa dia
kang Hasan ? Jangan
jangan ?"
Hasan : " Jangan
jangan apa Jak ..?"
Jaka : " Tidakkah kamu
lihat cahaya mata si ibu
tadi kang ? Mata itu
seperti mempunyai
ruang kedamaian yang
tak terbatas.. "
"Iya Jak...
Subhanalloh....Kau
tunjukan salah satu
Rahasia-MU diantara
manusia yang
kelihatannya biasa
saja.." Lirih Hasan
melihat si ibu
menghilang dibalik
tikungan di ujung jalan.

Kiat Untuk Memilih Teman

Ini adalah Kalam Al Habib Abdullah
Bin Alwi Al haddad
tentang cara memilih
teman.

PERSAHABATAN,
pertemanan dan
pergaulan memiliki
pengaruh yang sangat
kuat untuk membuat
seseorang menjadi
baik maupun buruk.
Persahabatan dan
pergaulan dengan
orang-orang yang
saleh dan berbudi
membawa manfaat,
sedangkan
persahabatan dan
pertemanan dengan
orang-orang yang
fasik dan durhaka
membawa bahaya.
Hanya saja manfaat
persahabatan dengan
orang saleh atau
bahaya pergaulan
dengan pendurhaka
tersebut terkadang
tidak tampak secara
langsung, akan tetapi
secara bertahap dan
setelah berlangsung
lama.
Rasûlullâh saw
bersabda:
“Seseorang akan
bersama teman
duduknya.”
“Seseorang itu akan
mengikuti agama
sahabatnya, oleh
karena itu setiap
orang dari kalian
hendaknya
memperhatikan siapa
yang ia jadikan
sebagai teman.” (HR
Tirmidzî, Abû Dâwûd
dan Ahmad)
“Permisalan teman
duduk yang baik
adalah seperti penjual
parfum misk (parfum
yang paling mahal dan
harum). Bisa jadi dia
memberimu, atau
engkau membeli
parfumnya, atau
engkau mencium
keharuman parfumnya.
Sedangkan permisalan
teman duduk yang
buruk adalah seperti
pandai besi. Bisa jadi
dia membakar
pakaianmu, atau
engkau akan mencium
aroma busuk darinya.”
(HR Bukhârî dan Muslim
dengan matan sedikit
berbeda)
Barang siapa ingin
mengetahui bagaimana
pengaruh pergaulan
dengan temannya
tersebut, apakah ia
memperkuat iman,
kesadaran beragama
dan amalnya, atau
justru sebaliknya,
maka hendaknya dia
bandingkan
keadaannya setelah
bergaul dengan orang
itu dengan keadaannya
sebelum bergaul
dengannya.
Jika setelah bergaul
dengannya ternyata
sendi-sendi iman,
akhlak, niat-niat baik
untuk beramal
salehnya semakin kuat
dan kokoh, sedangkan
keburukan dan
kejahatannya semakin
kecil, maka pergaulan
dan persahabatannya
itu bermanfaat bagi
agama dan hatinya.
Jika persahabatan dan
pergaulan tersebut ia
lanjutkan, maka insyâ
Allâh ia akan
memperoleh manfaat
yang sangat besar dan
kebaikan yang sangat
banyak.
Jika setelah bergaul
dengannya ternyata
sendi-sendi
keagamaannya menjadi
semakin lemah dan
menurun, sedangkan
kejahatan dan
keburukannya semakin
banyak, maka
pergaulan tersebut
telah membahayakan
agama dan hatinya
secara nyata. Jika
pergaulan tersebut ia
lanjutkan, maka akan
membawa keburukan
dan bahaya besar
baginya, semoga Allâh
melindungi kita darinya.
Timbanglah semua
pergaulan dengan apa
yang telah kami
sebutkan di atas. Dan
perlu diketahui,
ketentuan di atas
berlaku sesuai dengan
mana yang lebih kuat.
Artinya, selama
kebaikan lebih kuat,
maka diharapkan
pergaulan tersebut
mampu menarik orang-
orang jahat untuk
menjadi baik. Dan
selama keburukan
lebih kuat, maka
dikhawatirkan orang
baik yang bergaul
dengan pendurhaka
tersebut akan
mengikutinya dan
menjadi buruk.
Permasalahan ini
sangat pelik, orang-
orang yang memiliki
mata hati yang jernih
akan memahaminya.
Diperlukan waktu yang
banyak untuk
membahasnya secara
terperinci. Sedangkan
Rasûlullâh saw
bersabda:
“Teman duduk yang
baik lebih utama
daripada menyendiri,
dan menyendiri lebih
baik daripada bergaul
dengan teman yang
buruk.”
(Ucapan Rasul saw
yang singkat ini sarat
dengan makna)
Rasûlullâh saw telah
dikaruniai Allâh
kalimat-kalimat ringkas
yang penuh makna
yang tidak diperoleh
orang-orang terdahulu
dan yang akan datang
kemudian.

Wahabi News: Wahabi terbongkar.. Setan Terbakar!!!

Makin hari makin
terbongkar akan
kebusukan Agama
Wahabi. Dan makin hari
makin banyak Setan
yang tebakar
dikarenakan
terbongkarnya
kebusukan Agama
Wahabi.
Silahkan klick disini:
http://salafytulen.wordpress.com/2010/04/23/
kaum-muslim-selain-
salafi-adalah-kafir-
yang-wajib-segera-
dibunuh-dan-
bangkainya-dibuang-
ke-tempat-sampah/
------------------------------------------------------------------------------
APA YANG SAYA
LAKUKAN (POSTING DISINI)
TIDAK LAIN HANYALAH
INGIN MEMBUKA MATA
KALIAN (SELAIN WAHABI)
YANG SELAMA INI BUTA
UNTUK MELIHAT
BETAPA SADISNYA
AJARAN-AJARAN DARI
WAHABI YANG SANGAT
MENYESATKAN ISLAM
BAHKAN MENGADU
DOMBA SUPAYA
DIANTARA SESAMA
MUSLIM (SELAIN
WAHABI) TERPECAH
BELAH DAN SALING
MENYAKITI SATU SAMA
LAIN.
SANGATLAH
DISAYANGKAN BAGI
KALIAN YANG TETAP
TIDAK INGIN MEMBUKA
MATA KALIAN UNTUK
MENGETAHUI BETAPA
SADISNYA AJARAN
WAHABI INI.
WAHABI TIDAK PANTAS
DIKATAKAN SEBAGAI
ISLAM, KARENA SESAMA
ISLAM SALING
MELINDUNGI BUKAN
MENYAKITI KARENA
SATU SAMA LAIN
ADALAH SAUDARANYA.
HAL INI TIDAK BERLAKU
DIDALAM AJARAN
WAHABI. KARENA ITU
SAYA KATAKAN BAHWA
WAHABI BUKAN ISLAM,
WAHABI ADALAH SUATU
AGAMA TERSENDIRI!!!

Wahabi News: WAHABI + MAJUSI + SAUDI = YAHUDI

Wahabi bukan Agama
Islam!!! Wahabi adalah
agama tersendiri. Nabi
Agama Islam adalah
Muhammad bin
Abdullah, sedangkan
Nabi Agama Wahabi
adalah Muhammad bin
Abdul Wahab.
WAHABI + MAJUSI +
SAUDI = YAHUDI
Bukti terdapat dibawah
ini:
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/04/23/
kaum-muslim-selain-
salafi-adalah-kafir-
yang-wajib-segera-
dibunuh-dan-
bangkainya-dibuang-
ke-tempat-sampah/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/07/04/
kita-semua-kafir-
kecuali-mereka/
http://
salafytu...len.wordpress.com/2010/07/04/
syekh-muhammad-bin-
abdil-wahab-tidak-
mencintai-nabi/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/06/05/
di-mata-para-imam-
wahabi-ahlu-sunnah-
adalah-aliran-sesat/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/07/09/
menurut-salafi-
merayakan-hari-
khitan-anak-gadis-
kita-boleh-hukumnya-
tapi-merayakan-hari-
maulid-nabi-saw-bid%
E2%80%99ah/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/05/06/
sejarah-berdarah-
kaum-wahabi-salafi-
atas-kuburan-al-baqi/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/04/22/
dana-wahabi-salafy-
mengalir-deras-ke-
terorisme/
http://
salafytulen.wordpress.com/2010/04/12/
waspadalah-wahabi-
salafy-merencanakan-
mengadu-domba-
sunni-syiah/

Adab Bertetangga Dan Berteman

Rasulullah saw
bersabda:
“Tahukah kalian, apa
saja hak tetangga?
Hak tetangga di
antaranya adalah jika
dia meminta
pertolonganmu, maka
kau harus
membantunya, jika ia
meminjam (berhutang)
kepadamu, maka kau
meminjaminya, jika ia
miskin, maka kau
berderma kepadanya,
jika ia sakit, maka kau
menjenguknya, jika ia
meninggal dunia, maka
kau melayat
jenazahnya, jika ia
memperoleh kebaikan,
maka kau ucapkan
selamat kepadanya,
jika ia memperoleh
musibah, maka kau ikut
berduka atasnya.
Janganlah kau
mendirikan bangunan
yang lebih tinggi dari
rumahnya sehingga
menghalangi udara
memasuki rumahnya,
kecuali atas seizinnya.
Jika kau membeli buah-
buahan, maka berilah
dia dan jika kau tidak
memberinya, maka
bawalah buah-buahan
itu ke dalam rumahmu
secara sembunyi-
sembunyi dan jangan
sampai anakmu
membawanya ke luar
rumah agar anak
tetanggamu tidak
marah. Jangan kau
ganggu dia dengan
asap masakanmu,
kecuali jika kau
memberinya juga.
Tahukah kalian apa
saja hak tetangga?
Demi Dia yang jiwaku
berada dalam
genggamannya, tidak
mungkin seseorang
mampu memenuhi
semua hak tetangga,
kecuali dia yang
dirahmati oleh Allâh
Ta’âlâ .” (HR ‘Umar Bin
Syu’aib)
Duhai saudaraku yang
dirahmati Allâh, coba
renungkan sabda Nabi
di atas yang berbunyi,
“dan jangan sampai
anakmu membawa
buah-buahan tersebut
ke luar rumah agar
anak tetanggamu tidak
marah.” Mengapa,
sebab bisa jadi ketika
melihat si anak sedih
dan menangis, hati
orang tuanya akan
terganggu. Dia akan
sibuk memikirkan
bagaimana caranya
agar dapat membeli
buah-buahan yang
sama. Jika demikian
dalam masalah buah-
buahan, lalu bagaimana
jika istri dan anak
para tetangga yang
hidup sederhana dan
dalam kesempitan
melihat perhiasan dan
pakaian indah yang
dikenakan oleh
tetangga atau kerabat
mereka? Bagaimana
kiranya perasaan
suami yang mengetahui
kesedihan anak dan
istrinya, padahal dia
tahu tidak mungkin
menghibur hati
anaknya dengan
ucapan, “Ketahuilah,
sesungguhnya
kefakiran itu lebih
utama dan lebih baik
daripada kekayaan.”
Oleh karena itu,
seseorang yang tidak
mampu menyenangkan
mereka (para tetangga
yang berada dalam
kesusahan), janganlah
membuat mereka sedih
dan marah. Hendaknya
dia menyembunyikan
perhiasan dan
sejenisnya, bukan
justru
menampakkannya.
Jika tidak mampu
berbuat baik kepada
orang lain, maka
berusahalah untuk
tidak mengganggu
mereka. Seorang suami
yang ingin istrinya
mengenakan perhiasan
indah hendaknya
memerintahkan istrinya
untuk memakainya
secara tersembunyi,
sehingga hanya orang
yang berada di
dekatnya saja yang
tahu. Berapa banyak
rumah tangga yang
hancur, kerusakan,
kesedihan, kesusahan,
duka, kehinaan, rasa
takut, hutang, saling
membenci, iri dengki,
fitnah, bencana hanya
karena permasalahan
seperti ini. Berapa
banyak kebaikan yang
terlewatkan
karenanya, seperti
ilmu berbobot, perilaku
mulia, amal yang
berguna, keadaan
yang diridhai,
kebahaiaan, kehidupan
yang menyenangkan,
qanaah, sikap ridha
pada ketentuan Allâh
dan zuhud.
Diceritakan seorang
bapak ingin
menikahkan putrinya
dengan seorang pria
yang barusan datang
dari berpergian. Pria
ini menitipkan kepada
calon mertuanya
beberapa perhiasan
untuk tunangannya.
Ketika melihat
perhiasan itu, sang
mertua menyimpannya.
Tetapi, keesokan
harinya ia hancurkan
perhiasan tersebut.
Melihat perhiasannya
hancur berkeping-
keping, sang putri
merasa sedih.
Menyaksikan
kesedihan putrinya
sang ayah berkata,
“Tindakanku hanya
menyebabkan
kesedihan hatimu saja,
tetapi akan
menyelamatkan hati
orang lain. Besok akan
berdatangan tamu
wanita mengunjungimu.
Jika mereka melihat
perhiasan itu, maka
hati mereka akan
sedih, sebab mereka
tidak memiliki
perhiasan yang sama.”
Coba perhatikan jalan
berpikir yang sangat
bijaksana ini, jika
engkau termasuk
orang-orang yang mau
mendengarkan.Semoga
Bermanfa'at,amin :)

Dosa- Dosa-mu Jangan Memutus Istiqomah-mu

Syeikh Ibnu ‘Athaillah
As-Sakandary
"Manakala anda
terjerumus dalam
dosa, janganlah
kenyataan itu
membuatmu putus asa
dalam meraih
Istiqomahmu dengan
Tuhanmu. Kadang-
kadang, – siapa tahu
– itulah akhir dosa
yang ditakdirkan oleh
Allah padamu.”
Jadikan
keterjerumusan itu
sebagai pintu taubat
dan inabah demi
beharap kepada Allah
Ta’ala, sekaligus
sebagai pintu khauf
(rasa takut)
kepadaNya. Sebab
putus asa terhadap
rahmat Allah itu bentuk
tipudaya yang gelap,
bahkan syetan harus
berputus asa karena
tidak mampu
memperdayai anda
dibalik tindakan dosa
itu.
Imam Al-Ghazaly ra,
menegaskan,
“Sebagaimana dosa
merebut anda, dan
kembali kepada dosa
sebagai aktivitas
anda, maka jadikanlah
taubat dan kembali
kepadaNya sebagai
aktivitas. Karena
orang yang
beristighfar tidak akan
mengulang-ulang
dosanya, walau ia
mengulang tujuhpuluh
kali setiap harinya.”
Kita bisa mengambil
pelajaran dari Fir’aun,
yang dosanya benar-
benar memuncak dan
paling besar, toh Allah
Ta’ala masih
memerintahkan kepada
Nabi Musa as dan Nabi
Harun as, “Katakan
padanya dengan kata-
kata yang lembut,
siapa tahu ia bisa
tersadarkan atau ia
memiliki rasa gentar
dan takut (Kepada
Allah Swt).” (Thaha 44)
Betapa banyak orang
yang kembali bertobat
dan menjadi Istiqomah
gara-gara perbuatan
dosanya, dan
sebaliknya betapa
banyak orang yang
akhirnya malah maksiat
gara-gara ibadahnya,
dimana ia bangga
dengan prestasi amal
ibadah, lalu takjub
pada diri sendiri,
kemudian riya’ dan
takabur.
Optimisme pada rahmat
dan anugerah Allah
Ta’ala harus menjadi
titik utama ke depan.
Karena bila manusia
bertaubat dengan
taubatan Nasuha,
malah seluruh dosanya
diampuni.
Tetapi jangan sampai
manusia meremehkan
perbuatan dosa
dengan beralibi, “Allah
Maha Ampun, atau
ampunan Allah lebih
besar dibanding
dosanya, atau apa
artinya dosaku kalau
dibanding rahmat
Allah….” dst. Yang
menggiring seseorang
terbelit dosa terus
menerus.
Pandangan Ibnu
Athaillah untuk
mengingatkan kita agar
kita tidak putus asa
pada RahmatNya,
bahkan dalam kondisi
terpuruk oleh dosa
sekali pun.
Allah Swt, justru
menghampiri kepada
para pendosa agar
kembali kepadaNya,
karena dibalik
“kembali” itu ada
“cinta” yang begitu
agung dariNya. Cinta
itu sangat luhur dan
besar nilainya
dibanding apa pun.
“Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang
yang taubat.” Begitu
ditegaskan dalam
Al-Qur’an.
Bahkan di awal kitab
Al-Hikam ini
disebutkan, “Tanda-
tanda manusia
bergantung dan
mengandalkan
amalnya, adalah
kehilangan harapan
(terhadap rahmat Allah)
ketika berbuat dosa.”
Rasa kehilangan akan
harapan ampunan dan
rahmat adalah bentuk
pesimisme yang
berbahaya, karena
pada saat yang sama
seseorang tidak
menggantungkan diri
pada Sang Pencipta
Amal, malah
menggantungkan pada
amal itu sendiri yang
diklaim sebagai
perbuatannya.
Padahal amal baik tidak
menjamin seseorang
masuk syurga, dan
amal buruk tidak
otomatis seseorang
pasti masuk neraka.
Masuk neraka itu
semata karena
keadilan Allah, dan
masuk syurga karena
rahmat dan ridhoNya.
Bila anda meraih
rahmat dan ridhoNya,
maka taat dan
kepatuhan anda
sebagai tanda memang
anda ditakdirkan
masuk syurga.
Sedangkan bagi
mereka yang mendapat
keadilan Allah Swt,
(na’udzubillahi min
dzaalik) seseorang
ditandai dengan
berbuat maksiat dan
menuruti nafsunya
belaka di dunia.

MEMAHAMI SUNNATULLAH & DIENULLAH

Allah SWT, Tuhan kitaa
adalah zat Yang Maha
Mencipta dan Maha
Mendengar,Dia
menciptakan semua
makhluk dan
mengaturnya menurut
hukum yang dibuatNya
sendiri. Hukum-hukum
Nya itu dapat dipilah
secara garis besar
menjadi dua, yaitu:
Sunnatullah dan
Dienullah.
Sunnatullah mengatur
dan berlaku untuk alam
semesta (makro
kosmos) dan alam
manusia (mikro
kosmos). Hukum ini
tidak diwahyukan,
tetapi dihamparkan
dalam bentangan
realitas alam semesta
dan alam manusia,
yang saemuanya
tunduk patuh
kepadanya dengan
sukarela maupun
terpaksa, hukum
“obyektif”,”pasti”,
dan “tetap”.
Karena tidak
diwahyukan,
pengetahuan manusia
tentang hukum
sunnatullah diperoleh
melalui pengamatan
dan percobaan.
Hasilnya berupa
berbagai disiplin ilmu
dunia atau ilmu umum.
Diantaranya Kimia,
Fisika, Kedokteran,
Astronomy,dll. Ilmu ini
derajad kebenarannya
tergantung pada
seberapa akurat ia
didukung oleh bukti
dan realitas empiric-
obyektif.
Dienullah khusus
mengatur alam manusia
yaitu tentang
bagaimana harus
berprilaku terhadap
penciptanya, dirinya
sendiri, sesamanya,
dan lingkungan. Hukum
dienullah bersifat
subyektif, tidak pasti,
tidak tetap, hukum ini
diwahyukan dan
terangkum didalam
Alqur’an dan Alhadits,
pengetahuannya
diperoleh melalui
pengkajian dan telaah
dalil-dalil naqli (teks-
teks wahyu), hasilnya
mengejawentahkan
dalam beberapa disiplin
ilmu diantaranya
tauhid, tasawwuf,
tafsir, hadits, fiqih,
dsb. Derajad
kebenarannya
bergantung pada
seberapa akurat ia
didukung oleh dalil-
dalil naqli yang
sifatnya legal formal.
Akhirnya apabila
kemarin ada ulama
besar Salafy yang
ngotot bahwa bumi itu
datar dan matahari
mengelilingi bumi
tetntunya perlu
disangsikan
kebenarannya.

Secuil keju

Abu Yazid Al Busthamiy
sejak kecil taat kepada
Allah dan suka berbuat
kebajikan.Kedua orang
tuanya selalu menjaga
diri untuk tidak makan
kecuali yang halal.Abu
Yazid sejak dalam
kandungan sampai
disapih dari air susu
ibunya,tidak pernah
berkenalan dengan
barang
syubhat,apalagi
haram.Pada tahap awal
iradah ( keinginan )
nya,jika mendengar
sesuatu
kebaikan,beliau mudah
lupa.
"Apakah ibu ingat
pernah memakan
sesuatu yang haram
atau syubhat ketika
mengandung atau
menyusuiku, ? sebab
jika mendengar
kebaikan aku mudah
lupa." Tanya Abu Yazid
kepada ibunya.
"Anakku,suatu hari
ketika sedang
mengandung atau
menyusuimu,aku
melihat sepotong keju
tergeletak ditempat
fulan.Saat itu aku
sedang mengidam,dan
benar-benar
menginginkan keju
itu.Lalu kuambil secuil
dan kumakan tanpa
sepengetahuan
pemiliknya." jawab
ibunya.
Mendebgar jawaban
ibunya,Abu Yazid
segera mengunjungi
pemilik keju itu.
" Wahai Fulan,dahulu
ketika ibuku
mengandung dan
menyusuiku,ia makan
secuil kejumu.Sekarang
aku mohon agar
engkau sudi
memaafkannnya atau
engkau tetapkan
berapa harga keju
itu,biar aku
membayarnya." kata
Abu Yazid setelah
bertemu pemilik keju.
"Ibumu telah
kumaafkan dan apa
yang ia makan telah
kuhalalkan." kata
pemilik keju.
Sejak saat itu,Abu
Yazid tak pernah lagi
lupa bila mendengar
kebaikan.Anggota
tubuhnya semakin
ringan untuk berbuat
kebajikan.
Sumber : Al Hikmah Al
Yamaniyyah
( Thuhfatul Asyraf ala
kalami Alhabib
Muhammad bin Hadiy
Assegaf )
_*_*_*_*_*_*_*_*_*_
*_*_*_*_*_*_*_
Perhatikanlah,meskipun
secuil keju tapi memilki
efek yang dahsyat
bagi hati,mudah lupa
akan hal yang
benar,itu cuma secuil
keju,bagaimana jika
hal yang lebih dari
secuil keju menimpa
kita ? sudah berapa
cuil barang syubhat
yang telah kita cicipi ?
disebutkan dalam kitab
ihya' , salah satu
penyebab hati menjadi
keras adalah
menumpuknya nuqthoh
( titik noda ) di
hati,semakin banyak
nuqthoh itu,semakin
gelap hati sehingga
sulit ditembus nur
hidayah bagaikan botol
tembus pandang yang
buram sulit ditembus
cahaya.mudah-
mudahan kita dapat
menghindari diri dan
keluarga kita dari
barang haram dan
barang yang
syubhat,semoga
bermanfaat,amin :)

Qolbu mengeras karena jauh dari Allah

Penulis: Al-Ustadz
Qomar Suaidi, Lc
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi
mereka yang keras
qalbunya dari berdzikir
kepada Allah. Mereka
berada dalam
kesesatan yang
nyata.” (Az-Zumar: 22)
Tidaklah Allah
memberikan hukuman
yang lebih besar
kepada seorang hamba
selain dari kerasnya
qalbu dan jauhnya dari
Allah subhanahu wa
ta’ala. An-Naar
(neraka) adalah
diciptakan untuk
melunakkan qalbu yang
keras. Qalbu yang
paling jauh dari Allah
adalah qalbu yang
keras, dan jika qalbu
sudah keras mata pun
terasa gersang. Qalbu
yang keras ditimbulkan
oleh empat hal yang
dilakukan melebihi
kebutuhan: makan,
tidur, bicara, dan
pergaulan.
Sebagaimana jasmani
jika dalam keadaan
sakit tidak akan
bermanfaat baginya
makanan dan minuman,
demikian pula qalbu
jika terjangkiti
penyakit-penyakit
hawa nafsu dan
keinginan-keinginan
jiwa, maka tidak akan
mempan padanya
nasehat.
Barangsiapa hendak
mensucikan qalbunya
maka ia harus
mengutamakan Allah
dibanding keinginan
dan nafsu jiwanya.
Karena qalbu yang
tergantung dengan
hawa nafsu akan
tertutup dari Allah
subhanahu wa ta’ala,
sekadar
tergantungnya jiwa
dengan hawa
nafsunya.
Banyak orang
menyibukkan qalbu
dengan gemerlapnya
dunia. Seandainya
mereka sibukkan
dengan mengingat Allah
subhanahu wa ta’ala
dan negeri akhirat
tentu qalbunya akan
berkelana mengarungi
makna-makna
Kalamullah dan ayat-
ayat-Nya yang nampak
ini, dan ia pun akan
menuai hikmah-hikmah
yang langka dan
faedah-faedah yang
indah. Jika qalbu
disuapi dengan
berdzikir dan disirami
dengan berfikir serta
dibersihkan dari
kerusakan, ia pasti
akan melihat keajaiban
dan diilhami hikmah.
Tidak setiap orang
yang berhias dengan
ilmu dan hikmah serta
memeganginya akan
masuk dalam
golongannya. Kecuali
jika mereka
menghidupkan qalbu
dan mematikan hawa
nafsunya.
Adapun mereka yang
membunuh qalbunya
dengan menghidupkan
hawa nafsunya, maka
tak akan muncul
hikmah dari lisannya.
Rapuhnya qalbu adalah
karena lalai dan
merasa aman, sedang
makmurnya qalbu
karena takut kepada
Allah subhanahu wa
ta’ala dan dzikir. Maka
jika sebuah qalbu
merasa zuhud dari
hidangan-hidangan
dunia, dia akan duduk
menghadap hidangan-
hidangan akhirat.
Sebaliknya jika ia ridha
dengan hidangan-
hidangan dunia, ia
akan terlewatkan dari
hidangan akhirat.
Kerinduan bertemu
Allah subhanahu wa
ta’ala adalah angin
semilir yang menerpa
qalbu, membuatnya
sejuk dengan menjauhi
gemerlapnya dunia.
Siapapun yang
menempatkan qalbunya
disisi Rabb-nya, ia
akan merasa tenang
dan tentram. Dan
siapapun yang
melepaskan qalbunya
di antara manusia, ia
akan semakin gundah
gulana.
Ingatlah! Kecintaan
terhadap Allah tidaklah
akan masuk ke dalam
qalbu yang mencintai
dunia kecuali seperti
masuknya unta ke
lubang jarum (sesuatu
yang sangat mustahil).
Jika Allah subhanahu
wa ta’ala cinta kepada
seorang hamba, maka
Allah subhanahu wa
ta’ala akan memilih dia
untuk diri-Nya sebagai
tempat pemberian
nikmat-nikmat-Nya,
dan Ia akan memilihnya
di antara hamba-
hamba-Nya, sehingga
hamba itu pun akan
menyibukkan
harapannya hanya
kepada Allah. Lisannya
senantiasa basah
dengan berdzikir
kepada-Nya, anggota
badannya selalu
dipakai untuk
berkhidmat kepada-
Nya.
Qalbu bisa sakit
sebagaimana sakitnya
jasmani, dan
kesembuhannya adalah
dengan bertaubat.
Qalbu pun bisa
berkarat sebagaimana
cermin, dan
cemerlangnya adalah
dengan berdzikir.
Qalbu bisa pula
telanjang sebagaimana
badan, dan pakaian
keindahannya adalah
taqwa. Qalbu pun bisa
lapar dan dahaga
sebagaimana badan,
maka makanan dan
minumannya adalah
mengenal Allah
subhanahu wa ta’ala,
cinta, tawakkal,
bertaubat dan
berkhidmat untuk-Nya.
(diterjemahkan dan
diringkas dari kitab Al-
Fawaid karya Ibnul
Qayyim rahimahullah
hal 111-112)
source:
www.asysyariah.com

KESALEHAN SEHARI-HARI

Banyak cara
mengukur, apakah kita
melaksanakan
kesalehan kita dalam
kehidupan sehari-
hari? Dalam kehidupan
lahiriyah saja,
misalnya, kita bisa
mengukur apakah
ibadah lahiriyah kita
terjaga dengan tertib,
istiqomah dan tanpa
beban? Apakah hak-
hak orang miskin,
yatim, tetangga, orang
yang sakit, orang
teraniaya juga anda
pedulikan?
Lalu dalam soal
keimanan kita, rasa
yakin kita kepada Allah
dan harapan kita
kepadaNya, apakah
menjadi nuansa urgen
dalam gerak-gerik
batin kita? Benarkah
kita sudah bertauhid
dalam arti
sebenarnya? Seberapa
banyak kita
memunculkan berhala
dalam hati dan
seberapa sering kita
menumbangkan dan
menyingkirkan
berhala-berhala itu?
Apakah kita juga terus
berjuang
membersihkan hati kita
dari pengaruh syetan
dan hawa nafsu?
Apakah akhlaq qalbu
kita memancarkan
ornament keindahan
hati, seperti taubat,
zuhud, khusyu’,
tawakkal, sabar,
syukur, taqwa, rasa
takut penuh harap,
ridho, cinta dan
senantiasa menjaga
hati dengan dzikrullah?
Bagaimana dengan
rahasia sejati batin
kita? Benarkah kita
ber-musyahadah pada
Allah dalam keseharian
kita, dan jika pasang
surut, apakah anda
juga terus ber-
muroqobah
(memfokuskan hati
untuk hadir di
hadapanNya)? Inilah
dunia para ‘arifin,
yang harus juga
menjaga ma’rifatullah-
nya sebagai wujud
Sholat Wustho-nya,
selamanya.
Wallahu’alam.

Senin, 27 Juni 2011

SEBARKANLAH SALAM

Assalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuh.

Salam adalah salah
satu dari asma Allah
swt. Mengucapkan
salam, baik kepada
orang yang Anda kenal
maupun yang tidak
Anda kenal akan
membangkitkan rasa
aman, mempererat
ikatan, dan
menumbuhkan rasa
cinta. Rasulullah sendiri
telah berwasiat
tentang itu. Dari Abu
Hurairah ra., ia
berkata bahwa Rasul
bersabda,
"Kamu tidak akan
masuk surga hingga
kamu beriman, dan
kamu tidak beriman
hingga kamu saling
mencintai (karena
Allah). Apakah kamu
maujika aku
tunjukkanpada satu
perkara jika kamu
kerjakan perkara itu
maka kamu akan saling
mencintai? Sebarkanlah
salam di antara
kamu!" (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat, Wassalam. ^_^

Pintu Harapan dan Kesedihan

“ Apabila anda ingin
Allah swt membuka
pintu harapan padamu,
maka lihatlah apa yang
dianugerahkan dariNya
kepadamu. Dan apabila
anda ingin Allah
membuka pintu
kesedihan padamu,
maka lihatlah apa yang
engkau lakukan
bagiNya.
” Harapan dan
kesedihan, adalah dua
hal yang terus
berdampingan. Karena
adanya harapanlah,
seseorang mulai
optimis dan terbuka
masa depannya.
Khususnya masa
depan dengan Sang
Pencipta.
Namun, sepanjang
yang disebut harapan,
semata juga karena
dibuka oleh Allah swt,
berupa kepatuhan dan
ketaatan kita. Apa pun
yang dari Allah swt,
senantiasa membuka
harapan kita, karena
seluruh ketaatan kita,
kebajikan kita,
semuanya dari Allah,
bukan dari diri kita.
Namun juga
sebaliknya, bila kita
mengingat apa yang
ada pada kita berupa
kontra dengan Allah
Swt, kemaksiatan dan
dosa-dosa kita,
pastilah kita akan
sedih dan duka.
Bahkan kalau toh kita
menengok masa lalu
kita, kita tetap saja
sedih, karena apa
yang kita berikan
kepadaNya, tak ada
apa-apanya, apalagi
jika dibanding yang
yang datang dari Allah
swt kepada kita.
Oleh sebab itu beliau
melanjutkan:
“ Kadang-kadang Allah
memberikan makna
guna kepadamu dalam
kelamnya Qobdh
(Genggaman Ilahi yang
mencekam), yang tidak
anda dapatkan
maknanya ketika anda
dalam suasana
kelapangan siang hari
(seperti siang yang
terang).

Betapa seringnya kita
raih hikmah-hikmah
yang menghantar kita
untuk taqarrub
kepadanya dibalik
cobaan yang
mencekam, yang kita
tidak dapatkan ketika
kita diberi kelapangan
dada, kemudahan dan
kesehatan dan
murahnya rizki anda.
Disinilah para ‘ arifun
lebih memilih meraih
Qabdhnya Allah
dibanding suasana
lapang dan mudah
dariNya. Sebab betapa
seringnya orang
tergelincir karena
kemudahan dan
kelapangan.
Sedangkan ketika
diberi cobaan, hatinya
remuk redam dalam
sikap ubudiyah
kepadaNya, penuh
rasa hina dina, fakir,
tak berdaya dan lemah.

SIAPAKAH YANG DIMAKSUD ORANG BAIK

Siapakah orang yang
disebut orang baik itu?
barangkali anda akan
punya puluhan
jawabaan mengenai
definisi orang yang
baik dari berbagai
Fram pengetahuan,
kebudayaan,
kebiasaan sehari hari,
bahkan melalui intuisi
anda masing masing.
Seorang Auliya' tiba-
tiba menjawab." Orang
yang baik adalah
orang yang apabila
sendiri tetap baik...."
Apakah ketika anda
sendiri berada dalam
keadaan seimbang
dengan saat bersama
banyak orang-orang?
Apakah anda mengeluh
ketika sendiri, dan
tidak mengeluh ketika
ada orang yang anda
segani?
Allah dimana ketika itu,
sampai harus
membedakan sendiri
dan tidak sendiri?
Orang yang baik
adalah orang yang
tetep baik ketika
sendiri. karena sendiri
dan tidak sendiri
bukan menjadi tirai
antara dirinya dengan
Diri-Nya. sendiri
maupun banyak orang
bukan menjadi
penghalang hamba
dengan Robbul Izzah.
Tapi lebih penting lagi
anda berani bercermin,
lalu bertanya," Apakah
aku ini sesungguhnya
orang yang baik?"
(cahaya Sufi)

Minggu, 26 Juni 2011

Kaum Miskin pun Selalu mendapatkan Bagian

Alkisah disebutkan dalam kitab Al Hikmah Al
Yamaniyyah .

Abu Kamil memiliki
kebun dan
sawah.Ketika waktu
panen hampir
tiba,sultan tidak
mengijinkan dia
mengairi sawah dan
kebunnya.Karena dia
menolak permintaan
sultan.ini adalah
pembalasandari sultan.
Melihat keadaan sawah
dan kebun Abu
Kamil,teman-temannya
menasihati " Kau airi
sekarang juga atau
kau tidak bisa
memanennya nanti."
"Allah mengetahui
bahwa orang-orang
miskin memiliki jatah
dari sawah dan kebun
ini.Dia pasti akan
mengairinya." Kata Abu
Kamil dengan penuh
keyakinan.
Tak lama kemudian
langit diatas sawah
dan kebun Abu Kamil
menjadi gelap disusul
dengan turunnya hujan
yang hanya membasahi
sawah dan kebun Abu
Kamil.Tak ada
setetespun air hujan
yang keluar dari
sawah dan kebunnya.
Sumber : Al Hikmah Al
Yamaniyyah
( Thuhfatul Asyraf ala
kalami Alhabib
Muhammad bin Hadiy
Assegaf )
_*_*_*_*_*_*_*_*_*_
*_*_*_*_*_*_*_
Perhatikanlah karena
setiap panen Abu Kamil
menyisihkan untuk
Fakir miskin,maka Allah
pun selalu melindungi
sawah dan
kebunnya.disetiap rizki
yang kita dapat,salah
satu tanda
mensyukurinya adalah
dengan berbagi
kepada yang tidak
mampu disekeliling
kita.walaupun satu
rupiah tapi memiliki
makna terdalam dihati
mereka.disitulah
rahasia mensyukuri
nikmat Allah yang
mampir pada kita.
semoga
bermanfaat,amin :)

review http://mahesakujenar.blogspot.com on alexa.com
free counters

Followers

 
heramkempek © . Template by: SkinCorner. SEO By: Islamic Blogger Template